Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 49



Di kampus, Prince begitu stres karena harus berkutat dengan buku-buku untuk mengerjakan tugas makalah, sebab dirinya satu kelompok dengan Dea dan Bagas. Dimana Dea tak menginginkan dirinya untuk beristirahat sejenak setidaknya otak dan tubuhnya beristirahat karena terlalu sibuk dengan kertas-kertas yang menumpuk di meja kerjanya.


“Bagas, otakku sudah lelah. Bisakah kamu membantuku dengan membelikan minuman? Setidaknya mendinginkan pikiranku yang sudah panas sedari tadi.” Ujar Prince kepada yang duduk disampingnya.


“ ide yang bagus!” celetuk Bagas dengan ide dari Prince karena dirinya juga merasakan apa yang dirasakan oleh Prince.


“Apa! Gak ada yang namanya beli minuman. Ingat tugas kita ini belum selesai. Mau aku coret nama kalian didalam makalah, Hah!” Ancam Dea karena tugas mereka belum juga selesai bagas dan Prince sudah memulai berulah.


Karin yang kebetulan duduk bersama dengan mereka tertawa dengan tingkah teman-temannya itu. Namun tida bagi Nadia yang juga berada bersama dengan mereka. Nadia terlihat begitu murung. Karin melihat Nadia merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya, Nadia nampak begitu pucat sepertinya gadis itu kurang tidur semalam.


“ Nad, kamu baik-baik saja, kan? Kamu terlihat seperti mayat hidup.” Ujar Karin kepada Nadia yang duduk terdiam seperti jiwa sedang berada dilain tempat.


“ Apa sih! Aku baik-baik saja kok. Jadi udah sampai mana, biar aku juga membantu.” Kata Nadia karena tugas makalahnya bersama dengan Karin masih belum selesai.


“ Udah hampir selesai kok.” Jawab Karin karena bagian bab terakhir makalah mereka, dirinya yang mengerjakan.


“Ah! Aku hampir lupa, kak gilang bilang padaku jika nanti aku menjadi fotografer di pernikahannya.” Ujar Dea yang begitu senang karena dipercaya untuk menjadi fotografer di pernikahan senior mereka.


“ Woah! Dia melakukan itu karena dia percaya akan skill mu dalam memotret atau karena dia kurang dana untuk membayar fotografer profesional” Kata Prince dengan niat mengejek Dea.


“ Tentunya skill aku dong!” ucap Dea dengan penuh percaya diri.


“ Kamu terlalu percaya diri.. “


Belum juga bagas menyelesaikan ucapannya dea langsung mengancam akan mencoret namanya dalam makalah, membuat Bagas tak lagi melanjutkan ucapannya yang berniat untuk menggoda Dea.


“Pake nanya lagi. Kamu itu punya mobil jadi kamu bisa menjemput kami satu persatu kesana.” Ujar Prince kepada Karin karena hanya Karin yang tinggal di rumah pamannya selama kuliah di Jakarta.


Mereka akhirnya membuat rencana siapa yang duluan di jemput oleh Karin, Nadia meminta karin untuk menjemput Prince duluan karena dirinya bisa menunggu. Sedangkan prince tak mau dia maunya dirinya yang terakhir dijemput. Mereka semua tak setuju dengan ide Prince, malah justru lebih menyetujui ide dari Nadia karena Prince terkenal dengan orang yang sangat lelet dan selalu telat.


Setelah seharian mengerjakan makalah bersama dengan teman-temannya. Nadia pulang ke kos dengan hari yang sudah gelap. Terlihat ada beberapa kos yang sudah gelap, karena pemiliknya sudah beristirahat. Nadia membaringkan tubuhnya diatas kasur, sungguh hari yang melelahkan untuk seorang Nadia. Biasanya dirinya tak semelelahkan ini meski tugasnya menumpuk dihadapannya. Karena hatinya yang patah, membuat semua organ dalam tubuhnya ikut tumbang. Rasa dilema akan perjodohan yang mengharuskan dirinya menikah dengan orang yang lebih muda darinya, membuat Nadia sangat diambang kebingungan. Dirinya tak bisa membohongi dirinya, jika dirinya sudah mulai timbul rasa suka terhadap Fajar, pria yang akan dijodohkan dengan dirinya. Kenangan demi kenangan bersama dengan Fajar terbayang oleh Nadia, Nadia begitu merindukan kebersamaan itu. Tetapi kesalahannya yang memilih menghindar membuat semuanya sudah tidak bisa tercipta lagi. Nadia teringat kan semalam, saat Fajr memesan minuman favoritnya. Fajar tak memandanginya bahkan tak menyapanya sama sekali, sungguh hatinya merasa sakit saat Fajr bertindak seperti itu dihadapannya. Padahal biasanya Fajar akan menyapa duluan, namun Fajar malah tak memperdulikannya sama sekali.


