
" Ada seorang junior menyukai ku. Tetapi aku bingung harus berbuat apa. Sebab aku gak mengerti dengan perasaan ku, terkadang aku berpikir untuk menolaknya saja namun aku juga tak bisa memungkiri ada perasaan yang membuat ku tak bisa untuk menolaknya."
Karin akhirnya paham yang membuat sahabatnya ini murung, ternyata masalahnya terletak pada perasaannya. Tiba-tiba pelayan mengantarkan dia gelas americano pesanan mereka. Nadia mencoba minuman itu, mimik wajah berubah. " Gila! Kamu kok mau minum beginian. Pahit banget!" Seru Nadia saat dirinya mencoba meminum americano.
" Itu seperti kamu yang sangat suka minum susu strawberry yang manis itu." Ujar Karin.
" Itu karena aku suka."
" Begitu pula aku, aku juga menyukai americano."
Fajar tengah duduk bersama dengan Bima sambil menonton Yoga yang tengah bermain bola bersama dengan mahasiswa yang lain. Saat bola mengarah ke arah mereka berdua, Yoga mengajak mereka untuk bergabung. Fajar menyarankan Bima untuk bergabung karena dirinya malas untuk bermain. Namun Bima menolak karena dirinya juga malas untuk berkeringat. Ternyata kedua sahabat itu tengah sibuk memikirkan masalah asmara mereka. Fajar mungkin tengah patah hati, karena Nadia tiba-tiba saja memilih menghindarinya dan bahkan tak mau mendengar ungkapan perasaannya. Sedangkan Bima justru sudah merasakan patah hati sejak awal ketika dirinya tahu Mina menyukai sahabatnya Fajar. Ditambah Fajar dan Mina mengerjakan tugas bersama, membuat jarak antar mereka berdua semakin dekat. Bima sudah putus asa, karena sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk dekat dengan Mina, mungkin mereka hanya sebatas teman saja.
" Fajar, ada yang ingin aku tanyakan padaku?" Bima ingin tahu apakah Fajar punya perasaan yang sama dengan Mina.
" Ada apa?"
" Itu... Itu.... Em... Bagaimana dengan tugasmu?"
" Udah hampir selesai. Apa hanya itu yang ingin kamu tanyakan?" Fajar seolah tahu jika Bima tak ingin bertanya mengenai tugasnya, melainkan yang lain. Bima hanya mengangguk seolah cuma itu pertanyaan.
" Bim, kita adalah teman. Jujur saja tentang apa yang kamu ingin katakan. Jika aku bisa, maka aku akan menjawabnya."
" Jadi, apa kamu memiliki seseorang yang kamu sukai?" Bima akhirnya bertanya kepada Fajar. Dia hanya ingin tahu, apakah Fajar tengah menyukai seseorang meski dia tak memaksa siapa orang yang disukai oleh Fajar.
" Ada, bagaimana denganmu?"
" Aku juga ada. Tapi kurasa dia tak menyukaiku."
" Bagaimana kamu bisa tahu jika dia gak menyukai mu? Emangnya kamu sudah bertanya padanya?"
" Belum." Jawab Bima.
" Lalu, kenapa kamu gak bertanya kepadanya."
Bima menghela nafasnya, rasanya berat menjawab pertanyaan itu. " Bagaimana jika ada yang suka pada mu, namun kamu gak menyukainya? Apa kamu akan mengatakan padanya dengan terus terang jika kamu gak menyukainya?"
" Aku berpikir jika aku akan tetap menolaknya, sebab aku tak ingin membuatnya berharap." Jawab Fajar.
" Bagaimana kalau dia adalah seseorang yang kamu rasa sangat sulit untuk menolak, apa yang kamu lakukan?"
Fajar terdiam, dia berpikir sulit baginya untuk berkata jika ada orang terdekat yang menyukainya. " Aku mungkin.. akan menjauh darinya." Jawab Fajar, karena itu salah cara untuk tak membuat dia berharap meski dirinya tak bisa menolak ungkapan perasaan dari seseorang yang sulit baginya untuk ditolak.
