
Fajar dan Nadia duduk dipinggir pantai sambil mendengarkan deru ombak dan melihat bintang di atas langit. Suasana yang begitu romantis untuk pasangan yang tengah kasmaran. Mereka terdiam, menikmati suasana serta hawa pantai yang begitu menyejukkan. Nadia menatap Fajar yang tengah memandangi bintang yang bertaburan diatas langit, sungguh pemandangan malam yang begitu indah.
" Fajar, ada yang ingin aku sampaikan." Ucap Nadia kepada Fajar, ucapan itu menghentikan Fajar dalam melihat bintang. Kini dia menengok melihat bintang yang sesungguhnya, bintang yang tengah mengisi hatinya.
" Apa? Apa yang ingin kak Nadia katakan?" Tanya Fajar kepada Nadia.
" Aku gak tahu di masa depan, kita akan seperti apa. Setelah berkenalan, pastinya akan menikah seperti keinginan kedua orang tua kita. Tapi, aku tak ingin membohongimu. Ada hal yang mengganggu pikiranku. Awalnya aku tak ingin kita menikah dulu, sampai menunggu kamu menyelesaikan pendidikanmu. Mengingat sekarang ini, perasaan ku yang sekarang ini kini tengah berbunga-bunga, dan masih mencintaimu. Aku mengubah rencana ku, untuk mau menikah dengan mu setelah aku lulus kuliah. Meski dalam perjalanan pernikahan kita, kamu masih menjadi anak kuliahan. Aku berkata seperti itu, karena kita tak tahu apa yang terjadi kedepannya. Apa hubungan kita akan terus berjalan ataukah berpisah. Dan satu lagi, aku sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan ku, tetapi karena kita sudah menikah. Aku ingin menundanya, dan akan memilih bekerja setelah kita menikah nanti. Itu adalah rencana ku untuk kita. Lalu untuk hatiku, aku selalu menganggap mu sebagai seorang yang sangat istimewa dihatiku. Aku mencintaimu." Kata Nadia kepada Fajar, mungkin jika ada yang dengar, pastinya akan merasa jika Nadia terlalu romantis malam ini. Meski penyampaian hanyalah sebuah rencana Nadia untuk mereka.
Fajar tersenyum tak menyangka, jika gadis yang dijodohkan oleh orang tuanya ini sudah merencanakan masa depan mereka yang begitu manis, meski Nadia harus mengorbankan pendidikannya demi memenuhi kebutuhan hidup mereka nantinya. " Kak Nadia gak perlu khawatir. Selama kita menikah, aku akan mencoba mencari pekerjaan sampingan. Jika kakak ingin melanjutkan pendidikan, bagiku itu gak masalah. Kak, dengarkan aku, aku mencintaimu untuk membahagiakan mu. Bukan untuk membuat mu harus berkorban demi aku." Kata Fajar dia tak ingin Nadia berkorban demi dirinya, dia ingin Nadia bahagia. Apapun pilihan Nadia nantinya, Fajar akan mengiyakan, dan mencari jalan keluarnya.
" Gak! Itu sudah rencana ku. Jadi kamu fokus dengan kuliah mu. Toh, nantinya setelah lulus. Aku akan mulai bekerja disebuah perusahaan. Jadi, kamu gak usah khawatir. Pendidikan itu bisa diraih kapan saja. Jadi setelah menikah fokuslah pada pendidikan mu." Kata Nadia tersenyum, dia tak ingin Fajar merasa bersalah dengan pilihan hidup yang dia ambil.
Fajar menghela nafasnya, sedikit rasa bersalah. Namun percuma saja, karena itu tidak bisa mengubah apapun, Nadia pastinya akan kekeh dengan pilihan hidupnya. " Kak, apapun pilihan kakak. Aku sangat berterima kasih. Aku bersyukur dicintai dan bisa mencintai kak nadia. Kak Nadia, harus ingat untuk saat ini dan detik ini juga, hati ku selalu menganggap kakak sebagai orang yang sangat istimewa. Makasih sudah mencintaiku." Kata Fajar, dengan penuh kasih sayang. Dia bersyukur telah dicintai oleh gadis seperti Nadia. Dia begitu beruntung, orang tuanya memilih gadis yang seperti Nadia. Terkesan galak diawal pertemuan mereka, namun gadis yang penuh pendirian ini justru membuatnya semakin jatuh hati. Yang awalnya hanya ingin mengenal, kini malah justru semakin jatuh dan ingin terus mengenal gadis itu lebih dalam.
