Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 82



Fajar dan Nadia menghadiri makan malam bersama para alumni serta beberapa mahasiswa baru termasuk Fani. Fajar tiba duluan ke restoran sedangkan Nadia datang sedikit terlambat di karenakan pekerjaan. Tidak ada yang tahu tentang pernikahan mereka. Mereka duduk berhadapan, fajar terus menatap wajah istrinya. Dirinya ingin melepaskan rindu, karena kemarin malam Nadia pulang saat dia sudah tertidur dan paginya Fajar hanya bisa memandangi sebentar wajah istrinya karena harus berangkat kuliah. Tidak ada obrolan diantara mereka berdua, hanya membicarakan tentang pekerjaan dan magang yang nantinya akan diikuti oleh Fajar.


Fani yang juga ikutan, memandangi Fajar. Dia menyadari jika Fajar terus melihat kearah cewek yang duduk dihadapannya. Fani baru tahu jika cewek ini merupakan mantan ketua ospek dulu. Entah ada apa hubungan mereka berdua, Dimata Fani mereka terus saling memandang. Fani mulai berpikir jika Nadia lah gadis yang berhubungan dengan Fajar. Gadis yang dijaga gelangnya dan hatinya. Rasa cemburu tertanam dihatinya, ingin dirinya menjadi gadis itu untuk terus dipandangi oleh Fajar. Namun apa daya, Fani tetaplah dirinya, dia tidak bisa menjadi Nadia. Nadia memang gadis yang keren, pantasan saja Fajar begitu mencintai gadis itu.


Makan malam terlah selesai, mereka mulai berpamitan. Fajar mengajak Nadia untuk pulang bersama, sekaligus mau meminta izin jika dirinya akan pulang ke rumah orangtuanya. Karena tadi saat di kampus, ibunya menelepon untuk pulang apalagi besok hari libur masih ada waktu tiga hari untuk menikmati waktu bersama orangtuanya. Fajar ingin mengajak Nadia, namun apa daya Nadia tidak bisa libur apalagi cuti. Dikarenakan Nadia masih menjadi karyawan baru, dia tidak bisa mengajak Nadia untuk pulang ke rumah orangtuanya bersama-sama.


Belum sempat berbicara, Nadia tiba-tiba ditelpon oleh Edgar. Edgar membicarakan soal pekerjaan karena besok pagi mereka akan mengadakan rapat. Nadia yang masih berbicara melalui sambungan telepon. Meminta Fajar untuk pulang duluan karena dia akan bertemu dengan rekan kerjanya untuk membahas pekerjaan. Senyuman Fajar memudar, padahal masih ada waktu untuk mereka bersama namun harus diambil oleh pekerjaan Nadia yang tidak kunjung usai.


" Kamu pulang duluan ya. Aku masih ketemu dengan rekan kerja untuk membahas rapat besok pagi. Maaf ya, nanti kita bisa bicarakan di rumah." Ujar Nadia.


Sesampainya di rumah, Fajar menyiapkan ranselnya untuk mengisi pakaian yang akan dibawanya pulang. Dia menunggu Nadia pulang agar dia bisa berbicara dengan Nadia mengenai ini. Sambil menunggu kedatangan istrinya, dia membersihkan rumah. Mulai dari mencuci pakaian kotor bahkan area dapur dan kamar. Fajar melakukan itu, karena dia tahu Nadia tidak akan sempat untuk melakukannya. Nadia pergi pagi dan pulang malam. Jadi tidak ada waktu untuknya membersihkan rumah.


Tidak berselang lama, Nadia pulang dengan lelah dia berjalan gontai menghampiri suaminya yang tengah mengisi pakaian yang sudah dilipat ke dalam lemari. Nadia memeluk suaminya itu dengan manja.


" Aku sangat lelah." Ucap Nadia manja.


Fajar tersenyum membalik badannya menghadap sang istrinya. Lalu memeluk istrinya dengan harapan bisa menyembuhkan lelah yang tengah istrinya itu rasakan.


Setelah meluapkan rasa lelah, Nadia lalu melepaskan pelukan mereka. Dia melihat disamping kasur terdapat ransel. " Ransel? Mau kemana?"


" Aku akan pulang ke rumah ayah sama ibu untuk tiga hari ini. Ibu meminta ku untuk pulang. Aku tidak bisa mengajak karena kamu harus bekerja." Kata Fajar sambil memasukkan pakaian ke dalam lemari.


" Aku jadi merasa bersalah karena tidak punya waktu untuk pulang.. tolong sampaikan maafku ke ayah dan ibumu ya." Ujar Nadia merasa bersalah, sebagai menantu dia tidak pernah pulang karena sibuk bekerja.


" Kamu tidak usah merasa bersalah. Ayah dan ibu sudah mengerti dengan keadaan mu. Sekarang kamu mandi dan istirahat."


