Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 48



Fajar terdiam sejenak setelah mendengar pernyataan cinta dari Mina, ternyata selama Mina memilki perasaan padanya. Bima yang berdiri diluar mendengar apa yang barusan Mina katakan, Mina mengungkapkan perasaannya. Bima hanya bisa memegang dadanya, rasa sakit mulai menjalar dihatinya. Mina tersenyum malu karena Fajar masih belum menjawab pernyataan cintanya.


“Mina, maaf. Tetapi aku sudah memiliki seseorang yang aku sukai.” Ungkap Fajar. Mungkin sulit bagi Fajar karena harus menyakiti perasaan temannya. Tapi Fajar juga tak bisa memaksakan perasaanya untuk Mina, dirinya hanya menyukai Nadia tak mungkin baginya untuk menerima perasaaan Mina untuknya. Karena itu malah justru malah menambah luka untuk hati Mina, dan cinta juga tak bisa dipaksakan.


Mina hanya bisa menerima kenyataan pahit akan cintanya yang ditolak. Ramalan zodiak yang dibacakan oleh Gladis nyatanya tidak bernasib baik seperti isi ramalannya. Malah justru membuat Mina merasa malu dan juga sakit hati karena cintanya ditolak. Menyakitkan bagi Mina sambil melihat wajah Fajar, pria yang disukainya. “Gak masalah kok, Fajar. Aku hanya ingin kamu tahu saja.” Ujar Mina agar Fajar tak merasa bermasalah karena sudah menolak perasaannya.


“Tapi Mina.. aku…”


“Gak usah dipikirkan, aku keluar duluan ya. Aku mau menemui Gladis.” Mina bangun dari kasur meski kakinya masih sakit. Tetapi Mina memaksakan dirinya jalan sendiri tanpa bantuan meski Fajar ingin membantu, Mina terus menolak. Saat keluar Mina melihat Bima dengan tatapan sedih. Bima sudah mendengar semuanya, meski ada kesempatan baginya karena Fajar menolak perasaan Mina. Namun, ada perasaan sakit saat melihat gadis yang dicintainya itu berjalan pincang dengan keadaan patah hati. Fajar sahabatnya itu sudah menyakiti perasaan gadis yang dia cintai.


Hari sudah malam, Mina tak pulang dia malah justru duduk sendirian di taman area kampus sambil menangis. Mina mengutuk dirinya karena sudah mengungkapkan perasaannya kepada Fajar alangkah baiknya bagi Mina perasaanya terhadap Fajar disembunyikan. Namun, perlakuan baik Fajr kepada dirinya membuat Mina selama ini berpikir jika Fajar juga memiliki perasaan yang sama kepadanya. Ternyata selama ini Fajar hanya menganggapnya sebagai teman saja. Mina hanya terlalu terbawa perasaan setiap Fajar bersikap baik dan menunjukan perhatiannya.


Bima menghampiri Mina di taman tanpa bicara bima duduk disamping Mina dan mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya lalu memberikan kepada Mina. Mina masih saja menangis, Bima masih setia menemani tanpa bicara satu katapun. Mina memandang Bima yang juga tengah memandangnya, Mina merasa heran Bima tak mengeluarkan suara, layaknya manusia pada umumnya jika ada yang menangis maka akan ada yang menemani yang mencoba berbicara agar bisa menghibur atau menenangkan perasaan yang terluka.


“ Apa kamu gak mengatakan apa-apa? Setidaknya kamu bisa menghibur ku.” ujar mina yang melihat Bima sedari tadi hanya diam saja.


“Hmmm.. aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku ingin mengatakan sesuatu yang lucu tetapi aku gak menemukan kalimat lucu yang akan aku sampaikan. Aku lebih baik diam saja.” Ujar Bima karena dirinya bingung bagaimana cara dirinya dia bisa menghibur Mina yang tengah bersedih hati.


“Itu sama sekali tidak keren.” Ujar Mina.


“Ya. Karena aku bukanlah pemeran utama dalam permasalah ini. Namun, aku hanya pendukung. Itu saja jauh lebih keren. Sebagai pendukung, aku hanya bisa menemani pemeran utama wanita, setidaknya itu bisa membuatnya senang.” Ujar Bima memandang wajah gadis yang tengah bersedih itu.


