Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 26



Fajar, Bima dan yoga berada di perpustakaan untuk mengerjakan tugas mata kuliah mereka. Yoga melihat laptopnya. Bukannya mengerjakan tugas, yoga justru sedang asyik melihat media sosialnya. Dia begitu antusias membaca komentar dari para mahasiswa mengenai pertemuan kegiatan ospek tadi pagi.


" Fajar, kamu harus lihat ini. Banyak sekali yang sangat antusias membicarakan tentang pertemuan kita tadi pagi." ujar yoga.


Namun, tidak ada respon dari fajar. Dengan mata yang masih fokus dengan laptopnya. Yoga kembali memanggil kedua temannya itu. Namun, tetap saja tidak ada respon baik dari fajar maupun Bima. Yoga mendongak melihat fajar dan juga Bima. Mereka berdua nampaknya tengah melamun. Tatapan mereka seperti kosong saat melihat buku diatas meja.


" Hey! Kalian berdua ini kenapa?" tanya yoga agar dapat menyadari mereka berdua.


Namun, tetap saja tidak ada respon dari kedua orang itu. Hal itu membuat yoga geram, dengan pelan dia memukul meja. Membuat fajar dan Bima melihatnya.


" Apa yang salah dengan kalian berdua, hah?" tanya fajar.


" Tidak apa-apa. Hany saja aku cuman berpikir. Apa kak Nadia berani melakukannya, dengan lari 50 kali keliling lapangan." ujar fajar.


Ternyata sedari tadi fajar melamun karena memikirkan Nadia. Sedangkan Bima, pria itu melamun karena Mina yang menyukai fajar.


" Ah, kak Nadia tidak mungkin sanggup. Percaya deh, mana mungkin seorang perempuan seperti dia bisa berlari keliling lapangan sebanyak 50 kali. Kamu saja kemarin lalu itu cuman 7 kali, kan. Tidak mungkin, kak Nadia bisa." ujar yoga.


" Hmm.. semoga saja." gumam fajar pelan. Dia begitu mengkhawatirkan calon istrinya.


Setelah obrolan itu, mereka berdua kembali ke pikiran mereka masing-masing. Yoga berusaha terus mengajak mereka mengobrol, tetap saja tidak ada respon.


" Sebenernya kalian berdua ini kenapa sih! Patah hati? putus cinta? Siapa perempuan yang sudah membodohi kalian, hah!" ujar yoga. Tetap saja tidak ada respon. Hingga akhirnya yoga memutuskan untuk menyerah.


Saat tengah sibuk mengerjakan tugas, yoga teringat ada beberapa buku yang harus dicari untuk melengkapi sumber makalah mereka. " Eh, ada yang mencarikan buku untuk menambah sumber di makalah ini." ujar yoga.


" Biar aku saja." ucap fajar dan Bima bersamaan. Mereka berdua mengambil list buku yang dicari dan membagi tugas mencari beberapa buku itu. Yoga hanya bengong melihat kedua temannya itu. Padahal sedari tadi dia mengajak ngobrol, tetapi mereka tidak pernah meresponnya.


Fajar menuju rak buku, mencari buku yang sudah dibaginya bersama dengan Bima. Tiba-tiba senior yang pernah membagikan buku kuliah itu datang menghampiri Fajar.


" Hay fajar." sapa senior itu.


" Ah, kak Puput." ucap fajar melihat Puput berdiri dibelakangnya.


" Kamu tidak apa-apa,kan? aku mendengar jika kegiatan ospek hari ini diganti oleh panitia terdahulu." ujar Puput. Sepertinya berita mengenai kegiatan ospek sudah tersebar dikalangan mahasiswa di kampusnya.


" Iya kak. Aku tidak apa-apa. Soalnya tadi kami tidak disuruh apapun. Hanya saja para panitia yang harus kena hukumannya." ujar fajar.


" Oh, benarkah! Syukurlah. Soalnya dulu, di angkatan kami. Kami disuruh berlari keliling lapangan sebanyak 20 kali." ujar Puput.


" Kenapa harus dihukum seberat itu?" tanya fajar karena merasa hukuman yang diberikan senior mereka terlalu berat.


" Aku rasa, mereka melakukan itu pasti ada alasannya. Begini, semua ini dilakukan untuk mengorientasikan diri untuk mahasiswa tahun pertama. Karena sudah masuk tahap belajar di universitas, maka pembelajaran yang ditempuh akan semakin sulit. Bukan hanya itu, banyak pula kegiatan yang nantinya akan diikuti. Dulu, aku pernah berpikir untuk pindah saja." ujar Puput.


