Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 97



Nadia berangkat kerja saat menutup pintu kosnya, dia menyadari jika hari ini merupakan hari terakhir Fajar magang di perusahaan. Maka hari terakhir pula bagi dirinya untuk bisa bersama-sama dengan Fajar di dalam perusahaan. Apalagi semenjak tiga hari Fajar tidak pulang ke rumah. membuat Nadia menjadi saat berangkat kerja.


Tidak hanya dengan Nadia, Toni juga merasakan hal yang sama. Dia begitu murung karena harus berpisah dengan Celina. Padahal Toni ingin mempertahankan Celina untuk lebih lama bekerja di dalam perusahaan. Namun bagaimanapun semua itu sudah tergantung prosedur, mau tidak mau Celina harus pergi karena masa kerjanya sebagai anak magang sudah berakhir.


Saat sedang bekerja Nadia terus memperhatikan pulpen pemberian Fajar untuknya. Nadia begitu merindukan Fajar, apalagi tadi pagi saat ingin bertemu Fajar seperti menghindarinya. Nadia tidak tahu harus bagaimana, dia ingin hubungan kembali seperti dulu.


Fian lalu mengajak Nadia untuk pergi bersamanya, karena malam ini merupakan acara perpisahan untuk Fajar dan Celina. Dengan murung, dia pergi bersama Fian. Acara sudah mulai, Fajar dan Celina sudah berdiri di panggung dan mereka diberikan banyak hadiah baik dari karyawan atau rekan kerja mereka di depertemen produksi dan QC serta dari direktur perusahaan sendiri.


Tepuk tangan menjadi ramai karena Fajar dan Celina akan mempersembahkan lagu untuk perpisahan mereka sekaligus untuk menghibur para karyawan perusahaan yang lelah karena bekerja. Fajar sebagai penyanyi sedangkan Celina sebagai pemain piano. Tidak disangka suara Fajar begitu merdu membuat suasana pada malam itu menjadi romantis. Namun, lagu yang dinyanyikan bukanlah lagu penghibur namun lagu yang memaknai arti perpisahan.


Nadia yang berdiri diantara para karyawan, merasakan tiap bait lagu yang dinyanyikan oleh Fajar. Seperti menggambar kisah cinta mereka, dan kini yang berada diujung perpisahan. Kenangan demi seperti beriringan dengan lagu yang dinyanyikan oleh Fajar.


Bahkan bukan hanya Nadia, Toni juga merasakan hal sama. Kenangan saat bertemu bahkan menjadi dekat terlintas begitu saja. Dan kini dia juga harus berpisah, meski dia belum sempat menyatakan isi hatinya.


Fajar dan Celina telah selesai menghibur semua karyawan, suara tepuk tangan terdengar. Sari yang di tunjuk sebagai pembawa acara meminta Fajar dan Celina untuk menyampaikan kesan mereka berdua selama bekerja di perusahaan.


" Selamat malam semuanya, selamat malam pak direktur. Nama ku Celina. Banyak kesan serta momen yang mungkin nantinya akan menjadi bagi ku selama magang di perusahaan ini. Di perusahaan bukan hanya memberikan pengalaman bekerja, namun juga memberikan perhatian yang cukup dari semua karyawan khususnya di depertemen produksi dan QC. Bersyukur aku dikelilingi oleh orang yang sangat perhatian dan bahkan tidak segan menjawab setiap pertanyaan yang aku tanyakan meski mereka sedang bekerja sekalipun. Terima kasih bagi pak direktur yang sudah menerima kami berdua disini dan juga untuk para karyawan dari depertemen produksi dan juga QC, aku juga ucapkan terima kasih atas bimbingan. Bukan hanya itu untuk semua karyawan terima kasih atas perhatian. Itu saja kesan yang ingin aku sampaikan, selanjutnya aku berikan kepada Fajar. Mungkin ada beberapa kata yang ingin dia sampaikan juga kepada semua karyawan disini." Kata Celina yang memberikan kesan serta ucapan terimakasih kepada perusahaan.


