Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 12



Wawan sendirian bermain basket, sedari melakukan shoot untuk memasukan bola basketnya, namun tetap saja bola itu meleset. Fajar datang menghampiri, terlihat dari kaos yang dikenakan serta dirinya membawa tas, sepertinya Fajar baru pulang dari kegiatan ospek.


" Apa yang sedang kamu lakukan? Sedari tadi kamu belum bisa memasukkan bola ini kedalam ring." kata fajar mengambil bola dan meletakkan tasnya dipinggir lapangan.


" O iya, semenjak kejadian itu, para senior mulai menghukum kami dengan sangat berat." Ujar Adrian melemparkan bola basket kepada Wawan.


" Iya, terus kenapa?" tanya Wawan seolah tidak perduli dia kembali melemparkan bola kedalam ring, namun tetap saja lemparannya selalu meleset.


" Kamu gak perduli dengan mahasiswa baru lainnya?" tanya fajar mengambil bolanya dan melemparkan kembali kepada Wawan.


" Ngapain coba, emangnya aku harus bergabung dengan kegiatan itu? Selama aku ikut kegiatan itu, aku gak pernah melihat senior memperlakukan kita dengan baik. Palingan kita dimarahi dan dihukum sama mereka. Kita disana hanya untuk memenuhi kepuasan mereka saja. Aku gak ngerti kenapa kalian semua repot-repot untuk bergabung dalam kegiatan itu." ujar Wawan melemparkan bola kedalam lagi-lagi melesat.


" Sial!" teriak Wawan kesal karena bolanya selalu meleset.


Fajar mengambil bolanya, kali ini dia tidak mengembalikan bola itu kepada Wawan.


" Aku sendiri juga gak suka dengan cara mereka memperlakukan kita seperti itu. Tapi aku juga penasaran alasan dibalik mereka memperlakukan kita seperti itu. Terkadang apa yang kita lihat belum tentu benar." ujar Fajar melemparkan bola selama ring. Dan bola masuk dengan sempurna. Fajar berlalu mengambil tasnya, saat hendak pergi fajar melemparkan jeruk yang didapatnya dari senior di UKS.


" Aku harus kembali mengerjakan tugas dan itu dari para senior." ujar fajar berlalu meninggalkan Wawan.


Di malam hari, seperti biasa Bima, yoga dan fajar berkumpul di kamar kos Bima untuk mengerjakan tugas. Fajar seperti tengah mencari sesuatu.


" Bima, dimana buku catatan kuliah yang aku titipkan ke kamu?" tanya fajar kepada Bima.


Bima terdiam, mencoba mengingat kembali dimana dia meletakan buku catatan kuliahnya fajar.


" Ah! aku ingat, aku.. meletakkannya di ruangan kelas." ujar Bima setelah mengingat kembali dia membawa buku catatan kuliah fajar.


" Benarkah! Gimana dong? apa yang harus kita lakukan? Aku butuh banget untuk kuliah besok." ujar fajar.


" Aku akan mengambilnya besok pagi sebelum masuk kelas." ucap Bima.


" Bukannya besok kita harus mengumpulkan tugas pagi-pagi sekali ya. Bagaimana dengan tugasnya fajar, jika buku itu diambil besok." ujar yoga.


" Lebih baik ambilnya sekarang saja. Kita berdua akan menemani mu. Iya, kan yoga?" tanya fajar kepada yoga untuk menerima tawarannya.


" Sekarang? kamu gila ya! ini udah hampir jam 12 tengah malam loh. Dan waktunya para hantu akan muncul." ujar yoga menakut-nakuti.


" Makanya itu, kita bertiga yang pergi untuk mengambilnya. Jangan takut, aku akan segera ganti baju." ujar fajar.


Bima sedari tadi diam, mulai takut dengan apa yang dikatakan yoga. Dia sangat takut akan hantu.


" Eum, kakiku sedang sakit. Kalian berdua saja yang pergi." ucap Bima mengingat kakinya yang keseleo tadi siang.


" Gak bisa." ucap yoga menepuk kaki Bima.


Bima mencari alasan dengan berpura-pura meringis kesakitan.


" Berhentilah berpura-pura, bukankah kaki yang satunya yang sakit, hm." ujar yoga mengetahui temannya itu mencari alasan agar tidak ikut bersama dia dan fajar.


