
Demi keinginan mereka untuk melakukan perjalanan ke pantai serta liburan dari penatnya ujian dan kegiatan ospek. Nadia bersama dengan teman-temannya kembali menemui dosen untuk menyetujui laporan mereka akan ide tour ke pantai. Dengan rasa gelisah karena takut jika tidak ada persetujuan, mereka berani berhadapan lagi dengan dosen agar bisa menandatangani laporan mereka.
" Bagaimana pak?" Tanya Nadia ketika melihatnya dosen telah selesai membaca proposal mereka.
" Kenapa kalian mengajukan ide ini?" Tanya dosen setelah selesai melihat isi proposal mereka.
" Jadi, ide ini merupakan ide dari kami para panitia ospek. Ide ini tidak jauh berbeda dengan tujuan dari kegiatan ospek sendiri yaitu terjalin hubungan serta rasa persaudaraan antar kami para senior dan juga junior. Tapi kegiatan ini tidaklah sama seperti kegiatan ospek pada umumnya, kegiatan ini hanyalah untuk bersenang-senang sekaligus healing untuk kita senior dan para mahasiswa semester 1 setelah menghadapi ujian." Kata Nadia menjelaskan tujuan dari proposal yang dia ajukan.
" Aku setuju dengan ide ini." Ucap Dosen lalu segera menandatangani proposal sebagai bentuk persetujuannya.
Nadia dan teman-temannya saling memandang sambil tersenyum. Mereka tidak menyangka jika ide proposal mereka bakalan diterima dengan mudah oleh dosen.
Ujian sudah berakhir, maka tour ke pantai sudah didepan mata. Mahasiswa semester 1 khususnya mahasiswa fakultas teknik begitu antusias. Mereka akan menikmati liburan setelah penat dengan ujian. Fajar, Bima, Yoga dan Kevin begitu antusias mereka datang ke kampus bersamaan dengan membawa ransel masing-masing. Yoga yang sangat menanti tour ini, tidak lupa bergaya dengan kacamata hitamnya, dengan harapan mahasiswi yang hadir bisa melihat kerennya seorang Yoga. Mereka berempat menyapa senior yang mengabsen setiap mahasiswa yang akan ikut tour. Bima meski sudah diizinkan oleh ibunya pergi, dirinya masih was-was takutnya jika tour ini kegiatannya akan sama dengan ospek.
" Maaf kak, mau nanya. Kegiatan di pantai nanti apa akan sama dengan kegiatan ospek?" Bima bertanya kepada senior itu untuk sekedar memastikan.
" Gak kok. Cuma liburan saja. Kalau gak percaya, kalian lihat deh disana, para senior berpakaian santai, kan?"
Reflek mereka berempat memperhatikan arah tangan dari senior itu. Disana terlihat Nadia dengan teman-temannya berpakaian santai seperti orang yang sedang liburan. Fajar memperhatikan penampilan Nadia, gadis itu terkesan feminim karena dianhnay memakai kaos dan rok pendek.
" Baru pertama kali aku ngelihat kak Nadia berpenampilan seperti itu." Yoga sampai membuka kacamata hitamnya saking tidak percaya dengan perubahan penampilan Nadia. Biasanya gadis itu akan memakai celana jeans panjang dan jas almamater yang tidak pernah lepas. Secara penampilan terkesan sangat formal, tapi kali ini dia terlihat berbeda dari biasanya.
Citra, Mina dan Gladis bersama para mahasiswi yang lain tak ketinggalan untuk meninggalkan momen sebelum mereka berangkat ke pantai. Mereka bertiga menghampiri Prince untuk mengajak berfoto bersama. Membuat Yoga yang stay cool dari tadi merasa kecewa karena para gadis memilih berfoto bersama Prince.
" Ah! Sialan! Malah Prince yang diajak foto." Ucap Yoga dengan perasaan kecewa.
" Kacamata mu mungkin tidak terlalu menarik di mata mereka." Ucap Bima.
Tak berselang lama, Wawan si cowok cuek itu ternyata juga ikut kegiatan tour ini. Mereka berempat tidak menyangka akan kehadiran Wawan, karena Wawan selalu menolak apalagi berkaitan dengan kegiatan senior.
" Lihat! Ada Wawan." Ucap Bima.
" Oh Wawan, bukannya sejak kemarin lalu acara perpisahan dia juga ikut ya." Ujar senior yang sedari tadi berdiri dengan mereka.