Mina mengerti maksud dari perkataan Bima kepadanya, Mina terdiam sejenak lalu dirinya berkata, “bukannya tadi kamu bilang jika kamu gak bisa berkata hal-hal lucu.”


“Apakah itu lucu?” tanya Bima padahal apa yang dikatakannya tadi bukanlah candaan melainkan apa yang dirasakan sekarang.


Mina mengangguk, suasana kembali canggung diantara mereka berdua. “Bim, aku boleh bertanya padamu? Apa kamu menyukaiku?” tanya Mina kepada Bima, dia paham betul yang barusan Bima katakan padanya.


Bima terdiam, sejenak dirinya memandang gadis yang telah mengisi ruang hatinya. Tak mungkin jika dirinya mengatakan tidak, karena hatinya sudah terpenuhi oleh nama gadis itu. “Aku merasa… ya.. aku suka.” Jawab Bima, mungkin suasana yang tak tepat apalagi saat gadis itu tengah merasakan patah hati.


“Makasih. Tetapi aku belum siap untuk itu” ujar Mina.


“Bim, kamu baik-baik saja?” Mina menjadi khawatir jika jawabannya tadi sudah menyakiti perasaannya Bima.


“Aku mengerti. Aku sudah menunggu lama selama ini. tapi gak ada ruginya jika aku harus menunggu lebih lama lagi.” Ucap Bima.


“Meski itu sangat lama?”


Bima mengangguk, “Aku gak masalah jika kamu gak membalas perasaanku. Asal dirimu gak berubah.” Ujar bima takut jika Mina akan menghindarinya karena merasa bersalah akibat tak membalas perasaannya.


“Dan perkataan barusan bisa juga dikatakan lucu.” Ujar Mina tersenyum.


“Beneran?”


“Iya, lucu.”


“Emang beneran lucu?” tanya Bima lagi.


“Gak buruk.” Jawab Mina lalu tertawa.


Bima begitu lega melihat Mina kembali tersenyum.


Nadia baru saja tiba di kosnya. Dia meletakkan tasnya diatas meja belajarnya, Nadia membuka rak kecil dibawah meja belajarnya. Menyimpan buku yang dia bawa dari kampus. Saat itu pula dia melihat sebuah foto, foto dirinya bersama dengan Vino. Nadia menatap lama foto itu, dia menyadari jika perasaannya kepada Vino sudah berubah. Kini yang mengisi hatinya ialah seorang junior yang kini tengah dia hindari. Dia membuka lipatan foto itu, yang ternyata ada Chika yang berdiri disamping Vino. Nadia melipatkan foto karena dulu dia sangat menyukai Vino. Meski Vino akhirnya memilih chika yang juga sahabatnya.


Nadia memandangi jendelanya yang gordennya masih terbuka, terlihat kamar Fajar yang masih gelap. Nadia lalu menemukan gelang yang diberikan Fajar agar nadia menyimpannya, dia juga memandangi gelang itu. Ternyata, selama ini dirinya tak peka dan selalu menyangkal jika bahwa arti dari gelang itu yang ada kaitan dengan Fajar meminta Nadia untuk menyimpannya. Nadia lalu menyimpan gelang itu di laci meja belajarnya.


Fajar berkunjung ke warung yang dekat dengan kosnya, seperti biasa warung itu rame dipenuhi oleh mahasiswa yang tengah mencari makan malam. Karena terlalu banyak pengunjung, sang penjual pun meminta mereka untuk mencatat sendiri pesanan mereka, tinggal nanti para pengunjung tinggal mengambil pesanannya. Fajar menulis pesanannya, awalnya dia menulis es kopi namun dia mencoretnya. Entah kenapa dirinya ingin mencoba minuman yang sering Nadia minum. Fajar menulis di kertas itu, susu strawberry. Tak lama, Nadia datang karena sering memesan minuman yang sama. Sang penjual sudah tahu apa yang akan dibeli oleh Nadia tanpa menulis penjual sudah hafal. Nadia tinggal memesan makan saja. Setelah membeli makanan, Fajar kembali ketempat jual minuman tadi untuk mengambil minumannya.


“Apa susu strawberry sudah siap?” tanya Nadia setelah memesan makanan. Dia terkejut melihat Fajar yang berdiri menunggu pesanannya. Fajar yang melihat Nadia, memilih membuang mukanya tak mau menatap wajah gadis itu begitu lama. Begitu menyakitkan baginya, karena menyukai gadis yang tak menyukainya.