
Seperti pagi pada umumnya, Fajar duluan bangun dibandingkan Nadia. Fajar sudah menyiapkan sarapan pagi untuk istrinya itu. Bahkan dia juga rapi dengan menggenakan jas almamater kampusnya. Fajar tersenyum memandang istinya masih terlelap, dia duduk dipinggir kasur tepat di dekat kepala Nadia.
" Kak Nadia, bangun. Kakak nanti bisa terlambat kerja." Bisik Fajar tepat diwajah istrinya.
" Beri aku waktu 5 menit lagi." Ucap Nadia dengan mata yang masih tertutup.
" Tidak bisa kak, kakak harus bangun."
" Emangnya jam berapa sih?" Mata Nadia masih tertutup.
Fajar tersenyum, karena selalu seperti itu di pagi hari. Dia mendekati wajah lebih dekat dengan wajah Nadia yang masih terlelap. Dia lalu berbisik, " Sekarang sudah jam 8."
Nadia terkejut mendengarnya, " Apa!" Ucapnya sambil terbangun dari tidurnya.
" Serius sudah jam 8? Kenapa kamu tidak membangunkan ku sih!" Gerutu Nadia kesal. Dia bisa telat jika telat ke kantor.
" Itu kalimat favorit ketika kak Nadia bangun terlambat." Ucap Fajar sambil tersenyum. Kalimat yang selalu dia dengar di pagi hari dari mulut Nadia.
" Tapi sekarang sudah jam 8." Ucap Nadia menyibak selimut yang menyelimuti tubuhnya untuk segera ke kamar mandi
" Aku cuma becanda kak. Ini masih jam setengah 7 kok." Ucap Fajar terkekeh, karena sudah menipu Nadia.
Nadia merasa kesal, lalu mengambil handuk menuju kamar mandi. Sedangkan Fajar hanya bisa tertawa dengan tingkah istrinya. Selalu setiap pagi, wajah Nadia cemberut karena telat bangun. Nadia yang tengah mandi, Fajar membantu dengan menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh istrinya.
" Apa yang ingin kakak kenakan hari ini? Biar aku yang menyetrikanya." Ujar Fajar membuka lemari melihat pakaian istrinya.
" Eh.. kemeja yang putih sama rok hitam pendek. Kamu pilih saja salah satunya." Ujar Nadia didalam kamar mandi.
Saat Nadia tengah mandi, Fajar sudah menyeterika pakaian istrinya. Setelah mandi, mereka tidak lupa untuk sarapan, setidaknya masih ada waktu untuk sarapan. Nadia memandangi wajahnya di kaca, sambil melihat riasan make up-nya, apakah sudah baik atau belum. Setelah merasa sudah cantik, dia mengambil tas untuk berangkat kerja, Fajar lalu mendekat ke Nadia, dia memberikan bekal makanan untuk istrinya.
" Makasih ya Fajar." Ucap Nadia tersenyum melihat bekal makanan buatan suaminya itu.
" Sama-sama. Kakak duluan ya, aku masih ada yang diurus." Ucap Fajar sambil mengambil piring kotor bekas sarapan mereka berdua.
Nadia seperti ragu, dia ingin memberikan kecupan ringan untuk suaminya. Namun rasanya begitu malu untuk melakukannya. Nadia mendekati Fajar, dan mencium pipi suaminya itu.
" Aku pergi dulu, bye!" Ucapnya langsung buru-buru keluar. Rasanya begitu malu, bagi Nadia.
Sedangkan Fajar hanya tersenyum, meski sebelumnya dia terkejut dengan kecupan manis dari istrinya. Momen yang akan direkam oleh Fajar, meski momen yang sangat minim. Karena Nadia yang terkesan anti romantis itu, bisa bersikap manis pagi ini.
Saat tiba di kantor, ruangan begitu sepi. Tapi tas kerja John sudah ada di ruangan. Sepertinya John sudah sampai duluan. Nadia meletakkan tasnya, dan mulai bekerja. Dia mulai mengerjakan pekerjaan yang kemarin sempat dia tunda karena Fajar yang tiba-tiba menjemputnya.
" Ada apa kak?" Tanya Nadia, meski begitu dia juga tidak enak untuk menolak. Harapan Nadia semoga kerjaan yang diberi tidak begitu merepotkan seperti kemarin lalu.
" Aku telah memesan dari pemasok. Aku ingin kamu memanggil serta mengejar mereka untukku. Katakan kepada mereka untuk mengirim pesanan pada akhir bulan ini." Kata John dengan membawa sebuah kertas.
