
Di hari pertama magang, tidak banyak yang ang dilakukan oleh Fajar. Setelah mendengar penempatan kerjanya dimana, Fajar langsung diminta untuk pulang. Sebelum itu dia mengabari Nadia melalui pesan, dia menanyakan kepada istrinya apakah sudah pulang. Karena dia bisa menunggu untuk pulang bersama, kebetulan Fajar baru saja membeli motor baru, jadi Nadia tidak perlu naik ojek ataupun untuk berangkat dan pulang kerja mereka bisa berangkat dan pulang berdua. Fajar merencanakan itu semua meski dia membelikan motor dari uang ayahnya. Nadia membalas pesan Fajar dengan meminta Fajar untuk pulang duluan, karena dia masih banyak pekerjaan.
Fajar hanya membaca pesan itu dengan sedih, niatnya ingin pulang bersama namun Nadia masih banyak pekerjaan. Celina datang menyapa Fajar, kebetulan dia juga akan pulang. Melihat Celina yang sendiri, dia menawarkan diri untuk mengantarkan Celina pulang. Celina menerimanya, kebetulan rumahnya jauh dari kantor jadi harus butuh waktu untuk berjalan kaki menuju halte. Jadi, Celina meminta Fajar untuk mengantarkannya menuju halte bus saja.
Fajar memberikan helm yang sudah disiapkan untuk Nadia, namun tidak jadi karena kesibukan Nadia. Celina memakainya dan duduk dibelakang Fajar. Dari arah belakang Nadia keluar dari kantor, dia ingin menitipkan dokumen kepada Fajar untuk dibawa pulang. Namun, dia hentikan karena melihat Fajar sudah berboncengan dengan Celina. Nadia yang sudah memaafkan karena dibohongi kembali dibuat kesal. Padahal baru saja Fajar menawarkan pulang bersama, kini cowok itu sudah berboncengan dengan gadis lain. Nadia sungguh cemburu dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya.
Diva baru saja membeli minuman, setelah keluar dari cafe seseorang menariknya. Siapa lagi jika bukan Kevin. Lagi-lagi Kevin memaksa Diva untuk ikut dengannya.
" Lepaskan! Kamu mau mengajakku kemana?"
" Sudah ikut saja."
" Aku bisa laporkan kamu ke kantor polisi, sebagai bentuk tindakan penculikan dan pemaksaan. Bisa dipenjara tiga tahun, jadi lepaskan aku!"
" Laporkan saja! Penjarakan saja aku. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam, apa susahnya sih!" Kevin terus menarik Diva, dia memanggil taksi dan memaksa diva untuk masuk.
Sebagai perempuan yang lemah, diva hanya bisa pasrah. Karena tangannya yang satu tengah memegang minuman yang baru saja dibelinya. Sayang baginya untuk dibuang, dan tangan satunya lagi digenggam erat oleh Kevin. Kevin terus menggenggam tangan Diva agar diva tidak kabur.
Taksi berhenti disebuah Cafe, lagi dan lagi Kevin menarik diva untuk ikut dengannya. Dia memberontak, hingga tangan itu dilepaskan ketika mereka berdua masuk kedalam cafe. Alangkah terkejutnya diva melihat seniornya dulu, senior yang pernah satu kampus dengan dulu. Diva menyapa seniornya itu, diva begitu menghargai seniornya. Karena seniornya mengajarkan dia bagaimana menjadi mahasiswa yang baik.
" Kak Bisma ada disini? Dan kalian berdua saling mengenal?" Tanya Diva saat Kevin menyapa Bisma yang merupakan seniornya.
" Aku mengajakmu kesini untuk bertemu dengannya. Apa susahnya kamu untuk nurut." Kata Kevin kesal karena diva selalu menggunakan paksaan agar mau ikut dengannya.
" Kamu sendiri kenapa tidak bilang dari tadi." Ucap Diva membela dirinya.
" Bagaimana mau bilang, kamu saja sudah keburu berburuk sangka."
