
Liburan semester telah usai, semenjak liburan di rumah. Fajar mencoba untuk menghubungi Nadia, namun gadis itu tidak pernah mengangkat telepon darinya. Semenjak pertemuan terakhir mereka di kosnya, Fajar tidak bisa lagi menghubungi Nadia. Hingga kini saat liburan berakhir, Nadia tetap tidak bisa dihubungi padahal beberapa buku pelajarannya masih berada di dalam kosnya Fajar. Apa mungkin Nadia sengaja menghindar atau memang dirinya sibuk sampai-sampai Fajar tidak bisa untuk menghubunginya.
Fajar berangkat ke kampus seperti biasa, karena hari ini hari pertama dirinya menginjak semester dua. Namun, di semester ini sudah berbeda dari semester sebelumnya, mungkin sebelumnya dirinya masih mengimbangi kuliah sambil mengikuti kegiatan kampus. Tetapi untuk semester ini, dia serta mahasiswa yang lain akan lebih fokus dengan kuliah. Fajar berjalan melewati koridor dengan tangan sibuk dengan ponselnya. Dia terus melihat ponselnya, raut wajah begitu gundah. Sebab orang dihubungi tetap saja tidak mengangkat telepon darinya. Fajar berdiri dijembatan penghubung gedung, dia melihat kearah bawah Diaman para mahasiswa berlalu lalang. Lagi-lagi dia melirik ponselnya, namun tidak ada tanda-tanda telepon balik dari Nadia. Fajar mengecek kontak panggilan, terdapat banyak panggilan yang dia tujukam kepada Nadia. Karena tak bisa dihubungi terus, Fajar mencoba mengetuk pesan melalui via sms, siapa tahu Nadia saat membuka ponselnya dapat melihat pesan dari Fajar. Sudah hampir 5 menit pesan itu tak kunjung dibalas. Saat tengah gundah, Bima datang menepuk pundak sahabatnya itu.
" Ngapain kamu? Pagi-pagi dah melamun saja." Kata Bima melihat sahabatnya itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
" Gak apa-apa." Ucap Fajar.
Bima tersenyum, seolah Fajar yang nantinya akan menjadi penyelamatnya. Yah, tentu saja saat naik semester dua, seorang dosen memberikan mereka sebuah tugas yang nantinya akan dikumpulkan saat mereka selesai liburan. Dan Bima belum mengenakannya, makanya saat melihat Fajar dirinya tersenyum, karena dia tahu Fajar sahabatnya yang paling pintar ini pasti sudah selesai mengerjakannya, tinggal Bima menyalin jawabannya.
" Kamu udah ngerjain tugas belum?" Tanya Bima.
" Udah." Ucap Fajar melihat Bima sekilas, terlihat jelas tatapan memohon butuh bantuan dari Bima.
" Minta dong?" Bima memohon.
" Kamu ini, dari dulu sampe sekarang gak berubah. Selama liburan kamu ngapain saja sampai gak ngerjain tugas." Omel Fajar sambil mengambil buku tuganya untuk diberikan kepada Bima.
" Seharian aku bermain game dengan Yoga, kebetulan dirinya mainnya masih pemula, makanya aku harus hinbau dia terus." Ujar Bima memberikan alasan kenapa dirinya tidak mengerjakan tugas.
" Kamu dari dulu selalu seperti itu, kapan berubahnya coba. Tugas diberikan saat liburan bukannya menggunakan waktu liburan itu malah asyik main game." Seru Fajar yang kesal dengan kebiasaan buruk Bima yang belum berubah.
" Maaf, lain kali gak bakalan aku ulangi. Lihat kesini dulu dong, kamu ngerasa ada perubahan gak dalam diriku." Ujar Bima yang ternyata menampilkan gaya rambut barunya.
" Emang apa?" Tanya Fajar yang nampaknya masih kesal dengan Bima.
" Aku baru saja gunting rambutku. Biar seperti kak Nadia baru saja masuk kampus semua cowok pada tertarik padanya, siapa tahu aku mengubah gaya rambut ada cewek yang tertarik gitu." Ujar Bima menunjukan gaya rambut barunya.