Nadia begitu ragu untuk menjawab, sebab pekerjaannya juga belum selesai. Bagaimana pula dia harus memanggil para pemasok. Meski begitu dia juga merasa tidak enak kepada John jika menolak, apalagi mereka rekan kerja.
" Baik kak." Ucapnya.
" Di kertas ini sudah tercantum nomor, kamu bisa menghubungi nomor itu." Ucap John memberikan kertas yang dibawanya tadi.
" Oh iya, jangan lupa ingatkan mereka untuk mengirimnya akhir bulan ini."
" Baik kak. Pada akhir bulan, kan?"
John lalu berjalan keluar ruangan, namun Nadia kembali memanggil John setelah membaca kertas yang John berikan padanya.
" Ada apa, nad?"
" Kak John, tetapi disini disebutkan bahwa tanggal pengiriman adalah Senin pertama bulan depan." Kata Nadia kepada John sambil menunjukan isi kertas yang dibacanya itu.
" Aku tahu. Tapi ini sudah terlambat, makanya harus dikejar agar pengirimannya cepat dan bisa dapat diakhir bulan ini. Kamu sudah mengerti, kan?"
Lagi-lagi, Nadia pasrah dan berkata iya. Meski sebenarnya didalam hatinya dia tidak mau, karena itu menjadi kesalahan John. Karena tidak cepat melakukan pekerjaannya.
Dengan raut wajah kesal, dia menelepon nomor yang tertera di kertas itu. Dengan harapan semoga si penelepon bisa menerima jika pengiriman itu dipercepat akhir bulan. Namun sayangnya, tidak bisa, bahkan lebih mengesalkan ketika pemasok itu bilang jika dia sudah berbicara dengan John Minggu lalu, dan katanya pengiriman itu sudah termasuk dipercepat dengan keputusan akan mengirim Senin diawal bulan depan. Beruntungnya nadia bisa membuat pemasok itu untuk mempercepat proses pengiriman meski hari terlambat satu hari. Nadia merasa syukur jika pekerjaannya untuk membantu John telah selesai.
Tak berselang lama John datang dengan membawa segelas minuman, sambil bertanya kepada Nadia, " Jadi, bagaimana? Apa mereka bisa melakukannya?"
"Iya kak, tetapi pengirimannya akan terlambat sehari. Hari Sabtu akhir bulan baru bisa, kak." Jawab Nadia sambil memberikan kembali kertas yang tadi John berikan kepadanya.
" Ah, sayang sekali, aku tidak bisa hari itu. Soalnya dihari itu ada temanku dari Thailand datang menemui ku. Aku tidak bisa ke kantor. Jadi kamu harus ke kantor nanti, untuk bisa mendapatkannya untukku." Kata John kembali memberikan kertas itu kepada Nadia.
Belum sempat Nadia mengiyakan, John sudah mengucapkan terima kasih. Seolah Nadia mau membantunya untuk datang ke kantor hari Sabtu nanti. Dan kembali Nadia, hanya bisa mengangguk meski dirinya merasa kesal. Hari Sabtu merupakan hari libur, dia bisa meluangkan waktunya untuk lebih banyak bersama Fajar. Namun, John malah memerintahnya dan Nadia tidak bisa menolak. Yang ada Nadia merasa sangat kesal.
Di kampus, Fajar dan teman-temannya mendekati para mahasiswa baru untuk mengundang mereka ke acara penutupan selanjutnya. Seperti angkatan sebelumnya mereka akan kembali merayakan acara yang bertema keakraban antar senior junior di pantai. Maka dari itu, Fajar dan teman-teman yang terlibat sebagai panitia ospek dulu untuk mengajak para mahasiswa baru untuk mengikuti acara tersebut. Acara itu akan dilaksanakan dihari Sabtu mendatang. Fani yang kebetulan berada disitu, merasa jika acara itu akan menjadi kesempatan baginya untuk lebih memperjelas perasaaan kepada Fajar. Saat Fajar pergi, Fani terus menatap pria itu.
Bima melihat diva duduk sendirian. Dia meminta pendapat teman-teman yang lain apakah mereka harus mengajak diva atau tidak. Sebab diva adalah gadis keras kepala, mungkin acara seperti itu tidak akan dia ikuti. Namun, Kevin membela dia akan berusaha mengobrol dengan diva dengan meminta bantuan Fajar untuk menemaninya.
Hari Sabtu, merupakan hari perkumpulan antara senior dan junior. Acaranya pasti bakalan seru, bahkan senior yang sudah lulus akan diundang begitu pula dengan Nadia. Namun, Nadia harus ke kantor karena melakukan pekerjaannya John selaku rekan kerjanya. Momen yang ingin diciptakan oleh kedua pasangan suami-istri itu bisa saja tidak tercipta karena kesibukan.