
Dibalik pertunjukan dari panitia serta mahasiswa semester 1, akhirnya pertunjukan terdapat sebuah yang membuat orang melihat menjadi terkesan. Bagaimana tidak video itu menampakkan Nadia dan teman-teman panitia yang lainnya. Didalam video berisi sebuah permintaan serta penjelasan jikalau kegiatan ospek yang selama ini mahasiswa semester 1 dapatkan dan memang terkesan menyakiti tetapi dibalik itu pera panitia punya alasan tersendiri. Disini Fajar mulai memahami kenapa Nadia begitu mencintai kegiatan ospek ini apalagi dirinya bahkan ingin menjadi ketua mengikuti Denis sang pelopor kegiatan itu diadakan. Kerena alasan sebaliknya bukanlah menjadi seorang senior yang ingin di hormati tetapi saling menghormati satu sama lain. Semua mahasiswa semester 1 digiring keluar ruangan satu persatu disana para panitia sudah menanti mereka, bahkan panitia satu persatu mengucapkan terima kasih serta permintaan maaf. Gelang yang menjadi simbol mahasiswa akhirnya diterima oleh semua mahasiswa semester 1.
Nadia duduk sendirian dipinggir pantai sambil mengolesi tangannya dengan krim anti nyamuk. Dia melihat kearah pantai nan gelap, suara ombak sontak terdengar serta aroma laut begitu terasa.
Fajar yang berada di tengah-tengah mahasiswa yang sedang menikmati mencari keberadaan Nadia. Namun, gadis tak jua dia temukan. Hingga Fajar memutuskan untuk mencarinya dipinggir pantai. Disana dia melihat Nadia tengah duduk memandangi lautan luas.
" Kak Nadia." sapanya.
Nadia hanya melihat Fajar yang menghampiri namun tidak perduli.
" Boleh aku duduk disamping kakak? Ada yang ingin aku katakan?" Fajar lalu duduk disampingnya Nadia.
" Tentang apa?"
" Aku ingin meminta maaf."
" Untuk apa?"
" Untuk semua yang pernah membuat kak Nadia marah."
" Jika kamu tahu aku akan marah, kenapa kamu masih melakukannya?"
" Karena... aku..."
" Sudahlah, aku gak mau berdebat." ucap Nadia memotong pembicaraan Fajar lalu pergi meninggalkan Fajar sendirian dipinggir pantai. Fajar hanya bisa tertunduk lemas, lalu melihat laut dengan tatapan menyesal. Bukannya dia masuk ke fakultas teknik, untuk bertemu dengan Nadia dan membuat gadis itu menyukainya. Justru kini gadis itu terlihat membencinya dan tak mau berbicara dengannya.
Tak berselang lama, saat Fajar merenungi dirinya yang begitu bodoh dalam hal asmara. Tiba-tiba dia merasakan dingin di bagian telinganya. Seseorang seolah menempel minuman dingin didekat telinga. Saat Fajar melihat ternyata orang itu adalah Nadia.
" Kamu mau minum?" tawar Nadia.
Fajar menerima minuman itu, " Makasih kak. Aku kirain kakak akan tetap pergi dan gak mau berbicara denganku."
" Niat awalnya sih begitu, tapi aku berubah pikiran."
" Kak Nadia masih marah padaku?"
Nadia menggeleng sebagai jawaban jika dirinya sudah memaafkan Fajar.
" Kak, aku mau nanya. Kenapa kak Nadia mau menjadi ketua ospek?"
" Dulu saat mengikuti awal mengikuti ospek, aku sangat mengagumi Kak Denis, makanya aku ingin menjadi ketua ospek."
" O begitu ya... Soal hukuman kakak waktu itu?"
" Soal itu, memang kesalahan kita kok. Seharusnya dari awal kami sebagai panitia menjelaskan maksud dari kegiatan ini dengan baik. Tapi kami malah.. ah sudahlah.. apapun itu sebagai ketua panitia ospek aku harus bertanggung jawab bukan?"
" Maaf kak." ucap Fajar merasa bersalah.
" Kamu gak perlu minta maaf. Itu udah berlalu kok."
" Kak Nadia masih ingat tentang permintaan saat aku memenangkan kontes bintang kampus?" Fajar teringat akan permintaan yang belum dia sampaikan kepada Nadia, dan ini mungkin menjadi kesempatan untuk lebih dekat dengan Nadia. Toh, setelah ospek mereka akan jarang bertemu.
" Tentu aku masih mengingatnya. Apa yang kamu inginkan?"
" Hari Minggu depan kakak sibuk gak?"
" Gak." jawab Nadia.
" Ada yang ingin aku beli. Aku ingin kak Nadia menemani Minggu depan." Fajar menyebutkan permintaan.
