Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 58



Setahun sebelumnya...


Fajar tengah berjalan di kampus sambil menelfon orang tuanya. Dia membawa sebuah map, karena hari ini merupakan hari pertama dirinya masuk ke dunia perkuliahan, karena sebelumnya dia sudah menduduki bangku sekolah. Dia berdiri agak lama di depan fakultas teknik, dia melihat tulisan fakultas teknik terpampang dengan besar di depan gedung itu. Terlihat banyak sekali mahasiswa baru seperti dirinya tengah berkeliaran disana, ada yang masih membawa map-nya ada pula pula yang sudah mendaftar ke fakultas. Fajar menghampiri Bima yang tengah berdiri dipapan pengumuman.


" Fajar, kamu kok disini?" Tanya Bima, sebab Bima tahu teknik bukanlah jurusan yang Fajar gemari.


" Iya, aku juga akan mendaftar disini." Jawab Fajar.


" Bukannya dulu kamu bilang kamu akan mesuk ke fakultas ekonomi. Lebih baik kamu pikirkan lagi, karena belajar dengan menekuni bidang yang tak disukai akan lebih berat apalagi belajarnya sampai 4 tahun." Kata Bima, karena dia tak ingin Fajar mengambil keputusan yang salah baginya, karena itu akan membuatnya menyesal.


" Aku harus melanjutkan bisnis keluargaku, jadi aku merasa fakultas teknik sangat membantu, itulah alasan aku berada disini." Ucap Fajar.


" Tapi aku hanya menyarankan kamu untuk memilih lebih cermat lagi. Kenapa kamu tak mencoba untuk mengobrol dengan ibumu dulu? Sebab ini demi masa depanmu juga." Ucap Bima.


Apa yang dikatakan memang benar adanya, dari awal Bima memasuki fakultas teknik hanya untuk mengenal Nadia, calon istrinya. Namun, teknik bukanlah jurusan dia inginkan, yang diinginkannya adalah jurusan ekonomi. Karena teringat dia merupakan anak tunggal, dan orangtuanya meminta dia untuk melanjutkan bisnis mereka. Fajar berpikir jika fakultas teknik juga sangat penting dalam melanjutkan bisnis orangtuanya. Karena bisnis yang ditekuni oleh orangtuanya, tak jauh dari teknik. Fajar bisa belajar di fakultas teknik sebentar, lalu dirinya bisa kembali pindah ke fakultas ekonomi.


Tiba-tiba terdapat panggilan untuk mahasiswa yang baru mendaftar di fakultas teknik untuk segera masuk, untuk bisa mengikuti sesi wawancara. Fajar lalu meminta Bima untuk duluan sebab dirinya harus ke kamar kecil duluan. Bukannya ke kamar kecil, Fajar malah duduk di taman yang tak jauh dari jurusannya. Perkataan Bima, seolah membuatnya berpikir apakah jurusan yang dia pilih adalah jurusan yang tepat. Tapi ini demi orangtuanya, terlepas dia harus mengenal Nadia. Dia menatap map yang dibawanya, terasa begitu berat jika harus belajar di jurusan yang bukan dia suka. Lalu datang seseorang yang menyapanya.


" Hai dek, apa kamu datang kesini untuk wawancara?" Tanya orang itu yang ternyata adalah Nadia. Fajar masih belum sadar, jika yang duduk disampingnya kini adalah calon istrinya. Padahal dia sudah melihat foto sang calon istri, namun masih belum tahu jika gadis disampingnya ini adalah calon istrinya.


" Iya kak." Jawab Fajar, tak ada senyuman. Wajahnya terlihat murung. Mungkin saja, arah pikiran ke jurusan yang diambil, dia masih belum sadar Nadia kini duduk dan mengobrol dengannya.


" Ayolah, kamu tak perlu seserius itu. Saat aku dulu diwawancarai, pertanyaan yang mereka tanyakan adalah hewan apa yang kamu sedang pelihara di rumah? Lalu aku menjawab, aku memelihara seekor kucing. Kemudian mereka bertanya lagi, " siapa nama kucingmu? Aku menjawab, namanya ******. Aku menjelaskan kenapa aku memberi nama ******, sebab dulu saat aku kecil aku memelihara ikan ******, namun kucing malah memasukan kepala kedalam aquarium dan memakan semua ikan ****** ku. Saat aku selesai bercerita, pewawancara justru tertawa lalu mereka bilang jika aku memenuhi syarat dan memintaku untuk menunggu di luar. Bukankah itu gampang? Jadi kamu gak perlu khawatir akan hal itu. Wawancara itu hanyalah proses untuk memberikan tahu mereka, jika kamu ingin belajar di fakultas ini. Jika kamu lulus, maka kamu sudah memenuhi syarat untuk belajar disini." Kata Nadia kepada Fajar. Dia merasa jika Fajar tengah mengkhawatirkan proses wawancara nanti. Itulah alasannya dia menyapa Fajar dan membicarakan hal itu panjang lebar agar mahasiswa baru ini tak merasa khawatir saat ingin melakukan wawancara.


