
Fajar dengan kedua temannya yoga dan Bima tenaga berkumpul di kamar kos Bima untuk mengerjakan tugas bersama. Fajar mencoba menghubungi Wawan, mungkin saja Wawan mau bergabung bersama mereka. Namun sayangnya Wawan menolak ajakan fajar.
" Apa balasan dari Wawan? Apa dia mau bekerja bareng dengan kita?" tanya Bima yang baru saja dari toilet. Dia ingin tahu apakah Wawan mau bergabung mengerjakan tugas bersama mereka bertiga.
" Gak, katanya dia mengerjakan sendiri di kamar kosnya." Jawab fajar.
Yoga yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya menyela, " Mungkin, dia masih kesal gara-gara masalah tadi. Seharusnya dia juga gak boleh seperti itu dengan kak Dea."
" Iya sih, tapi aku juga merasa para senior terkadang terlalu berlebihan." ujar Bima.
" Seharusnya masalah itu akan cepat selesai jika salah satu dari mereka mau mengalah." ujar yoga yang masih berkutat dengan laptopnya dihadapannya.
" Tetapi ujung-ujungnya tetap saja yang junior harus mengalah." ujar Bima mengambil buku, untuk menuliskan esai yang akan dia kerjakan.
Fajar yang diam saja sedari pun ikut menyela, " Kenapa? Kenapa para senior juga gak mau ikut mengalah?"
" Itu gak seharusnya menjadi sebuah pertanyaan. Kenapa mereka melakukan itu? ya, mereka adalah senior kita." ujar Bima menjelaskan.
" Tapi kita juga berhak dihormati. Hormat-menghormati bukan hanya sekedar masalah senior atau junior." ujar fajar yang tidak terima dengan apa yang dikatakan Bima. Fajar mulai tersulut emosi, karena tidak terima seorang junior harus menghormati senior. Sebab menurutnya dalam hal menghormati tidak selamanya junior harus menghormati senior namun senior juga berhak menghormati orang lebih muda atau juniornya.
Yoga yang menyadari fajar sudah tersulut emosi, meminta fajar untuk tenang dan sabar. " Tapi fajar, bisakah kamu sekali saja mengalah dengan para senior itu. Kamu gak perlu memprovokasi kan mereka setiap saat." ujar yoga memperingati fajar, sebab selama ini fajar selalu membuat emosi para senior di Ospek.
" Apa yang dikatakan yoga benar. Pada akhirnya kita semua yang mendapatkan konsekuensinya. Kamu juga? kamu juga mendapatkan konsekuensinya kan? Kenapa kamu terus saja mencari masalah dengan senior itu?" ujar Bima memperingati sebab menurutnya fajar selalu membuat masalah dengan senior di Ospek. Bima kembali fokus dengan bukunya, sedangkan fajar yang mendengar ujaran Bima akhirnya menyadari apa yang selama ini dia perbuat. Keegoisannya untuk membela terkadang membuat para teman-temannya harus mendapatkan konsekuensi yang sama dengannya.
Di kampus, para panitia ospek belum pulang. Mereka masih berada di aula, mengadakan untuk acara ospek selanjutnya. Serta membahas tentang masalah tadi pagi.
" Aku ingin menyampaikan sesuatu sebagai ketua Ospek. Dea, aku rasa kamu sudah kelewatan batas hari ini. Kamu boleh meneriaki para mahasiswa baru, tetapi kamu tidak bisa menggunakan amarahmu kepada mereka." ujar Nadia dengan tegas sebagai ketua, karena menurutnya permasalahan tadi pagi benar-benar diluar aturan. Namun, Dea sang membuat masalah terlihat dia tidak begitu menerima apa yang dikatakan oleh Nadia.
" Apa kamu mengharapkan aku memanjakan mahasiswa baru itu? Apa kamu gak lihat, bagaimana dia menunjukan wajah menyebalkannya itu? Kamu ingin aku berlutut dan memohon kepadanya? Jika kita bersikap lunak kepada junior itu, maka semakin mereka bersikap gak disiplin." ujar Dea tidak terima karena menurutnya apa dia lakukan adalah hal yang benar.
