
Fajar menghampiri teman-temannya yang mengerjakan tugas mereka di perpustakaan, wajah masih tetap sama terlihat begitu murung. Bima mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu. Selama duduk bersama, dia belum juga mulai mengerjakan tugasnya, dan malah justru malah asyik melamun. Bahkan saat ponselnya berdering pun dia tak mendengarkannya, karena pikiran berada jauh entah kemana.
" Fajar!" Panggil Bima karena ponsel Fajar yang sedari tadi berdering didekat pemiliknya, justru pemiliknya malah melamun.
" Woi! Fajar!" Terpaksa Bima berteriak sambil memukul tangan sahabatnya yang masih saja melamun.
Fajar terkejut, lalu mendengar ponselnya yang berdering. Dirinya undur diri dan mengangkat telepon yang ternyata dari seniornya yang bernama Puput. " Ada apa kak put?" Tanya Fajar yang tiba-tiba ditelfon oleh seniornya itu.
" Kebetulan pernikahan Laras dan Gilang senior kalian sebentar lagi. Aku mau nanya kamu hadir gak dia pernikahan mereka?" Tanya Puput dalam sambungan telepon.
" Hadir kok kak." Jawab Fajar, tidak mungkin dirinya tidak hadir apalagi Laras dan Gilang yang mengundangnya untuk hadir ke pernikahan mereka.
" Kamu kesana pake apa?"
" Aku kesana dengan taksi kak, ada apa ya?"
" Kebetulan aku kesana sendirian, aku ingin ngajak kamu barengan sama aku aja, gimana?"
" Boleh."
" Okelah, nanti aku jemput ya."
" Iya kak." Ucap Fajar mengakhiri telepon mereka.
Saat Fajar hendak masuk kembali ke perpustakaan, dia tak sengaja berpapasan dengan Karin. Fajar segera menghentikan Karin, sebelum seniornya itu pergi.
" Ada apa?" Tanya Karin saat Fajar meminta untuk berhenti sebentar.
" Sebelumnya aku minta maaf, tapi bisakah kak Karin membantuku." Ujar Fajar mengingat dia membawa buku Nadia yang ketinggalan di kamar kosnya, dia ingin mengembalikan buku itu melalui Karin.
" Boleh. Apa yang harus aku lakukan?"
" Tunggu sebentar ya kak. Aku akan segera kembali." Fajar segera menuju tempat yang dia duduki tadi, segera mengambil buku ditasnya dan berlari menuju Karin yang sudah menunggunya di luar perpustakaan.
" Ini kak, tolong kakak kembalikan ini ke kak Nadia ya." Ujar Fajar memberikan beberapa buku Nadia yang tertinggal di kosnya.
" Oke."
" Makasih ya kak."
" Sama-sama." Ucap Karin tersenyum lalu berlalu.
Fajar kembali duduk bersama dengan teman-temannya, yang tengah sibuk mengerjakan tugas mereka. Bima melihat Fajar, ada rasa khawatir kepada sahabatnya itu, yang sedari tadi melamun saja. " Fajar, kamu gak apa-apa, kan?" Tanya Bima sekali lagi memastikan keadaan sahabatnya.
" Aku gak apa-apa." Jawab Fajar sambil tersenyum sebagai tanda jika dirinya memang baik-baik saja.
" Sedari tadi kamu melamun terus, jika ada masalah ceritakan." Ujar Bima.
" Aku baik-baik saja."
Para gadis tengah mengerjakan tugas ditempat yang berbeda dengan para cowok. Namun, Gladis bukannya mengerjakan tugas dia malah sibuk membaca ramalan zodiak. Dirinya tersenyum senang saat ramalan asmaranya, sesuai dengan apa yang dia rasakan hari ini. Mina yang duduk disamping menimpali, " Jangan percaya yang begituan."
" Tapi apa yang diramalkan sesuai kok." Ujar Gladis yang percaya jika ramalan zodiak ini benar-benar terjadi.