" Tapi.. bisakah aku bertanya? Mengapa kakak memilih untuk belajar disini?" Tanya Fajar kepada Nadia, mungkin saja ada jawaban yang dapat melegakan hatinya.


" Berarti kakak gak suka dong belajar teknik? Apalagi banyak cowok yang daftar di fakultas teknik, sedangkan cewek mungkin hanya beberapa orang saja." Ucap Fajar, karena fakultas teknik memang sangat digemari oleh para cowok dibandingkan dengan cewek. Makanya tak heran jika Fajar bertanya seperti itu kepada Nadia.


" Gak juga. memang banyak sih cowok yang mendaftar di fakultas ini. Bukan berarti cewek tak boleh, jika ingin belajar maka tak perlu melihat jenis kelamin, kan? Jadi cewek pun boleh memilih untuk belajar di teknik. Pada awalnya, memang terasa sulit dan aku ingin menyerah. Tetapi aku mulai terbiasa dengan semuanya seiring waktu berjalan. Suasana di fakultas ini juga menjadi faktor lain yang membuat aku ingin tetap tinggal." Kata Nadia, alasan dia memilih teknik sebagai jurusan untuk dia pelajari.


" Suasananya?" Tanya Fajar tak mengerti, kenapa suasana menjadi faktor alasan agar Nadia tetap belajar di fakultas teknik.


" Um.. baik suasana kampus, suasana di fakultas teknik, dosen, teman, senior dan junior. Semua ini membuat ku merasa hangat. Aku gak tahu bagaimana aku mengatakannya melalui kata-kata, itu seperti... Seperti ku berada di rumahku sendiri, menurutku. Dan itu membuat aku sadar bahwa belajar belum tentu semua sama di semua universitas. Setiap universitas memiliki keunikan tersendiri. Terserah dari kita mau memilih yang mana." Kata Nadia.


" Jadi menurut kakak itu ide bagus bagiku untuk memilih belajar di fakultas teknik disini?" Tanya Fajar, karena mendengar setiap jawaban Nadia, seperti merasa jika pilihan yang dipilih adalah yang baik untuknya pula.


" Um.. aku gak tahu tentang itu. Menurut ku, ada kemungkinan kamu gak menyukainya setelah beberapa saat. Tapi siapa yang tahu masa depan, kan? Tetapi jika aku diminta untuk memilih lagi, aku masih tetap ingin belajar disini. Karena aku suka disini." Kata Nadia, namun ponsel yang dibawanya berdering. Dia segera mengangkat telepon itu. Setelah mematikan sambungan, Nadia lalu pamit kepada Fajar. Namun sebelum pamit, dia memberikan sebotol minuman yang dibawa sedari tadi.


" Ini untukmu, minumlah. Dengan rasa manisnya bisa menghilangkan rasa stres mu. Kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Nadia pamit, namun dia ditahan oleh Fajar.


" Makasih ya kak." Ucap Fajar.


" Untuk apa kamu berterima kasih padaku. Kamu nanti akan menjadi juniorku, kan? Setidaknya aku sudah menyambut mu diawal." Ujar Nadia lalu pergi.


Fajar menatap botol minuman itu dengan senyuman, lalu dia meminumnya. Karena perkataan Nadia membuat dia yakin jika ini pilihan yang tepat. Mungkin dirinya ingin mengambil jurusan di fakultas ekonomi, namun apa salahnya belajar di fakultas teknik. Seperti apa yang dikatakan Nadia, diawal dia mungkin akan merasa sulit, namun lama kelamaan dia bakal menyukainya.Fajar kembali ke tempat wawancara menunggu nomornya dipanggil. Dia yakin dengan pilihannya. Namun, sesaat kemudian dia tersadar, melihat gadis yang mengobrol dengannya tadi seperti gadis yang tidak asing baginya. Sepertinya gadis itu pernah dia lihat, namun tak tahu dimana.


Hingga berlangsungnya waktu, dan sering bertemu dengan Nadia di fakultas. Akhirnya dia menyadari jika gadis yang ditemuinya diawal masuk kampus ialah Nadia, calon istrinya.