
Nadia kembali ke ruangannya, nampak semua karyawan disitu begitu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Di bagian pembelian karyawan hanya tiga orang saja ditambah Nadia dan juga manajer maka totalnya yang bekerja di bagian itu hanya empat orang saja. Nadia terlihat murung, karyawan lain nampaknya tak memperdulikannya. Seharusnya dari awal saat dirinya belum bertemu, Edgar setidaknya memberitahu tentang ibu Ega kepadanya. Nadia sedikit kesal, karena hal itu dia dimarahi oleh ibu Ega. Nadia duduk di kursinya dengan wajah kesal. Dia menatap Edgar dengan penuh dendam karena sudah membuat dirinya berhadapan dengan ibu Ega yang galak itu.
" Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu? Apa kamu dimarahi oleh ibu Ega?" Tanya Edgar melihat Nadia nampaknya begitu saat masuk kedalam ruangan.
" Iya kak." Jawab Nadia, meski dalam hati dirinya ingin berkata gara-gara Edgar dirinya harus menghadapi Omelan dari ibu Ega.
" Ibu Ega memanglah agak pemarah, tapi sebenarnya dia orangnya baik kok." Kata Edgar setidaknya itu bisa menenangkan Nadia.
Seharusnya kalimat itu dikatakan sedari tadi saat dia belum berhadapan dengan ibu Ega. Karena sudah terlanjur dimarahi mau bagaimana lagi. Nadia masih merasa kesal dengan Edgar. Setidaknya sedari tadi diberitahu, Nadia sudah terlanjur kesal dengan Edgar. Tiba-tiba sang manajer datang ke ruangan mereka.
" Semuanya, dengar, kalian pasti sudah mengenal Nadia. Dia karyawan baru si bagian kita, baru pagi ini dia bergabung dengan kita. Sekarang kamu perkenalkan dirimu kepada mereka." Kata pak Danang selaku manajer, karena hari ini adalah hari pertama Nadia bekerja dengan mereka perlu adanya penyambutan mungkin tak terlalu mewah, tetapi cukup dengan perkenalan diri, setidaknya ketiga karyawan bisa mengenal Nadia dan mungkin akan menambah keakraban mereka dalam bekerja sama.
Nadia berdiri dengan malu-malu, rasanya begitu aneh, baru saja dia bekerja lalu dimarahi sekarang diminta memperkenalkan diri kembali kepada teman-teman kerjanya. " Hallo semuanya, nama ku Nadia. Aku lulusan dari universitas Jakarta, sarjana teknik. Senang bertemu dengan kalian semua, aku harap kita semua dapat bekerja sama demi perusahaan."
" Baiklah, Nadia sudah memperkenalkan diri. Jadi malam ini kita akan makan malam merayakan hari penyambutannya." Kata pak Danang, setidaknya kedatangan karyawan baru perlu dirayakan.
" Tapi, kami..." Sari sepertinya ingin mengeluh karena kedatangan tepat tanggal tua, pastinya gaji mereka bulan ini sudah menipis. Jadi sangat disayangkan jika harus mengeluarkan hanya untuk merayakan penyambutan karyawan baru.
" Tenang, aku yang traktir." Ucap pak Danang, dia sudah tahu maksud dari sari, itulah sebabnya dia langsung memotong pembicaraan, takutnya tidak enak jika Nadia mendengar.
" Kami jadinya gak sabar ingin makan malam bersama Nadia. Kita makan apa ya? Shabu-shabu, gimana?" Seru Sari dengan antusias, bagaimana tak bahagia jika bisa makan malam dengan gratis malam ini. Tentunya Sari akan memilih tempat makan yang mahal, karena sang manajer pastinya memiliki gaji lumayan besar dari mereka.
" Sari. Soal beginian kamu pasti cepat banget." Ucap John.
" Baik, kalau begitu, berikut waktu beberapa menit lagi untuk menyelesaikan pekerjaan." Kata Pak Danang ingin kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Mereka berempat sudah sampai di sebuah restoran Jepang, mereka sudah mulai makan. Nadia yang tadinya masih canggung sudah mulai berbaur sedikit demi sedikit dengan ketiga teman kerjanya itu. Mereka sangat menikmati makan yang ditraktir oleh pak Danang, meski sang manajer belum berada bersama mereka. Pak Danang datang dan duduk bersama, dia sepertinya terburu-buru, dia mereka tak enak sebab makan malam ini adalah penyambutan Nadia, dia malah datang terlambat.
