
Diantara mahasiswa baru yang melewati mereka, Mina yang duduk berhadapan dengan Bima mencuri kesempatan untuk bertanya mengenai perkataan Bima diatas tadi.
" Yang kamu katakan diatas panggung tadi. Siapa yang kamu maksud?"
" Itu.. aku katakan secara umum."
"Kamu selalu seperti itu. Tidak perduli dari awal tahun hingga sekarang, kamu tidak pernah mengutarakan perasaanmu secara langsung kepadaku."
" Kalau begitu.. apa aku harus mengatakannya dan mengutarakannya agar kamu bisa mengerti?"
" Aku tidak ingin berasumsi. Apa yang aku katakan diatas panggung tadi, yang aku maksud adalah kamu."
" Bukannya tadi kamu bilang jika kamu mengatakan itu secara umum?"
" Maksudku secara umum adalah perasaan yang aku miliki untukmu. Kamu tahu maknanya, kan?"
" Aku tidak tahu, Bim. Kamu bisa menganggap ku sebagai teman dekat."
"Eum.. aku... Menyukaimu. Aku menyukaimu lebih dari teman dekat. Aku ingin menjadi pacarmu. Aku telah mengutarakan perasaanku secara langsung. Sekarang giliran kamu untuk memberitahuku perasaan ku secara langsung." Bima mengutarakan perasaannya yang selama ini dia pendam.
Mina tersenyum mendengar pernyataan cinta dari Bima. Diantara panitia yang duduk disebelah mereka berdua dan para mahasiswa yang melewati mereka. Bima dengan beraninya mengungkapkan perasaannya. Mina yang dulu terlalu mencintai Fajar, entah kenapa ungkapan cinta dari Bima membuat tersenyum senang.
" Kamu gila ya?" Ada banyak orang disini. Bagaimana bisa aku mengatakannya?" Mina malu-malu untuk mengungkapkan apa di rasakan kepada Bima.
"Apa? Aku tidak mendengarkan apapun." Ucap yoga yang duduk disampingnya Bima.
" Aku juga tidak mendengarkan apa-apa." Gladis ikut menimpali sebab dirinya juga duduk dekat dengan Mina.
Membuat Mina dan Bima cuma bisa tersenyum malu, tiba-tiba petasan berbunyi. Membuat semua orang yang berada disitu terkejut, nuansa menjadi semakin romantis bagi Mina dan Bima. Mereka berdua saling menatap dan tersenyum malu satu sama lain.
Ritual pemberian gelang yang sering diadakan setiap tahun untuk mahasiswa baru telah selesai. Suasana ramai ketika para mahasiswa baru dengan senior mulai bercengkrama. Fajar memilih sendiri berjalan menuju pinggir pantai. Dalam kesendiriannya, dia teringat akan Nadia. Di pantai inilah, perasaannya tercurahkan saat itu. Fajar jadi merindukan momen bersama istrinya. Dia berjalan melihat Bima dan Mina yang baru saja pacaran berjalan di pinggir pantai sambil berpegangan tangan. Mungkin saja, dia akan melakukan hal sama saat bersama Nadia tentunya. Fajar hanya bisa tersenyum, jika mengingat itu. Lalu dia melihat Fani yang sedang mencari sesuatu dipinggir pantai.
" Fani! Apa yang sedang kamu cari?" Fajar menghampiri Fani yang sendirian tengah mencari sesuatu dipinggir pantai.
" Aku.. aku kehilangan gelangku."
" Benarkah! Dimana kamu kehilangan itu? Aku akan membantu mu menemukannya."
" Seharusnya disekitar area ini. Tadi aku mengeluarkannya, lalu tidak sengaja menghilang."
Fajar mengambil ponselnya disaku celana. Lalu dia menyala senter di ponselnya untuk mencari gelang milik Fani. Tidak begitu lama, Fajar menemukan gelang milik Fani, yang tertumpuk pasir.
" Aku menemukannya." Ucapnya memberikan gelang itu kepada Fani.
" Ah! Makasih kak."
" Gelang ini sangat penting bagi kita para mahasiswa. Di jaga baik-baik ya."
" Iya?"
" Bisakah kakak menjaganga untukku?" Fani menyerahkan gelangnya kepada Fajar. Dia tahu arti dari gelang itu bagi mereka mahasiswa teknik. Dia menginginkan Fajar yang menyimpannya. Kalimat seperti sama layaknya dengan Fani tengah meminta Fajar menjadi kekasihnya.
