Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 81



Kalau yang diberi ide memiliki kadar kegilaan dan ketengilan setara dengan keluarga Dominique, pasti akan menerima hal konyol tersebut untuk dilakukan sebagai syarat. Sayangnya, Lindsay itu manusia normal. Dia justru melongo ketika mendengar sepupunya Aloysius mencetuskan sesuatu.


“Mana bisa, sapi itu hewan, dan tak mungkin bicara untuk memberikan restu.” Kalimat itu juga sebagai penolakan dari Lindsay.


“Restu tak harus dari kata yang terucap, kan? Lihatlah bagaimana respon hewan ternakmu pada Alo. Kau lihat sendiri kalau dia mendapatkan reaksi buruk, ditendang, terkena kotoran juga. Nah ... mungkin kalau sapimu sudah tenang dan tidak memberontak lagi, anggaplah itu sebagai tanda kalau Aloysius memang pria yang penuh tekad,” jelas Adorabella. “Itu kalau kau mau memakai ideku. Jika tidak juga tak masalah. Terserah kau saja yang menjalani,”


Lindsay mengedikkan bahu bingung. “Entah, aku pikirkan lagi.” Dia lalu mengajak para tamu itu untuk kembali menikmati tour gratis darinya.


Isi kepala Lindsay jadi berisi pertimbangan. Haruskah melakukan seperti yang dikatakan Adorabella atau mencari cara lain sebagai pembuktian? Terus memikirkan plus dan minus.


Setelah digoreng terus dalam otak, Lindsay mendapatkan hasil akhir ketika hendak berjalan menuju mobil dan akan kembali ke rumah. Dahulu, karyawannya juga seperti Aloysius ketika pertama kali training. Mendapatkan kejadian buruk, entah ditendang, kesusahan, dan lain sebagainya. Ada beberapa yang gugur, tapi banyak yang berhasil melewati masa penentuan itu. Sekarang, mereka mahir dan setia bekerja dengan dirinya tanpa mengeluh sedikit pun, walau jauh dari kota.


Mungkin bisa ku terapkan. Itulah keputusan Lindsay. Kalau sapinya bisa tenang dan hasil susu yang didapatkan berisi seember penuh ketika Aloysius melakukan tugas memerah, maka akan dia terima. Tapi, tidak mau dikatakan secara langsung pada orangnya. Biarkan seleksi alam. Jika betah dan sungguh-sungguh, pasti pria itu tetap bertahan di peternakannya. Kalau sebaliknya, memang sudah takdir hidup menuntun agar merawat anak sendiri daripada bersama suami yang kesetiaan masih membuatnya ragu.


...........


Sementara itu, sejak para wanita pergi, Aloysius terus diejek oleh daddy, paman, dan kakeknya. Telinga sampai panas mendengar ketiga pria itu mengungkit masalah ia yang terkena kotoran, kencing, juga ditendang sapi.


“Sudahlah ... kalian berisik sekali!” sentak Aloysius. Dia segera berdiri, ingin merokok di halaman belakang, daripada di dalam terasa memusingkan oleh ocehan yang mengolok-olok.


Si calon Daddy itu meninggalkan ruang tamu. Padahal sejak tadi ingin pergi, tapi terus ditahan karena dijadikan bahan tertawaan.


Delavar, Davis, dan Dariush sampai lupa tujuan datang ke sana untuk apa. Mereka terlalu seru membuat Aloysius yang sedang menjadi budak cinta itu malu.


“Dad, bukankah kau ingin mengomeli cucumu karena berulah di perusahaan?” Dariush mengingatkan setelah tersisa bertiga dan keponakannya menghilang dari pandangan.


“Benar juga, mulai pikun ternyata.” Davis menepuk jidat sendiri. Dia lalu menyusul sang cucu yang tadi dilihat menuju arah dapur. Pasti ada pintu lain di sana.


Benar sekali, Davis menemukan Aloysius sedang duduk sendirian dengan mengeluarkan asap dari mulut. “Bagi.” Tangannya mengambil kotak rokok yang ada di atas meja.


“Sudah tua, nanti cepat tiada.” Aloysius melarang kakeknya agar tidak merokok. “Kalau datang ke sini hanya mau mengejek lagi, maka pergi saja, pulang sana ke Helsinki!” usirnya tanpa perlu repot-repot menatap orang yang diajak bicara.


“Tujuanku ke sini mau memberimu pelajaran.” Tangan Davis memukul puncak kepala cucunya. “Tapi ternyata sudah diwakilkan oleh sapinya Lindsay.”