
Dosen mengakhiri pelajarannya, beliau lalu keluar dari kelas. Tiba-tiba para panitia yang merupakan senior yang satu fakultas dengan mereka masuk ke dalam kelas termasuk Nadia. Semua mahasiswa yang di dalam kelas begitu terkejut melihat adanya Nadia disana. Diantara mereka mulai berbisik-bisik dengan mengatakan jika Nadia seharusnya sudah keluar dari panitia. Namun, yang dibuat terkejut gadis itu kembali bersama dengan panitia lain.
Para senior itu termasuk Nadia berdiri di depan kelas. Dengan tatapan yang sama, dia mulai berbicara, " Kami kesini hanya ingin menyampaikan, jika untuk Minggu ini pertemuan kegiatan ospek akan ditunda sementara. Sehingga kalian semua dapat berpartisipasi dalam lomba yang akan diadakan Minggu depan. Aku meminta kalian semua untuk mengambil setiap aktivitas di lomba nanti." ujar Nadia. Setelah memberikan pengumuman, mereka keluar dari ruangan kelas.
Di kantin, Fajar sedang membaca buku. Sedangkan yoga yang duduk disampingnya sedang menikmati makan siangnya. Dari arah belakang citra datang menghampiri fajar.
" Fajar." sapa citra.
" Iya, ada apa?" tanya fajar saat citra yang tiba-tiba menghampirinya.
" Aku masih belum tahu tentang kontes yang akan kita berdua ikuti. Kamu mau gak ngajarin aku?" tanya citra.
" Boleh." jawab fajar.
Citra lalu duduk disampingnya fajar. Dari arah belakang pula datang Mina dan Gladis. Citra yang melihat mereka berdua, segera memanggil untuk bergabung dengan mereka. Mina dan Gladis menghampiri mereka, Mia duduk disampingnya Bima yang kebetulan duduk berhadapan dengan Yoga. Sedangkan Gladis duduk disampingnya Mina.
" Sejak kapan kamu dekat dengan para cewek?" bisik yoga kepada fajar saat para gadis itu duduk bergabung dengan mereka.
Bima yang duduk disamping Mina, menatap Mina sejenak lalu kembali menunduk.
" Kalian semua udah mendaftarkan nama kalian semua di lomba yang kalian inginkan?" tanya Gladis.
" Kalian sudah?" tanya fajar.
" Tadi aku gak sengaja bertemu dengan para senior, mereka meminta agar kita bisa memenangkan semua perlombaan yang diadakan." ujar Mina.
" Jadi kalian mau mengikuti kegiatan apa?" tanya yoga.
" Aku dan Mina ikut membantu tim pemandu sorak. Jadi sekarang kami kekurangan staff, kalian mau ikut gak?" tanya Gladis.
" Ya, kenapa gak? bagaimana kamu mau ikut gak?" tanya fajar kepada Bima.
Bima terkejut tiba-tiba fajar bertanya kepadanya, saat dirinya sedang bengong menatap Mina yang duduk disampingnya.
" Hah?" respon Bima.
" Apa kamu mau bergabung?" tanya Mina dengan lembut kepada Bima.
" Iya." jawab Bima tersenyum.
Gladis melihat Kevin, kebetulan Kevin juga masuk kedalam staff yang membantu tim pemandu sorak.
" Kevin," panggil Gladis.
" Ada apa?" tanya Kevin.
" Fajar udah membantu kami di tribun." ujar Gladis kepada Kevin, saat Kevin menghampiri.
" Apa kamu serius?" tanya Kevin kepada fajar.
" Iya." jawab fajar.
" Kalau begitu, kalian semua yang ikut tolong tulis nama kalian disini." ujar Kevin memberikan sebuah kertas kepada mereka.
" Kamu fajar ya? Bukannya kamu mengikuti kontes bintang fakulitas ya?" tanya staf itu.
" Iya kak." jawab fajar.
Bima akhirnya ingat jika fajar sudah mengikuti kontes bintang fakulitas. Jadi, tidak mungkin dia harus ikut kompetisi basket.
" Aku lupa jika kamu juga ikut kontes bintang fakulitas. Lebih baik kamu gak usah ikut." ujar Bima.
" Gak usah khawatir, biar aku daftarkan namaku sebagai pemain cadangan." ujar fajar.
" Boleh gak kak?" tanya fajar kepada staf.
