
Beberapa mahasiswa heboh, ketika melihat para finalis yang mengikuti kontes bintang kampus. Beberapa dari lainnya, begitu menyukai foto fajar. Terutama para gadis, sangat suka melihat foto fajar. Karena bagi mereka fajar terlihat begitu ganteng dan imut.
Sedangkan fajar, sang finalis kontes justru sedang mempersiapkan diri bersama teman-temannya untuk bertanding basket dibabak final. Sedari tadi persiapan, Wawan terlihat sering memijit kakinya. Fajar yang kebetulan berada disampingnya, menanyakan keadaan teman satu timnya itu.
" Bagaimana dengan kakimu?" tanya fajar yang merasa khawatir.
" Masih sedikit sakit." jawab Wawan masih memijit kakinya.
" Wan, nanti kamu berada di garis pertama. Aku ingin lihat taktik apa yang digunakan lawan kita." ujar pelatih.
Pertandingan kali ini nampaknya begitu serius. Bagaimana tidak mereka sudah berjanji, apalagi fajar dirinya juga ikutan memberikan tawaran kepada Nadia, jika tim mereka akan menang di babak final. Maka dari itu para pemain tidak ingin mengecewakan senior bahkan harga diri mereka. Itulah sebabnya pertandingan ini sangat penting, dan harus di menangkan.
Sorak penonton begitu ricuh, saat para pemain masuk ke lapangan. Bahkan saat pemain sedang berlatih para penonton bersorak. Terlihat dari arah tribun, Mina dan gladis juga hadir untuk menonton tim fakultas mereka.
Pertandingan dibabak final ini membuat Bima begitu gugup. Dia takut jika mereka tidak bisa memenangkan pertandingan. Sebab tim lawan mereka memiliki pemain yang merupakan tim asli basket dari kampus mereka. Bima mengatakan kegugupannya kepada Fajar. Fajar justru hanya mengangguk mengerti. Tetapi mata fajar tidak bisa bohong, dirinya justru tidak fokus. Matanya malah asyik menyusuri setiap tribun seolah mencari orang.
" Semua pemain, segeralah mempersiapkan diri." ujar panitia basket.
Mereka semua termasuk fajar mulai menyiapkan diri untuk pertandingan. Bima menyadari temannya itu nampak sibuk memperhatikan para penonton. Sepertinya fajar tengah mencari seseorang.
" Fajar, apa yang kamu lihat? Pertandingan akan segera dimulai. Fokus, bro." ujar Bima.
" Tidak, tidak apa-apa." jawab fajar. Namun, matanya tidak bisa menipu, dia selalu menatap tribun dan sekitar lapangan seperti mencari seseorang.
" Tidak ada apanya! Kamu masih mencari seseorang saat kita sedang berbicara." ujar Bima kesal karena Fajar terus memperhatikan sekitar lapangan seperti sedang mencari seseorang.
Nadia masuk kedalam tribun bersama teman-temannya. Tatapan matanya masih sama, tajam dan raut wajah yang datar. Penonton yang melihat kehadiran, terdiam ada beberapa dari mereka tidak berani menatap Nadia dan teman-temannya. Karena tidak kebagian tempat duduk. Terpaksa Nadia dengan teman-temannya berdiri.
Fajar yang sedari mencari seseorang, arah matanya berhenti saat melihat Nadia sudah berada di tribun penonton. Bibirnya mengukir senyum melihat Nadia. Bima yang juga melihat kedatangan Nadia, menanyakan alasan Nadia dan teman-temannya berada di tribun penonton.
" Untuk apa mereka disini?" tanya Bima.
Sayangnya fajar tidak menjawab pertanyaan Bima. Dia malah senyum melihat calon istrinya melihatnya bertanding hari ini.
Pertandingan telah dimulai, dimana peluit sudah ditiup. Fajar yang seharusnya berada dibangku cadangan, malah justru bermain menggantikan salah satu temannya. Permainan berlanjut dengan satu poin dari tim teknik. Para penonton gemuruh, melihat poin yang dicetak. Sedangkan Nadia ekspresi wajah masih tetap sama. Pertandingan begitu sengit, dikala tim lawan merebut kembali poin dengan unggun 2:1. Wawan berusaha mencetak poin namun sayangnya bolanya meleset. Fajar yang kebetulan free dibelakang Wawan, tetapi Wawan malah melempar bolanya ke ring.
" Hey wan, aku free di. Seharusnya kamu belikan bolanya kepadaku. Aku bisa melakukan shoot, tapi kamu mempertaruhkan diri sendiri untuk terluka." ujar fajar saat berlari mendekati Wawan.
