
Acara inti akhirnya berlangsung, para mahasiswa baru tengah mengantri dimana para panitia telah duduk berjejeran untuk memasangkan gelang sebagai tanda bahwa mereka telah lulus menjadi seorang mahasiswa. Fajar melihat kesemua para senior yang tengah duduk itu. Tidak ada Nadia disana, membuat Fajar keluar dari antriannya untuk mencari Nadia. Fajar mencoba mencari Nadia didekat tribun tetapi Nadia tidak berada disana hingga Fajar bertemu dengan panitia kesehatan.
" Fajar, kamu kok disini. Kamu tidak ikut mengantri dengan teman-temanmu disana." Senior itu kaget melihat fajar yang tidak berada dengan mahasiswa baru lainnya.
" Disana antrian banyak. Nanti sudah mulai sedikit baru aku bergabung."
" O ya, sini tanganmu. Biar aku yang menjadi panitia pertama yang mengikat gelang ini ditanganmu."
Fajar memberikan tangan kanannya untuk seniornya itu agar mengikat tali gelangnya. " Sudah! Aku kesana dulu. Jangan lupa nanti kesana." Ucap senior itu berlalu pergi.
" Kak tunggu dulu.." teriak Fajar ingat dia bisa menanyakan keberadaan Nadia kepada senior itu.
" Iya, ada apa?"
" Kakak melihat kak Nadia gak?"
" Oh, Nadia aku melihatnya di dekat taman sana."
" Baiklah. Makasih ya kak." Ujar Fajar segera berlari menuju taman tempat Nadia berada.
Disana dia melihat Nadia tertunduk menangis. Nadia begitu terharu akan usaha menjadi ketua panitia ospek. Meski banyak kendala bahkan ospek harus berhenti sebelum masanya karena kendala selama dirinya menjadi ketua. Itulah kenapa Nadia terharu dan menangisi dirinya yang kurang becus mengurus kegiatan ospek ini. Fajar yang melihat itu akhirnya menyadari, segalak dan setegas Nadia, bukan berarti dia kuat. Dia tetap seperti perempuan pada umumnya, dia juga merasa sedih. Melihat pemandangan itu, Fajar tersenyum, Nadia memeng gadis yang hebat dimatanya.
"Kak Nadia?"
Mendengar namanya dipanggil Nadia segera menghapus air matanya. Lalu melihat kearah sumber suara. " Fajar! Kamu ngapain disini?"
" Aku sedang mencari kakak. Ada yang ingin aku sampaikan."
" Nanti saja. Kamu harus bergabung dengan teman-teman mu disana."
" Disana masih antri kok kak, masih lama juga. Jadi aku kesini menemui kakak terlebih dahulu."
" Apa yang ingin kamu sampaikan?"
" Sama hal seperti tadi, aku sudah memikirkannya bahkan setelah mengikuti permainan tadi membuatku menyadari aku jurusan teknik juga menarik untuk menjadi tempat belajar. Dan aku.. tidak mau pindah." Ujar Fajar tersenyum.
Nadia begitu terharu mendengar ujaran Fajar. Dia tidak bisa meneteskan air matanya didepan lelaki dihadapannya ini.
" Kak Nadia, bisakah kakak mengikat gelang ditanganku?"
" Eum.. sini tanganmu, aku akan mengikatnya."
Fajar awalnya mengulurkan tangan kanannya tetapi dia teringat jika tangan kanannya sudah terikat gelang dari senior tadi, dia lalu meminta Nadia mengikatnya di tangan kiri.
" Kamu ini!" Nadia kesal karena hampir saja dia mengikatnya ditangan kanan Fajar.
" Maaf kak." Ucap Fajar cengengesan.
" Sudah. Sekarang kamu segera pergi kesana." Perintah Nadia.
" Kak Nadia."
" Apalagi?"
" Kedepannya jika kakak ingin menangis. Pundakku bersedia untukmu."
" Fajar! Sekarang pergilah!" Bentak Nadia karena menurutnya Fajar sudah kelewatan.
Wawan berdiri tidak jauh dari tempat para mahasiswa baru sedang mengantri untuk dipakaikan gelang oleh para panitia. Melihat pemandangan itu membuat Wawan merasa tidak pantas berada disana karena selama ini dia jarang mengikuti kegiatan ospek. Saat Wawan hendak pergi, Prince segera memanggilnya. " Wan, kamu mau kemana?"
" Aku..."
" Ayo ke sana, udah lumayan sedikit orang yang mengantri."
" Tapi kak, aku.." Wawan begitu ragu.
" Udah! Gak usah takut. Ayo!" Ajak Prince merangkul Wawan untuk ikut acara pengikatan gelang.
" Aku kesana dulu. Kamu mengantri lah." Ujar Prince meminta Wawan menunggu tepat dimana Dea sedang memotret.
