Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 56



Jurusan teknik tengah mengadakan pesta di pantai, demi merayakan perpisahan dengan para senior yang nantinya akan segera lulus dan meninggalkan kampus. Fajar, Bima dan teman-temannya yang lain tak mau ketinggalan mereka berdua juga ikut hadir dalam pesta tersebut. Khususnya Fajar, dia akan tetap hadir karena ingin bertemu dengan Nadia. Puput yang juga ikut hadir menyapa Fajar, dia melihat kesekitar apakah ada Nadia atau tidak. Karena pesta ini juga termasuk merayakan kelulusan Nadia nantinya, namun sayang salah satu temannya mengatakan jika Nadia tak bisa hadir dia harus mengerjakan tugas akhirnya yang belum selesai untuk ditandatangani oleh dosen pembimbing.


Fajar yang mendengar itu merasa kecewa. Padahal kehadirannya dalam pesta ini untuk memberi suprise kepada Nadia. Namun, sayangnya gadis itu tak hadir di acara yang diadakan untuknya dan para senior yang lain. Padahal teman-teman Nadia, Prince dan yang lain juga hadir. Hati Fajar begitu kecewa, akibat senyuman tadi di perlihatkan hilang sudah. Namun, tiba-tiba prince berteriak, " Ku kirain kamu gak datang."


Teriakan itu membuat yang melihat, yang ternyata Nadia yang datang dengan tas kecil. Dia memakai pakaian yang santai, tidak mengenakan dress seperti yang lain. Mungkin angin malam sangat tidak cocok untuknya apalagi saat mengenakan dress. Kedatangannya disambut yang lain, bahkan mereka sampai mengatakan jika kedatangan Nadia membuat kaget mereka semua karena pesta ini juga diadakan untuk dirinya. Fajar yang tadinya sudah kecewa tersenyum saat Nadia berjalan kearahnya. Nadia lalu mengambil coklat yang dibelinya, kepada para junior termasuk Fajar sebagai bentuk terima kasih kepada para junior serta teman- temannya yang lain.


Setelah memberikan semua coklat yang dibawanya, Nadia kalau pamit undur diri. Namun, Fajar segera mencegahnya, setidaknya diberikan dulu kado yang sudah dia siapkan untuk Nadia. "Kak tunggulah dulu." Ucap Fajar.


" Ada apa?"


" Ada yang ingin aku berikan kepada kak Nadia." Fajar mengeluarkan sebuah surat yang dibawa untuk Nadia. Nadia mengambilnya sambil tersenyum, dia lalu membuka surat itu untuk membaca isi surat yang ditulis oleh Fajar untuknya.


" Kak Nadia, mungkin aku pernah bilang kepada Kakak jika aku ingin kakak menuliskan sebuah surat cinta untukku. Namun, kali ini izinkan aku menjadi yang pertama yang duluan menuliskan surat cinta untuk kakak. Aku berharap jika kakak tidak keberatan karena aku melakukannya dengan sesuka hati. Jujur, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepada kakak. Tetapi aku sedikit khawatir jika aku tak bisa memasukan semuanya kedalam surat ini. Dan aku tak begitu tahu kata-kata seperti apa yang akan aku gunakan untuk mengungkapkan perasaan ku. Karena tidak ada kata-kata lain selain rasa bersyukur ku. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan kakak. Kakak telah menjaga ku dan melakukan banyak hal untukku. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas senyum dan tawamu, yang mengubah hari-hari biasa ku menjadi hari-hari yang begitu istimewa. Dan aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah mengizinkan aku untuk mencintaimu. Setiap kali kita dekat satu sama lain, apakah kamu tahu bertapa bahagianya aku? Aku mungkin bodoh. Aku mungkin terlihat ingin menggodamu. Dan mungkin aku terlihat sebagai mahasiswa baru yang tak nurut dan selalu mementingkan diri sendiri, dan mungkin itu menjadi penyebab jika aku menjadi bosan padaku. Tetapi, aku tak akan meminta kak Nadia untuk mencintai ku seperti aku yang dulu. Tidak perduli apa yang terjadi atau berubah. Untuk diriku, salah satu yang paling berharga dalam diriku adalah kamu, kak Nadia. Kamu adalah satu-satunya matahari ku. Dan aku berjanji, bahwa kamu akan selalu seperti itu kepadaku."