" Nadia? Kamu ketemu dia dimana?" Tanya Fajar, nama itu yang selalu ada dipikiran Fajar saat ini. Saat Bima menyebut namanya, Fajar segera bertanya dimana gadis itu berada.
" Aku bertemu dengannya di depan fakultas, saat dia masuk banyak cowok yang meliriknya, dia mengubah gaya rambutnya pendek dan itu terlihat cantik sekali. Aku gak menyangka jika kak Nadia yang terkenal galak itu bisa secantik itu." Ujar Bima tersenyum membayangkan saat dirinya tadi berjumpa dengan Nadia.
" Cit.." panggil Fajar dengan ngos-ngosan karena habis lari suapaya bisa bertemu dengan Nadia.
" Eh, Fajar. Ada apa?" Tanya Citra terlihat jelas dimata Citra Fajar seperti sedang kecapean karena terlihat dia begitu ngos-ngosan.
" Kamu lihat kak Nadia gak?" Tanya Fajar.
" Oh kak Nadia baru saja masuk ke dalam. Katanya sih dia mau ke kelas." Ujar Citra.
Tanpa basa-basi lebih lama lagi, atau sekedar menanyakan kabar setelah liburan panjang. Fajar justru pergi dan berlari lagi menuju ke kelas, entah dia tak tahu kelas apa. Yang jelas Fajar ingin segera bertemu dengan Nadia.
" Si Fajar kenapa ya? Cari kak Nadia seperti baru saja lari maraton. Kelihatan banget dia ngos-ngosan." Ujar Gadis yang sedari tadi juga memperhatikan Fajar. Mina yang sedari tadi disampingnya justru malah kecewa, karena Fajar tak menanyakan kabarnya, dia justru malah pergi begitu saja setelah bertanya dimana keberadaan Nadia.
Fajar berlari, mencari Nadia ditiap kelas. Nampaknya dia tidak menemukan sosok Nadia, sebenarnya dimana gadis itu berada. Fajar mencoba menghubungi Nadia sekali lagi, tetap saja tidak diangkat. Dia melihat pesannya yang dikirim kepada Nadia, tidak ada balasan dari Nadia. Sebenernya apa salah dia sehingga Nadia seperti memilih menjauh darinya.
Jam makan siang, banyak mahasiswa di kantin kampus. Ada yang sedang makan bahkan ada pula yang tengah belajar serta mengerjakan tugas untuk mata kuliah selanjutnya. Nadia bersama dengan teman-temannya mencari tempat untuk mereka agar dapat mengerjakan tugas bersama. Namun karena banyaknya mahasiswa, membuat mereka harus mencari tempat yang kosong untuk mereka sendiri.
" Jadi kita duduk dimana nih, Nad?" Tanya Karin karena melihat banyak tempat yang sudah terisi penuh.
Nadia begitu kurang fokus, saat Karin bertanya padanya dia justru malah diam sepertinya tidak mendengar apa yang Karin tanyakan padanya. " Nad, Nadia!" Teriak Karin dengan pelan sebab Nadia seperti sedang berada dalam pikirannya sendiri.
" Ah! Iya? Ada apa?" Tanya Nadia terkejut saat Karin memukul lengan tangannya.
" Kamu baik-baik saja, kan? Sedari tadi ditanyain diam saja." Ujar Karin.
" Baik kok. Maaf, aku agak ngantuk sebab semalam nonton sepak bola." Ujar Nadia padahal jelas dirinya tengah melamun.
" Sepak bola? Bukannya piala dunia udah selesai ya?" Ujar Karin bingung, sejak kapan Nadia nonton bola, kalaupun ajang piala dunia bukannya sudah berakhir.
" Ah lupakan saja." Ucap Nadia yang melihat Fajar yang datang seperti cowok itu juga melihat ke arahnya. Karena tak ingin bertemu dengan Fajar, Nadia dengan pelan melongos pergi begitu saja tanpa pamit kepada teman-temannya.