" Wawan, duduklah. Aku akan mengikatkan gelang ditangan mu. Sekarang ulurkan tanganmu." Dea mengeluarkan gelang dari sakunya dan mengikatnya dipergelangan tangan Wawan. Wawan terlihat begitu malu-malu serta canggung saat berhadapan dengan Dea.
" Maaf atas kesalahanku dulu. Aku dulu terlalu kasar padamu. Maaf ya." Dea mengikatkan gelang sambil meminta maaf atas kesalahannya pada kegiatan ospek dulu.
" Iya kak. Makasih sudah menolongku." Ucap Wawan saat mengingat kembali dimana Dea pernah menolongnya saat dia dihajar oleh mahasiswa lain.
" Gak apa-apa. Kita ini saudara." Ujar Dea tersenyum padahal dalam hati dia ingin bilang mungkin lebih dari saudara.
Wawan hanya tersenyum canggung karena merasa sangat bersalah sebab selama ini dia selalu menganggap jika kegiatan ini hanyalah sebuah akal-akalan senior untuk membully mahasiswa baru.
Kegiatan malam perpisahan benar-benar menjadi momen yang mengeratkan hubungan antara para senior serta junior di kampus. Bahkan saat ini Fajar beserta teman-temannya sebentar lagi akan menghadapi ujian. Salah satu senior mereka bahkan rela menjadi menjadi mentor mereka untuk belajar. Kali ini mereka tengah duduk didepan fakultas untuk belajar bersama.
" Eh, aku dengar dari para senior yang panitia ospek. Katanya akan diadakan perjalanan ke pantai. Dan kita akan menginap disana. Kalian pada ikut gak?" Kevin yang satu kos dengan para senior sangat tahu rencana apa yang akan senior mereka adakan.
" Kalau perjalanan seperti itu, tentu aku bakal ikut." Yoga sangat antusias jika berkaitan dengan liburan, karena dia sudah pusing dengan materi yang dia pelajari.
" Katanya kegiatan itu akan diadakan sehabis ujian. Lumayan bisa healing, kan?"
" Aku sepertinya gak ikut." Ucap Bima murung karena dirinya takut jika nanti akan terjadi hal semacam kegiatan ospek seperti menghukum mereka.
" Gak seru.. ini liburan setelah menghadapi ujian yang berat." Seru yoga karena menurutnya Bima memang orang yang tidak asyik.
" Tapi firasat ku berkata buruk."
" Itu cuma firasat. Lagian kegiatan itu sudah berakhir, ini cuma liburan sekaligus mempererat tali persaudaraan antar kita junior dan senior. Kamu lebih baik pertimbangankan dari pada kamu menyaksikan kesenangan kami nanti." Yoga menjelaskan agar Bima bisa ikut bersama mereka.
"Aku akan mempertimbangkannya." Ucap Bima dengan ragu.
" Kamu gak usah khawatir. Para senior tidak mungkin melakukan hal aneh padamu." Ujar Fajar meyakinkan Bima jika perjalanan itu cuma liburan saja.
Saat sedang asyik belajar, Nadia datang bersama dengan teman-temannya menghampiri mereka. " Kamu ngapain disini bersama junior?" Nadia menyapa temannya yang menjadi mentor bagi Fajar dan teman-temannya.
" Ini ngajarin mereka, besok mereka akan ujian."
" Harus banyak baca catatan deh, soalnya dosen itu sangat teliti jika kalian salah mengisi saja nilai kalian bakalan F. Di kelas kami dulu cuma 5 orang saja yang bisa dapat nilai A." Ujar Nadia memperingati juniornya.
" Aku jadi ingat, saking susah soalnya aku sampai menjawab kata-kata doa didalamnya. Dan berakhir di nilai F." Ujar Bagas membuat orang disitu tertawa.
" Intinya baca saja catatan kalian, pertanyaan tidak jauh dari situ."
Pagi ini Nadia sarapan di warung, namun sayang minuman kesukaan tidak jual sebab pemiliknya pergi. Alhasil Nadia membeli teh botol untuk bekal minumnya. Fajar juga sedang menuju ke kampus, namun sebelum pergi dimampir untuk sarapan. Tak sengaja mereka berdua berpapasan.
" Selamat pagi kak Nadia. Tumben gak susu strawberry."
" Orangnya gak jualan."
" Kak, aku mau nanya selain aku siapa lagi yang tahu kakak minum susu strawberry."
" Teman-temanku."
" Kalau soal Kaka menangis ditribun?"
" Awas kamu ya, jika kasih tahu ke yang lain."
" Tenang saja kak, aman."
"Eum.. fajar. Hari ini kalian ujian, kan? Ujian mata kuliah apa?
" Mata kuliah yang kemarin diajarkan sama teman kakak."
" Oh, kamu belajar saja di bagian bab 5. Pasti banyak soal yang merajuk ke materi bab itu." Ujar Nadia berlalu. Membuat Fajar tersenyum bahagia melihat Nadia sudah mulai perduli padanya.