Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 54



" Bagaimana dengan filmnya? Apa kamu menikmatinya?" Tanya Fajar kepada Nadia.


Nadia yang moodnya mulai berubah ketika melihat Citra tadi, karena dirinya takut jika Citra berfikir macam-macam tentang hubungan mereka, toh Nadia tak ingin ada yang tahu jika sebenarnya dia dan Fajar sudah berpacaran. Bukan hanya itu, Nadia masih memikirkan Fajar yang ingin segera menikah dan punya anak, sedangkan dirinya masih ingin melanjutkan studinya. Mood Nadia makin berantakan, pikirannya terus memikirkan hal itu.


" Hm... Lumayan bagus." Jawab Nadia.


" Apa kakak lapar?" Tanya Fajar, karena seharian mereka sudah membeli kado untuk Laras, belum lagi mereka menonton film yang durasinya lumayan panjang.


" Sedikit sih." Jawab Nadia, tak memungkiri jika dirinya juga lapar, karena tadi sebelum bertemu dengan Fajar dia terburu-buru dan tak sempat untuk mengisi perutnya.


" Mari kita ke warung itu lagi." Ajak Fajar, dia ingin kesana mengenang dulu tempat itu pernah diajak oleh Nadia untuk makan disana. Yang dimana tempat itu merupakan tempat favorit Nadia. Dimana Nadia sering berkunjung disana, dengan begitu mood Nadia bisa kembali. Fajar sedari tadi memperhatikan calon istrinya itu, sepertinya Nadia sedang tidak baik-baik saja.


Makanan sudah diantar oleh pelayan, sedari menunggu Fajar yang selalu bertanya kepada Nadia dan Nadia hanya menjawab singkat seperti sedang tidak mood untuk berbicara. Fajar menyadari itu, dia tak mengerti dengan Nadia, padahal tadi dia terlihat senang-senang saja. Sekarang gadis itu seperti pendiam semenjak menonton film tadi.


" Kak Nadia baik-baik saja? Kakak sepertinya sedang merasa tak baik-baik saja?" Tanya Fajar karena sedari tadi Nadia terlihat diam dan tak seantusias tadi saat mereka membeli kado untuk kehamilan Laras.


" Aku baik kok." Ucap Nadia namun wajah tetap sama terlihat tak baik-baik saja.


" Apa film tadi gak bagus?" Tanya Fajar memastikan mungkin saja tayangan film tadi membuat Nadia terlihat murung.


" Bagus." Jawab Nadia sambil makan. Nadia memandang Fajar, Fajar terlihat murung karena Nadia selalu menjawab singkat setiap pertanyaan yang diajukannya.


" Fajar, apa kamu merasa jika Citra terlihat imut?" Tanya Nadia kepada Fajar.


" Tentu saja, dia kan bintang di kampus kita." Jawab Fajar senyuman merekah ketika Nadia memulai pembicaraan kepadanya.


" Iya, dia begitu imut. Apa dia sudah punya pacar?" Tanya Nadia lagi.


" Yang aku dengar, dia belum mempunyai pacar." Jawab Fajar.


" Oh.. baguslah.." ucap Nadia. Nadia melihat reaksi Fajar saat pertama kali dia bertanya tentang Citra, senyuman Fajar mengundang arti yang berbeda dari Nadia. Hati kecil Nadia, merasa cemburu. Dan benar kata orang Fajar memang cocok dengan citra sebab merupakan bintang dan bulan di kampusnya.


" Kayaknya hujan gak bakalan berhenti, kak Nadia bisa tunggu disini sebentar, aku akan membelikan payung untuk kita." Kata Fajar, dia lalu menyebrangi jalan karena didepan rumah makan tepat diseberang jalan ada sebuah toko. Fajar membali payung untuk dirinya dan Nadia, karena banyak orang yang membeli, payung di toko itu sisa satu. Terpaksa Fajar tetap membeli payung itu untuk mereka berdua. Fajar datang dengan satu payung, Nadia melihat itu. Selama perjalanan Fajar terus memayungi Nadia, Nadia terdiam saja. Bahkan pengendara motor hampir menabrak beruntung Fajar segera menarik tangan Nadia. Nadia dengan kasar melepaskan tangan Fajar. Fajar tak mengerti dengan perubahan sikap dari Nadia ini, Fajar tetap memayungi Nadia tanpa bertanya banyak. Nadia berjalan seolah tak perduli dengan Fajar yang berusaha mengikuti arah jalan Nadia karena dia sedang memayungi Nadia. Hingga sampai kos, tak ada pertanyaan serta pembicaraan yang Nadia utarakan, Nadia lalu masuk kedalam kosnya begitu saja, tanpa perduli dengan Fajar.