" Lalu, kenapa kakak tidak jadi pindah?" tanya fajar.


" Ah, jadi begitu ya. Eum, kak.. Sebenarnya aku ingin belajar ekonomi. Tetapi aku ingin bertanya sama kakak bagaimana proses kakak untuk tidak jadi pindah kampus." tanya fajar.


" Hmm.. lebih baik kamu mencari tahu saja sendiri. Karena ini adalah sudut pandang ku saja. Bukannya semua orang punya proses yang berbeda. Jadi cari tahu saja sendiri, apakah kamu mau pindah atau tetap menetap. Belajar teknik juga seru loh, fajar." ujar Puput tersenyum.


" Ah, iya Kak. Makasih.." ucap fajar.


Jadi selama ini fajar sudah berpikir untuk pindah kampus. Dengan mencari kampus yang ada jurusan ekonomi. Tetapi fajar malah memilih teknik, sebab kampus ini merupakan kampus yang dimana Nadia sang calon istri berkuliah disini. Fajar awalnya memilih jurusan dan kampus ini hanya untuk melihat dan memastikan Nadia saja. Namun, saat melihat Nadia, dan perilaku Nadia selama di kampus membuat fajar merasa jika Nadia tidak perlu diawasi. Karena gadis itu sudah bisa mengawasi dirinya sendiri. Itu sebabnya fajar ingin pindah dan fokus dengan jurusan yang dia inginkan.


Di kamar, tepatnya di meja belajar. Fajar mulai membuka bukunya, dia mau belajar karena besok akan ada ulangan. Namun, sayangnya dia tidak bisa fokus. Sebab dipikirannya hanya membayangkan Nadia. Karena tidak fokusnya dalam belajar, fajar memutuskan untuk ke warung sekedar mengisi perutnya. Fajar berusaha untuk tidak memikirkan Nadia. Dia yakin gadis itu, bisa menjaga dirinya sendiri.


Ketiga gadis baru saja dari perpustakaan. Mereka adalah min, Gladis dan citra. Mereka bertiga baru saja menyelesaikan tugas mereka.


" Haa... benar-benar hari melelahkan. kirain tidak ada kegiatan ospek. Kita bisa istirahat, ternyata kita justru dibuat capek karena tugas." ujar Mina mengeluh.


" Iya, saatnya kita pulang dan beristirahat di rumah." ujar Gladis.


" Eh, kalian lupa ya. Besok kita ada ulangan. Kalian tidak belajar?" ujar Citra mengingatkan mereka jika besok mereka bertiga akan menghadapi ulangan.


" Oh iya, aku lupa. Aduh, gimana ini, setiap pelajaran kemarin aku tidak mencatat materinya. Kalian berdua ada catatannya? Aku pinjam dong." ujar Mina dengan gelisah.


" Udah tidak usah dipikirin. Pulang istirahat, besok pake otak aja jawabnya." ujar Gladis.


Mereka bertiga berjalan melintasi lapangan. Citra kaget melihat seseorang yang tengah berlari di lapangan. Dia segera menunjukkan kepada Gladis dan Mina.


" Bukannya itu kak Nadia ya?" tanya citra.


" Iya, kak Nadia masih berlari. Padahal udah malam loh. Kasihan banget." ujar Mina merasa iba.


" Biar aku foto, aku mau masuki fotonya ke media sosialku." ujar Gladis mengarahkan kamera ponselnya ke arah Nadia yang tengah berlari mengelilingi lapangan.


Fajar baru saja makan malam. Dia berjalan pulang sambil meminum jus alpukatnya. Di jalan, ada dua orang pemuda tengah bermain ponselnya.


" Eh, kamu lihat sekarang. Ada senior cewek yang masih berlari di lapangan." ujar salah satu pemuda itu.


" Mana sini aku lihat." ucap salah satunya.


Fajar yang tengah berjalan melihat kearah mereka. Dia penasaran siapa yang dimaksud oleh mereka.


" Apa jangan-jangan Nadia masih berlari di lapangan." gumam fajar.


Tidak berselang lama, ponselnya berdering. Fajar mengangkat telfonnya, dari wajah dia begitu terkejut. Nampaknya ada obrolan serius yang baru saja dia terima.