" Aku akan mandi, untuk istirahat nanti setelah aku melanjutkan mengerjakan powerpoint untuk presentasi di rapat besok pagi." Ujar Nadia mengambil handuk untuk menyegarkan tubuhnya yang lelah karena seharian bekerja.


Setiap malam selalu sama, Fajar sibuk dengan laptopnya begitu pula dengan Nadia. Nadia melihat fajar yang belum beristirahat pun bertanya, apalagi dia harus berangkat pagi untuk pulang ke rumah orangtuanya.


" Kamu lagi mengerjakan lamaran magangmu?" Tanya Nadia.


" Iya kak. Aku sudah melamar ke berbagai perusahaan yang aku inginkan, tinggal satu perusahaan lagi."


" Baguslah. Aku senang mendengarnya. Kamu sudah selesai?"


" Iya sebentar lagi."


" Aku tunggu." Ucap Nadia memberi kode sambil menepuk kasur disampingnya.


Fajar tersenyum, mengerti akan maksud Nadia. Tidak mau ditinggal tidur oleh Nadia. Segera mematikan laptop dan beranjak ke kasur sambil memeluk Nadia.


Fajar bangun lebih pagi, dia mulai bersiap untuk berangkat menuju terminal. Tiba-tiba Nadia menggeliat, meski tubuhnya masih ditutupi oleh selimut.


" Kamu mau berangkat sekarang?" Tanya Nadia dengan keadaan masih mengantuk.


" Iya, busnya kesana pagi. Jadi aku harus pagi-pagi untuk ke terminal."


" Tiga hari terasanya rasanya lama." Ucap Nadia cemberut.


" Ditahan dong sayang. Aku juga bakalan rindu."


" Emangnya harus tiga hari, apa tidak cukup sehari saja?"


" Ibu mintanya tiga hari, ibu bilang dia merindukanku dan juga kamu. Sayangnya kamu tidak bisa pulang, kan?"


" Maaf, tiga hari bukan hanya rindu, pasti ada alasan lain, kan?"


" Aku tidak tahu. Ayah cuma meminta untuk menginap tiga hari disana. Apalagi sebentar lagi akan libur, karena digunakan waktu untuk magang jadi tidak ada waktu lagi untuk pulang ke rumah. Kebetulan tengah libur tiga hari, jadi ayah meminta aku untuk pulang sebentar." Fajar melepaskan pelukan, dan mencium kening istrinya.


" Kamu sudah sarapan? Apa aku buatkan sarapan untukmu?" Tanya Nadia, masih pagi dan masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum suaminya pergi.


" Tidak perlu, aku sudah sarapan tadi. Aku juga sudah buatkan kamu sarapan. Kamu juga tidak perlu khawatir pakaian yang baru aku cuci semalam sudah ku jemur, dan juga aku sudah bereskan semua sampah."


Nadia tersenyum, bersyukur memiliki Fajar. Sebagai suami dia begitu pengertian kepada Nadia.


" Kenapa kamu melakukan itu semua? Aku bisa melakukannya sendiri."


" Aku takut kamu kecapean. Apalagi beberapa hari ini kamu sering pulang malam. Jadi aku sudah bereskan semuanya. Kalau begitu aku pergi dulu."


Nadia bangun dari kasurnya, mencium tangan suaminya. Hatinya begitu berat ditinggalkan oleh Fajar selama tiga hari. Meski tidak bisa berkata, namun dia merasakan jika dirinya akan merindukan suaminya.


" Kamu hati-hati ya. Setelah sampai rumah jangan lupa kabari aku." Ucap Nadia.


" Iya kak. Akan aku kabari."


" Titip salam buat ayah dan ibu ya."


Fajar mengangguk, memeluk istrinya lalu mencium kening istrinya.


" Eum.. boleh cium disitu juga?" Fajar menunjukan bibir Nadia.


" Apaan sih! Semalam sudah! Pergi sekarang sebelum ketinggalan busnya." Nadia menolak.


Melihat reaksi Nadia, membuat Fajar tidak bisa untuk tertawa. Meski sudah menikah Nadia selalu saja malu. Dan itu membuat Fajar selalu merasa lucu, ketika respon Nadia yang selalu malu seperti itu.


" Baiklah, aku pergi dulu. Jangan tidur lagi, nanti bangun telat. Tidak ada yang bangunin loh."


" Iya, aku tidak tidur lagi kok. Habis ini aku mandi. Kamu hati-hati ya.."


Fajar pergi, dan Nadia hanya bisa melihat kepergian suaminya. Berat, tetapi harus ditahan. Bukankah sebuah hubungan harus ada rasa rindu, biar tahu rasanya pergi dan tidak bertemu meski cuma tiga hari. Tetapi bagi Nadia yang setiap malam bersama Fajar, akan terasa berbeda. Namun, dia bisa memahami itu.