Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 16



Saat selesai melakukan photoshop. Fajar menghampiri Mike yang sedang mengisi formulir, entah formulir apa. Fajar duduk disamping Mika.


" Kak Mika." sapa fajar.


" Hm, kenapa?" tanya Mike yang masih sibuk mengisi formulir.


" Aku ingin bertanya kepada kakak." ujar fajar.


" Mau apa?" tanya mika


" Aku ingin tahu. Dimana kak Nadia?" tanya fajar sebab sudah beberapa kali pertemuan. Nadia tidak pernah muncul bahkan yang sering memerintah malah justru panitia lain.


" Nadia? Dia gak kemana-mana. Dia selalu ada di manapun kok." jawab mika.


" Tapi hari ini dia gak datang lagi dipertemuan." ucap fajar merasa khawatir.


" Beneran?" ucap mika kemudian menghela nafasnya seolah berat untuk mengatakan yang sebenarnya. "Sebenarnya.. Aku gak bisa kasih tahu kamu. Mereka memberitahu ku untuk tidak membocorkan ini."


" Gak apa-apa kok. Jika kakak gak bisa kasih tahu aku." ujar fajar meski sebenarnya dia khawatir dengan Nadia.


Mika terdiam, awalnya dia tidak ingin memberitahu fajar. Namun, melihat mata fajar yang terlihat jelas khawatir dengan Nadia. Terpaksa dia ingin memberitahu tahu hal itu kepada fajar.


" Baiklah. Aku akan membocorkannya karena ini kamu. Tapi kamu harus berjanji gak memberitahukan hal ini kepada yang lain. Janji?" ujar mika melihat disekitar lalu menatap tajam kepada fajar, sebagai bentuk ancaman agar fajar mengerti apa yang dia maksud.


" Iya, aku bersumpah." ucap fajar mengangkat tangannya, agar mika percaya padanya.


" Untuk saat ini, Nadia dikeluarkan dari tim panitia. Jadi bukan dia lagi sebagai ketua panitia ospek untuk saat ini. Itu disebabkan karena insiden saat kamu dan teman-teman mu di hukum di lapangan. Saat itu ada salah satu temanmu yang pingsan. Jadi para guru mengetahui hal itu, makanya setelah kejadian itu kalian tidak lagi menerima hukuman yang berat dari para panitia. Jadi itulah yang terjadi padanya. Dan fajar, tolong jangan memberi tahu hal ini kepada orang lain. Jika tidak maka aku akan terkena masalah." ujar mika.


Fajar mengangguk dan berkata tidak akan membocorkan hal itu. Kekhawatiran fajar bukannya reda setelah mendengar berita itu, melainkan fajar tambah khawatir dengan Nadia. Setahu fajar calon istrinya itu, sangat suka dengan kegiatan ospek ini. Bahkan dia ingin sekali menjadi bagian panitia untuk menyelenggarakan kegiatan ospek ini. Namun, Nadia harus dikeluarkan, pasti gadis itu merasa sangat sedih.


Fajar baru saja selesai mandi, setelah pulang dari kampus. Fajar keluar dari kamar mandi, dengan menggenakan kaos dan celana pendek. Handuk kecilnya diletakkan diatas kepala, tangannya sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Fajar duduk diatas kasur, ponselnya berdering. Ternyata ibu fajar menelfon, fajar segera mengangkatnya.


" Hallo bu." ujar fajar.


" Apa kabar sayang? Kamu udah makan belom?Bagaimana kamu sudah bertemu dengan Nadia, calon istri mu?" suara dari seberang telfon.


Fajar tertawa mendengar ibunya memberikan banyak pertanyaan untuknya. " Satu-satu dong Bu. Kabar fajar disini baik." jawab fajar.


" Lalu bagaimana dengan kuliah mu?" tanya sang ibu.


" Baik Bu, beberapa Minggu ini aku mengikuti kegiatan ospek, semacam pengenalan kampus." ujar fajar.


" Oh.. Syukurlah. Bagaimana kamu udah bertemu dengan Nadia?" tanya ibu fajar.


" Udah Bu, kebetulan Nadia ketua panitia ospeknya. Tapi kayaknya Nadia belum tahu jika aku calon suami yang akan dijodohkan olehnya." ujar fajar saat mengingat momen Nadia bertemu dengannya.


