Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Bab 72



Nadia sudah berada duluan di dalam kantor, sedangkan rekan kerjanya masih belum datang. Nadia terlihat menguap sedari tadi matanya begitu lelah. Sebab semalam dia kurang tidur karena setelah mengikuti acara penutupan itu dia tidak langsung pulang ke rumah melainkan untuk ikut nongkrong bersama teman-temannya dan juga mahasiswa baru di cafe milik Prince. Pagi lagi dia dibangunkan pagi sekali oleh Fajar untuk tak telat berangkat kerja. Makanya saat di kantor dia selalu menguap sedari tadi. Sari baru saja tiba, ada yang aneh dia datang ke kantor mengenakan kacamata hitam besar. Nadia berpikir jika sari sedang mengalami sakit mata.


" Nadia, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Sari karena menguap sedari tadi.


" Baik kak, aku cukup bisa tidur semalam." Jawab Nadia.


" Oh, gak cukup tidur atau sebenarnya kamu.. ah.. kamu terlihat seperti zombie saja. Apa kamu yakin baik-baik saja?"


" Iya kak, aku baik-baik saja kak."


" Kamu terlihat tidak baik-baik saja, lebih baik kamu mencari minuman yang manis biar bisa menambah energimu dalam bekerja. Jika nanti pak Danang melihat keadaanmu seperti itu, dia bakal menyuruhmu pulang." Saran sari kepada Nadia.


Awalnya Nadia ragu, namun apa yang dikatakan rekan kerjanya itu adad benarnya, lebih baik dia mencari minuman manis untuk menyegarkan diri. Sedari tadi dia menahan rasa ngantuk akibat dirinya yang kurang tidur. Sari terus meminta Nadia untuk segera pergi, sari seolah mengusirnya dari ruangan. Ternyata dari melakukan itu karena dia tak ingin Nadia melihat matanya yang lembam, dari segera mengambil make up dan memoles wajah dan area matanya. Agar bisa terlihat segar saat bekerja.


Nadia pergi ke cafe, dekat kantor mereka. Dia memesan minuman es susu strawberry kesukaannya. Tiba-tiba John datang dan meminta Nadia untuk memesankan minuman untuknya juga. Nadia merasa bingung, karena pesanan es latte untuk John sendiri sangat ribet menurutnya.


" Baiklah, aku akan ulangi. Aku memesan es latte yang esnya cukup setengah gelas. Gulanya dua sendok makan. Dan empat sendok makan cream tanpa susu." John mengulangi pesanannya.


" Sudahlah tidak perlu kamu ulangi, aku sudah mengingatnya. Bukankah setiap hari kamu memesan minuman yang sama." Ucap karyawan cafe tersebut.


" Baiklah. Nad, uangnya nanti ya." Ucap John lalu pergi.


" Es susu strawberry." Seru karyawan cafe.


Nadia berpikir itu untuk dia segera mengambil minuman itu, namun karyawan itu menahan dengan berkata jika itu bukanlah untuk Nadia, melainkan untuk orang lain yang duluan memesan es stroberi itu.


" Minumanku sudah siap?" Tanya seseorang yang datang dari arah belakang. Dan ternyata dia adalah Edgar.


Nadia menyapa Edgar yang juga merupakan rekan kerjanya.


" Hay nad, kamu lagi istirahat ya? Apa yang kamu pesan?" Tanya Edgar.


Nadia terkejut, biasa Edgar cuek padanya. Entah ada apa dengan pagi ini, pria itu menyapa balik dirinya.


" Oh, aku juga memesan yang sama dengan kakak, es susu strawberry." Jawab Nadia meski masih dalam keadaan canggung.


" Benarkah! Kalau begitu kamu bisa mengambilnya duluan." Ucap Edgar memberikan es susu strawberry yang belum dia minum kepada Nadia.


Nadia menolak karena dia juga harus menunggu minuman es latte milik John. Maka dari itu, dia lebih baik menunggu saja minumannya, daripada dia mengambil minuman Edgar itu akan membuat es didalam minuman itu mencari.


" Baiklah kalau begitu. Kak, aku bayarin semuanya ya." Ucap Edgar, dia membayar semua minuman termasuk milik Nadia dan John.


