
Fajar tidak bisa tidur saat dirinya berbaring disampingnya Nadia. Begitulah pula dengan Nadia, namun Nadia mencoba untuk memejamkan matanya. Fajar terus melirik kearah Nadia, yang terlihat sudah mulai tertidur. Nadia membalikkan badan membelakangi Fajar, mencoba mencari kenyamanan agar dirinya bisa tertidur pulas. Sedangkan Fajar terus menatap punggung Nadia, dia tidak memejamkan matanya. Nadia lalu berbalik, kini Fajar dan Nadia saling berhadapan. Nadia sudah tertidur, sedangkan Fajar tetap memandangi wajah gadis dihadapannya kini. Dia memandangi dengan Nadia, wajah Nadia begitu tenang ketika tertidur. Nadia lagi-lagi berbalik membelakangi Fajar, seolah mencari kenyamanan dalam tidurnya. Fajar tetap sama memandangi terus Nadia, dirinya tidak bisa tertidur.
" Kak Nadia... Kamu sudah tidur?" Ucap Fajar seakan sebuah hal yang ingin dia sampaikan kepada Nadia. Namun, tidak ada jawaban, Nadia mungkin sudah tertidur lelap.
" Aku masih kepikiran tentang pertanyaan kakak tadi, apakah aku menyukai kakak atau tidak? Jujur, aku gak mengerti dengan pertanyaan itu. Tapi kak, selama aku mengenal kakak, entah kenapa kakak selalu muncul dipikiran ku.. Apa mungkin jawabannya jika aku punya perasaan dengan kakak? Entahlah, mungkin aku merasakannya namun aku gak mengerti arti cinta seperti apa." Ujar Fajar terus memandangi Nadia.
Nadia yang membelakanginya mendengar semuanya, dia membuka matanya perlahan. Mencoba tetap tenang, seolah Fajar yang mengetahui jika dirinya sudah tertidur. Dia kembali menutup matanya, mencoba untuk tetap tenang setelah mendengar ungkapan perasaan dari Fajar.
Bayangan memori akan pertemuan pertama mereka, bahkan kebaikan Nadia serta perhatian Fajar mulai melintas kembali diingatan kedua orang yang tengah berbaring itu. Memori akan Fajar sudah mulai menunjukan rasa sukanya salama ini sudah nampak terlihat. Nadia tidak peka akan hal itu, mengingat kembali Fajar pernah memberikan gelangnya untuk dijaga oleh Nadia. Sebenarnya hal itu sudah Nadia sadari jika adik semesternya ini sudah memiliki perasaan padanya. Nadia benar-benar tidak peka dengan hal itu, justru dia malah membuat jarak mereka lebih dekat dengan menginap sementara di kamar kos Fajar.
Nadia terbangun dari tidurnya, dia mengucek wajah dengan kedua telapak tangannya. Melihat keadaan sekitar, terlihat disampingnya sudah tidak ada Fajar. Fajar ternyata sudah bangun duluan darinya, saat Nadia duduk diatas kasur terlihat Fajar keluar dari kamar mandi dengan keadaan rapi sepertinya cowok itu sedang bersiap-siap pergi. " Kamu mau kemana?" Tanya Nadia.
" Ke ulang tahun sepupuku." Jawab Fajar membungkus boneka yang dibelikannya tadi menjadi sebuah kado.
" Tunggu, sekarang jam berapa?" Tanya Nadia melihat keadaan sekitar masih nampak gelap, apalagi di kamar cahaya lampu di meja masih menyala.
" Udah jam 6. Kenapa?" Ujar Fajar.
" Gila! Masih jam 6, dan kamu sudah bangun." Nadia merasa kesal padahal baru jam 6, mereka tengah libur semester kenapa fajar harus bangun sepagi itu.
" Udah aku bilang, aku mau ke ulang tahun sepupuku. Dari sini ke rumahku jauh, jadi harus pagi-pagi berangkatnya. Kalau kak Nadia masih mau tidur, silakan saja. Nanti aku siapkan kunci cadangan untuk kakak." Ujar Fajar sambil tersenyum.
" Gak perlu, aku mandi." Ucap Nadia turun dari atas kasur, mengambil handuknya yang tergantung lalu menuju kamar mandi.
