Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 85



Kevin tengah berjalan sendirian, tidak sengaja dia melihat Diva yang tengah telepon. Melihat juniornya itu, Kevin menghampiri dengan bermaksud untuk mengajak gadis itu ikut dengannya.


" Hey, dek Diva." Sapa Kevin.


" Sudah aku bilang padamu untuk tinggalkan aku sendiri." Ujar Diva, raut wajahnya menjadi kesal ketika melihat Kevin. Dia tidak suka dengan Kevin yang selalu menganggu hidupnya.


" Kebetulan kamu sendiri, makanya aku menghampiri dan juga ingin kamu ikut.."


" Tidak! Aku sudah bilang aku tidak akan mau diajak kemanapun oleh kamu. Apa kamu tuli aku ingin sendiri? Jadi pergilah."


" Mana bisa dek Diva, kamu sendiri masa aku tinggalin." Ucap Kevin ingin menggoda Diva.


Dengan kesal di menyeruput minumannya. Kevin selalu mengganggunya. Padahal ospek sudah selesai, namun Kevin selalu saja datang dan menganggu.


" Jangan memanggil ku dengan dek Diva."


" Lalu aku harus panggil apa? Pake nomor mahasiswa tidak boleh, dek Diva juga tidak boleh."


" Pokoknya terserah, kalau tidak usah dipanggil. Dan jangan ganggu aku lagi!" Kata Diva dengan kesal lalu pergi. Dia sudah tidak mau berurusan terus dengan Kevin.


Kevin hanya bisa pasrah, kali ini dia gagal untuk lebih dekat dengan Diva.


Ditempat lain, Nadia tengah sibuk bekerja karena sebentar lagi mereka akan mengadakan rapat dengan direktur. Kebetulan Fian karyawan baru itu bekerja dibawah Nadia. Itu karena perintah dari pak Danang yang ingin Nadia mengajarkan Fian menyusun sebuah dokumen untuk rapat bersama direktur. Fian mendekati Nadia dan memberikan dokumen yang sudah dikerjakan. Nadia memeriksa semuanya dengan teliti, dia tidak ingin ada kesalahan dalam penulisannya. Karena nantinya dokumen itu akan diberikan kepada pak direktur.


" Ini sudah baik. Sudah bisa diberikan ke pak direktur nanti. Tapi untuk filenya jangan lupa disimpan untuk kebutuhan ke depan." Kata Nadia kepada Fian.


" Baiklah ibu Nadia. Terima kasih atas saran dan juga kerja samanya." Ucap Fian mengambil kembali dokumen itu.


Pak Danang, keluar dari ruangan meminta timnya untuk bersiap-siap karena sebentar lagi pak direktur akan datang dan mereka akan mengadakan rapat dengan tim produksi juga. Nadia menyimpan kembali file yang dikerjakan, kebetulan tadi dia hanya mengedit sekaligus mengecek isi dari file yang akan dipresentasikan nantinya. Segera mereka semua menuju ruang rapat. Didalam ruangan sudah ada Toni berserta timnya sudah menunggu dari tadi.


Rapat berjalan dengan lancar, tim pengadaan berhasil memuaskan pak direktur dari hasil kerja mereka. Pak direktur sangat senang dengan semua hasil yang dikerjakan. Dia berharap kedepannya para tim baik produksi dan pengadaan bisa menghasilkan yang lebih dari ini. Saat pak direktur ingin membubarkan rapat, Cantika mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan.


" Maaf jika aku mengganggu." Ucap Cantika.


" Tidak masalah, kebetulan rapatnya baru saja selesai." Jawab pak direktur.


" Kebetulan sekali, pak. Aku ingin memperkenalkan mahasiswa magang, kebetulan ini adalah hari pertama mereka. Jadi aku menemani mereka untuk memperkenalkan bagian-bagian dari perusahaan ini."


" Silakan." Perintah pak direktur.


" Baik pak, ayo dik silahkan masuk." Pinta Cantika kepada mahasiswa magang.


" Nad, kamu kenapa tidak bilang jika Fajar akan magang disini?"


Mendengar nama suaminya disebut, reflek Nadia melihat ke depan. Ternyata Fajar juga termasuk mahasiswa yang magang di perusahaan tempat dia bekerja. Alangkah terkejutnya Nadia, karena dari kemarin hingga pagi tadi Fajar tidak memberitahunya jika Fajar akan magang di perusahaan tempat dia bekerja. Padahal Nadia sudah berpesan, jika Fajar boleh magang dimana saja. Ataupun magang di perusahaan ayahnya asalkan Fajar tidak magang di perusahaan tempat dia bekerja. Karena dia tidak ingin ada yang tahu akan hubungan pernikahan mereka. Nadia masih belum siap untuk mengungkapkan status pernikahannya. Apalagi dia masih belum siap menerima komentar buruk tentang dirinya yang menikahi seorang mahasiswa. Nadia belum sanggup untuk itu semua.