Edgar mulai menikmati minuman es susu strawberry miliknya. " Ini mengangkat suasana hati." Ucap Edgar merasakan dingin dan manis es susu strawberry.


Nadia yang mendengar tak menyangka, sosok cueknya Edgar ternyata menyukai minuman manis. Biasa pria sangat menyukai kopi, namun Edgar malah justru berbeda.


" Apa kakak sangat suka es susu strawberry?" Tanya Nadia.


" Tidak juga. Aku cuma ingin meminumnya ketika aku sedang merasa lelah. Entah kenapa minuman ini, bisa menambah suasana hatiku. Kamu juga suka minum es susu strawberry?" Tanya Edgar balik melihat Nadia juga memesan minuman yang sama dengannya.


" Iya kak. Bisa dikatakan aku ini sebagai pecandu es susu strawberry." Jawab Nadia.


Percakapan itu seolah memecahkan suasana canggung yang dirasakan Nadia, entah kenapa baru kali ini ada yang orang yang bertanya alasan kenapa dirinya sangat menyukai susu strawberry.


" Serius? Emangnya kamu sering minum?" Tanya Edgar terkejut. Pertama kali Edgar menemukan gadis pecandu susu strawberry.


" Iya kak. Ketika aku masih sekolah. Aku selalu dikasih minum susu setiap pagi. Tetapi untuk rasanya selalu rasa strawberry atau coklat. Namun , karena aku sering diare ketika minum susu coklat. Maka dari itu aku mulai menyukai dan meminum susu strawberry." Jawab Nadia tersenyum senang menceritakan kisah dibalik dirinya begitu menyukai susu strawberry.


"Oo, tapi aneh sekali. Biasanya orang meminumnya karena mereka sangat suka dan menjadikan minuman itu sebagai favorit. Tetapi kamu meminum itu karena kamu terbiasa meminumnya." Kata Edgar terkekeh merasa lucu dengan cerita dari Nadia.


Nadia mengangguk tersenyum begitu pula dengan Edgar. Edgar memandangi gadis itu, dia seperti ingin menyampaikan sesuatu.


" Nad, jangan terbiasa dirimu untuk dimanfaatkan di tempat kerja." Ucap Edgar kepada Nadia.


Nadia mengangguk mengerti. Percakapan itu berakhir ketika karyawan mengatakan kalau minuman es latte sudah siap. Edgar masih menunggu Nadia, mereka berdua berjalan bersama menuju ruangan kerja.


Di tempat lain, Fajar sedang berjalan melewati area kantin. Seorang gadis memanggilnya, dia meminta bantuan Fajar untuk membantu menjelaskan materi yang dia tidak mengerti. Jadi, gadia itu tengah membantu Fani dan temannya selaku mahasiswa baru untuk mengerjakan tugas, namun ada salah satu soal yang dia tidak tahu menjelaskan maka dari itu dia meminta bantuan Fajar, kebetulan Fajar terkenal dikalangan satu angkatan mereka sebagai mahasiswa cerdas.


Fajar membaca soal itu dan mulai menjelaskan kepada mereka. Fani terus menatap wajah Fajar yang berdiri dihadapannya. Fajar terlihat tampan dimatanya, bahkan dia juga ramah kepada para juniornya. Membuat hati Fani bergejolak, dan merasa kagum dengan Fajar.


Salah satu teman Fajar sangat berterima kasih kepada Fajar karena telah membantu mereka. Bahkan dia menawarkan cemilan sebagai bentuk terima kasih. Namun, Fajar menolak karena ini merupakan bentuk interaksi antara senior dan junior.


" Kak bisa bantu aku membukakan bungkusan cemilan." Ucap teman Fani bernama Gea.


Fajar membantu membukakan cemilan itu, lalu dia tersenyum. Senyumannya sangat manis di mata Fani.


" Makasih ya kak."


" Baiklah, aku permisi dulu. Nanti jika ada kesulitan kalian bisa meminta bantuan jika aku bisa maka aku akan membantu." Ujar Fajar.


Dibalik perbincangan diantara mereka, diva duduk sendirian sambil mengerjakan tugasnya. Dia melihat Fani dan Gea seperti tidak mengalami kesulitan karena senior membantu mereka. Namun, dia tak ambil pusing. Dirinya yakin jika dia bisa mengerjakan semua tugasnya sendiri.