Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 31



Acara makan malam telah berakhir, mereka bersama-sama keluar dari restoran itu. Gilang dan Laras mereka pulang bersama sedangkan Puput dan junior perempuan itu telah dijemput oleh kekasih mereka. Kini tinggal Fajar dan Nadia sendirian di depan restoran itu.


" Kak Nadia pulang dengan siapa?"


" Bukan urusan mu." Jawab Nadia dengan ketus. Terlihat sekali dari wajahnya, Nadia acuh tak acuh kepada Fajar.


Fajar merasa jika Nadia seperti marah padanya. " Kak Nadia marah padaku?"


" Gak! Siapa kamu buat ku, sampai aku harus marah segala."


" Tapi aku junior kakak, siapa tahu tadi ada kesalahan kata yang aku katakan mungkin menyinggung perasaan kakak."


" Junior? Kamu bukan junior ku! Toh, nanti kamu juga bakal pindah, kan? Untuk apa mengaku sebagai anak teknik."


" Tapi saat ini aku masih mahasiswa teknik, bahkan aku juga mengikuti kegiatan ospek dengan baik. Lalu apa yang salah?"


" Seharusnya dari awal kamu gak usah masuk teknik deh. Kamu gak lihat banyak orang yang ingin masuk fakultas teknik, namun mereka gak berhasil saat ujian. Sedangkan kamu sudah berhasil malah pindah karena teknik buka jurusan yang kamu inginkan."


" Aku minta maaf akan hal itu, tapi aku punya alasan kenapa aku masuk ke fakultas teknik."


Nadia tidak menjawab, dia terus membuang karena Fajar sudah mengecewakan diriny sebagai seorang senior. Tak lama, Karin datang dengan motornya untuk menjemput Nadia. " Ayo pulang!" Ajak Karin.


Nadia menaiki motor, sedangkan Karin yang melihat Fajar sendirian akhirnya bertanya, " Kamu pulang dengan siapa?"


" Gak usah nanya dia deh! Dia udah gede, dia bisa pulang sendiri. Ayo jalan!" Seru Nadia menepuk pundak Karin untuk segera melajukan motornya. Fajar hanya bisa memandang kepergian Nadia bersama dengan Karin.


Karin mengantar Nadia tepat didepan kosnya. Nadia segera turun, karena masih memikirkan Fajar yang akan pindah jurusan, Nadia lalu mengeluarkan unek-uneknya kepada Karin. " Acara perpisahan nanti kita ubah ya."


" Kenapa emangnya nad?" Tanya Karin karena tiba-tiba Nadia ingin mengubah rencana.


" Kamu tahu si Fajar tadi, dia ingin pindah ke fakultas ekonomi."


" Lalu apa urusanmu? Kamu gak ingat si Justin, dia juga pindah ke fakultas pertanian."


" Ah iya juga ya." Nadia mengingat kembali dulu ada teman satu angkatan dengannya yang pindah kejurusan yang dia inginkan.


" Jadi apa urusanmu? Biarkan saja dia."


" Iya. Makasih ya. Sampai ketemu lagi besok." Ujar Nadia masuk kedalam kosnya.


Hari ini merupakan acara perpisahan dimana kegiatan ospek akan dihentikan dan mahasiswa baru tidak ada lagi embel-embel baru di belakang kata mahasiswa, mereka akan menjadi mahasiswa seutuhnya di fakultas sampai 4 tahun. Mahasiswa baru telah berkumpul di lapangan, acara dimulai sore dimana akan ada permainan yang mereka mainkan sebelum menuju acara inti. Di tribun, Nadia bersama dengan teman-temannya berdiri tegak dengan wajah yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Dea melihat kebawah lapangan, mencari Wawan apakah cowok itu ikut atau tidak. Dan Dea yang wajah galak tiba-tiba tersenyum saat melihat Wawan berdiri diantara para mahasiswa baru lainnya. Lalu dia mengubah kembali mimik wajahnya kembali seperti awal.


" Eh lihat cara para senior itu berdiri. Ini seperti permainan game gak sih!" Bima meminta yoga melihat kearah tribun.


" Benarkah!"


" Iya, kamu perhatikan deh. Yang ditengah itu akan menjadi raja kingkongnya." Ujar Bima menjelaskan permainan game yang sering dia mainkan.


" Aku gak terlalu tahu, soalnya aku bukan pecinta game seperti mu. Tapi tadi kamu bilang raja kingkong, kan? Kira-kira diantara para senior yang berdiri siapa yang akan jadi raja kingkongnya?"


" Kak Nadia!" Seru mereka bersama sambil cekikikan.


