
Nadia masih tertidur lelap di atas kasur, hingga waktu sudah menunjukkan pukul 7. Fajar yang sudah duluan bangun, mencoba untuk membangunkan istrinya itu dengan lembut.
" Kak Nadia, waktunya bangun, ini sudah jam 7 loh. Kamu bisa terlambat kak." Ucap Fajar membangunkan istrinya.
" 10 menit lagi." Jawab Nadia dengan mata yang masih tertutup, lalu dirinya menarik selimutnya dan kembali tertidur dengan memiringkan tubuhnya.
Fajar tersenyum, dan tak memaksa Nadia untuk bangun dari tidurnya. Fajar lalu bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Setelah menikah mereka memilih untuk tinggal bareng meski bukan rumah melainkan hanya sebuah kos untuk mereka berdua. Di dalam kamar terdapat banyak foto, baik foto pernikahan bahkan foto mereka berdua. Fajar telah selesai mandi, dia sudah memakai pakaian dan tak lupa memakai jas karena hari ini dia akan menjadi ketua ospek di kampus. Ketekunan Fajar untuk bisa menjadi ketua ospek seperti Nadia sang istri terwujud. Meski waktu akan sedikit bagi mereka berdua, Nadia tak pernah melarang Fajar. Dia bahkan menyetujui keinginan Fajar itu.
Nadia masih belum juga bangun, sebelum berangkat ke kampus Fajar kembali membangunkan Nadia. Sambil berbisik, Fajar mencoba membangunkan istrinya. " Kak Nadia, ayo bangun." Ucap Fajar dengan lembut tempat ditelinga istrinya sambil meniup telinga istrinya.
Merasa geli, Nadia membukakan matanya dan tangannya menutupi telinganya karena tak ingin Fajar meniupnya. Nadia melihat jam dinding ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah 8. Membuat Nadia tersentak bangun dan duduk diatas kasur.
" Fajar! Kenapa kamu gak membangunkan ku?" Teriak Nadia kesal kepada Fajar, karena dia merasa Fajar tak membangunkannya.
" Aku sudah membangunkan kakak berkali-kali tapi kakak masih saja tertidur." Ucap Fajar.
" Udah jam setengah 8 lagi. Aku sudah bilang gak mau bangun telat hari ini." Ucap Nadia segera berdiri, bersiap untuk mandi. Fajar yang tahu, dia sudah memegang handuk istrinya lalu memberikan segara kepada Nadia. Sikap buru-buru Nadia itu, membuat Fajar tersenyum, Nadia terlihat begitu lucu dimatanya.
Fajar menyiapkan susu kedelai kesukaannya saat Nadia tengah sibuk menyiapkan dokumen apa yang dibawanya untuk bekerja. Fajar tak perlu lagi menawarkan sarapan untuk Nadia, karena terlihat Nadia sedang buru-buru. Gadis itu telah telat berangkat kerja, jika harus sarapan pagi. Karena hari ini merupakan hari pertama Nadia bekerja. Dia mulai diterima disalah satu perusahaan di Jakarta.
" Kak, apa kakak mau aku berang bersama kakak?" Tanya Fajar, siapa tahu sambil jalan Nadia bisa sambil sarapan. Dan Fajar bisa melihat istrinya sarapan pagi dengan lahap.
" Gak usah, aku masih bisa naik ojek kok. Kamu harus ini ada kelas pagi, kan? Jadi kamu berangkat duluan saja ke kampus." Ujar Nadia.
Fajar lalu merapikan pakaian Nadia yang terlihat sedikit berantakan. Fajar tersenyum di hadapan istrinya, seolah senyuman itu akan menjadi vitamin bagi sang istri yang akan melewati harinya dengan bekerja.
" Jika aku telat ke kantor hari ini, maka nanti aku akan menyuruh push up." Ancam Nadia karena Fajar tak membangunkannya. Padahal bukan salah Fajar melainkan dirinya sendiri. Nadia seolah tak mau merasa bersalah.
" Baiklah. Apapun yang kakak perintah akan aku lakukan." Ucap Fajar menyanggupi.
" Kamu ngapain?" Tanya Nadia.
" Aku cuma ingin memfoto kakak. Setidaknya ini menjadi suatu saat nanti. Foto yang membuat ku selalu teringat jika ada aku saat kakak pertama kali masuk kerja. Foto ini juga akan menjadi momen penting ketika aku berada di hari penting kakak untuk pertama kalinya." Kata Fajar.
" Apaan sih! Aku jadi telat gara-gara kamu loh ya." Ucap Nadia meski terbawa perasaan namun dia mesti berpura-pura seperti itu. Nadia lalu pergi meninggalkan Fajar yang masih berada di dalam kos.
