Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 15



Fajar baru saja pulang dari kegiatan ospeknya. Fajar melepaskan sepatu dan tasnya diatas meja. Merasa begitu melelahkan, fajar membaringkan tubuhnya diatas kasur. Dia memandang dinding kasur, lalu memandang kearah jendela. Fajar bangun dari kasur, lalu membuka sedikit gorden jendelanya dan dan duduk melihat kearah kos Nadia. Terlihat Nadia keluar menuju balkon kosnya, dengan membawa keranjang. Dengan wajah cemberut gadis itu menjemur pakaian. Fajar yang memandangi gadis itu dibalik jendela kamar kosnya. Hanya bisa tertawa sekaligus tersenyum. Menurut pandangan fajar gadis itu terlihat imut saat sedang cemberut seperti itu.


Disisi lain, Mina yang sedang belajar, tiba-tiba tersenyum melihat penghapus yang diberikan fajar kepadanya. Mina mengambil penghapus itu, lalu dia menuliskan nama fajar disana. Raut wajah tersenyum senang. Lalu Mina mulai menyadari kegilaannya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Fajar sudah selesai kelasnya, dia menuruni tangga menuju kantin. Tiba-tiba seorang gadis memanggilnya. Ternyata gadis itu adalah kakak Putri yang merupakan senior fajar. Dia memberikan buku catatan pelajarannya sebab dia sudah memasuki semester akhir. Bagi putri buku catatan itu yang berarti untuk fajar.


" Terima kasih ya kak." ucap fajar menerima tas yang berisikan buku catatan pelajaran.


" Sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa." ucap putri pamit pergi meninggalkan fajar.


Fajar mengambil buku di dalam tas itu. Dia melihat semua buku itu. Memang buku yang sama dengan buku pelajaran untuk semester ini.


Seorang mahasiswa berlari menuju kelasnya fajar karena hari ini mereka ada kuliah umum. Mahasiswa itu berdiri di pintu. Melihat belum ada dosen yang masuk. Mahasiswa itu berteriak, " Senior menginginkan kita untuk memilih satu orang sebagai perwakilan seluruh mahasiswa baru dari masing-masing fakulitas untuk jam 3 sore nanti."


Mahasiswa baru yang berada di kelas itu, termasuk fajar begitu terkejut. Karena secara mendadak para panitia itu mengumumkan itu. Alhasil setelah kuliah, mereka semua berkumpul di kantin.


" Baiklah. Mari kita mulai. Jadi siapa diantara kita yang mau menjadi perwakilan mahasiswa baru." ujar Kevin sebagi pembuka.


Semua mahasiswa baru justru terdiam, tidak ada yang berani mengangkat tangannya.


" Untuk menjadi seorang perwakilan mahasiswa baru, kita harus butuh orang yang berani melawan para senior kejam itu." ujar Bima.


Alhasil gladis mengangkat tangannya dan menunjukan fajar yang menjadi perwakilan mahasiswa baru saja. Sebab dia yang paling berani melawan serta membantah omongan dari para senior. Karena itu, semua mahasiswa setuju jika fajar yang menjadi perwakilan mahasiswa baru. Namun, fajar memilih menolak sebab dia mengingat kembali perkataan Nadia kepadanya kemarin. Jika fajar terus menerus menonjolkan diri justru membuat para mahasiswa baru yang lain akan terus bergantung padanya. Fajar akhirnya menolak keputusan itu.


" Tapi hanya kamu yang berani melawan para senior itu. Jadi lebih baik kamu saja yang menjadi perwakilan mahasiswa baru." ujar Kevin menyetujui omongan gadis bahkan semua mahasiswa baru yang lain juga menyetujui hal itu.


Fajar bingung alasan yang tepat untuk menolak ajakan teman-temannya. Tiba-tiba senior datang menghampiri mereka semua.


" Fajar ku sayang." teriak senior itu memanggil fajar.


" Udah siap, kan?" tanya senior itu kepada fajar.


Fajar akhirnya bisa memberi alasan untuk tidak menjadi perwakilan mahasiswa baru. Karena hari ini dia harus photoshop untuk kontes bintang fakulitas.


