Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 13



Seperti hari-hari sebelumnya, para mahasiswa baru berkumpul di aula. Kali ini mereka diajarkan menyanyikan yel-yel mahasiswa baru. Saat sedang asyik, tiba-tiba Nadia datang bersama teman-temannya. Di wajah yang sama, mereka tidak menerima yel-yel yang diajarkan oleh panitia lain.


Menurut Nadia yel-yel itu terlihat lemah untuk mahasiswa baru untuk kegiatan pagi ini. Hingga akhirnya Nadia menghukum, salah satu mahasiswa baru untuk menyanyikannya lebih semangat lagi. Namun, mahasiswa itu justru melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya dia hukum berkali-kali menyanyikan lagu yang sama. Semua mahasiswa baru terdiam hanya bisa menonton tanpa berbicara.


Fajar yang menyaksikan itu tidak terima dengan apa yang Nadia dan teman-temannya lakukan. Fajar lalu mengakar tangannya dan berdiri. Nadia yang menyadari langsung mempersilahkan fajar untuk berbicara.


" Fajar dari fakultas teknik. Bolehkah aku berbicara?" tanya fajar yang tidak tega melihat teman satu angkatannya di hukum seperti itu.


Nadia mengehela nafasnya, lelah karena melihat wajah yang sama yang berani berbicara. " Apa yang kamu inginkan?"


" Bolehkah aku membantunya menyanyikan yel-yel itu?" tanya fajar ingin membantu teman seangkatan dengannya.


" Tidak, aku tidak memberi mu izin untuk membantunya. Dan kami tidak membutuhkan seorang pahlawan disini. Duduk!" bentak nadia sambil berkacak pinggang menatap tajam kearah fajar.


" Tapi.." ucapan fajar dipotong oleh Nadia.


" Duduk atau tidak kamu keluar dari sini!" teriak Nadia yang tidak terima jika perintahnya dilawan.


Fajar hanya pasrah dan kembali duduk. Saat Nadia kembali menghukum temannya, fajar kembali mengangkat tangannya dan berteriak, " Bolehkah aku meminta izin untuk membantunya?"


Nadia begitu kesal, fajar tida kapok dan terus saja membantah.


" Sudah aku bilang, aku tidak memberi mu izin. Sekarang kamu keluar!" bentak Nadia marah.


Fajar dengan kesal keluar dari aula. Tidak berselang lama Bima juga mengangkat tangannya.


" Bima dari fakultas teknik industri. Bolehkah aku meminta izin?" ujar Bima berdiri seperti apa yang dilakukan fajar sebelumnya.


Nadia menghela nafasnya, " Apa masalahmu, hm?"


" Aku ingin fajar kembali ke aula dan biarkan kami semua menyanyikan yel-yel itu." ujar Bima.


Namun, permohonan Bima ditolak oleh Nadia. Bima akhirnya duduk kembali dengan lemas. Beberapa mahasiswa baru yang juga mengangkat tangannya dan berkata seperti apa yang dikatakan Bima. Namun, tetap saja permohonan mereka ditolak oleh Nadia.


Hingga akhirnya Nadia menghela nafas capek sebab banyak mahasiswa baru yang mulai mengangkat tangan mereka dengan permohonan yang sama.


" Jika kalian ingin membantu dengan ikut bernyanyi bersama, aku akan izinkan tetapi teman kalian bernama fajar itu tidak boleh kembali ke aula." ujar Nadia kesal.


Mahasiswa baru hanya bisa menyanyikan yel-yel itu bersama-sama. Tanpa mereka sadari fajar mendengar semuanya diluar aula. Fajar tersenyum, dia tidak menyangka jika teman-temannya sangat baik padanya.


Kegiatan telah usai, fajar duduk di depan kampus. Menunggu teman-temannya untuk pulang bersama. Dari belakang, Nadia dengan teman-temannya baru saja keluar. Mereka berencana untuk makan mal bersama. Hingga akhirnya mereka melihat fajar duduk sendirian.


" Eh siapa itu?" tanya Karin.


" Fajar," jawab Bagas.


Mereka menghampiri fajar yang tengah duduk sendirian. Nadia berdiri disampingnya, fajar yang menyadari berdiri menghadap ke Nadia.


" Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Nadia dengan tangan melipat ke dada.


" Aku sedang menunggu teman-temanku." jawab fajar.


" Kamu tahu, kan? kenapa aku mengeluarkan mu hari ini?" tanya Nadia.