" Boleh." jawab staf.
Tiba-tiba Wawan masuk ke ruangan, namun dia tidak mendaftar hanya melewatinya saja. Fajar yang melihat menghampiri Wawan. Dari belakang, para senior termasuk Nadia datang masuk kedalam ruangan. Mereka menghampiri staf tadi. Untuk sekedar melihat siapa saja para mahasiswa yang mendaftar dalam partisipasi kompetisi basket. Bima yang melihat senior segera menghindar dengan menghampiri fajar dan Wawan.
Prince mengecek, ternyata yang mendaftar baru dua orang saja dengan pemain cadangan satu yaitu fajar. Prince mengumpat sebab dia tidak mau jika fakulitas mereka akan kalah lagi dalam kompetisi basket. Bagas menyarankan agar mereka lebih tegas untuk meminta para mahasiswa baru untuk berpartisipasi dalam lomba.
" Semua mahasiswa yang berpartisipasi dalam kompetisi olahraga silakan berkumpul." Teriak Karin.
Hingga semua mahasiswa yang mendaftarkan namanya dalam kompetisi olahraga masuk kedalam ruangan. Nadia memimpin pembicaraan.
" Aku meminta kalian semua berkumpul disini, bukan itu melatih kalian atau memberikan saran. Dulu pertama kali kegiatan kompetisi diadakan fakulitas kita, fakulitas teknik tidak pernah kalah dan selalu menjadi nomor 1. Namun, aku tidak ingin apa yang kami gapai harus berakhir di angkatan kalian." ujar Nadia.
" Tetapi kegiatan kompetisi ini dilaksanakan untuk membangun persatuan bagi mahasiswa baru kak." bantah Wawan.
" Jika itu yang kalian pikirkan, lebih baik kalian pulang berlindung di ketiak ibu." kata dea.
" Hey kak. Aku bicara baik-baik loh, kak. Jaga bicaramu!" ucap Wawan tidak terima dengan perkataan Dea.
" Jadi? Apa? Kamu mau marah? Ingat aku senior mu disini." ujar Dea menantang.
" Cih! Lagi-lagi senioritas. Apa bedanya kamu dengan ku. Kita sama-sama menimbah ilmu, kan. Gak ada berhak aku untuk harus menunduk padamu." ujar Wawan tidak terima.
Alhasil Dea juga tidak terima dengan ujaran Wawa. Hingga terjadi kericuhan membuat Nadia harus berteriak agar mereka berdua diam.
" Kenapa kalian berdua harus bertengkar satu sama lain?" tanya Nadia kesal melihat tingkah Dea dan Wawan.
" Baiklah! Aku beritahu kalian. Kompetisi ini bukanlah kompetisi biasa. Karena kompetisi ini merupakan test apakah kalian berhak disebut mahasiswa fakulitas teknik atau tidak. Sebab jika kalian mengikuti kompetisi dengan sungguh-sungguh maka kapasitas kalian akan diukur. Namun, jika kalian menganggap kompetisi ini hal biasa. Kalian tidak pantas disebut sebagai mahasiswa fakultas teknik." ujar Nadia.
" Kami pasti akan menang." ucap fajar.
" Ck, jangan hanya omong besar. Kalian ini adalah orang yang mewakili teman-teman kalian. Kalian yang membawa harapan bagi semua mahasiswa baru fakultas teknik." ujar Nadia tegas.
" Aku tahu itu. Makanya aku mengatakan jika kami pasti menang. Kami akan membuktikan jika kami mahasiswa baru fakultas teknik akan akan menang." ujar fajar.
" Bagus. Kamu akan menantikan itu." ucap Nadia pergi diikuti oleh teman-temannya.
Saat Wawan juga ikut pergi, fajar menahannya. " Wawan, apa kamu gak ingin membuktikan apa yang dikatakan mereka itu salah? Apa kamu gak malu harus direndahkan seperti itu oleh senior cewek? Apa kamu..."
" Iya, aku ikut. Simpan kata-kata mu itu." ujar Wawan menghampiri staf untuk mendaftar namanya. Fajar yang mendengar itu hanya bisa tersenyum karena dia berhasil mengajak Wawan untuk berpartisipasi dalam kompetisi basket. Bima yang mendengar begitu senang karena fajar mau membujuk Wawan untuk ikut kompetisi basket.