" Kalian sedang rapat ya? Maaf jika aku mengganggu. Fajar, kamu udah siap belum? Kita harus segera ke ruang photoshop sebelum ruangan itu ditutup." ujar senior.


" Maaf ya teman-teman, aku harus pergi." ujar fajar.


" Kamu mau kemana?" tanya Bima.


Kevin tidak percaya jika fajar yang terpilih menjadi salah satu peserta yang mewakili fakulitas mereka. Sedangkan yoga merasa sia-sia sebab fajar harus pergi meninggalkan mereka yang harus memilih salah satu diantara mereka yang akan menjadi perwakilan mahasiswa baru.


" Idola kita malah melarikan diri. Jadi bagaimana selanjutnya?" tanya yoga.


" Lupakan saja fajar. Kita tetap dengan pemilihan kita. Jadi siapa disini yang berani menghadapi para senior?" tanya Kevin kepada seluruh mahasiswa baru di fakultasnya.


" Gladis? Bagaimana?" tanya Kevin melihat gadis yang duduk disampingnya.


Siapa tahu gladis juga berkenan untuk menjadi perwakilan mahasiswa baru untuk fakultas mereka.Gladis menolak dengan menyilang kedua tangannya sebagai kode penolakan. Kevin melihat semua teman-temannya itu, dia teringat akan Wawan yang pernah berdebat dengan Dea.


" Kalau begitu Wawan?" teriak Kevin.


Namun tidak ada sahutan dari Wawan. Kayaknya Wawan tidak ikut rapat dengan mereka semua. Tiba-tiba seorang mahasiswa datang berlari menuju mereka.


" Senior dari fakultas kita akan kesini." ujarnya penuh ketakutan sebab mereka belum menemukan perwakilan mahasiswa baru dari fakulitas mereka.


" Atau kita memerlukan seseorang yang membantu kita melalui ini dulu." ujar Kevin sebab dia takut jika mereka semua akan dihukum oleh senior dan lebih parahnya ini tentang fakulitas pasti sangat malu jika fakulitas mereka tidak ada yang berani untuk maju.


" Ya, kamu aja Kevin. Sebab saat kak Karin mengecek buku tanda tangan kamu orang selamat saat itu." ujar yoga.


" Itu karena aku satu kos dengan para panitia senior. Tapi sebelum mendapatkan tanda tangan mereka. Mereka memperalat ku layaknya pembantu." ujar Kevin takutnya teman-temannya itu salah paham.


" Lalu... kamu udah dapat berapa tanda tangannya?" tanya Bima sebab dia masih sedikit mendapatkan tanda tangan.


" Lumayan banyak lah." jawab Kevin.


Semua teman-temannya terkejut mendengar jawaban Kevin. Mereka tidak percaya jika Kevin bisa mendapat tanda tangan senior dengan lumayan banyak. Karena itu yoga mengatakan untuk masalah itu lebih baik Kevin saja yang sementara menjadi perwakilan mahasiswa baru dari fakulitas mereka. Meski ingin menolak, namun berhubung senior sebentar lagi mendekat. Mau tidak mau Kevin terpaksa menerimanya. Teman-temannya pada senang setidaknya ada yang berani mewakili mereka semua.


Disisi lain fajar baru masuk kedalam ruangan photoshop. Dimana citra sedang bergaya didepan kamera. Senior yang mengajaknya tadi bernama Mika. Dia memperkenalkan senior selalu fotografer yang bernama Gilang kepada fajar dan juga memperkenalkan citra sebagai perwakilan perempuannya kepada Fajar. Tentu saja fajar mengenali citra sebab citra merupakan teman satu angkatan dengannya.


Citra menghampiri fajar menanyakan tentang pertemuan mereka adakan untuk memilih perwakilan mahasiswa baru dari fakulitas mereka.


" Bagaimana hasilnya? Siapa yang menjadi perwakilan mahasiswa baru dari fakulitas kita?" tanya citra, sebagai teman seangkatan dia juga ingin tahu akan hal itu.


" Aku udah diajak kesini saat sedang pertemuan, jadi belum tahu hasilnya. Sejak kapan kamu disini?" tanya citra sebab citra sudah duluan melakukan photoshop.