" Itu lebih menyakitkan jika kita kalah." ucap Wawan berambisi ingin menang.
Pertandingan yang sengit, dimana poin yang didapatkan tim teknik ketinggalan jauh dengan tim lawan. Untungnya fajar dengan teman-temannya berusaha menyamakan kedudukan. Saat fajar memasukan bola dalam ring, momen itu menjadi momen menegangkan. Sebab jika fajar bisa memasukan bola dalam maka poin tim mereka akan sama dengan tim lawan. Karena hanya tersisa satu poin untuk menyamakan kedudukan skor. Jika tidak maka poin tim teknik akan tetap sama.
Nadia menggigit jarinya dia begitu khawatir jika fajar tidak berhasil mencetak poin. Begitu pula penonton yang juga serius menonton. Beruntungnya, Fajar bisa memasukan bola dalam ring. Membuat semua penonton bersorak gembira, begitu pula dengan teman timnya. Nadia tersenyum tipis saat tim teknik mulai menduduki posisi yang sama. Dan dengan sekali shoot, Fajar berhasil memasukkan kembali bola ke dalam ring. Alhasil tim mereka unggul satu poin. Tak selang lama bermain, peluit ditiup tanda permainan telah usai. Para penonton sekaligus pendukung tim teknik berteriak kegirangan. Begitu pula dengan teman-temannya Nadia mereka juga ikut senang karena fakulitas mereka bisa memboyong piala. Nadia tersenyum, dia juga senang jika tim teknik bisa juara.
Para pemain, sangat senang mereka berpelukan satu sama lain. Tidak berselang lama, yoga berlari memasuki lapangan. Dia menghampiri tim teknik dengan ngos-ngosan.
Fajar terkejut, dia segera mengikuti yoga. Tak sengaja fajar berpapasan dengan Nadia yang kebetulan juga ingin keluar lapangan.
" Kak Nadia," Sapa Fajar.
Nadia menunjukan wajah juteknya. Tanpa menyahut sapaan dari fajar.
" Jangan lupa datang untuk menontonku di kontes." ucap Fajar tersenyum lalu berlalu meninggalkan Nadia.
Nadia hanya menatap kepergian fajar dari hadapannya.
Dea, Karian, Bagas dan price tengah duduk di taman depan fakulitas mereka. Mereka sedang mengerjakan tugas kuliah. Hanya Karin, Dea dan Bagas yang rajin sedangkan Prince malah asyik tidur dengan kepada tengkurap di meja. Nadia datang membawakan minuman untuk teman-temannya.
" Hey nad, darimana saja kamu? Kamu membuat kita menunggu dengan makalah yang menumpuk ini." ujar Dea saat melihat Nadia datang menghampiri mereka.
" Ini aku bawakan minuman untuk kalian agar kalian semua lebih segar dalam mengerjakan tugas." Ujar Nadia memberikan minuman yang dibawanya untuk teman-temannya.
" Prince tidur lagi?" tanya Nadia melihat price yang kepala masih tengkurap diatas meja.
" Tidak usah heran. Kebiasaannya memang seperti itu." ujar Dea.
Nadia dengan isengnya, mendekatkan minuman dingin di wajah Prince. Alhasil Prince terkejut karena merasa dingin di pipinya.
" Hey! Apa-apaan sih!" ujar Prince kesal.
" Dasar bodoh! Bukannya membantu membuatkan makalah malah asyik tidur. Kamu juga justru melewatkan hal yang bagus hari ini." gerutu Nadia kesal.
" Melewati apa?" tanya Dea tidak mengerti.
" Itu, di auditorium." ucap Nadia mengarah pada kontes bintang kampus yang diadakan di auditorium.
" Hey! Biasanya kamu tidak pernah meminta kami untuk menonton kontes bintang kampus sebelumnya. Ada apa denganmu hari ini?" tanya Prince sebab Nadia terus meminta mereka untuk menemaninya menonton kontes bintang kampus.
" Itu karena aku hanya ingin konser disana." ucap Nadia.
" Ohh.. kamu hanya ingin nonton konser?"
" Benar, Pak."
" Atau sebenarnya kamu ingin melihat para finalis cowok disana?"
Nadia terdiam, Bagas mulai memicingkan matanya menatap ke arah Nadia.
" Baiklah, aku sudah membelikan kalian semua meminum. Jadi kalian semua harus ikut aku untuk menonton kontes bintang kampus." ujar Nadia sebelum teman-temannya mencurigainya.