
Ternyata yang memanggilnya adalah Dea, bersama dengan Karin dan Prince mereka bertiga menyempatkan diri untuk hadir diacara penutupan apalagi mereka bertiganya dulunya juga mantan panitia ospek.
" Fajar, dimana Nadia? Aku sedari tadi tak bisa menghubunginya." Tanya Dea sebab mereka berempat sudah janji akan datang ke acara penutupan ospek malam ini. Namun, Nadia tak bisa dihubungi bahkan dia tak ikut nimbrung di dalam grup chat.
" Aku juga tak bisa menghubunginya sedari tadi. Tapi aku mendapatkan pesan terakhir darinya tadi, katanya dia akan ke sini setelah selesai bekerja." Jawab Fajar.
" Jika berkata seperti itu, maka dia akan datang nantinya. Mungkin saja sekarang dia sedang dalam perjalanan, dan tak memegangi ponselnya." Ujar Karin.
Prince mengangguk menyetujui apa yang dikatakan sambil melihat-lihat sekitar, seolah ingin mencari mangsanya malam ini. " Eh! Karin! Lihat! Gadis itu imut sekali. Kulitnya terlihat sangat cerah. Aku berharap jika diriku dilahirkan kembali 4 tahun lebih muda. Hey! Fajar! Tolong kamu ikatkan tali ini dipergelangan tangan gadis itu untukku. Aku sudah tak sabar melihat gadis cantik lainnya." Kata Prince wajahnya begitu tak sabar untuk melihat apakah ada mahasiswi baru lagi yang lebih cantik dari gadis yang dilihatnya tadi.
" Sama, aku juga ingin melihat cowok-cowok ganteng disini. Lumayan sudah lama menjomblo, siapa tahu jodohku cowok brondong." Ucap Karin begitu antusias seperti Prince.
" Aku ikut ah!" Ucap Dea.
" Kamu gak perlu, apa kabar Wawan jika kamu melihat cowok brondong." Kata Prince, sebab Dea masih berhubungan dengan Wawan meski mereka susah untuk bertemu, karena kesibukan masing-masing.
" Cuci mata doang kok!" Protes Dea. Meski begitu dia masih ingin tetap setia dengan Wawan.
" Aduh! Sudahi perdebatan kalian. Kapan kita bisa melihat cowok-cowok brondong nih!" Protes Karin karena kedua temannya masih ditempat karena perdebatan mereka.
" Dasar perawan tua!" ayo!" Ajak Prince.
Fajar hanya tertawa melihat kelakukan sahabat pacarnya itu. Dia tak tahu apakah dibelakang Nadia juga bersikap seperti mereka. Fajar berharap semoga tidak seperti itu. Namun, Fajar menjadi khawatir sebab Nadia begitu lama dalam bekerja, biasa dia sudah pulang sedari. Hal itu memicu kekhawatiran Fajar kepada istrinya. Fajar menjadi merasa bersalah, dia tak bisa menjemput istrinya di kantor. Dia takut jika terjadi apa-apa dengan istrinya. Namun, di satu sisi dia yakin jika Nadia adalah orang terkuat yang dia temui. Gadis itu tak mungkin takut, malah justru orang yang mencelakakannya malah menjadi takut padanya. Nadia terkenal sebagai kepribadian yang galak, meski Fajar khawatir namun Fajar yakin jika istrinya itu bisa menghadapinya sendiri.
Nadia sudah bertemu dengan salah satu karyawan yang ingin meninjau barang mereka. Saat sedang mengeceknya ternyata ada satu kotak yang tak ada. Hingga akhirnya Nadia mencoba untuk menghubungi John. Belum sempat berbicara John malah berkata jika dirinya berada di bioskop dan langsung mematikan teleponnya. Nadia begitu bingung sebab dia tak tahu apa-apa. Entah berapa kotak barang yang dtinjau. Nadia benar-benar tak tahu karena ini merupakan tugas dari John. Dia merasa cemas sekaligus kesal dengan John sebagai rekan kerjanya yang seperti tak mau bertanggung jawab, apalagi sudah jam 11 lewat sepertinya dia akan telat menuju acara penutupan. Nadia jadi teringat dengan Tino, beruntung dia memiliki nomor telepon Tini karena dulu dia simpan. Dia segera menelpon Tino siapa tahu Tini tahu akan satu kotak barang itu apalagi Tini di bagian produksi pasti sangat tahu.
" Hallo kak Toni, ini aku mau nanya ada salah satu kotak barang dari perusahaan yang menjadi sales executive kita hilang. Apa kakak tahu dimana itu?"