" Harap perkenalkan diri kalian, agar mereka tahu siapa kalian dan asal kampus kalian berasal." Pinta Cantika kepada dua mahasiswa magang itu.


" Baik, nama ku adalah Celina Nora. Panggil saja Celine, aku berasal dari universitas Terbuka."


" Fajar. Namaku Fajar Saputra. Aku berasal dari universitas Jakarta."


Sari lalu melihat kearah Nadia saat Fajar menyebut asal kampusnya. Dia menyadari jika Nadia juga berasal dari universitas yang sama. Dia tidak menyangka universitas Jakarta menghasilkan cowok yang tampan juga seperti Fajar. Berbeda dengan Sari, raut wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan sama sekali. Dia seperti menahan rasa kesalnya karena sudah dibohongi oleh Fajar.


Setelah selesai memperkenalkan diri, Cantika lalu mengajak Fajar dan Celine untuk undur diri. Namun sebelum itu dia meminta kepada para karyawan untuk bisa membantu dua anak magang itu jika ada yang mereka belum ketahui apalagi, Fajar dan Celina masih dalam tahap belajar jadi butuh bimbingan dari para karyawan yang sudah berpengalaman dalam bekerja. Mereka bertiga undur diri dari ruangan rapat, karena masih beberapa tempat untuk Cantika perkenalkan kepada Fajar dan Celina


Saat tengah berkeliling, Cantika memperkenalkan ruangan depertemen pengadaan kepada Fajar dan Celina tepat saat Nadia baru keluar dari ruangan tersebut. Cantika menyapa Nadia, dan menanyakan Nadia. Nadia hanya menjawab lalu pergi begitu saja. Meski dia melihat Fajar yang terus menatap dengan tatapan bersalah.


Nadia masih sakit hati karena sudah dibohongi oleh Fajar. Kenapa Fajar seolah tidak terbuka padanya? Dan kenapa harus perusahaan tempat dia bekerja? Padahal banyak sekali perusahaan yang membutuhkan pekerja magang. Namun, pilihan Fajar seolah memperumit Nadia. Karena dirinya masih belum siap membuka status pernikahannya.


Fajar dan Celina akan ditempatkan di depertemen produksi, namun sebelum bekerja Cantika memerintahkan mereka untuk memberikan surat untuk depertemen produksi dan pengadaan. Kebetulan Fajar yang menerima surat untuk diantar ke bagian pengadaan. Fajar tersenyum, karena dia akan bertemu dengan Nadia. Dia akan menjelaskan semuanya dan meminta maaf kepada Nadia.


Dan keberuntungan berpihak pada Fajar, saat tengah mengantar surat dia melihat Nadia tengah melakukan fotocopy. Dengan segera dia menghampiri Nadia untuk meminta maaf dan ingin menjelaskan semuanya.


" Aku tidak lihat, aku sedang bekerja."


" Aku ingin minta maaf dan ingin menjelaskan semuanya."


" Untuk apa di jelaskan, lebih baik kamu pergi bekerja sekarang."


" Aku ingin menjelaskan kenapa aku memilih perusahaan ini. Aku tahu kamu tidak suka, dan melarang ku untuk magang disini. Tapi kak, aku mendaftar disini sebelum kakak melarang ku. Dan juga ada alasan dibalik itu. Setiap pulang ke rumah, kak Nadia selalu menceritakan tentang pekerjaan kakak disini. Itu membuat ku tertarik dan ingin magang disini juga. Bukan hanya itu, aku ingin kita lebih dekat dan aku bisa melihatmu bekerja. Aku melakukan itu karena kita jarang untuk ketemu. Aku mohon jangan marah ya."


" Percuma, jika aku marah. Kamu sudah terlanjur diterima disini. Dan sekarang kamu kenapa kesini?"


" Aku mengantarkan surat dari kak Cantika." Ucap Fajar memberikan surat itu kepada Nadia.


" Ya sudah. Kalau begitu kamu kembalikanlah bekerja." Menerima surat dari Fajar.


" Tapi kak, aku.." Fajar menahan tangan Nadia sebelum gadis itu pergi. Namun tangan dilepaskan oleh Nadia karena Edgar datang dan memanggil Nadia.


Fajar hanya bisa pasrah saat Nadia pergi bersama Edgar, dia juga tidak bisa mencegah. Didalam dunia kerja dia dan Nadia hanya dikenal sebagai junior dan senior bukan sebagai suami istri. Entah kenapa Fajar merasa tidak begitu suka melihat Edgar dekat dengan Nadia meskipun mereka berdua adalah rekan kerja. Lagi dan lagi Fajar tidak bisa berbuat apa-apa.