Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 11



Fajar menuju lokernya, untuk meletakkan tas sebelum mengikuti kegiatan ospek. Tak disangka di dalam loker terdapat name tag nya yang baru. Fajar melihat name tag itu dan itu. Segera dia meletakkan tas dan bukunya di dalam loker untuk mengikuti ospek.


Kali ini bukan lagi di dalam aula, mahasiswa baru disuruh berkumpul di lapangan. Panasnya matahari mulai terasa melihat keringat yang mengucur di dahi para mahasiswa baru. Semua mahasiswa baru dimintai untuk merangkul satu sama lain. Nadia berdiri dengan lapangan dengan tatapan yang sama dan raut wajah yang sama.


" Apa kalian tidak belajar tentang persatuan sama sekali, hah!" teriak Nadia dibawa terik matahari. Para mahasiswa hanya bisa menunduk, tanpa menjawab satu katapun.


" Kalian selalu melewati kegiatan ospek ini. Dan kalian selalu terlambat dalam pertemuan kali ini. Kalian tidak pernah siap jika disuruh melakukan sesuatu. Bahkan saat aku sudah mengajarkan kalian tentang kedisiplinan, kalian masih saja tidak mengikuti. Apa kalian tidak mendengar kata persahabatan? Atau kalian tidak mau menggubris kata-kata kami di otak kalian. Baiklah, jika kalian masih saja bersikap masa bodoh. Aku akan memberikan pelajaran tentang arti kata persatuan disini. Jika kalian merasa diri kalian lemah silahkan keluar." ujar Nadia panjang lebar.


Sedangkan semua mahasiswa baru, merasakan panas matahari yang menimpa dirinya. Yoga dan Bima saling memandang mereka berdua terasa tidak sanggup lagi untuk berjemur lebih lama di lapangan.


" Kalian semua lihat, ada panitia yang berdiri di ujung lapangan sana. Kalian semua berlari dan melaporkan diri kalian selama 3 menit, jika tidak melakukannya maka akan aku beri hukuman." ujar Nadia kepada seluruh mahasiswa baru.


Namun mahasiswa baru masih tetap duduk, karena merasa begitu lemas akibat berjemur di lapangan.


" Apa lagi yang kalian tunggu, segera berlari sekarang!" bentak Nadia. Hingga seluruh mahasiswa baru segera berdiri dan mulai berlari.


Mahasiswa baru melakukannya dengan baik, tetapi ada salah mahasiswi yang pingsan. Alhasil Nadia begitu khawatir dan segera para panitia memanggil panitia medis untuk segera menangani gadis yang pingsan itu.


Panitia menangani gadis yang pingsan itu. Nadia berdiri dan berteriak di hadapan mahasiswa baru dengan wajah yang begitu khawatir.


" Apa yang kalian lihat hah! Aku sudah bilang dari awal jika merasa lemah silahkan keluar. Bukannya memaksa untuk mengikuti kegiatan. Jika terjadi apa-apa kami para panitia yang harus menanggung. Dan lagi aku berharap kalian tidak melupakan arti dari kata persatuan. Mungkin itu saja, kegiatan kita kalian bubar!" teriak Nadia.


Fajar berjalan menghampiri Bima, terlihat Bima berjalan dengan terseok-seok. Fajar pun khawatir dengan keadaan temannya itu.


" Kamu gak apa-apa?" tanya fajar membantu Bima berjalan menuju pinggir lapangan.


" Gak apa-apa." ujar Bima.


Fajar mengantarkan Bima ke klinik kampus. Dia ingin Bima segera mendapatkan penanganan terhadap kakinya yang sakit.


" Dia kenapa?" tanya Fani, yang kebetulan berada di klinik kesehatan kampus.


" Kakinya sakit." ucap fajar membantu Bima duduk di kursi.


" Mana sini aku periksa. Ini palingan di kasih balsem saja kok. Nanti juga nyerinya bakal. Tapi sayangnya balsem disini habis. Kalian bisa menunggu sebentar aku akan meminta temanku untuk membelinya." Ujar fani.


Fani melihat fajar, lalu berkata lagi, " Kamu fajar, kan? ada temanku yang ingin menemui mu hari ini. Dia ingin menanyakan apa kamu bersedia mengikuti kontes bintang kampus."


" Tapi kami berdua berencana mau makan siang." ucap fajar.