" Apa maksudmu? Bagaimana memelonco jika tanpa serangan? Apa kamu pikir mereka akan dengar apa yang kita katakan?" teriak Dea karena sudah tersulut emosi, beruntungnya prince duduk disampingnya.
Prince menepuk pundak Dea agar tenang, " Sabar dong de, Jangan mendidih begitu dong."
" Dea, aku memperbolehkan untuk berdiri di depan selama pertemuan. Tetapi, aku tidak memperbolehkan mu untuk mendisiplinkan para mahasiswa baru." perintah Nadia, sebab dia juga tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi.
" Apa yang aku lakukan itu salah, hah!" bentak Dea tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh Nadia.
" Ya, kamu salah! Kamu benar-benar salah kali ini, Dea." ujar Nadia tersulut emosi, Karin yang duduk disampingnya mencoba menenangkannya.
" Dengarkan aku. Kita ini sedang berhadapan dengan generasi baru yang baru lulus SMA. Kita harus sedikit beradaptasi untuk mendekati mereka. Di kegiatan ini, kita sama-sama belajar naik senior maupun junior. Bukan berarti kita tidak pernah salah, meskipun kita kita lebih tua dari mereka. Jika kita bertindak salah, maka kita harus mengakui. Aku pun juga mengakui jika hari pertama tindakan yang kulakukan terlalu keterlaluan. Aku berharap kamu bisa mengintrospeksi diri atas tindakanmu itu, Dea." ujar Nadia panjang lebar, agar semua panitia tahu dan paham. Tindakan yang dilakukan Dea tadi pagi benar-benar sebuah kesalahan yang justru melenceng dari arti ospek sendiri.
Tiba-tiba seorang cowok masuk, sosok dengan badan besar dan rambut terikat. Dia menggunakan jaket dengan menggantung tasnya di lengan sebelah kanan. Melihat cowok itu, semua panitia termasuk Nadia menunduk, dan menyapa cowok itu.
" Aku mendengar semuanya. Nadia, apa yang sebenarnya kamu lakukan sebagai ketua? Bagaimana bisa ku membuat beberapa mahasiswa baru tidak mengikuti kegiatan ini? Dan ini bukan pertama kalinya, bahkan udah hampir seminggu mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan ini semakin sedikit." Ujar cowok itu. Cowok itu berdiri dengan tatapan tegasnya, namanya Denis Pramudita. Denis merupakan senior lama di kampus. Dulu l, disaat Nadia baru pertama kali masuk kampus. Denis lah yang menjadi ketua panitia ospek, yang kini sudah diduduki oleh Nadia. Itulah sebabnya dia bertanya seperti itu. Nadia begitu mengagumi cowok berdiri yang tidak jauh darinya ini, itulah alasan kenapa Nadia menduduki posisi ketua panitia ospek.
Denis masih berdiri menatap nadia, dia butuh penjelasan dari Nadia. Namun, Nadia tetap tak bergeming. Hingga Karin lah yang menjawab pertanyaan tersebut.
" Mau bagaimana lagi, kami sudah melakukannya semaksimal mungkin melakukannya sesuai aturan." ujar Karin mewakili Nadia serta panitia ospek yang lain.
" Apa kalian yakin jika kalian sudah melakukannya semaksimal mungkin, hm?" tanya Denis lagi.
Semua hanya bisa diam, tidak ada dari mereka yang berani menjawab. Hingga Denis memberikan ancaman, jika masih ada mahasiswa baru yang melewati kegiatan ospek. Maka Nadia akan mendapatkan hukuman. Bagi Denis, meski dia sudah tidak menjabat sebagai ketua. Kegiatan ospek tetap harus berjalan. Dan jika dari ketua tidak melaksanakan dengan baik. Maka sanksi pun mereka harus terima.
Nadia mengehela nafasnya, kedua tangannya memijit kepalanya meski tidak ada rasa sakit yang dia rasakan. Dia bingung, harus bagaimana agar mahasiswa baru tidak melewati kegiatan ospek. Nadia juga tidak mau, jika dirinya dinilai tidak becus sebagai ketua oleh denis. Nadia memejamkan matanya, memikirkan cara gar masalah itu cepat selesai.