Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 90



Rekan kerja Nadia yang lain sudah pulang karena pekerjaan mereka sudah selesai, begitupula dengan Edgar. Edgar yang awalnya ingin menemani Nadia karena pekerjaan Nadia masih belum selesai ditambah Nadia harus menunggu Fajar karena dia meminta bantuan Fajar untuk mengedit ide yang akan dia ajukan untuk kompetisi. Namun Nadia menolak, karena Nadia tidak ingin merepotkan Edgar lagi. Dan ini sudah menjadi tugasnya meski dibantu oleh Fajar. Edgar yang kecil hati ingin menemani karena ditolak terpaksa pulang lebih awal dengan rekan kerja yang lain.


Tidak berselang lama, Fajar datang dengan membawa kantong plastik. Tidak ada raut wajah ketakutan dari Fajar setelah bertemu dengan ibu Ega. Nadia yang melihat sudah khawatir sedari tadi karena Nadia tahu watak seorang ibu Ega seperti apa saat pertama kali bertemu dengannya. Namun, raut wajah fajar seperti biasa saja bahwa dia sempat tersenyum melihat Nadia.


" Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Nadia khawatir dengan suaminya itu.


" Sedari tadi aku baik-baik saja." Jawab Fajar tersenyum.


" Bukan itu yang aku maksud, bagaimana tadi saat bertemu dengan ibu Ega?"


" Oh, kak Ega?" Ucap Fajar.


" Kak Ega?" Nadia terkejut mendengar Fajar menyebut kak Ega, padahal selama ini karyawan disini selalu menyebutnya dengan ibu Ega.


Melihat wajah terkejut dari Nadia. Fajar mulai menceritakan pertemuannya tadi dengan ibu Ega. Saat menuju depertemen akuntansi, fajar tidak tahu dimana letak ruangan ibu Ega. Fajar menanyakannya kepada salah satu karyawan, dia bertanya dengan sopan tidak dengan memperlihatkan senyuman manisnya. Karyawan tersebut mulai menunjukkan letak ruangan ibu Ega. Dengan sopan dia mengetuk pintu ruangan itu sebelum sang pemiliknya memintanya untuk masuk.


Ketika ibu Ega mempersilahkan fajar untuk masuk ke ruangan, dengan sopan pula fajar memperkenalkan dirinya serta tidak lupa pula dengan senyuman. Ibu Ega yang melihatnya merasa sangat senang, karena menurutnya depertemen produksi akan beruntung memiliki karyawan seperti fajar yang sopan serta tampan. Fajar sedikit tersipu dengan pujian dan ibu Ega. Bahkan ibu Ega dengan senang hati meminta fajar untuk memanggil dengan sebutan kakak. Sebelum keluar ruangan, ibu Ega memberikan kantong plastik berisikan cemilan untuk Fajar.


Mendengar cerita dari Fajar, Nadia begitu terkejut. Padahal kesan pertama dengannya ibu Ega malah justru memarahinya. Bahkan bersama Fian pula dia juga mendapat amukan dari ibu Ega. Sedangkan kesan pertama dengan Fajar justru berbeda ibu Ega malah justru memuji bahkan memberinya cemilan. Nadia merasa kesal dengan mengatakan jika ibu Ega yang ditemui oleh fajar adalah orang berbeda. Alhasil membuat Fajar tertawa, karena di kantor ini yang memiliki nama Ega serta menjabat sebagai kepala depertemen akuntansi hanyalah ibu Ega yang baru saja ditemuinya.


Kevin bertemu dengan Diva di kampus, kebetulan setelah magang dia harus mengikuti ujian. Begitu pula dengan mahasiswa yang satu semester dengannya. Mereka berdua berjalan sambil berbincang-bincang. Diva terlihat mengkhawatirkan Kevin karena lelaki itu terlihat begitu lelah. Apalagi Kevin sepertinya tidak beristirahat dan langsung menuju kampus untuk mengikuti ujian sekaligus untuk melihat anggota baru untuk ospek tahun depan.


" Bagaimana dengan magangnya? Kamu terlihat lelah?" Tanya Diva kepada Kevin.


" Seperti itulah. Mau bagaimana lagi. kamu tahu senior yang kita temui dulu, dia merupakan kepala di depertemen tempat aku bekerja. Dia selalu menyuruhku ini dan itu, sampai-sampai tidak ada waktu istirahat."


" Padahal sudah di dunia kerja, tapi masih menggunakan sistem senioritas. Seharusnya sistem seperti itu di hapuskan saja." Diva merasa kesal, karena sistem senioritas yang dibencinya itu ternyata masih digunakan meski sudah didunia kerja.