Nadia yang mendengar itu, justru tersipu malu. Dan kini Fajar semakin mendekati wajahnya ke wajah Nadia, Nadia tahu apa yang akan Fajar lakukan setelahnya. Dia menutup matanya, lalu dengan pelan juga memajukan wajahnya untuk lebih dekat dengan wajah Fajar. Kini bibir mereka bertemu, saling bertautan memberikan rasa cinta, dan kasih sayang. Didukung dengan hawa dingin serta deru ombak dan bintang yang bersinar diatas langit. Kedua sejoli itu, tengah memadu kasih, mencurahkan cinta mereka dalam sebuah ciuman.
Setelahnya, Nadia merasa malu, sedangkan Fajar hanya tersenyum. " Ah, Fajar, aku lupa! Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Nadia ingin menyelesaikan semuanya, adalah satu hal yang mengganjal hati dan pikirannya namun dirinya lupa untuk bertanya kepada Fajar.
" Apa lagi?"
" Apa...kamu... Menyukai Citra?" Tanya Nadia terbata-bata, mungkin terasa aneh setelah berciuman, Nadia malah justru bertanya soal itu. Bukankah tadi Fajar sudah menyatakan cintanya untuk Nadia.
" Gak lah. Setelah Citra sukanya sama Kak Prince." Jawab Fajar tertawa. Pertanyaan yang terkesan konyol setelah mereka berciuman.
" Berarti dulu sempat suka ya? Tapi kalian cocok sih, kalian sempat jadi bintang kampus kan?" Ucap Nadia, ada nada cemburu didalamnya.
" Gaklah, aku gak menyukai Citra. Dulu, isi otakku cuma ingin kenalan sama calon istri ku saja." Jawab Fajar, lagi-lagi membuat Nadia tersipu.
" Bagiku, itu bukan urusan ku. Kenapa Kakak tiba-tiba bertanya seperti itu? Jangan bilang jika kemarin itu, Kakak sedang cemburu ya?"
" Gak, gaklah!" Bantah Nadia, meski sebenarnya kemarin itu dia tengah cemburu.
" Emt, Sabtu nanti ada waktu kosong gak?"
" Aku bebas, kalau hari Sabtu. Apa ada yang ingin kak Nadia beli?"
" Gak. Aku... Aku ingin ngajak kamu berkencan." Jawab Nadia, membuat Fajar tersenyum. Kini hubungan mereka semakin terbuka satu sama lain.
Nadia kini tengah berada di kamar kos Fajar, karena mereka tengah janjian untuk makan bersama. Nadia melihat meja belajar Fajar, terdapat foto Fajar saat masih mengenakan seragam sekolah. Terkesan begitu lucu bagi Nadia, membuat gadis itu tersenyum saat memandangi foto itu. Sedangkan sang pemilik kamar kos baru saja datang dengan membawa dua kantong plastik berisikan makanan yang baru saja dia beli dia warung dekat kos mereka.
" Ini kak, nasi Padang serta minuman susu strawberry kesukaan Kakak." Ucap Fajar membukakan kedua kantong plastik itu.
Nadia lalu duduk di kursi, menunggu Fajar menyediakan makanan untuknya. " Fotomu saat mengenakan seragam sekolah terlihat begitu lucu." Komentar Nadia sambil tertawa.
" Oh ya Fajar, ada yang ingin aku tanyakan. Sejak awal bukannya kamu tak ingin belajar di fakultas ini. Kenapa kamu terus melanjutkannya? Bukannya akan sia-sia, karena kamu fakultas tak sesuai dengan keahlian kamu. Apa sebaiknya kamu memilih kembali belajar ke fakultas yang kamu inginkan?" Kata Nadia, entah terbesit saja dalam pikirannya. Apalagi Nadia juga melihat banyak sekali buku ekonomi yang ada dilaci meja belajar Fajar.
" Kak Nadia, benar-benar gak ingat?" Tanya Fajar kepada Nadia.
Nadia merasa bingung dengan pertanyaan Fajar, apa yang harus diingat? Kenapa bertanya seperti itu? Bukannya menjawab pertanyaannya.
" Apa yang harus diingat?" Tanya Nadia balik karena tak tahu.
" Kak Nadia benar-benar tak ingat padaku?"