Fajar dan teman-temannya berada di kantin, mereka tengah menikmati makanan serta mengobrol. Saat Fajar tengah berdiri mengambil uang di saku celananya. Citra berjalan sendirian dengan membawa makanan, melihat Fajar dia langsung menyapa. Terlihat Citra sedang mencari tempat duduk, namun nampaknya sudah terisi penuh. Begitu pula di daerah Fajar dan teman-temannya.


" Aku ingin duduk dengan kalian, tapi nampaknya tempat sudah terisi penuh." Kata Citra kepada Fajar.


" Tunggulah sebentar, teman-teman ku ini porsi makannya gak banyak kok." Ujar Fajar sambil bercanda.


Tiba-tiba datanglah Prince bersama dengan Karin, Bagas dan Nadia. Prince sang raja gombal ini, tiba-tiba meminta Bima untuk segera menyelesaikan makanan karena merasa kasihan dengan Citra yang berdiri sambil menenteng makanannya. Prince seolah menunjukan perhatiannya kepada Citra. Namun Bima tak kunjung bangun, sebab dirinya belum selesai makan. Karena Citra belum juga duduk, Prince mengajak Citra untuk makan bersamanya.


" Jika kamu belum juga mendapatkan tempat duduk, mari makan bersama ku saja, setelah mereka selesai." Ajak Prince kepada Nadia.


" Tapi Citra sudah dulu memakai meja ini, jika kak prince ingin memakai meja, kayaknya gak cukup deh untuk kakak." Kata Fajar kepada Prince.


Nadia berada disitu juga mendengar, ekspresi wajah seperti ingin muntah ketika melihat Fajar berkata seperti itu. Maksud Fajar bermaksud baik, namun disalah artikan oleh Nadia, membuat Nadia tak begitu suka dengan apa yang dikatakan Fajar kepada Prince tadi.


" Kamu sangat perhatian padanya, apa kamu ada sesuatu dengannya? Apa kamu tak keberatan jika aku duduk dengannya? Baiklah, Citra, kamu minggirlah dulu. Biar aku mencari tempat lain saja." Kata Prince lalu berjalan duluan.


Dan Bagas yang berjalan dibelakang bertanya kepada Citra, " apa dia pacarmu?" Namun pertanyaan itu tidak dijawab oleh Citra.


Saat berjalan tak sengaja pulpen milik Nadia terjatuh, Fajar menyadarinya. Dia segera menarik tangan Nadia, berniat untuk mengembalikan pulpen Nadia yang terjatuh Namun, karena Nadia sudah mulai kesal dengan Fajar, dengan kasarnya dia menghempaskan tangan Fajar yang menyentuh tangannya.


" Lepasin!" Bentak Nadia dengan kasar kepada Fajar.


Fajar tercengang, dia tak menyangka Nadia akan bersikap kasar seperti ini kepadanya, padahal dirinya hanya berniat untuk mengembalikan pulpen Nadia yang terjatuh. " Aku hanya ingin mengembalikan pulpen kakak yang terjatuh." Kata Fajar memberikan pulpen Nadia yang dipungutnya.


" Apa yang kamu lihat!" Bentak Nadia ketika Yoga melihat kearahnya, siapa yang terkejut dengan tiba-tiba dibentak seperti itu.


Nadia mengambil pulpen ditangan Fajar, dengan ketus dia berucap makasih sambil pergi tanpa menoleh sedikit pun kearah Fajar. Fajar hanya memandang kepergian Nadia dihadapannya, sungguh dia tidak mengerti dengan sikap Nadia yang menjadi kasar terhadapnya seperti itu. Bahkan Citra merasa khawatir dengan Fajar, sebab kemarin dia melihat Fajar dan Nadia terlihat biasa saja. Fajar lalu tersenyum, lalu kembali meminta teman-temannya untuk menikmati makanan mereka.