" Eh, aku dengar loh!" Ujar Kevin yang berdiri tepat di belakang mereka berdua.


" Emang benar, kan. Kak Nadia cocok jadi raja kingkongnya." Ujar Bima karena menurutnya Nadia merupakan pemimpin jadi dia sangat cocok dengan permainan game yang dimana Nadia menjadi raja kingkong.


" Mau aku adukan ke kak Nadia." Kevin pura-pura mengancam.


" Jangan dong! Cuma becanda." Bima takut jika dia bakal dihukum


Alhasil ketakutan Bima menyebabkan Kevin, Yoga dan Fajar tertawa.


" Selamat sore semuanya!" Teriak Karin yang kali ini memimpin.


Dengan kompak para mahasiswa baru menjawab, " Sore."


" Segera berbaris!" Perintah Karin. Semua mahasiswa baru mulai berbaris dengan rapi. Sesuai dengan urutan mereka masing-masing.


" Terima kasih telah datang ke acara perpisahan ini. Sebelum kita memasuki acara inti nanti malam. Kami para panitia telah menyiapkan permainan untuk kalian! Kalian lihat bendera itu, itu merupakan simbol yang nanti akan diberikan tahta panitia kepada kalian. Permainan yang ingin kami adakan ialah kalian semua mahasiswa baru harus bisa mengambil bendera itu dengan menjawab semua pertanyaan yang akan kami ajukan. Pertanyaan tidak sulit, bagi kalian mahasiswa baru yang ikut kegiatan ospek pasti tahu materi apa saja yang telah kalian dapatkan. Jadi siap-siap untuk bekerja sama dalam menjawab pertanyaannya. Mungkin itu saja penjelasan dari aku. Mahasiswa baru sudah siap!"


" Siap!" Jawab para mahasiswa baru dengan kompak.


" Oke, aku yang pertama. Aku yang akan memberikan pertanyaan untuk kalian."


Para mahasiswa baru mulai berkumpul mendiskusikan jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh senior. Pertanyaan pun telah dilalui dengan baik sampai pertanyaan ketiga para mahasiswa baru juga melewatinya dengan baik pula. Hingga pertanyaan terakhir dari Nadia. Karena merasa sudah melalui dengan mudah, ternyata pertanyaan terakhir justru sangat sulit untuk dijawab. Bahkan Kevin berkali-kali naik ke tribun untuk menjawab pertanyaannya tetap saja selalu salah. Semua mahasiswa baru nampaknya sudah menyerah, hingga akhirnya Fajar punya ide untuk menjawab pertanyaan dari Nadia.


" Pertanyaan dari kak Nadia tadi ialah makna kata semangat untuk para mahasiswa baru, kan?" Tanya Fajar mengulang pertanyaan yang Nadia berikan kepada mereka.


" Ah iya.." jawab Bima.


" Mungkin jawaban kak Nadia bukanlah teori melainkan tindakan kita."


" Maksud kamu?" Kevin tidak mengerti.


" Aku akan ke atas sana. Mengajak kak Nadia untuk turun biar dia bisa melihat dengan jelas semangat kita. Jadi ide aku kali ini, kita semua mahasiswa baru berdiri mengelilinginya untuk melakukan yel-yel yang sering kak Nadia perintahkan. Tapi sebelum itu kita semua harus mengucapkan terima kasih kepadanya, agar meluluhkan hatinya." Ujar Fajar menjelaskan idenya untuk menjawab pertanyaan dari Nadia.


" Ide yang bagus. Aku setuju." Ucap Kevin tetapi dengan harapan agar jawaban mereka berhasil.


Fajar naik diatas trubus kini dia berhadapan dengan Nadia. " Kak, sebelum aku meminta izin kepada kakak. Aku hanya menyampaikan satu hal. Mungkin kakak marah jika aku memilih pindah dari fakultas teknik. Tapi setelah mengikuti kegiatan ini, aku merasa jika fakultas teknik juga menarik. Dimana aku dikelilingi dengan teman-teman yang baik serta para senior yang baik. rasanya aku ingin terus belajar dan tidak mau pindah lagi. Jadi kak, bolehkah aku tetap menjadi mahasiswa teknik?" Ujar fajar memohon.


" Ini melenceng dari pertanyaan."


" Baik, kak Nadia bolehkah kakak turun. Dibawah kami sudah menyiapkan jawaban akan pertanyaan kakak."


Nadia mengikuti fajar untuk turun di lapangan. Mahasiswa baru sudah mulai bersiap, mereka melakukan apa yang dikatakan oleh Fajar. Nadia sangat tersentuh, hingga akhirnya dia mengizinkan untuk mengambil benderanya.