Suasana di fakultas teknik begitu ramai dikunjungi mahasiswa baru yang tengah mendaftar satu persatu untuk masuk ke dalam aula. Hari ini merupakan ospek pertama yang dimana ospek ini dibawah pimpinan Fajar. Layaknya pada umumnya, semua mahasiswa baru di suruh berkumpul kedalam aula. Mereka duduk dengan rapi sebelum ketua serta para anggota panitia datang untuk menyapa sekaligus memberikan aturan akan kegiatan ospek ini. Semua panitia memasang wajah sangar mereka, tidak ada senyum bahkan menyapa layaknya adik dan kakak. Semua itu dilakukan agar mahasiswa baru bisa tahu cara menghargai senior mereka.
Sedangkan Nadia yang pertama kali bekerja, baru saja datang dan beruntung dia tak telat meski dirinya berdesakan di dalam lift. Karena pertama kali, Nadia belum di arahkan dibagian mana dia akan bekerja. Sebab isi lamarannya dia akan melamar dibagian produksi sesuai dengan jurusan yang pernah dia ambil. Mungkin akan terasa sulit sebab dirinya seorang perempuan, akan susah jika berurusan dengan mesin. Namun ilmu sudah didapatkan, Nadia ingin memanfaatkan ilmunya yang dia dapatkan selama masa kuliah.
Nadia diminta menghadap manajer perusahan. Dia diminta untuk bekerja dibidang pembelian karena kebetulan bagian pembelian masih membutuhkan karyawan. Karena sang manajer ragu jika Nadia harus bekerja dibidang produksi. Awalnya Nadia begitu kecewa, tapi baginya tak masalah jika bekerja dibagian pembelian, setidaknya dirinya tak merasa begitu lelah jika berurusan dengan mesin.
Saat dirinya menuju ruangan kerjanya, Nadia mendapat pesan dari Fajar jika malam ini Fajar dan teman-temannya di undang ke cafe milik Prince. Nadia cuma membaca namun tak membalas. Sedangkan Fajar tengah bersama teman-temannya untuk mendiskusikan rencana besok karena besok kegiatan ospek akan dimulai, karena hari ini hanyalah sekedar pengenalan saja. Mereka berdua terlihat begitu sibuk dengan kehidupan masing-masing. Tak terasa bagi mereka jika mereka sudah berstatus suami istri.
Fajar sudah berada di cafe milik Prince, dia membantu Bima dan Mina yang tengah menyiapkan beberapa makanan ringan untuk para senior yang lain. Fajar meminta Bima untuk segera menyatakan cinta kepada Mina. Karena sudah masuki tahun kedua Bima masih belum juga menyatakan cintanya kepada Mina.
" Mau sampai kapan kamu membantu dan nempel dengannya begitu, hah! Udah 2 tahun loh ini, masih belum juga nyatakan perasaan mu kepada Mina." Kata Fajar melihat Bima membantu Mina yang tengah menyiapkan cemilan.
" Butuh waktu bro, kamu pikir bakal segampang itu. Apalagi kami ini sudah berteman, takutnya Mina belum siap jika dari teman lalu pacaran." Ujar Bima.
" Terserah kamu sih.. aku cuma takut diambil orang." Ujar Fajar.
" Haha, jika diambil aku akan rebut kembali. Jadi gimana kamu sekarang udah jadi suami." Tanya Bima, Fajar yang dulunya masih perjaka seperti dirinya kini sudah memiliki istri dia usia yang cukup muda.
" Gak ada bedanya. Hanya tinggal bersama sekarang. Mungkin dulu sering apa-apa sendiri, sekarang ya masih sama. Apalagi kak Nadia udah sibuk. Gak ada bedanya." Ujar Fajar.
Tak berselang lama, Nadia datang. Dia masih mengenakan pakaian kerjanya, karena mau bagaimana lagi sudah lama momen seperti ini bisa terulang. Sebab ketika mereka sudah lulus, mereka sudah mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Karin mulai sibuk dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Prince dan Bagas yang telat wisuda kini juga sibuk, Prince sibuk dengan bisnis cafenya begitulah Bagas yang sibuk memulai bisnis entah bisnis apa yang dia pikirkan. Sedangkan Dea, nasibnya tak seberuntung teman-temannya, dia malah masih menjadi seorang pengangguran. Meski sudah menempuh pendidikan S1, belum tentu pekerjaan yang sesuai jurusan, justru akan disuguhkan dengan pilihan hidup masing-masing.