Saat Nadia tengah membaca surat yang ditulis olehnya sendiri, Fajar merasa begitu gugup karena ini adalah pengalaman pertama baginya menuliskan sebuah surat cinta untuk sang kekasih. Nadia tersenyum setelah membaca isi surat itu, dia begitu terharu dan tak menyangka jika Fajar akan bersikap romantis seperti ini.


" Terima kasih." Ucap Nadia tersipu setelah baca isi surat dari Fajar.


" Bukan yang itu, tangan kananmu." Ucap Nadia mengambil gelang yang dibelinya. Nadia membuka gelang yang Fajar masih kenakan, gelang yang pernah diikat oleh Nadia saat mengikuti ospek. Nadia lalu memakai gelang yang baru dibelinya, gelang bermotif dengan percampuran warna coklat yang sangat cantik. Dia memakai gelang itu ke tangan kanan Fajar, lalu dia memberikan gelang satunya lagi untuk Fajar pasangkan ke tangannya juga. Sebelum ke pesta, Nadia sengaja berkunjung ke sebuah toko aksesoris untuk membeli gelang untuk Fajar dan juga untuk dirinya, dia mencari warna yang senada agar terlihat cantik layaknya pasangan pada umumnya. Nadia melakukan itu karena melihat gelang yang dipakai oleh Fajar saat ospek sudah mulai terlihat kusam yang tak bagus untuk dipandang.


Saat mereka berdua tengah memasang gelang satu sama lain. Prince melihat adegan itu, dia segera menggoda mereka berdua, sekaligus bertanya tentang hubungan mereka. " Ehem! Kalian berdua terlihat sedang memakai gelang yang sama. Uhm.. boleh aku bertanya, apakah kalian berdua sedang menjalin hubungan spesial?"


"Kita..." Fajar bingung menjawab apa, apakah harus dibantah atau berkata jujur saja. Dia melihat ke arah Nadia, takut jika salah menjawab.


" Terus? Kenapa? Ya, kita memang sedang pacaran." Jawab Nadia sambil merangkul pundak Fajar, sebagai pembuktian jika mereka tengah menjalin sebuah hubungan. Membuat orang yang disekitar mereka yang mendengar berteriak, menggoda mereka. Nadia tertawa, merasa sedikit malu dengan pengakuannya barusan. Sedangkan Fajar tersenyum lega, kini tak ada lagi hubungan yang sembunyi-sembunyi. Tidak ada lagi kata menghindar ketika ada teman melihat mereka berdua. Kini semua orang sudah tahu jika dirinya adalah pacar Nadia.


Nadia tengah menikmati minuman yang sediakan, Dea menghampirinya. Dea merasa terkejut dengan pengakuan Nadia tentang hubungannya dengan Fajar. Awalnya Nadia merasa jika Dea bakalan tak suka, karena Dea punya prinsip untuk tidak punya hubungan dengan junior mereka. Namun, Dea justru malah mengucapkan selamat kepada Nadia. Dea merubah pemikirannya karena cinta akan datang kapan saja, baik untuk orang yang satu angkatan maupun untuk junior. Dan Dea merasakan itu ketika dirinya sudah jatuh cinta dengan Wawan, meski hubungan mereka tak berlanjut karena Wawan terpaksa berhenti kuliah akibat membantu orang tuanya untuk mengurus sebuah bisnis yang berada di luar kota.


Bima yang mendengar hal itu, juga tak menyangka jika sahabatnya akan melabuhkan hatinya untuk senior mereka yang terkenal galak itu. " Aku tak menyangka jika kamu akan berpacaran dengan senior galak itu. Padahal kita sudah bersahabat selama 4 tahun dan kamu tak membicarakan itu pada ku." Ucap Bima.


" Maaf, supaya kamu tak berburuk sangka, aku mencintai Nadia bukan sebagai senior galak. Tetapi aku mencintainya sebagai Nadia. Ya, Nadia, nama pertama kali ku dengar saat ayahku menyebutnya." Ujar Fajar tersenyum, tak menyangka bakalan seindah ini.


Cinta memang tak terduga, meski banyak pemikiran tentang calon ideal. Namun semuanya bakal kalah ketika sudah jatuh cinta. Entah kepada siapapun, jika dia sudah membuatmu nyaman maka cinta itu akan ada. Bahkan saat merasa benci sekalipun, tanpa diduga cinta itu akan muncul dengan sendirinya. Seperti Nadia, benci bahkan tak mau pacaran dengan juniornya. Kini cintanya akhirnya berlabuh di hati junior yang tak taat kepadanya. Kebersamaan mereka, yang membuat cinta itu muncul dengan sendirinya.