Sungguh permintaan yang begitu bagi Nadia, hanya sekedar menemani belanja apa susahnya. " Hanya itu saja? Eumm.... Oke.." jawab Nadia memancung bibir seolah sedang menimbang jawabannya.
Fajar yang memandang wajah gadis yang berada merasa gemas, dan ingin mencubit pipinya. Namun, Fajar mengurungkan niatnya itu karena belum saatnya.
" Boleh." Meminta ponsel Fajar dan mengetik nomor telfonnya.
Tiba-tiba Prince memanggil Nadia untuk bergabung bersama mereka, sebab sedari tadi Denis sudah menunggunya untuk minum bersama. Nadia segera mengembalikan ponsel Fajar. Saat hendak menghampiri Prince, Fajar mencegah.
" Tunggu sebentar kak."
" Ada apa?"
" Ada yang ingin aku berikan pada kakak. Bisakah kak Nadia ulurkan tanganmu."
Nadia mengikuti perkataan Fajar dengan mengulurkan tangannya. Fajar lalu memberikan gelang yang baru saja didapatkan. Nadia merasa bingung kenapa Fajar memberikan itu padanya, bukankah itu sangat berharga bagi mahasiswa.
" Kenapa kamu berikan ini padaku?" tanya Nadia.
" Aku ingin kak Nadia yang menjaganya." jawab Fajar sambil tersenyum.
" Kenapa harus aku? Ini sangat.."
" Sangat penting untuk mahasiswa, kan? Tapi kakak tahu artinya."
" Ya tahulah, bukannya itu aku sudah jelaskan."
" Ada arti lain dari gelang ini kak. Kak Denis menyampaikan itu padaku. Aku ingin kakak yang menyimpannya."
Saat Nadia ingin menolak, Prince terus saja memanggil-manggil nama Nadia untuk segera pergi bersamanya. Terpaksa Nadia mengiyakan dengan menyimpan gelangnya Fajar.
Mina yang duduk bersama dengan Bima dan teman-teman yang lain. Sibuk melihat sekelilingnya, karena sedari tadi dia tidak melihat keberadaan Fajar. Bima yang duduk disampingnya merasa Mina tengah mencari seseorang.
" Apa yang kamu cari?" tanya Bima kepada Mina.
" Aku hany melihat sekeliling." jawab Mina padahal dia tengah mencari keberadaan Fajar yang sedari tidak menampakkan diri.
" Kamu tengah mencari Fajar ya?" tanya Bima karena dia tahu siapa yang dicari oleh Mina.
" Iya, sedari tadi aku gak melihatnya."
" Kalau begitu boleh aku temani kamu untuk mencari Fajar dipinggir pantai, siapa tahu dia ada disana." usul Bima.
" Boleh." ucap Mina tersenyum. Mereka berdua berjalan menyusuri pesisir pantai.
Bima yang ingin lebih dekat dengan Mina, dia mencoba mencari topik untuk diobrolkan selama menyusuri pinggir pantai. " Mina, dari semua pilihan fakultas di kampus ini, kamu memilih fakultas teknik dipilihan yang berapa?" tanya Bima.
" Pilihan pertama, entah kenapa rasanya suka aja gitu menjadi anak teknik. Kalau kamu?"
" Aku juga, bahkan itu sudah kepikiran sebelum mendaftar."
" Udah jodoh kali ya, sekali ketemu langsung suka." ucap Mina.
" Iya, seperti pertemuan dua orang pada pandangan pertama langsung suka namun berharap bisa berjodoh." ujar Bima tersenyum memandang wajah Mina.
Dari arah berlawanan Fajar berjalan sendirian. Fajar menghampiri mereka, dan mengajak mereka untuk kembali ketempat semula.
" Kamu dari mana saja?" tanya Bima.
" Aku tadi ada duduk bersama senior."
Nadia duduk bersama dengan teman-temannya dan Denis. Mereka menikmati makan serta minuman yang sudah dipesan oleh Denis. Malam ini merupakan malam pelepas lelah karena ujian dan juga kegiatan ospek. Malam ini merupakan malam yang menjadi pesta untuk mereka karena sudah melepaskan tugas sebagai panitia ospek. Nadia masih memikirkan arti lain dari gelang yang dimaksud oleh Fajar. Dia pun bertanya kepada Denis.
" Kak, apa arti dari gelang ini?" tanya Nadia menunjukan gelangnya.
" Kamu mabuk laut atau gimana nih! Artinya tentang persaudaraan, dan gelang ini penting jadi bisa dikatakan sebagai hati kita sebagai mahasiswa.Jadi kalau ada orang yang memintamu menyimpannya, berarti dia memintamu menjaga hatinya." kata Denis yang menimbulkan Nadia batuk saat sedang meminum air putih.