" Karena aku membuat mu marah." jawab fajar.


" Tentang aku yang meminta untuk membantu temanku bernyanyi." jawab fajar.


" Salah! aku mengeluarkan mu hari ini. Karena kami tidak butuh pahlawan disini." ujar Nadia.


" Apa maksudmu?" tanya fajar tidak paham, yang jelas dia lakukan untuk membantu bukan menjadi pahlawan.


" Atau kamu tidak suka jika aku selalu menampilkan diriku untuk melakukan sesuatu? Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian tetapi aku hanya ingin membantu teman-teman ku." ujar fajar lagi karena dia sadar selama ini dia selalu menampilkan dirinya untuk membantu teman-temannya.


" Apakah kamu tidak berfikir bahwa kamu membuat mereka terbiasa dibantu olehmu? Bukannya itu hanya membuat mereka menunggu seseorang untuk memimpin mereka? Bagaimana mereka akan menghadapi situasi sulit dalam hidup mereka? Bagaimana mereka bisa mengatasinya sendiri? Jika temanmu hanya menunggu seseorang untuk memimpin mereka dan bahkan tidak mencoba berdiri dan menyelesaikannya sendiri. Berarti mereka belum cukup baik untuk menjadi juniorku. Apa kamu mengerti maksud ku? " tanya Nadia memberi pemahaman kepada fajar.


Fajar hanya diam, dia menyadari akan hal itu. Apa dikatakan Nadia itu benar. Sebagai mahasiswa kita harus memiliki jika berani. Berani berbicara, membela bahkan menolak di depan orang banyak. Mahasiswalah yang nantinya akan membantu masyarakat jika ada keputusan dari pemerintah yang merugikan masyarakat. Maka mahasiswa pula yang akan berdiri digaris depan untuk menyuarakan suara rakyat. Jadi inilah alasan dibalik kegiatan ospek ini. Fajar akhirnya mengerti, Fajar menatap Nadia dengan bangga.


" Tadi temanmu baru saja menemui ku dan berbicara denganku. Dia memintaku untuk mengizinkan kamu mengikuti kembali kegiatan besok di aula. Aku mengizinkan, tetapi ini adalah peringatan terakhir buatmu. Jangan sok menjadi pahlawan lagi. Kamu paham?" ujar Nadia mengancam dengan menunjuk jadi telunjuk kearah fajar.


" Paham." jawab fajar.


Nadia dan teman-temannya hendak pergi meninggalkan fajar. Namun fajar menghentikan Nadia untuk ikut dengan teman-temannya.


" Tunggu sebentar kak Nadia." ucap fajar.


Nadia menghela nafasnya dan menghadap kembali ke arah fajar dengan tatapan datar


" Ketika aku meminta tanda tangan mu saat itu, aku tidak mencoba menjadi pahlawan atau apapun. Kenapa kamu menghukum ku?" tanya fajar.


" Emang apa yang kamu pikirkan?" tanya Nadia.


" Sepertinya..." menatap Nadia sambil tersenyum, " Kakak menyukaiku."


Nadia tertegun mendengar ucapan fajar.


" Hah? Apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Nadia.


" Ada yang pernah mengatakan ketika kamu menyukai seseorang, dia akan mencari cara untuk menggangu seseorang itu agar bisa mendapat perhatiannya. Dan tampaknya kakak senang menghukum ku. Apa itu berarti.. kak Nadia menyukai ku?" tanya fajar tersenyum mendekati wajah lebih dekat kepada Nadia.


Nadia salah tingkah dengan pertanyaan itu, dia menghindar untuk kontak mata langsung dengan fajar.


" Enggak lah!" jawab Nadia kesal.


" Apa kalian lihat-lihat?" teriak Nadia yang menyadari teman-temannya fajar ternyata sudah ada disana berdiri tidak jauh dari dirinya.


" Jika kalian sudah selesai disini, pulanglah! Dan kamu juga pulang ke rumah!" ujar Nadia kesal kepada fajar dan teman-temannya.


Nadia pergi, sedangkan fajar tersenyum senang dan memandang kepergian calon istrinya itu.


" Fajar, jangan bilang kamu membuat dia kesal lagi?" tanya Bima.


" Gak kok." jawab fajar.


" Berani banget kamu bilang enggak, jelas-jelas wajah terlihat kesal begitu." ujar Bima.


" Aku hanya membuatnya sedikit jengkel." jawab fajar tersenyum.