" Gak percaya aku." Ucap Mina.
" Terserah, tapi aku akan lihat ramalan asmara zodiak mu ya. Kalau gak salah Aquarius ya, kamu lahir di bulan februari, kan?" Ujar Gladis kepada Mina yang hanya dijawab anggukan oleh gadis itu.
" Apaan sih! Kamu gila ya!" Mina tersipu saat dirinya digoda oleh Gladis. Karena sering digoda terus, membuat Mina terpaksa menghindari dengan alasan mencari lagi buku untuk referensi tugasnya.
Fajar mulai fokus dengan tugasnya, tidak seperti tadi saat dirinya terus saja melamun. Lalu teringat jika dirinya masih kurang buku untuk dijadikan referensi. " Aku mencari buku dulu, sepertinya aku masih kekurangan buku buat referensi."
" Emangnya kamu dapat topik yang berapa?" Tanya Bima karena setiap mereka ada yang memiliki topik berbeda ada pula yang sama.
" Aku dapat topik dibagian C." Jawab Fajar.
" Wah! Itukan topik yang sulit. Tapi aku sih gak masalah, soalnya kamu lebih pintar dariku." Bima tak perlu khawatir karena sahabatnya itu lebih pintar darinya, jadi meski dapat topik yang sulit sekalipun bagi seorang mungkin tak masalah.
Fajar tersenyum, " aku pergi mencari buku dulu."
Mina tengah mencari buku untuk referensinya, tiba-tiba Fajar datang dia mengambil buku yang sama saat Mina ingin mengambilnya. " Fajar?"
" Oh min, kamu dapat topik C juga ya?" Fajar mulai menebak karena buku referensi yang dicarinya juga diincar oleh Mina.
" Iya."
" Kebetulan aku juga dapat topik C, bagaimana kalau kita bekerja sama."
" Maksud kamu kerja kelompok gitu?"
" Iya, supaya lebih cepat juga, kan."
" Boleh." Mina menyetujui, karena kesempatan baginya untuk lebih dekat dengan Mina.
Nadia tengah duduk di cafe bersama Dea, mereka membicarakan tentang pernikahan senior mereka yaitu Galang dan Laras. Dea mengeluh jika keuangannya menipis, dia tak tahu harus memberi kado apa untuk kedua seniornya itu.
" Kamu kasih hadiah apa nad?"
" Uang." Jawab Nadia merasakan sensasi manis dari minuman kesukaannya susu strawberry.
" Kalau gitu aku juga sama deh, aku kasih sedikit sesuai dengan finansialku."
" Terserah kamu saja, gak usah memaksa diri juga jika gak mampu."
" Kalau begitu aku pamit ya, mencari uang." Ujar Dea pamit meninggalkan Nadia sendirian didalam caffe.
Tak berselang lama, Karin datang dengan membawa buku Nadia yang tadi dititipkan oleh Fajar. " Dari Fajar, dia titip kepada ku."
Pelayan cafe menghampiri mereka ketika melihat Karin masuk. Karin memesan americano, Nadia yang melihat Karin memesan itu. Dirinya jadi penasaran dan ingin mencobanya. Karena dia jadi ingat dengan perkataan Fajar tentang selera minuman yang berbeda dengan jiwanya yang tegas.
"Menurut mu, americano itu enak."
" Enak."
" Baiklah, mbak aku juga pesan americano ya."
" Serius mau coba? Bukannya kamu gak suka kopi."
" Pengen coba sesuatu yang baru." Ucap Nadia sambil cengar-cengir tidak jelas.
" Berhenti membohongi diri, kamu ada apa sih?" Tanya Karin karena dia tahu jika sedari tadi Nadia sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu padanya, biasanya dia selalu bercerita jika ada masalah. Namun gadis nampaknya seperti tengah menutupi masalah meski raut wajahnya tidak terlihat bahagia.