" Itu masalahnya, aku juga tak ingin hubungan antara aku dan dia berubah. Jika dia tak menyukaiku, maka dia mungkin akan menghindariku. Dan aku tak bisa hidup jika seperti itu. Jadi lebih baik gak membuatnya membenci ku dari awal. " Ujar Bima.
" Ya, kamu benar. Terkadang, jika kita menyimpan perasaan suka terhadap orang lain untuk diri sendiri. Kita mungkin tak akan kehilangan orang kita sukai."
" Ya begitulah. Apa ini termasuk hal yang membuat mu stres?" Tanya Bima karena sedari dia tahu jika Fajar terlihat begitu galau.
" Um.. dan juga hal yang lain." Ucap Fajar teringat akan perjodohannya dan Nadia yang belum ada kepastian. Karena sekarang Nadia sudah mulai menghindarinya, mungkin jika Nadia tahu perjodohan itu bisa saja perjodohan itu akan dibatalkan karena Nadia tak menyukainya.
" Kalau boleh tahu siapa gadis yang kamu suka?" Tanya Fajar yang ingin tahu siapa gadis yang membuat sahabatnya ini ikutan galau seperti dirinya.
" Kamu tak perlu tahu. Kalau kamu siapa yang kamu suka?" Bima juga ingin tahu siapa yang disukai oleh Fajar, apakah gadis itu Mina?
" Kamu juga gak perlu tahu. Kalau begitu aku pamit pulang ya." Ujar Fajar mengambil tas dan berjalan pulang meninggalkan Bima yang masih duduk melihat Yoga yang tengah bermain sepak bola.
Saat Fajar tengah berjalan untuk pulang, Mina melintas menggunakan sepedanya. Namun, tak sengaja seseorang yang bermain sepak bola bersama Yoga menendang bola begitu keras hingga mengenai Mina, membuat gadis itu terjatuh dari sepedanya. Fajar yang kebetulan melintas disitu segera menghampiri Mina. Bima yang juga mendengar suara heboh dari para pemain juga ikut menonton. Namun sayang dirinya telat karena sudah kedahuluan Fajar yang menolong Mina.
" Kamu gak apa-apa?" Tanya Fajar yang khawatir karena Mina terjatuh begitu keras dihadapannya.
" Aku gak apa-apa." Jawab Mina masih tersenyum meski kakinya terasa sakit.
" Kamu bisa berdiri?"
Mina mencoba untuk bangun berdiri, membuktikan jika dia tak apa-apa. Namun sayang, kakinya terlalu sakit sehingga susah baginya untuk berdiri.
" Aku bantu ya? Sekaligus aku mengantarkan kamu ke UKS." Ujar Fajar membantu Mina berdiri. Dengan sepeda Mina, Fajar membonceng Mina lalu menompah Mina menuju UKS.
Dengan segera Mina ditangani, beruntung hanya keseleo kecil jadi tidak menggangu tulang kakinya. Fajar setia menemani saat Mina tengah diperiksa. Bima yang sedari tadi juga berada disana sesaat Fajar mengantar Mina ke UKS, dia juga ikut berlari mengikuti mereka. Bima hanya mampu berdiri di luar, dan mendengar keadaan gadis yang dicintainya itu. Setelah di periksa, dokter lalu keluar meninggalkan Mina dan Fajar sendirian di UKS.
" Bagaimana keadaan mu? Apa masih sakit?" Tanya Fajar.
" Lumayan." Jawab Mina tersenyum.
" Kalau kamu ingin pulang, bair aku antar saja. Sepertinya kaki mu benar-benar butuh perawatan." Fajar memberikan tawaran sebab dirinya merasa kasihan dengan Mina.
" Aku masih gak mau pulang kok." Mina mencoba untuk berdiri dan berjalan keluar. Karena kakinya sakit, Mina hampir terjatuh beruntung Fajar dengan sigap membantu.
" Kakimu masih sakit, lebih baik kamu pulang saja. Aku akan mengantarmu." Ujar Fajar kepada Mina.
" Tapi agak mau merepotkan mu." Mina merasa tak enak karena Fajar sudah membantunya sedari tadi.
" Udah, aku malah justru senang menolong mu."
Mina terdiam, dia memandang Fajar. " Um. Fajar. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku... Sepertinya... Menyukaimu.."