Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 63



Kevin mengejar gadis itu, gadis yang menolak ajakan temannya untuk meminta tanda tangan dari para panitia ospek. Gadis itu tak perduli berjalan dengan santainya. Kevin terus memanggilnya, dia tak tahu nama gadis namun dia teringat nomor yang ada di tanda pengenal gadis itu.


" Hay, gadis dengan nomor 58." Panggil Kevin.


Mahasiswi itu seketika berhenti, dia ingat jika itu adalah nomor di tanda pengenalnya. " Kakak kok tahu nomor pendaftaran ku, apa ada sesuatu?" Tanya mahasiswi itu.


" Um.. tadi aku melihat kamu menolak ajakan teman untuk mendapatkan tanda tangan dari para panitia. Apa kamu gak kasihan padanya?" Kata Kevin kepada mahasiswi itu.


" Aku bukan orang jahat. Tapi aku juga gak mau menari untuk mendapatkan tanda tangan dari orang yang gak ku kenal." Jawab mahasiswi itu.


" Kenapa kamu gak melihatnya dari sisi yang berbeda? Senior yang lain mungkin ingin mengenalmu juga." Ucap Kevin, dia ingin mahasiswi melihat dari sisi lain jika ospek merupakan kegiatan mempererat hubungan antar junior dan senior.


" Kalau mereka ingin mengenal ku, mereka harusnya membuat pendekatan dulu. Bukan aku yang harusnya mendekati mereka." Kata mahasiswi itu.


Kevin mengangguk, mungkin cara berpikirnya berbeda. Namun, Kevin akan mencoba memberikan pemahaman kepada mahasiswi itu. " Baiklah, coba aku periksa buku mu?"


Mahasiswi itu memberikan buku tanda tangannya, saat Kevin periksa tak ada satupun tanda tangan dari para panitia dibuku itu. Hanya sebuah tulis. " Senior ingin mengenal mahasiswa baru, namun para mahasiswa baru diminta untuk meminta tanda tangan mereka, tidak masuk akal."


Kevin lalu menandatangani buku gadis itu, lalu memberikan kepadanya dengan berkata, " Aku mengerti maksudmu, dan saat ini seniormu ingin mengenalmu."


Kevin pergi begitu saja, sedangkan gadis itu hanya terbengong melihat kepergian Kevin. Di bukunya tertulis, " aku mengenalmu, Kevin."


Di tempat lain, Nadia menikmati segelas teh dingin setidaknya untuk menambah stamina saat bekerja, kebetulan saat istirahat. Salah karyawan yang bekerja dibidang yang sama dengannya juga masuk ikut bergabung, dia membuka kulkas mengambil sebotol minuman bersoda lalu meminumnya. Sungguh menyegarkan, ketika otak sudah pusing dengan pekerjaan enaknya minum yang segar.


" Jey, anak baru." Sapa pria itu.


Nadia berpikir jika pria ini berbeda dengan pria yang tadi, setidaknya pria ini masih bisa menyapanya dibandingkan pria yang duduk disebelahnya.


" Lagi istirahat?" Tanya pria itu.


Nadia menjawab, "Ya." Dan memang dirinya sedang beristirahat karena sudah sibuk bekerja.


Setelah meminum minuman yang menyegarkan tenggorokan, pria itu lalu mengambil toples berisi kue kering yang ada diatas lemari. " O ya, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku John, aku wakil supervisor disini. Kalau ada pertanyaan, tanyakan saja kepadaku. Kapanpun itu."


" Baik kak." Jawab Nadia.


John menawarkan kue kering yang ada di toples kepada Nadia. Nadia melihat ada note yang bertulis Sari menempel di toples itu. Sepertinya kue kering itu milik Sari, dan John mengambilnya tanpa meminta izin kepada pemiliknya. Nadia menolak tawaran dari John, karena kue kering itu milik orang lain.


" Gak, ada namanya disitu." Ucap Nadia.


" Gak perlu khawatir, sudah ku bilang, kan? Aku wakil supervisor disini. Nih, ambil satu." Ujar John mengambil satu kue kering itu dan berikan kepada Nadia.


" Baik, terima kasih." Ucap Nadia yang merasa enggan, dia tak mau mengambil karena milik orang lain. Namun, dia juga tak enak dengan John yang sudah menawarkannya. Dia lalu menggigit kecil kue kering itu.


" Kamu tak akan merasakan apa-apa jika hanya dengan satu gigitan kecil. Ayo, makan lagi." Kata John meminta Nadia untuk makan kue kering itu dengan gigitan besar.