" Selamat malam semuanya. Namaku Fajar, pertama-tama aku ingin berterimakasih kepada para karyawan di perusahaan ini termasuk pak direktur. Terima kasih atas perhatian serta bimbingan para karyawan semuanya. Aku belajar bagaimana seorang karyawan mendapatkan masalah bahkan bagaimana menyelesaikannya. Meski hanya dua bulan saja bekerja, tetapi aku justru mendapatkan banyak pembelajaran bagaimana berada di dunia kerja. Karena ada mengatakan padaku, jika dunia kerja dengan apa yang dapatkan saat duduk di bangku kuliah itu berbeda. Tetapi bagi ku sama saja, karena dimanapun ditempatkan, harus menjadi diri sendiri dan lakukan pekerjaan sebaik mungkin. Maka jika kamu melakukan hal seperti untuk dirimu sendiri, kamu akan merasa bahagia. Dan di tempat ini, aku juga merasakan hal sama. Terakhir, aku ingin mengatakan....."


Nadia mendengar semua yang dikatakan oleh Fajar, saat Fajar ingin menyampaikan kalimat terakhirnya Nadia tiba-tiba berlari menuju ke panggung. Semua orang terkejut begitu pula dengan Sari yang berdiri tidak jauh dari Fajar dan Celina. Nadia mengambil mic yang dipegang oleh Fajar. Nadia menarik nafasnya lalu menghembuskan secara perlahan. Nadia menggenggam tangan Fajar, lalu berkata, " aku dan Fajar sudah menikah."


Semuanya orang yang hadir terkejut, begitupula dengan Fajar. Fajar tidak menyangka jika istrinya berani mengakui hubungan pernikahan mereka di depan semua orang.


" Aku dan Fajar sudah menikah, kami menikah saat aku selesai kuliah. Maka dari itu untuk foto yang tersebar, bagi ku itu hal yang wajar untuk kami berdua. Kami menikah karena perjodohan kedua orang tua kami, jadi bukan seperti yang digosipkan mengenai ku. Setidaknya semua sudah kelar, dan tidak ada lagi gosip miring baik tentang ku maupun tentang Fajar." Kata Nadia dihadapan semua karyawan kantornya. Nadia berani mengatakan itu semua dihadapan karyawan. Sekarang dia menyadari untuk apa menyembunyikan status mereka, karena pada akhirnya semua akan tahu jika mereka sudah menikah. Nadia tidak akan malu, meski suaminya hanya seorang mahasiswa. Yang terpenting adalah kebahagiaan yang dia rasakan saat bersama dengan Fajar.


Acara sudah usai, semua karyawan mulai bubar. Toni yang mendengar pengakuan Nadia seolah tidak ingin melewati kesempatan untuknya dan Celina. Toni mencari keberadaan Celina, namun tidak menemukan Celina didalam acara. Toni mencari Celina di luar, dia melihat gadis itu tengah berdiri sepertinya gadis itu sudah mau pulang. Segera Tini berlari untuk menghampiri gadis itu.


" Celina." Ucap Toni, namun dia seperti kaku untuk mengungkapkan perasaannya.


Sebuah taksi berhenti dihadapan mereka, Celina tersenyum dan menoleh kearah Toni. " Taksinya sudah datang. Kalau begitu aku pulang duluan ya. Terima kasih atas bimbingannya. Semoga beruntung." Kata Celina meski dia berharap lebih seperti Toni menahannya untuk pergi.


Namun Toni malah justru berdiri dan terpaku melihat Celina sudah menaiki, rasanya begitu sulit baginya untuk mengungkapkan perasaannya. Pada akhirnya malam ini menjadi malam terakhir untuk pertemuan mereka berdua. Mereka berdua hanya menunggu takdir untuk bertemu kembali.


