
Setelah mendengar semua yang dikatakan oleh Laras, Nadia ingin menemui Fajar. Namun sayangnya Fajar sepertinya sudah tidak ada di dalam pesta pernikahan itu. Nadia melihat keempat temannya sedang menikmati kue yang telah disediakan oleh pengantin untuk para tamu undangan.
" Nad, sedari tadi kami menunggumu. Kamu dari mana saja?" Kata Bagas saat melihat Nadia menghampiri mereka.
" Kalian melihat adik semester disini gak?" Tanya Nadia yang dia maksud adalah Fajar.
" Adik semester? Siapa?" Dea tak memahami pertanyaan Nadia, sedari tadi dia hanya melihat para senior serta anak seangkatan mereka yang hadir di pernikahan ini.
" Yang dia maksud itu Fajar." Ucap Karin karena tadi dia melihat Fajar yang sedang mengobrol dengan Nadia.
" Fajar baru saja pulang, kayaknya dia masih di depan sana." Kata Prince sebab Fajar tadi pergi bersama Puput mantan pacarnya.
Mendengar itu, Nadia segera pergi namun ditahan oleh Bagas. " Kamu pulang bareng kita, kan?"
Nadia malah tak menjawab dan cepat berlari menuju tempat parkir sebab dia takut jika tak bisa bertemu dengan Fajar. Melihat Nadia tak menjawab pertanyaannya, Bagas bertanya kepada Karin melihat tingkah Nadia yang aneh. Sedangkan Karin menjawab dengan mengangkat kedua bahunya, seolah tak tahu kenapa Nadia bersikap seperti itu.
Nadia sudah berada di depan pintu keluar acara pernikahan, dia melihat disekitar halaman serta tempat parkir mobil, tetapi dirinya tak menemukan sosok Fajar di sekitar itu. Dia mencoba menuju gerbang melihat di jalan, mungkin saja Fajar masih berada disana. Namun, sosok Fajar masih belum dilihatnya, Nadia mengamjil ponselnya di dalam tas. Menghubungi nomor Fajar, tiba-tiba seseorang menyebut namanya dari belakang.
"Apa yang kak Nadia lakukan disini?" Fajar dia bertanya kepada Nadia, melihat Nadia berdiri di depan gerbang seperti sedang mencari seseorang. Fajar memutuskan untuk tidak pulang bersama dengan Puput dirinya ingin menikmati pesta pernikahan dulu, meski hatinya masih meringis sakit.
"Kamu masih disini?" Tanya Nadia tersenyum tipis melihat Fajar masih berada disekitar area acara pernikahan. Ternyata dia tak terlambat, dan beruntung bisa bertemu dengan Fajar disini.
"Iya, aku masih belum ingin pulang." Jawab Fajar.
"Apa kamu lapar?" Tanya Nadia. Belum sempat Fajar menjawab Nadia kembali berucap, " Aku lapar. Apa kamu bisa menemaniku makan?"
Nadia berjalan duluan, Fajar merasa bingung dengan tiba-tiba Nadia mengajaknya makan bersama bukannya selama ini Nadia selalu menghindarinya.
" Kenapa kamu diam saja? Ayok!" Seru Nadia melihat Fajar masih berdiri saja didepan gerbang.
Mereka berdua berjalan kaki menuju sebuah warung pinggir jalan yang tak terlalu jauh dari acara pernikahan. Sambil menunggu pesanan, suasana canggung memenuhi atmosfir diantara mereka berdua, Nadia terus memandang Fajar yang sedang menunduk sambil menuangkan air putih untuk dirinya dan Nadia. Tak berselang lama, pesanan datang dua porsi mie ayam biasa dan mie ayam bakso. Nadia dengan perhatian memberikan mengambil sumpit dan memberikannya kepada Fajar, Fajar masih bingung dengan sikap Nadia yang berubah. Tak banyak bertanya, Fajar memilih diam dan ikuti saja apa yang Nadia inginkan.
" Kamu suka bakso, kan?" Tanya Nadia kepada Fajar.
Fajar mengangguk, Nadia lalu mengambil bakso dan meletakkan dimangkok mie ayamnya Fajar. Merasa tak tahan dengan sikap Nadia yang baik padanya. Membuat Fajar geram, sebab dengan Nadia bersikap seperti itu membuat Fajar menjadi salah paham, bahkan membuat dirinya tak akan bisa untuk melupakan perasaannya kepada Nadia.