" Universitas negeri Jakarta." Jawab Nadia.


" Benarkah? Aku juga berasal dari situ. Lulusan disana kebanyak semuanya berhasil, seperti aku, aku lulusan 6 tahun lalu dan lihat aku sekarang, aku sudah jadi wakil supervisor. Jadi kamu harus bisa mempertahankan reputasi kampus." Kata John kepada Nadia. Setidaknya dirinya bangga karena lulusan di universitas yang sama dengannya.


Nadia mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan John padanya. Saat mereka berdua tengah mengobrol, pria yang duduk disebelahnya Nadia tadi datang. " Maaf memotong. Apa kamu sedang mengarahkan anak baru?" Tanya pria bernama Edgar kepada John.


" Gak, kami cuma mengobrol sedikit." Ucap John.


" Hei, anak baru. Beri dokumen ini ke ibu Ega di bagian akuntansi. Ini mendesak."Perintah Edgar kepada Nadia.


Nadia belum sempat menikmati dengan puas minumannya. Terpaksa harus melakukan apa yang Edgar perintahkan padanya. Nadia pun permisi pergi untuk mengantar dokumen itu kepada ibu Ega


" Hari ini hari pertamanya bekerja, kamu malah mengirimkannya ke 'ibu ratu'." Kata John kepada Edgar. Entah seperti apa ibu Ega itu sampai John menjuluki dia seperti ibu ratu.


" Dia cuma mengantarkan dokumen. John, kira-kira minuman siapa yang kamu minum itu?" Tanya Edgar melihat botol minuman yang diminum John.


" Gak tahu, aku dapatnya dari kulkas." Ucap John dengan santai.


" Itu punyaku." Ucap Edgar.


" Punya mu? Katakan saja, aku akan belikan lagi untukmu." Kata John tanpa rasa bersalah. Padahal Edgar sudah memasang wajah kesalnya. Mau bagaimana pun itu tidak akan mempan bagi John, dia akan tetap mengulangi hal sama dengan memakan serta meminum milik orang lain.


Nadia sudah berada di ruang kerja bidang akuntansi. Terlalu banyak karyawan disana dibandingkan di bidang yang dia kerja. Nadia melihat kesekitar melihat dan menebak siapa ibu Ega itu. Ingin bertanya namun setiap karyawan terlihat begitu sibuk. Nadia juga tak tahu siapa ibu Ega itu. Tiba-tiba seorang wanita tua masuk sambil menelpon. Kebetulan dia melewati Nadia, Nadia lalu menghentikan wanita itu dengan menarik tangannya.


" Um.. permisi. Apakah ibu tahu dimana letak meja kerja ibu Ega?" Tanya Nadia kepada wanita itu.


Wanita yang sedang menelpon itu terpaksa berhenti, " aku Ega." Jawabnya.


Nadia melihat name tag yang dipakai wanita itu. Dan benar disana tertulis nama Ega. Namun saat melihat raut wajahnya, terlihat raut wajah kesal. Namun, Nadia kesini hanya untuk mengantarkan dokumen pastinya tak masalah.


" Baguslah. Kak Edgar meminta ku untuk memberikan dokumen ini untuk anda." Ucap Nadia tersenyum.


" Kamu bekerja disini. Bagaimana bisa kamu tidak mengenal padaku? Kamu dari bagian mana?" Tanya ibu Ega, seperti terlihat dari raut wajahnya ibu Ega akan mengamuk pada Nadia.


Nadia menunduk sambil menjawab, " bagian pembelian."


" Karyawan baru, kan?" Seorang karyawan baru harus memperkenalkan diri dulu kepada karyawan senior. Bukan cuma asal tinggalkan dokumen seperti ini. Kamu tidak tahu dasar-dasar sopan santun, ya?" Kata ibu Ega dengan kesal kepada Nadia. Lalu merebut dokumen yang masih berada di tangan Nadia.


" Maafkan aku ibu Ega. Namaku Nadia. Kalau diizinkan, aku permisi dulu." Saat Nadia hendak pergi ibu kembali memanggil.


" Tunggu, kamu harus menunggu aku review dulu. Jika ada kesalahan tinggal aku sampaikan apa yang harus di ubah kepadamu. Dasar anak muda zaman sekarang, tidak ada sopan santunnya! Ikut aku!" Kata ibu Ega merasa kesal dengan Nadia.


Nadia mengikuti ibu Ega menuju ruangannya. Di hari pertamanya bekerja dia sudah berbuat kesalahan bahkan dimarahi pula. Sungguh hari pertama yang menyebalkan bagi Nadia.