Fajar menaiki tangga, ruangan kampus sangatlah gelap. Fajar berjalan sendirian sambil telepon. Ternyata yoga dan Bima hanya menemani fajar di depan halaman kampus, dan meminta fajar untuk masuk kedalam sendirian karena mereka sangat ketakutan. Sebab gedung kampus terlihat begitu gelap.


" Kalian berdua pengecut, jadi jangan sok mengkhawatirkan aku. Matikan telfonnya aku membutuhkan cahaya untuk melihat ruangan." ujar fajar kepada kedua temannya melalui telfon.


Fajar memasuki ruangan, dengan menggunakan cahaya dari ponsel. Dia mulai berjalan mencari buku catatan kuliah yang ditinggalkan oleh Bima. Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang Pria.


Fajar terkejut, menengok ke Sumbar suara.


Fajar berjalan mencari sumber suara itu berasal. Dengan ruangan yang begitu gelap bermodal cahaya melalui ponsel. Samar-samar dia mendengar, " Aku harap kalian dapat memberikan ilmu yang aku ajarkan hari ini kepada mahasiswa baru."


Fajar mulai mendekati sebuah ruangan, yang diyakininya sumber dari suara itu. Dan hanya ruangan itu yang masih ada cahaya meski tidak begitu terang. Terlihat Nadia dan para senior lain berdiri tegak. Didepan mereka ada seorang cowok yang rambutnya diikat. Siapa lagi kalau bukan Denis, mantan ketua osis terdahulu.


" Apa kalian mengerti!" teriak Denis.


" Mengerti." jawab Nadia beserta senior yang lainnya.


Fajar yang melihat itu, takut ketahuan oleh para senior seketika berlari untuk bersembunyi. Fajar bersembunyi disamping tangga turun, kebetulan ada kardus yang diletakkan disitu. Para senior mulai keluar dan berjalan menuruni tangga. Merasa aman, dan semua senior sudah turun. Fajar segera pergi, namun dia dikagetkan dengan suara terkejut dari Nadia.


"Fajar?" tanya Nadia memastikan cowok yang berdiri dihadapannya.


Nadia menghela nafas saat yang tanyakan itu adalah benar. Dia berkacak pinggang, dan bertanya, " Apa yang kamu lakukan disini?"


Namun, suara Nadia tidak seperti tadi pagi yang keras. Kali ini volumenya mengecil.


" Aku ketinggalan buku catatan, jadi aku datang kesini untuk mengambilnya." ujar fajar.


" Cepetan pulang sekarang!" ucap Nadia, lalu berjalan hendak menuruni tangga.


" Kak Nadia.." panggil fajar.


Nadia menoleh, " Apa lagi?"


" Menurutku, ketika kamu memasang wajah serius mu itu, kamu terlihat begitu manis." kata fajar tersenyum.


Nadia terkejut dengan apa yang barusan dia dengar, Nadia merasa kesal dan mengeluarkan kata kasar. Bukannya takut, fajar justru tetap tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Nadia lalu turun meninggalkan fajar.


" Gak salah, kan? Jika aku merayu calon istriku sendiri." pikir fajar lalu ikut turun kebawah.


Bima dan yoga duduk berdua dihalaman kampus. Namun, mereka tidak melihat para senior yang baru saja keluar dari ruangan kampus.


" Fajar kenapa lama banget ya? Lihat bulu kudukku merinding." ujar Bima memperlihatkan tangannya.


" Sama, padahal cuma ke ruangan kelas doang. Itupun dia gak mungkin juga mencari. Toh, dia juga ingat tempat duduk mu dimana." kata yoga.


" Baru disini sepi banget lagi. Darahku mulai berkurang diisap nyamuk." ujar Bima menepuk-nepuk tangannya.


" Bukan kamu doang, aku juga yang kurs begini udah beberapa kantong darah yang aku keluarkan." ujar yoga.


Alhasil ucapan itu membuat Bima tertawa. Karena badan yoga memang terlihat lebih kurus darinya.


Fajar berlari menghampiri mereka, dia mulai iseng dengan berjalan pelan-pelan agar kedua temannya itu tidak mengetahui keberadaan dia dibelakang mereka.


" Door!" teriak fajar menepuk pundak kedua temannya itu. Mereka berdua terkejut.


" Fajar, gak usah pake kagetin juga. Jantung ku copot, kamu mau tanggung jawab." ujar yoga kesal.


Fajar hanya tertawa, karena sudah berhasil mengerjai kedua temannya itu.