" Maaf, jika aku sudah membuat kalian menunggu, sebelum kesini anakku menelpon. Dia curhat soal kampusnya." Kata Danang merasa tidak enak dengan Nadia.
" Apa pak Danang tak masalah jika malam ini tak makan malam bersama keluarga?" Tanya Edgar, justru juga merasa tak enak karena harus menarik pak Danang untuk makan malam bersama mereka demi menyambut Nadia sebagai karyawan baru.
" Gak apa-apa. Anakku sudah pindah di kos dekat kampusnya. Lebih baik begitu, biar dia nambah pengalaman sekaligus punya banyak teman." Kata Danang.
" Setuju sekali, pak." Ucap Edgar.
" Bukan itu alasannya, sebenarnya sudah lama kita gak menyambut karyawan baru seperti ini. Dan juga kalian bertiga sudah bekerja keras, jadi aku ingin memberikan kalian hadiah atas kerja keras kalian." Kata Danang, mestinya dia bisa dikatakan sebagai manajer yang baik untuk para karyawannya.
" Jangan berkata seperti itu pak Danang, kita ini gak bekerja sekeras itu, kok. Pak Danang justru membuat Nadia menjadi takut." Ujar Sari.
Ujaran Sari membuat Nadia tertawa, karena di hari pertama saja dia sudah merasa namanya kerja keras akibat dimarahi oleh ibu Ega, bukankah itu juga bentuk kerja keras. Mendengar dan dibentak itu juga bentuk kerja keras bagi Nadia karena tadi siang.
Makan malam bersama telah berakhir, mereka lalu berpamitan. Saat hendak pergi ponsel Nadia berdering, terpaksa Nadia membiarkan yang lain pulang duluan. Dia mengangkat telepon dari Fajar sambil tersenyum. Setidaknya ada satu orang penyemangat, yang menyemangati dirinya yang lelah seharian bekerja.
" Hallo, Fajar. Bagaimana? Ospeknya sudah selesai?"
" Sudah selesai beberapa jam yang lalu. Ini saja aku dalam perjalanan pulang. Bagaimana, kak Nadia sudah pulang?" Tanya Fajar dalam sambungan telepon.
" Belum, aku baru saja selesai makan malam bersama rekan-rekan ku."
" Bagaimana hari pertamamu bekerja di bagian pembelian?"
" Yah.. terkadang ada saat-saat semua sangat sibuk. Bahkan aku merasa aneh, ketika aku merasa jika diriku seperti mahasiswa baru yang baru saja dibentak oleh seniornya. Bisa semacam itu saat pertama kali bekerja. Lalu bagaimana dengan mu? Apakah berjalan mulus? Semua kegiatan berjalan lancar-lancar saja, kan?"
" Semua mahasiswa baru begitu kooperatif. Mahasiswa yang ikut kegiatan jumlahnya lumayan banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya."
" Jadi, kamu benar-benar ingin mengalahkan ku ya? Aku sudah bilang jadi ketua ospek itu gak mudah, itu baru permulaan."
" Jika aku bisa menjadi ketua ospek yang baik dari awal hingga akhir, apakah kak nadia akan memberikan ku hadiah?"
" Astaga, kamu ini! Selalu saja minta hadiah. Baiklah, katakan saja, biar aku pertimbangkan serta melihat apakah kamu bisa mengemban tugas ini sampai akhir dengan baik."
" Lalu bagaimana dengan tugasku sebagai suami? Kalau aku melakukan tugasku dengan baik, apakah aku akan mendapatkan hadiah?"
" Tentang hal itu, aku harus pikirkan baik-baik." Ucap Nadia sambil tersenyum. Sejujurnya dia sudah tersipu malu bahkan ingin berteriak, namun dirinya harus mengontrol diri sebab dia masih berada di area depan restoran.
" Untuk hadiah yang kedua ini, boleh aku meminta.. sesuatu yang Bagus. Ucap Fajar sambil menekan kata bagus seolah merujuk kearah lain.
" Fajar!" Teriak Nadia dalam telepon lalu tertawa. Fajar bisa membuat harinya menjadi cerah kembali.