" Kenapa kak Nadia melakukan ini?" Tanya Fajar kepada Nadia yang kembali bersikap baik kepadanya.
" Apa yang kamu bicarakan?" Tanya Nadia balik seolah tidak terjadi apa-apa kepada mereka berdua sebelumnya.
" Udah, makan saja. Nanti mienya jadi dingin." Ucap Nadia dengan Santi sambil menikmati mie ayamnya, tanpa memperdulikan perasaan Fajar yang merasa kesal karena Nadia terus menarik ulur perasaannya.
Setelah makan mereka berdua berjalan kaki bersama, Fajar layaknya seorang anak yang mengikuti arah jalan Nadia dari belakang. Hingga Nadia berdiri dipinggir jembatan, dengan melihat pemandangan malam disekitar sungai dan juga cahaya lampu yang terdapat dari rumah para warga yang tinggal diarea itu. Fajar juga ikut berhenti dengan berdiri disampingnya Nadia.
" Fajar, apa kamu lelah?" Tanya Nadia kepada Fajar setelah mereka berjalan dengan cukup jauh.
" Gak." Jawab Fajar. Dia melihat wajah Nadia terlihat Nadia tersenyum sambil merasakan udara malam serta pemandangan yang ada dihadapannya.
" Jujur saja, apa kamu gak lelah terus mengejar ku seperti itu? Padahal kamu gak tahu kemana aku akan tuju dan kapan aku akan berhenti." Ujar Nadia tanpa menengok kearah Fajar yang berada disampingnya, matanya masih terpaku keraha sungai yang lumayan terang karena cahaya rembulan serta cahaya dari jembatan yang dirinya berdiri sekarang.
" Aku gak akan merasa lelah, meski aku tak tahu kedepannya akan kemana. Jika bersama dengan mu bagi ku itu gak masalah."
" Aku sudah tahu soal perjodohan kita." Ucap Nadia, membuat Fajar terkejut karena info dari orangtuanya jika Nadia masih belum tahu tentang perjodohan itu.
" Fajar, kamu tahu, kan? Jika aku ini senior mu dan kamu junior ku di kampus." Ujar Nadia.
" Iya, aku tahu. Tapi sejak.."
" Kamu tahu juga, kan? Jika aku sangat suka sama minuman susu strawberry. Kamu juga tahu jika aku terkadang suka bersikap egois, mudah marah, kasar, dan terkadang suka bangun kesiangan. Aku ingin kamu tahu semua tentangku?"
" Maksud kakak?" Fajar bingung dengan perkataan Nadia, kenapa Nadia tiba-tiba meminta untuk mengetahui semua tentang dirinya.
" Aku ingin tahu kamu tahu tentang ku."
Fajar mulai mengerti arah pembicaraan Nadia. Nadia menerima perjodohan itu, dengan mereka berdua untuk saling mengenal satu sama lain. " Jika kak Nadia ingin aku mengetahui semua tentang kakak. Bagaimana denganku? Apa kak Nadia juga ingin tahu tentangmu?" Tanya Fajar balik kepada Nadia.
Nadia mengangguk, sebagai jawaban jika dirinya juga ingin mengenal Fajar lebih dekat. Fajar tersenyum, hatinya yang sendu kini berbunga-bunga. Patah hati itu hanya sementara, kini Nadia calon istri yang dia cintai mengangguk sebagai jawaban jika dia menerima Fajar.
" Namun sayangnya aku ingin kak Nadia menjawabnya dengan suara yang lantang. Bisakah kakak berteriak di depan sungai, setidaknya sungai ini menjadi saksi jika kakak menerima ku untuk mengenal kakak lebih dekat." Fajar mulai menjahili Nadia.
" Gak! Apaan sih malu-maluin saja!" Gerutu Nadia kesal, mana mungkin dia berteriak seperti itu disini. Karena banyak motor dan mobil yang berlalu-lalang bisa-bisa dirinya dikatakan gila oleh yang mendengar.
" Aku perlu bukti untuk..." Sebuah kecupan mendarat dibibir Fajar cukup lama. Fajar tersenyum dalam ciuman itu. Karena malu Nadia segera menyudahinya.
" Itu sudah cukup, kan?" Tanya Nadia.
Fajar tersenyum, lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka. Selama perjalanan Fajar terus menempel kepada Nadia, namun Nadia terus mendorong karena malu akibat tindakannya tadi.