" Iya sih! Aku gak menyangka jika dia juga mau ikut kegiatan seperti ini." Ucap Yoga.
Wawan datang menghampiri mereka berempat dan menyapa mereka. " Kalian juga?"
" Itu gak usah ditanya." Ucap Yoga.
Tak berselang lama, Nadia, Dea dan Karin menghampiri mereka. " Kalian berlima segera masuk. Mau berdiri disini terus." Ujar Nadia.
Dea yang melihat kedatangan Wawan juga menyapanya, bahkan saat di bus dia mencari kesempatan untuk duduk berdua dengan Wawan.
Para mahasiswa, mereka semua turun berenang di laut. Tetapi Fajar tidak mau melakukan hal itu, karena dia sangat trauma dengan laut. Yoga dan Kevin yang tidak mengetahui hal itu terus memaksa Fajar untuk berenang bersama mereka.
" Ayolah! Ombak kecil kok." Ajak Yoga.
" Gak, kalian saja." Ucap fajar terus menolak.
Melihat perdebatan kecil dihadapannya, Nadia menghampiri mereka. "Kalian kenapa?"
" Ini kak si Fajar gak mau berenang." Lapor Yoga karena sudah memaksa Fajar namun tetap saja ditolak.
" Fajar! Kenapa kamu gak berenang? Sana berenang dengan teman-teman mu." Seru Nadia.
" Tapi kak.. aku..."
" Udah sana! Ini perintah!" Ujar Nadia yang akhirnya tidak bisa ditolak oleh Fajar.
Dengan pelan Fajar mulai mendekati air laut. Dengan ragu-ragu tubuhnya mulai sedikit menyentuh air laut. Yoga terus menariknya ketempat yang agak dalam, untuk berenang bersama mereka. Fajar menutup matanya, mencoba berani meski rasa takutnya terus menyelimuti. Saat sedang Yoga dan yang lain asyik bermain-main air. Ombak besar menghantam mereka. Fajar yang tidak bisa akhirnya kewalahan untuk bisa berenang ketepi pantai. Alhasil dirinya tenggelam, dia mencoba menyelamatkan diri namun ombar terus menarik tubuhnya. Hingga tubuh Fajar terombang-ambing mengikuti arus air. Trauma akan masa lalu kembali teringat.
Saat itu Fajar masih berusia 5 tahun, layak ritual keluarga. Saatnya ayahnya libur bekerja mereka sekeluarga biasa berlibur baik itu ke pantai atau tidak ke puncak. Kebetulan hari libur itu mereka merencanakan untuk libur di pantai. Fajar yang masih kecil begitu antusias melihat air laut, dia mulai berenang ditemani oleh ayahnya. Namun, karena kurangnya pengawasan, Fajar terseret oleh air laut. Fajar terus berteriak, suaranya yang kecil membuat ayahnya yang bersama tidak mendengar. Hampir saja Fajar kehilangannya nyawa, beruntung ayahnya segera menolong meski sedikit terlambat. Dari peristiwa itu, ayah tidak lagi mengajak liburan ke pantai lagi, karena itulah Fajar trauma hingga sekarang.
Sebuah tangan menarik tubuh Fajar, lalu dia berenang ketepian pantai.
"Fajar! Fajar! Bangun!" Teriak orang itu sambil menggoyangkan tubuh Fajar.
Dia mencoba merasa area pernapasan Fajar, dan beruntungnya Fajar masih bernafas. Dia terus menggoyangkan tubuh Fajar untuk segera bangun. Tak berselang lama, Fajar membuka matanya yang pertama dia lihat adalah wajah khawatir dari Nadia.
" Kak Nadia.." ucapnya pelan.
" Kamu mau mati, hah!" Bentak Nadia.
" Tapi.. tadi kak Nadia meminta ku.."
" Kalau gak bisa berenang tuh bilang! Bikin khawatir saja!" Bentak Nadia lalu berlalu meninggalkan Fajar.
Yoga, dan Bima segera menghampiri sahabat mereka. " Kamu gak apa-apa?" Tanya Bima.
Fajar hanya mengangguk.
" Tadi kak Nadia khawatir banget sama kamu. Dia langsung berenang untuk selamatin kamu. Beruntungnya kamu gak apa-apa." Ujar Bima.