" Kalian bisa tunggu sebentar gak, sampai temanku datang." ujar Fani dengan tatapan memohon.


Fajar melihat di meja klinik itu terdapat banyak makanan. Dia pun dengan sungkan meminta, " Kalau begitu apa kami bisa makan disini?" ujar fajar sambil melirik kearah makanan bungkus yang ada dimeja.


" Ah, boleh kok. Ini makanan untuk para panitia, jadi kami membelikannya begitu banyak. Palingan nanti juga banyak yang sisa, kalau kalian mau makan, ambillah." ujar Fani menawarkan.


" Ah, kalau begitu lebih baik gak usah kok kak." ujar Bima.


" Apa yang kalian takutkan sih! justru orang yang saling perduli kepada kalian ada senior kalian. Jadi ini ambillah, ada jeruk juga ambil kalian satu-satu." ujar Fani memberikan kotak makan, air mineral serta jeruk untuk fajar dan Bima.


Fajar dan Bima sangat berterima kasih dengan Fani, mereka berdua duduk tidak jauh dari situ. Fani mengatakan jika mereka untuk jangan dulu pergi karena ada temannya yang akan bertemu dengan fajar.


Nadia memasuki klinik kesehatan kampus dengan membawa kantong plastik.


" Fani, apakah mahasiswi yang pingsan tadi sudah pergi?" tanya Nadia.


" Iya, ada apa?"


" Sayang sekali, padahal aku ingin menjenguknya. Oh iya, nanti tolong sampaikan ke panitia yang lain, kalau nanti ada perintah mahasiswa baru untuk berlari di lapangan. Tolong meminta mereka untuk menyediakan minuman yang enak untuk mereka. Dan ini, kamu meminta untuk membelikan balsem kan. Aku udah belikan, aku gak tau merek balsem apa yang bagus." ujar Nadia memberikan balsem yang dibelinya itu kepada Fani.


" Makasih ya, dia menunggu disana untuk mengoles ke kakinya." ujar Fani menunjuk Bima dan fajar yang sedang makan dengan memunggungi mereka.


Nadia melihat kearah mereka berdua, dia sengaja berdehem dengan mengacak pinggang.


" Apa yang kalian berdua lakukan disitu?" tanya Nadia dengan tatapan yang sama seperti di lapangan.


" Aku yang meminta mereka berdua menunggu, lagi pula aku ingin fajar bertemu dengan temanku. Dia ingin fajar, mewakili fakulitas untuk menjadi calon bintang kampus." ujar Fani.


" Kontes bintang kampus? Yakin, kalian memilih dia?" ujar Nadia meremehkan fajar.


" Lihat saja penampilannya berantakan. Sikap juga buruk, dia akan mempermalukan fakulitas kita jika kita memilihnya." ujar Nadia dengan menatap fajar dengan remeh.


" Tapi, bukannya kamu sendiri yang meminta kita memilih dia.." ujar Fani menggaruk kepalanya seoalah tidak mengerti padahal Nadia sendiri yang meminta.


" Iya benar, aku yang mengatakan itu. Tetapi aku tidak yakin dia punya kesempatan untuk menang sama sekali dalam kontes ini." ujar Nadia dengan tatapan yang sama.


Tiba-tiba seorang mahasiswa datang, "Hey Fani, anying kamu ya! dimana dia? Junior kamu ceritakan yang ganteng itu. Aku harus memeriksa nya sendiri." ucap mahasiswa itu menghampiri Fani.


Fani tidak mengucapkan apapun, dia hanya menunjuk kearah fajar dengan telunjuknya.


Mahasiswa yang berjalan layak seorang cewek telun mendekati fajar, dilihat muka fajar.


" Kamu ganteng banget. Sini ikut denganku." ujar mahasiswa itu menarik tangan fajar mengikutinya melewati Nadia yang masih berdiri.


" Dia ganteng banget, kenapa kamu gak memberi tahu lebih awal. Kali ini gak perlu seleksi, langsung aku daftarkan saja dia. Aku yakin kali ini kita bakal menang." ujar mahasiswa itu menatap fajar.


Nadia begitu kesal, melihat mereka sudah tidak perduli dengannya. Dan malah terus memuji ketampanan fajar. Nadia memilih untuk keluar dari klinik kesehatan.