Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 38



Nadia mengajak Fajar kesebuah warung mie ayam kesukaannya. Kebetulan disana bukan hanya menjual mie namun juga ada bakso dan menu yang lainnya. Mereka berdua duduk dekat jendela, agar dapat melihat pemandangan diluar warung itu. " Kamu mau pesan apa?" Tanya Nadia sambil melihat menu makanan yang tertera di dinding warung.


" Aku bakso urat saja kak." Jawab Fajar.


Nadia lalu menuju depan tepat sang pemilik sedang meracik bakso untuk pelanggan yang lain. Nadia lalu memberi tahu pesanannya dan Fajar. Setelah itu dia kembali untuk menunggu pesanan makanan mereka datang.


" Kakak, nampaknya sudah pernah kesini." Ujar Fajar karena terlihat sang penjual begitu mengenali Nadia.


" Iya, soalnya menu mie ayam disini enak." Ucap Nadia.


" Biasanya kesini dengan siapa?" Tanya Fajar ingin tahu apakah hanya dia yang diajak ataukah memang sebelumnya ada yang lain yang pernah diajak Nadia ke warung ini.


"Terkadang sendiri. Soalnya Dea sama Karin susah diajak makan beginian." Ucap Nadia.


Ucapan itu membuat senyuman yang tadinya memudar kini terukir kembali dibibir Fajar, jadi Fajar merupakan cowok pertama yang diajak Nadia kesini. Fajar justru bahagia yang merasa dihormati oleh Nadia meski sebelumnya ada rasa cemburu dihatinya. Tak lama, pesanan mereka datang, Nadia tersenyum kepada sang ibu yang melayani mereka. Ketika Fajar hendak mencicipi baksonya, Nadia menahan Fajar lalu menukarkan menu makanan mereka berdua. Sebelum ditukar Nadia sudah meracik mie ayamnya dengan sambal yang lumayan banyak.


" Kenapa ditukar?" Tanya Fajar tak mengerti. Padahal dirinya hanya menginginkan makan bakso tanpa racikan apapun.


" Kamu coba saja dulu punyaku." Ujar Nadia menawarkan mie ayam pesanannya tadi.


Fajar yang melihat kuah merah itu merasa tidak sanggup untuk mencoba. Karena Fajar sedari dulu tidak bisa mencoba makan makanan pedas. Fajar berpikir jika Nadia kembali mengerjakannya seperti dulu. Dia terus menatap Nadia yang meracik baksonya itu sesuai dengan selera Nadia.


" Coba saja, rasanya gak terlalu pedas kok." Ucap Nadia terus mempersilahkan Fajar mencoba mie ayam kesukaannya itu.


Dengan ragu Fajar mulai mencicipi mie ayam kesukaan Nadia. Dan benar rasanya benar-benar enak, tetapi sensasi pedas masih terasa di lidah Fajar, sepertinya mie ayam ini akan diterima di lidah Fajar jika tidak diisi dengan sambil yang ambil. Alhasil sebelum baksonya di isi sambil yang banyak oleh Nadia, Fajar segera menukar kembali makanannya.


" Kenapa ditukar?" Ucap Nadia tidak terima, karena dia ingin Fajar menikmati mie ayam kesukaannya itu.


" Rasanya memang enak, tapi terlalu pedas di lidahku, kak." Ucap Fajar.


" Gimana sih! Padahal itu yang traktir loh. Ya udah deh, makan aja baksonya aku traktir juga kok." Ucap Nadia sambil tersenyum.


Setelah menikmati makan mie ayam dan bakso berdua. Nadia meminta Fajar untuk menemaninya menggunting rambut, sebab dirinya merasa jika rambut terlalu panjang. Tapi sebelum itu dia meminta izin dulu, takutnya Fajar ingin pulang ke kos karena tadi dia sempat terlihat murung.


" Fajar kamu mau pulang atau berbelanja lagi?" Tanya Nadia.


" Udah gak sih! Tapi kalau kakak belum mau pulang aku bisa temani kok." Jawab Fajar.


" Begini, aku mau gunting rambut ku sebentar soalnya terlihat agak panjang. Jadi kamu bisa menungguku sebentar." Ucap Nadia.


" Boleh." Jawab fajar mengiyakan. Kebetulan ini kesempatan baginya supaya lebih dekat lagi dengan Nadia. Karena selama ini Nadia tidak pernah meminta Fajar untuk menemaninya atau apapun itu kecuali perintah hukuman.


Setelah satu jam menunggu, akhirnya selesai juga. Nadia menatap dirinya sendiri di kaca, lumayan puas dengan hasil namun tetap saja di kurang percaya diri dengan tampilan barunya. Setelah mengurus semua pembayaran, Nadia menghampiri Fajar yang sedari tadi sudah menunggunya. " Maaf ya, kamu pasti lama menunggu." Ucap Nadia merasa bersalah.


" Gak apa-apa kok kak." Ucap Fajar sambil tersenyum.


" Eum.. menurut gimana? Cocok gak warna rambutnya?" Tanya Nadia dengan malu, dia tak begitu percaya diri.


" Bagus kok kak." Jawab Fajar sambil tersenyum sebab dirinya merasa jika Nadia begitu cantik dengan gaya rambutnya yang baru.


" Aku nanyanya serius! Aku gak percaya diri, soalnya aku jarang warnai rambut seperti ini." Ujar Nadia.


Sang pemilik salon mendengar penuturan Nadia, dia mendekati Nadia dengan memuji rambut Nadia yang sangat indah. Namun, Nadia malah justru merasa malu atas pujian tersebut.


" Kamu cantik dengan warna rambutmu itu. Kenapa mesti malu? Kamu tanyakan saja sama pacarmu. Dia cantik, kan?" Ujar pemilik salon.


" Ah! Kita gak pacaran kok. Dia juniorku di kampus." Bantah Nadia.


" UPS! Maaf, kirain pacaran. Soalnya cocok sih." Canda sang pemilik salon.


Fajar hanya tersenyum melihat pemilik salon yang menggoda mereka berdua. Saat pemilik salon itu pergi, Nadia kembali bertanya kepada Fajar. " Jadi gimana cocok gak?"


" Gak! Buruk!" Ucap Fajar.


" Serius?"


" Bukan rambut kak Nadia. Tapi hatiku begitu buruk jika melihat penampilan kakak semakin cantik begini." Ujar fajar dengan menampilkan senyum manisnya.


" Apaan sih!" Ucap Nadia kesal lalu keluar dari salon. Fajar segera menyusulnya.


Mereka berdua berjalan keluar dari Mall, Fajar bertanya kepada Nadia apa Nadia ingin membeli sesuatu, namun Nadia tidak ada lagi yang dibeli. Mereka berdua memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki. Karena arah kos mereka sama, Nadia merasa jika Fajar ingin mengantarnya pulang. " Kamu gak usah mengantar ku pulang. Aku bisa pulang sendiri." Ujar Nadia.


" Emang kakak berpikir aku akan mengantarkan kakak pulang."


Nadia yang mendengar itu, merasa malu karena sudah kege'eran duluan. Padahal Fajar tidak ada niat mengantarnya.


" Tapi kalau kakak mau aku antar juga tidak masalah. Toh arah kos kita sama." Ucap Fajar tersenyum karena sudah membuat Nadia berpikiran jika Fajar akan mengantarnya pulang.


" Ah, gak perlu." Nadia lalu berjalan cepat agar tidak beriringan dengan Fajar. Fajar tertawa dengan tingkah lucu Nadia. Dia sedikit berlari agar bisa menyesuaikan jalan mereka berdua.