Di kamar mandi, didepan kaca, Nadia melihat dirinya. Dia menatap wajah dengan mencoba meyakinkan dirinya jika dia harus bersikap normal saat berhadapan dengan Fajar. Nadia berkali menghela nafasnya dengan pelan, mencoba menenangkan diri dan meyakinkan diri jika tetap bersikap normal seolah dia tidak mendengar apa yang dikatakan Fajar semalam.
" Kamu pasti bisa! Bersikaplah seperti gak terjadi apa-apa nad!" Nadia menguatkan dirinya.
Nadia keluar dari kamar setelah membersihkan diri. Dia melihat Fajar tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi.
" Kak, aku sudah membeli nasi goreng untuk kakak dengan susu. Nanti kakak letakkan saja di meja jika udah selesai. Aku harus segera pergi sebelum aku ketinggalan busnya." Ujar Fajar sambil memberikan segelas air kepada Nadia. Demi kesehatan, setiap pagi harus minum air, makanya itu dia memberikan segelas air putih untuk Nadia.
" Kakak minum air putih dulu sebelum sarapan." Ucap Fajar memberikan segelas air putih kepada Nadia.
" Oh, makasih." Ucap Nadia mengambil segelas air putih itu namun dirinya terkejut saat tak sengaja jari tangannya menyentuh jari tangan Fajar. Dengan reflek, tanpa sengaja Nadia menjatuhkan gelas itu hingga air serta pecah di lantai.
" Gak apa-apa kok kak. Biar aku saja aku yang melakukannya." Ujar Fajar membantu dan juga mengambil kain untuk membersihkan air yang tumpah.
Karena jarak mereka yang dekat karena membersihkan gelas yang pecah, membuat Nadia merasa canggung karena berada di dekat Fajar. Bayangan akan perkataan Fajar tadi malam teringat di memorinya. Membuat Nadia mengakhiri dekat jarak duduk mereka. Nadia segera berdiri dan memasukan semua pakaian serta handuk ke dalam tas.
" Aku pergi dulu." Ucap Nadia.
" Loh kak, sarapan gimana?" Ucap Fajar karena dirinya sudah menyiapkan sarapan untuk Nadia.
" Aku harus pergi." Ucap Nadia lalu pergi begitu saja. Fajar hanya bisa menatap kepergian Nadia dari kamar kosnya.
Semua barang Nadia sudah dibawah oleh Nadia sendiri, namun Fajar melihat buku-buku Nadia masih tergeletak di laci kamarnya. Fajar segera menghubungi gadis itu namun sayangnya Nadia tidak mengangkatnya. Karena takut kehilangan bus untuk pulang merayakan ulang tahun sepupunya. Dengan terpaksa buku-buku Nadia harus ditinggal di kamar kosnya sementara setelah liburan selesai.
Fajar pulang ke rumah, ibunya menyambut kedatangan anak semata wayangnya itu dengan penuh haru sebab hati seorang ibu merasa berat jika harus meninggalkan anaknya harus pergi ke kota orang hanya untuk melanjutkan pendidikannya. Pulangnya Fajar ke rumah, di sambut pelukan hangat dari sang ibu.
" Ibu ini, seperti Fajar pergi hampir 5 tahun gak pulang. Setelah pulang ditangisi begitu." Goda ayah Fajar, karena melihat istri yang tak melepaskan pelukannya kepada putra mereka.
" Iya ayah.. pelukannya lama banget, baru habis ini mau ke ulang tahun citra, udah janji mau ke pesta ulang tahunnya kemarin." Ujar Fajar.
" Kalian ini anak sama bapak gak ngerti perasaan seorang ibu saja. Ibu sangat merindukan Fajar." Ujar ibu Fajar melepaskan pelukannya.
" Aku juga merindukan ibu juga. Ibu sama ayah disini baik-baik saja, kan?" Tanya Fajar kepada kedua orang tuanya.
" Baik.. kamu kok telat pulangnya, Bima saja sudah pulang dari seminggu yang lalu." Ujar ibu Fajar.
" Oh, ada urusan yang harus aku selesaikan." Jawab Fajar.
" Kamu udah akrab dengan calon istrimu?" Tanya ibu.
" Lumayan." Ucap fajar menggaruk tengkuknya, sebab dia tak ingin tau jika bagaimana seorang calon mantunya itu.
" Kok lumayan? Gimana? Cerita dong sama ibu." Tanya ibu yang penasaran dengan kisah asmara anaknya.
" Nanti ya.. aku mau ke ulang tahun Citra dulu." Ujar Fajar menghindar dari pertanyaan ibunya.