" Kita ambil positifnya saja. Mungkin dia menyuruh ini dan itu juga sebagai pembelajaran untuk kedepannya jika aku sudah bekerja. Kalau begitu kita sampai disini dulu ya, aku harus mengecek anggota baru untuk ospek. Bye!"


Mereka berdua akhirnya berpisah, meski diva ingin mengobrol lebih lama lagi dengan Kevin.


Kevin menuju lapangan melihat fajar sudah berada disana sambil memperhatikan anggota baru untuk menjadi panitia ospek. Fajar tengah mengawasi serta melihat potensi junior untuk bisa menjadi anggota panitia ospek nantinya.


" Fajar, maaf aku terlambat." Ucap Kevin.


" Tidak masalah. Kamu perhatikan dulu mereka ya, Nadia sedari tadi sudah menunggu."


Fajar bersama dengan Nadia menuju kampus, kebetulan pekerjaan Nadia sudah selesai makanya meminta Nadia untuk menemaninya di kampus. Apalagi Nadia juga pasti sudah merindukan suasana kampus yang sudah lama dia tinggalkan.


Fajar menghampiri Nadia, " bagaimana sudah selesai melepaskan rindunya?"


" Begitulah, semakin lama ditinggal semakin bagus." Ucap Fajar.


" Iya, jadi kesal." Ucap Nadia cemberut.


" Haha.. jadi ingat dulu kakak pernah lari keliling lapangan, disitu kakak keren banget."


" Apaan sih! Jangan menggoda ku deh!"


Mereka berdua saling bercanda satu sama lain. Tiba-tiba Fani datang menghampiri mereka, dengan menyapa Fajar. Hingga terjadi obrolan antara Fajar dan fani. Merasa dicueki, Nadia memilih untuk pergi membeli beberapa cemilan untuk dirinya dan Fajar nantinya.


Saat Nadia tengah menunggu pesanan bakso bakarnya, dia mendengar dia mahasiswa tengah mengobrol. Tanpa sengaja dia mendengar jika Fani menyukai Fajar, dan bahkan pernah menyatakan perasaannya kepada Fajar di pinggir pantai. Ada sedikit rasa cemburu dihatinya, namun Nadia tidak terlalu memikirkannya. Karena Nadia juga mendengar jika Fajar menolak gadis bernama Fani itu. Ternyata begitu mencintai dan setia kepadanya. Rasanya dia ingin cemilan yang banyak untuk Fajar sebagai bentuk perhatian untuk suaminya itu.


Fajar terkejut melihat Nadia datang dengan kantong plastik yang banyak. "Makanannya banyak sekali." Ucapnya.


" Ini untuk para junior, karena mereka tidak ada kamu untuk kamu saja deh." Nadia tidak berkata jujur lagi, padahal makanan itu dia belikan untuk Fajar.


Fajar mulai mencoba bakso bakar yang dibeli Nadia, dia tersenyum karena Nadia begitu perhatian kepadanya. Meski gadis itu masih saja tidak mau mengakui perhatiannya itu.


Pagi-pagi di kantor, Nadia meminta Fajar untuk membantunya untuk membuat desain yang dia sudah direncanakan. Karena terlalu pagi, rekan kerja Nadia masih belum pada datang ke kantor.


" Mana sini aku periksa. Awas saja jika ada yang salah!" Ucap Nadia.


" Jika Kak Nadia tidak menemukan kesalahan, maka kakak harus memberikan aku hadiah."


" Apaan sih! Dikit-dikit hadiah." Ucap Nadia sambil melihat ke laptop.


" Atau hadiahnya.." fajar menarik nametag kerja milik Nadia, dengan mencoba untuk menggoda istrinya.


" Apaan sih! Tidak ada namanya hadiah!" Nadia menarik nametag.


" Ah! Aku capek." Lagi-lagi Fajar terus menggoda istrinya, kini dia menyender kepalanya ditangan Nadia.


" Rajin sekali kalian berdua." Ucap Edgar yang baru saja masuk ke ruangan.


Dengan cepat Nadia kembali berdiri dan menjauh dari Fajar. " Kita lagi buat proyek kompetisi itu, kebetulan aku meminta bantuan Fajar untuk mendesainnya."


" Kamu sudah punya idenya? Cepat sekali!" Puji Edgar.


Fajar yang duduk didepan layar laptop merasa cemburu melihat Nadia dan Edgar yang sedari tadi mengobrol berdua. Seolah tidak memperdulikan dirinya yang juga berada di ruangan yang sama dengan mereka. Hati kecilnya merasa sakit, bahkan dia sempat berpikir mungkin dia dan Nadia memiliki perbedaan tidak seperti Edgar yang satu tempat kerja dengan Nadia, kelihatan mereka berdua terlihat begitu dekat sekali.