
Nadia mengikuti John untuk rapat bersama dengan seorang sales executive, rapat tersebut tidaklah terkesan formal namun justru malah begitu santai. Bahkan saat sebelum rapat wanita bernama Layla ini malah melakukan siaran langsung sebelum memulai rapatnya. Bahkan selama rapat pula, mereka berdua Bakan disuguhkan dengan cemilan serta minuman yang enak. Dan Nadia tertegun bagaiman seorang John terus memuji Layla itu. Sehingga membuat wanita itu semakin senang dan bahkan malah membelikan cemilan bukan untuk mereka berdua melainkan juga untuk rekan kerja mereka yang lain. Nadia begitu tertegun dia berpikir jika rapat tersebut akan seserius itu, namun dia hanya diminta mencatat bahan yang di perlukan sesuai dengan katalog yang diberikan oleh Layla. Pekerjaan yang lebih mudah dibandingkan dia bekerja dibagian produksi barang.
Kevin melihat diva yang tengah membaca buku, sebelumnya diva sudah mengobrol dengan Fajar. Kevin tak mengetahui hal itu, karena di merasa diva tanggung jawabnya untuk bisa membuat gadis itu mengikuti kegiatan ospek. Melihat diva yang tengah sendiri, dia menghampiri gadis itu.
" Diva." Ucapnya saat sudah berada di dekat diva.
Diva tak memperdulikan panggilan dari Kevin, karena baginya Kevin selalu saja mengganggunya bahkan setiap Kevin selalu memaksanya untuk mengikuti kegiatan ospek.
Karena dicuekin, Kevin memanggil namun tidak menyebutkan nama melainkan nomor mahasiswa gadis itu.
" Apa yang kakak inginkan dariku?" Tanya Diva yang sudah tak tahan dengan Kevin yang terus saja mengganggunya.
" Jika kakak ingin berbicara soal acara penutupan ospek, kak Fajar sudah dahulu berbicara padaku." Lanjut diva karena Kevin pastilah tentang kegiatan ospek.
" Gak lah. Aku menghampiri mu bukan karena itu. Ada hal lain. Aku masih penasaran, kenapa kamu begitu menentang aktivitas ospek dan gak mau bersosialisasi dengan mahasiswa yang lain." Kevin sebenarnya ingin tahu kenapa diva menjadi gadis yang berbeda dari yang lain. Biasanya kegiatan-kegiatan semacam ospek sangat digemari oleh perempuan karena berhubungan dengan mencari teman serta saking berkenalan baik dengan satu angkatan melainkan dengan para senior.
" Aku sudah pernah bilang sebelumnya, kan? Jika ospek yang sering kakak suruh untuk aku ikuti gak memiliki keuntungan bagiku. Dan aku tak ingin mengikutinya." Jawab Diva.
" Tapi kamu tak perlu menentangnya. Aku merasa jika itu bukan masalah utamanya. Apa kamu punya masalah dengan kampusmu yang lama?" Kevin terus bertanya karena menurutnya jawaban itu masih kurang tepat. Dia yakin ada masalah lain yang membuat Diva begitu menentang aktivitas ospek.
" Apa maksud kakak?"
" Alasan kenapa kamu pindah disini. Benar, kan?"
" Itu juga termasuk." Ucap Kevin menahan diva untuk pergi menghindarinya lagi.
" Kenapa?"
" Karena kamu adalah junior ku." Jawab Kevin.
" Junior mu? Bukan berarti aku harus mengikuti semua perintahmu. Selain itu, aku tak pernah menganggap mu sebagai senior ku. Lepaskan aku dan tinggalkan aku sendiri." Kata Diva melepaskan tangannya dari Kevin.
" Berarti benar jika kamu punya masalah di kampus mu yang lama. Dan disini kamu ingin punya masalah denganku." Teriak Kevin saat diva menjauh darinya. Namun sayang, Diva menghiraukan teriakan dari Kevin.
Acara penutupan dimulai dengan acara pengambilan bendera. Namun kali ini acara pengambilan bendera terlihat berbeda dari yang sebelumnya. Mahasiswa dibagi dengan beberapa kelompok untuk memecahkan sandi agar mereka bisa mengambil bendera dari senior mereka. Beruntung teknologi semakin canggih setiap mahasiswa membagi kelompok bahkan setiap kelompok berada berjauhan. Sehingga untuk mereka bisa berkomunikasi mereka menggunakan ponsel, setiap kelompok akan diminta untuk mencari kata sandi agar bisa membuka kotak yang berisikan bendera.