Sebelum pertengkaran semakin memanas, Bisma dengan cepat mencegah. Bisma sangat senang bertemu dengan Diva, apalagi Diva merupakan junior yang pintar. Bisma tidak menyangka jika Diva harus pindah kampus karena bermasalah dengan kampusnya dulu. Mereka bertiga mulai berbincang-bincang, diva dan Bisma bernostalgia akan pengalaman mereka yang berkuliah di kampus yang sama.
Kevin yang ingin dekat dengan Diva, mulai semakin menyadari dan tahu tentang diva. Ternyata Diva bukan hanya seorang mahasiswa yang hanya fokus dengan kuliahnya saja melainkan diva juga pernah aktif diberbagai kegiatan kampus. Namun, semua itu tidak lakukan lagi ketika diva mengalami insiden yang membuat di keluarkan dari kampusnya dulu. Dari situ Kevin menyadari kenapa diva tidak mau ikut kegiatan ospek, karena dia punya prinsip dari prinsip itu dia juga memiliki alasan kenapa dia lebih fokus pada prinsipnya sebagai mahasiswa.
Semua pekerjaan sudah beres, Nadia ingin segera pulang. Namun dia dicegah oleh Edgar. Edgar ingin mengajak makan malam bersama. Kebetulan Edgar tinggal sendirian jadi dia butuh teman untuk makan malam sebelum pulang ke rumah. Nadia menyanggupinya, mengingat dirinya masih kesal dengan Fajar. Mereka berdua pergi berdua, menuju sebuah warung makan.
" Wah! Hujan nih.." ucap Nadia saat mendengar deru hujan diluar warung makan.
" Iya.. kamu mau cepat pulang?"
" Iya. Hujan gini enaknya segera tidur di kasur."
" Hahaha.. kirain ada jemuran yang belum diangkat. Kalau begitu, aku bayar ini dulu. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Ujar Edgar mengeluarkan uang di dompetnya untuk membayar makanan mereka berdua.
Di kos, Fajar menunggu kepulangan Nadia didepan pintu. Hujan diluar tengah derasnya, membuat dia begitu khawatir akan keadaan istrinya.
" Biasa jam segini kak Nadia sudah pulang. Kenapa lama sekali? Apa dia lembur lagi?"
Fajar begitu tidak tenang dengan keadaan Nadia. Padahal dia sudah menyiapkan makan malam namun Nadia masih belum juga tiba. Fajar mengecek diluar halaman kos. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepan pagar. Fajar sangat mengenali mobil itu, itu adalah mobil Edgar. Segera dia bersembunyi, dia ingat dengan perkataan Nadia untuk tidak ketahuan jika mereka berdua sudah menikah.
Fajar melihat Nadia turun dari mobilnya Edgar, begitupula Edgar turun untuk memayungi Nadia. Fajar yang melihat itu hanya bisa menahan rasa sakit hatinya. Meski cemburu, dia mencoba untuk berpikir positif jika saja Edgar dan Nadia hanyalah teman kerja. Pasti hujan seperti ini Edgar akan menawarkan untuk mengantar Nadia pulang. Dia tidak ingin menuduh sembarangan dan memulai sebuah pertengkaran. Karena tadi pagi Nadia sudah marah padanya karena sudah dibohongi. Fajar masuk kedalam kos dengan menahan rasa cemburunya.
" Kak Nadia sudah pulang? Kita makan malam dulu yuk." Ajak Fajar karena dia sudah menunggu Nadia sedari tadi.
" Aku sudah makan." Ucap Nadia.
" Tapi kak, aku.."
" Aku mau tidur." Ucap Nadia lagi dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Fajar hanya bisa diam di kursi, dia menyadari jika Nadia masih marah padanya. Dia bangan dan mendekati Nadia, berbaring disamping istrinya dan memeluk pinggang istrinya.
" Aku capek, aku ingin tidur." Ucap Nadia melepaskan tangan Fajar yang memeluk pinggangnya.
Fajar hanya bisa memandangi langit didinding kamar. Dia sedang merasakan sakit hati, namun kini dia justru dicueki oleh istrinya. Seharusnya dia bisa memulai pertengkaran ini dengan bertanya kenapa Nadia harus pulang bersama dengan Edgar. Namun, Fajar menahan rasa sakit hatinya itu.
" Aku minta maaf." Ucap Fajar pelan, lalu menutup matanya dengan airmata yang mengalir.