" Biasanya ketika produk di kirim, mereka disimpan di gudang. Apa kamu sudah memeriksanya?"
" Sudah kak."
" Mungkin di kirim ke depertemen QC (Quality control) untuk diperiksa. Coba kamu periksa ke sana?"
" Baik kak. Aku akan memeriksa. Kalau begitu makasih ya kak." Ucap Nadia mematikan sambungan telepon mereka.
Sebelum menuju ke depertemen QC, Nadia merasa tak enak dengan karyawan tersebut. Dia meminta maaf, harus membuat karyawan itu menunggu agak lama. Sesampainya di depertemen QC, ternyata benar satu kotak barang itu berada disana. Nadia begitu lega melihat barang itu, akhirnya masalahnya sudah selesai. Tinggal menunggu karyawan itu untuk memeriksa kotak barangnya.
" Ini dia. Kamu bisa memeriksanya terlebih dahulu." Ucap Nadia menaruh kotak barang itu dekat dengan kotak barang yang lain.
Karyawan itu mulai memeriksa, tak terlalu memakan waktu cuma mengecek apakah semua barang sudah ada di dalam kotak itu. " Aku sudah selesai memeriksanya."
Karyawan itu pergi setelah mengambil semua barang tadi, Nadia mengecek jam tangannya. Mau hampir jam 12 malam, dia harus segera menuju kampus. Nadia mengambil tasnya lalu pergi dan segera mencari taksi menuju kampus.
Fajar yang masih khawatir mencoba untuk menghubungi Nadia kembali. Beruntungnya, Nadia mengangkat telepon darinya, lumayan hatinya setelah mendengar suara Nadia melalui telepon.
" Kak Nadia dimana?"
" Fajar, maafkan aku. Beterai ponselku mati sebelumnya. Lalu bagaimana disitu?"
" Kami masih melakukan upacara pengikatan tali gelang dipergelangan tangan mahasiswa baru. Bahkan semua senior mantan panitia juga sudah tiba. Tapi aku sekarang berada di luar aula."
" Loh, kenapa kamu berada di luar aula? Kamu harus mengikuti upacara tersebut. Kamu adalah ketua."
" Emangnya kenapa? Kakak juga menangis sendirian di taman saat itu." Ucap Fajar terkekeh mengingat dulu dia melihat Nadia menangis sendirian saat acara penutupan.
Namun tanpa Fajar sadari, Nadia sudah berada tepat dibelakangnya. Nadia pura-pura tak memanggil Fajar, dia ingin membuat suaminya itu terkejut akan kedatangannya. Namun karena ucapan Fajar ditelepon membuatnya merasa kesal.
" Sudah ku bilang aku gak menangis!" Teriak Nadia dengan kesal.
Fajar terkejut lalu tersenyum melihat Nadia berada di belakangnya, wajah istrinya itu terlihat begitu lelah. Seolah Nadia melakukan pekerjaan berat hari ini.
" Kenapa wajah kak Nadia terlihat sangat lelah seperti itu?" Tanya Fajar kepada istrinya. Dia menjadi khawatir, apa karena dirinya masih kuliah, Nadia sebagai istri harus menjadi kepala keluarga untuk bisa menghasilkan uang bagi rumah tangga mereka.
" Hanya sedikit. Itu mungkin karena aku terburu-buru." Jawab Nadia agar suaminya itu tak berpikir untuk menyalahkan dirinya.
" Lain kali, kak Nadia gak perlu terburu-buru." Ucap Fajar.
" Gak, itu karena aku ingin bertemu..." Begitu sulit baginya untuk berkata jujur jika dirinya ingin bertemu Fajar.
" Emangnya kakak mau bertemu siapa?" Tanya Fajar karena Nadia tiba-tiba terdiam.
" Eum.. bertemu.. para junior. Iya, para junior." Jawab Nadia terbata-bata lalu tersenyum.
Terlihat wajah kekecewaan yang diperlihatkan oleh Fajar, berharap jika jawabannya karena ingin bertemu dengannya. " Apa junior yang kakak ingin temui itu termasuk aku?"
" Lalu kamu merasa dirimu lebih muda atau tidak? Itupun kamu masih bertanya." Ucap Nadia pelan namun wajahnya terlihat cemberut.
Fajar tersenyum, sedikit tersipu meski tak keluar dari mulut Nadia apa yang Fajar harapkan. " Oke, mari kita bertemu dengan junior yang lain." Ucap Fajar lalu menarik tangan Nadia menuju aula.