Fajar pulang berdua dengan Nadia, Nadia terus menggenggam tangan suaminya itu. " Mulai sekarang aku ingin terus berjalan bersama denganmu." Ucap Nadia tersenyum.


Fajar ikut tersenyum memandangi wajah istrinya, kini tidak akan ada lagi hal-hal perlu disembunyikan. Kini mereka berdua bisa memegang tangan kapanpun dan dimanapun. Nadia diam-diam memotret wajah suaminya menggunakan kamera ponselnya. Nadia juga meminta ponsel Fajar, dia memotret tangannya dan tangan Fajar terlihat kedua cincin pernikahan yang mereka kenakan di jari manis mereka. Nadia memakai foto itu sebagai wallpaper ponsel Fajar.


" Ini! Biar jika ada yang suka. Tinggal kamu bilang aku sudah menikah sambil memperlihatkan foto itu." Ucap Nadia.


Semuanya kembali normal, Fajar kembali menjadi seorang mahasiswa yang sibuk dengan semester akhir sedangkan Nadia sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Nadia makan siang di kantin kantor sendirian. Melihat Toni yang duduk sendirian, Nadia duduk bersama dengan Toni. Sikap toni begitu aneh, dia terus menanyakan kabar, baik kabar Fajar dan juga Nadia, padahal jelas-jelas Nadia duduk dihadapannya.


" Apa kamu sedang mencari ku?" Tanya orang itu.


" Celina.. aku.. aku sangat merindukanmu." Ucap Toni sebuah pelukan rindu telah dicipta.


Berbeda dengan suasana kampus, Yoga tengah duduk dengan teman-temannya, ingin meminta salah satu teman-temannya itu untuk menemaninya menemui dosen pembimbingnya. Baik Fajar, Bima dan Citra tidak ada yang mau. Fajar berasalan akan menemui Nadia, sedangkan Bima pastinya sibuk mengerjakan skripsi dengan Mina pacarnya, dan citra belum sempat kasih alasan pacar citra sudah memanggilnya. Yoga melihat Kevin yang duduk dihadapannya.


" Kalau gitu kamu aja ya Kevin, temani aku dong." Pinta yoga.


" Maaf ya, aku akan berkencan. Tuh! Sudah ada yang menunggu." Ucap Kevin melihat kearah diva yang sudah menunggu sambil tersenyum.


" Huft.. ingin rasanya punya pacar. Tuhan! Kirimkan aku pacar." Teriak yoga disambut gelak tawa orang disekitarnya.


Nadia tersenyum melihat Fajar yang sudah menunggunya di taman, hari ini Nadia ingin bertemu dengan Fajar selepas pulang kerja. Nadia sengaja bertemu di luar karena ingin menghabiskan waktu yang lama bersama suaminya itu.


" Fajar. Sudah lama menungguku." Ucap Nadia.


" Belum, aku baru saja tiba. Kenapa kak Nadia meminta untuk bertemu disini. Kita bisa bertemu di rumah."


" Ada yang ingin aku tunjukan." Nadia mengeluarkan sebuah amplop besar untu Fajar.


" Apa ini?"


" Buka saja dulu!"


Alangkah terkejutnya Fajar, ternyata itu ada sebuah surat pembelian rumah. " Kak Nadia membeli rumah?"


" Iya, tapi nyicil..."


" Wah! Aku justru merasa sangat senang. Aku akan membantu kakak untuk melunasi pembelian rumah ini." Ucap Fajar begitu senang.


" Ah! Ini aku berikan lagi padamu." Nadia menarik tangan fajar dan kembali memakai gelang yang sempat diberikan Fajar padanya.


" Fajar, mulai sekarang apakah kamu bersedia berjalan bersama ku?"


Fajar tersenyum, " bagaimana dengan kakak? Apa kakak mau?"


Tidak perlu menjawab, Nadia langsung mengecup bibir Fajar. Hingga suasana romantis tercipta. Taman ini menjadi saksi kisah cinta yang nyata sudah dimulai.