" Iya sayang. Ayah ibu Nadia belum memberitahu hal itu. Mungkin butuh waktu, sebab Nadia seorang cewek yang keras kepala jadi susah untuk memberitahunya duluan. " ujar ibu fajar.


" Iya ibu. Aku akan menunggu." ucap fajar.


" Baiklah, sudah dulu ya. oh ini ada titip salam dari ayahmu." ujar ibu fajar.


Fajar menuju ke warung makan yang lumayan rame pengunjung. Kebetulan disana menyediakan makan yang enak-enak. Fajar mengunjungi tempat itu sendiri untuk mencari makan malam. Fajar mengedarkan semua pandangan ke setiap kursi yang tersedia. Ternyata banyak yang penuh. Hingga saat fajar berjalan untuk bertanya. Seorang pelayan meminta fajar untuk di duduk. Kebetulan disebelah ada satu kursi yang kosong dihadapannya ada seorang yang duduk membaca koran.


Fajar mendekati kursi kosong itu, sebelum duduk dia meminta izin kepada seorang cewek yang duduk dihadapannya yang sedang membaca koran. " Permisi, bolehkah aku duduk disini?" tanya fajar.


"Silahkan." ucap gadis itu tanpa menutup koran bahkan menoleh kepada fajar.


" Makasih kak Nadia." ujar fajar yang ternyata sudah tahu jika gadis yang duduk membaca koran itu adalah Nadia.


Nadia menoleh saat namanya disebut. "Hey! Fajar!" sapa Nadia kaget saat melihat fajar.


" Kenapa kamu ada disini?" tanya Nadia.


" Jadi aku akan mengambil tempat duduk ini." kata Fajar menarik kursi untuk duduk.


Namun, saat fajar ingin duduk. Nadia menahannya, " Tunggu dulu. Siapa bilang kamu bisa duduk disitu?" kata Nadia menutup korannya dan meletakkan diatas meja.


" Bukannya tadi kak Nadia baru saja bilang silahkan." ujar fajar karena dia tidak salah dengar jika Nadia mempersilahkan dirinya untuk duduk dihadapannya.


" Ah iya, dan satu lagi semua meja disini penuh." ujar fajar tersenyum dan duduk di kursi yang tadi.


Seorang pelayan datang menanyakan apa yang ingin dipesan oleh fajar.


" Aku pesan nasi telor dadar." ucap fajar memesan.


" Harap tunggu sebentar ya." ucap pelayan itu berlalu.


" Ck, nasi dengan telor dadar? Pilihan makananmu sayang sekali." ucap Nadia seoalah meremehkan pesanan makanan dari fajar.


" Aku gak suka makanan pedas." kata fajar, kenapa dia memesan makanan itu.


" Apa! Kamu ini sekarang sudah menjadi cowok dewasa sekarang, bagaimana bisa kamu tidak makan makanan pedas. Benar-benar banci!" ujar Nadia mengejek fajar.


Seorang pelayan mengantarkan minuman yang dipesan oleh Nadia dan fajar. "Ini pesanan mu Nadia." ujar pelayan itu memberikan minuman pesanan Nadia.


" Eum kakak. Kayaknya kakak mengirim pesanan pelanggan yang salah." ujar Nadia malu.


Nadia agak malu, sebab minuman yang dipesannya berwarna merah muda. Yang berarti pesanan Nadia itu adalah susu rasa strawberry. Nadia malu sebab baru saja dia meremehkan fajar dengan makanan yang dipesan fajar. Gadis yang dikenal dengan tegas yang tajam itu ternyata suka meminum susu strawberry. Hal itu membuat fajar terkekeh melihat tingkah malu Nadia.


" Gak mungkin. Soalnya ini yang sering kamu pesan. Tidak mungkin aku lupa." ujar pelayan sebab Nadia sering berkunjung di warung itu.


" Dan ini milikmu." ucap pelayan memberikan minuman pesanan fajar.


" Iya, makasih ya kak." ucap fajar tersenyum.


" Sangat menarik jika mengetahui seorang panitia ospek yang galak meminum susu rasa strawberry." ujar fajar dengan maksud mengejek Nadia.


Nadia ingin mengumpat namun dia mengurungkan niatnya. Sedangkan dengan santainya meminum minumannya.