Nadia merasakan kegalauan dalam hidupnya, dia mengingat setiap kata yang Fajar katakan saat dirinya menginap dikamar Fajar malam itu. Nadia memandang langit kamarnya dengan menghela nafas berat, sungguh melelahkan hati jika sudah jatuh cinta namun harus dipatahkan saat itu juga. Ingin rasanya dia bertemu dengan Fajar, namu dia tak tahu apa yang harus dia bicarakan kepada Fajar. Nadia melihat kaca jendela kamar kos Fajar dari jendela kamarnya. Kamar itu terlihat gelap, gordennya selalu tertutup seperti kemarin. Nadia mengambil mengecek apakah ada pesan atau penggilan tak terjawab dari Fajar, namun sayangnya tak ada sama sekali. Apakah Nadia masih diberi kesempatan?


Hari pernikahan gilang dan Laras akan diselenggarakan. Fajar masih bermalas-malasan, hatinya masih dipenuhi dengan awan gelap. Dia melihat jadwal hari ini, yang merupakan hari pernikahan dari seniornya yaitu kak Laras dengan Gilang. Sebuah pesan dari seniornya Puput, yang akan menjemputnya. Awalnya Fajar membalas pesan dengan tak ingin pergi ke pernikahan gilang, sebab dia berpikir jika nanti dia akan bertemu dengan Nadia. Fajar masih belum bisa menata perasaannya jika bertemu dengan Nadia nantinya. Namun, dia berpikir jika dia tak bisa seperti ini, dia harus menghadapi meski hatinya tak sanggup. Jika nanti dirinya bertemu dengan Nadia diacara pernikahan itu, Fajar harus bersikap seperti biasa. Akhirnya Fajar membalas pesan Puput jika dirinya akan segera bersiap menuju pernikahan Gilang dan Laras.


Nadia sedang bersiap-siap. Kali ini dia tak mengikat rambutnya, melainkan dibiarkan digerai begitu saja. Nadia menggunakan make up tipis diwajahnya, dia tak ingin terlihat begitu menor dan tak ingin juga di ketawai oleh teman-temannya. Nadia mengenakan dress yang panjang selutut berwarna merah muda serta pita yang dijepit di rambutnya, sungguh pemandangan yang cantik bagi orang yang melihat penampilannya hari ini. Nadia mengambil surat yang telah ditulisnya sebagai hadiah untuk pernikahan gilang dan laras, ditatap surat itu begitu lama. Karena surat itu dia beli bersama Fajar, dan Fajar yang menyarankan untuk memberikan hadia itu kepada laras. Nadia jadi teringat akan Fajar, dia mengambil gelang Fajar yang disimpannya didalam laci meja belajarnya. Dipandangi gelang itu, dengan tatapan sendu. Nadia mengambil ponselnya dan ingin mengirim pesan kepada Fajar. Setidaknya ingin bertanya apakah Fajar juga pergi ke pernikahan gilang dan laras, belum sempat mengirim karin malah menelponnya dengan mengatakan jika mereka sudah menunggu dirinya. Karena tak enak, nadia tak sempat mengirim pesan itu dan segera keluar menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu kedatangannya.


“Lihat si nadia, mirip artis korea banget sih!” ujar prince melihat Nadia berjalan menghampiri mereka.


“Menurutku sama aja, make up nya tipis. Gak ada perubahan, pakaiannya saja yang berubah.” Ujar Dea saat melihat Nadia.


“Nadia mah masih mending, dari pada kamu kayak sedang ngikutin perayaan cina.” Kata Prince mengejek Dea karena penampilannya yang mengenakan dress pendek selutut berwarna merah.


“ Awas aja, jika kamu sampai jatuh cinta sama aku. Aku jitak kepalamu!” ujar dea kesal akan komentar Prince padanya.


“ Ayuk berangkat!” ujar Nadia saat sudah berada bersama mereka.


Mereka menaiki mobil yang dibawa oleh Karin menuju pernikahan Gilang dan Laras.