Fajar tercengang, " apa kamu tahu arti seseorang yang menjaga gelang ini untuknya?" Tanya Fajar, mungkin saja gadis itu tidak tahu maksud jika ada seseorang yang menjaga gelangnya.
" Aku tahu kak." Tangannya tetap menyerahkan gelangnya kepada Fajar.
" Maafkan aku. Aku sudah memiliki gelang orang lain yang sedang aku jaga."
Raut wajah Fani berubah, dia berpikir jika dia akan di terima oleh Fajar. Namun ternyata salah, Fajar sudah memiliki seseorang. Padahal selama ini Fajar terlihat sendiri, dan seperti tidak memiliki kekasih. Makanya Fani mencoba mendekatinya, namun ternyata pikiran Fani salah. Fajar sudah memiliki kekasih, sehingga dirinya harus menelan pil pahit karena penolakan.
Fajar duduk sendirian, sambil memegangi gelang milik Nadia yang sampai saat ini masih dia miliki. Karena kalimat yang dilontarkan Fani tadi, membuatnya teringat akan Nadia. Kalimat itu pernah dia lontarkan untuk Nadia. Rasanya dia sangat merindukan istri tercintanya. Karena momen-momen ini pernah dia rasakan saat bersama dengan Nadia. Namun kini dia sendiri, rasa begitu hampa. Meski disekitarnya banyak mahasiswa lain yang tengah asyik minum dan bercengkrama. Tapi hatinya Fajar rasanya begitu sepi.
Tiba-tiba seseorang datang menempelkan minuman dingin dipipi Fajar. Fajar melihat tangan yang memegang minuman itu. Seketika wajah yang muram itu tersenyum, dia mengenali pemilik tangan itu. Dia lalu menoleh melihat wajah yang dia rindukan.
" Mau?" Tanya Nadia menawarkan minuman dingin yang dibawanya untuk Fajar.
Fajar mengambil minuman itu, senyuman seolah tidak mau lepas dari wajahnya. Dia seperti tidak menyangka jika ada Nadia dihadapannya. Padahal Nadia seharusnya berada di kantor dan sibuk melakukan pekerjaannya.
" Fajar, aku minta maaf karena terlambat datang kesini." Nadia merasa bersalah karena terlambat, mau bagaimana lagi dia harus mengerjakan pekerjaannya meski bukan tugasnya.
" Bagaimana bisa kamu sampai disini?" Fajar menanyakan hal itu sebab perjalanan lumayan jauh dari kantornya.
" Ya, itu si Prince. Dia ingin sekali datang kesini. Dia berusaha keras ingin datang kesini, bahkan dia jauh-jauh menjemput ku di kantor untuk pergi bersamanya. Tetapi aku tidak bisa lama-lama disini, aku akan segera pulang. Karena aku dan prince mempunyai pekerjaan yang harus dikerjakan besok."
" Kamu sudah datang kesini, aku sudah bahagia." Ucap fajar tersenyum. Setidaknya mengobati rindu dan membuat hatinya yang hampa menjadi terisi kembali.
" Ah! Sayang sekali. Aku tidak bisa hadir keacara pemberian gelang." Ucap Nadia kecewa.
" Jangan khawatir. Semuanya berjalan lancar."
" Apa yang kamu bicarakan? Itu bukan salah satu hal yang membuatku kecewa. Aku hanya ingin melihatmu melakukan tugas mu sebagai ketua ospek untuk terakhir kalinya. Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya." Kata Nadia merasa kesal.
Wajah Nadia yang cemberut membuat Fajar tertawa. Dimatanya wajah Nadia begitu imut untuk dipandang. Sangat menggemaskan.
" Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Fajar, aku tahu mungkin ini terasa berat untukmu. Belajar dan mengikuti kegiatan diwaktu yang bersamaan. Aku hanya ingin mengatakan kepadamu. Jika kamu sudah melakukan yang terbaik sebagai ketua ospek." Kata Nadia menepuk pundak suaminya memberikan pujian kepada suaminya itu karena telah bekerja keras selama ini.
" Jadi, mana hadiah yang kamu janjikan yang ingin kamu berikan padaku?"
Seketika wajah Nadia berubah, dia melihat kesekitarnya. " Apa yang kamu bicarakan? Tidak, tidak ada hadiah. Kapan aku berjanji kepadamu?"
" Kamu berjanji...." Fajar mendekati wajah untuk lebih dekat dengan Nadia. Sedikit lagi, wajah mereka sudah hampir bersentuhan. Namun, seketika digagalkan oleh prince yang memanggil Nadia dan mencari keberadaannya.