Diva tengah duduk sendirian di taman sambil membaca buku, terlihat ada satu kelompok yang tengah duduk tak jauh darinya tengah berdiskusi mengenai sandi agar mereka bisa membuka kotak itu. Ternyata Diva melihat sebuah kertas yang dilipat dan diikat diatas pohon tepat dimana dia duduk dibawahnya. Diva hanya menatap Fani dan kelompoknya, dia ingin memberitahu namun dia seolah tak ingin ikut campur meski Fani juga terus menatap kearahnya karena sedari tadi mereka diskusi diva terus memandangi mereka.
Diva teringat kemarin jika dia sempat memergoki Kevin tengah menaruh sesuatu didepan lokernya. Dia terus bertanya kepada Kevin apa yang telah Kevin lakukan dan apa yang telah Kevin letakkan di pintu lokernya. Kevin mengambil itu, dan memberikan kepada Diva katanya jika itu merupakan pemberian dari para senior untuknya. Tanpa penjelasan lebih Kevin lalu pergi begitu saja. Diva melihat isinya yang ternyata beberapa buku yang tertulis nomor mahasiswanya. Tanpa dia sadari pula, jika Kevin masih berada tak jauh darinya dengan senyum dia mengintip apakah diva melihat hadiah dari para senior untuk diva.
Kevin melihat tangga yang tak jauh darinya. Dia mengambil tangga itu dan mencoba untuk mengambil kertas itu dan diberikan kepada Fani dan teman-teman satu angkatannya. Dia hanya membantu namun tak ikut dalam acara itu. Setidaknya dengan membantu dia bisa menghormati apa yang pernah para senior berikan padanya.
Nadia sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya, dia selalu di suruh oleh John bahkan John meminta untuk menunggu Layla untuk mengecek barang dari perusahaannya. Padahal tugas itu sebenarnya untuk John, tetapi John malah melimpahkan padanya. Nadia yang sangat senang tidak menyadari jika itu membuatnya harus menunggu sendirian dan pulang paling akhir, tapi mau bagaimana lagi sudah resiko Nadia yang menerima tugas itu dari John. Nadia begitu bosan apalagi dirinya sendirian berada di dalam kantor. Dia mengecek ponselnya melihat pesan di grup yang dibuat bersama teman-temannya, tak ada yang menarik dan teman-temannya malah justru sudah tidak aktif lagi. Dia lalu mengirimkan pesan kepada Fajar, siapa tahu suaminya itu bisa menemani meski melalui online. Dia mengirim pesan dengan bertanya tentang acara pengambilan bendera yang sedang dilaksanakan oleh Fajar siapa tahu suaminya itu tengah sibuk. Lalu tiba-tiba ponselnya berdering ternyata dia mendapatkan telfon dari karyawan yang diutus oleh perusahaan Layla bekerja. Karyawan itu sedang mengalami ban pecah di mobil yang dia kendarai, dia meminta maaf sekaligus meminta Nadia untuk menunggunya. Mau tidak mau Nadia tetap menunggu meski, ruangan kerjanya sangat sepi. Nadia jadi teringat jika malam ini dia harus ke kampus untuk ikut merayakan acara pengambilan bendera oleh mahasiswa baru, setidaknya dia dulu adalah ketua ospek juga. Namun, nasibnya sudah begini, dia terpaksa harus menunggu karyawan dari perusahaan sales executive itu untuk melihat barang. Beruntungnya Fajar masih mengirimkannya pesan, dengan sebuah foto yang menjelaskan jika acara masih sedang berlangsung meski begitu Nadia masih merasa lega, meski dia tahu dia tak akan bisa kesana. Nadia begitu mengantuk, dia begitu lelah. Ingin rasanya dia tidur, namun teringat jika dia harus menunggu.
Ternyata bekerja memanglah semelelahkan itu. Bahkan saat Nadia tengah membutuhkan sebuah semangat dari sang suami, suaminya pun juga ikut sibuk dengan kegiatannya. Sungguh pasangan suami istri yang hidup dengan kesibukan meski dalam hati Nadia sangat membutuhkan Fajar disampingnya saat ini.