Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 92



Celina makan siang sendirian di kantin, Celina masih merasa sedih karena tidak bisa bekerja di depertemen produksi. Padahal Celina sangat ingin banyak di bagian tersebut. Di tambah dia semakin dekat dengan Toni, dan Toni sering menceritakan serunya bekerja di bagian produksi. Membuat Celina semakin tertarik untuk bekerja dibagian tersebut. Namun kini dia harus menelan rasa kecewa karena dia tidak ditempatkan di depertemen produksi.


Toni datang dengan membawa makanannya, dia sudah tahu jika Celina ditempatkan di depertemen QC sudah sejak lama. Dia tidak memberitahu Celina mengenai hal itu. Toni sudah mencoba untuk mencegah agar Celina tetap bekerja di bagian produksi, namun di depertemen QC juga membutuhkan bantuan Celina, karena gadis itu sangat baik dalam bekerja. Toni terpaksa harus mengalah, dia juga tidak ingin berpisah dengan Celina. Namun mau bagaimana lagi, ini demi perusahaan dan perusahaan yang sudah menentukan dimana Celina ditempatkan bekerja.


Toni duduk didepan Celina, terlihat gadis itu sepertinya masih sedih. Wajah gadis itu terus menunduk sambil menyantap makan siangnya. Suasananya menjadi canggung, biasa mereka berdua sering becanda.


" Celina, bagaimana bekerja di departemen QC?" Tanya Toni kepada Celina.


" Baik-baik saja." Jawab Celina, namun dia terkejut dengan pertanyaan Toni. Sepertinya Toni sudah mengetahui tentang perpindahannya.


" Kak Toni sudah tahu soal itu?"


" Iya, sebelum kamu tahu." Jawab Toni.


Celina merasa kecewa dengan Toni. Selama ini mereka sering berdua bahkan Toni sering menceritakan tentang pekerjaannya yang membuat Celina berkeinginan untuk bekerja di departemen yang sama dengan Toni. Namun, Toni tidak memberitahu kepadanya, jika dia harus pindah ke depertemen QC. Suasananya kembali canggung, Celina tidak banyak bicara lagi, dia begitu kecewa dengan Toni.


" Ah, perusahaan akan mengadakan liburan bersama di pantai. Apa kamu mau ikut?" Tanya Toni.


" Tentu saja." Jawab Celina.


Keduanya kembali menyantap makan siang mereka dengan suasananya canggung. Toni merasa bersalah kepada Celina, seharusnya dari awal dia memberitahu hal itu padanya. Pasti Celina merasa kecewa dengannya.


Fajar menerima telepon dari Kevin, dia meminta izin kepada Kevin jika beberapa hari ini dia akan sibuk. Karena perusahaan mengadakan liburan bersama di pantai untuk beberapa hari ke depan. Hal itu membuatnya tidak bisa hadir dipertemuan yang akan diadakan untuk pengangkatan anggota panitia ospek yang baru. Dia meminta Kevin untuk mewakilinya sementara.


Sedangkan Kevin yang sedang dalam perjalanan pulang dari tempat dia bekerja, mendapatkan telepon dari Fajar, dan menerimanya. Kebetulan dia tidak begitu sibuk jadi masih punya waktu. Setelah selesai menelepon, Kevin melihat Diva yang sudah tertidur. Kepala diva menyender di bahunya. Kevin tersenyum melihat gadis itu. Semenjak kejadian itu, mereka semakin dekat. Dan bahkan Diva menunggunya untuk pulang bahkan berangkat bersama. Diva akan menunggu Kevin di cafe, agar dia bisa menunggu Kevin untuk naik bus bersama. Kedekatan itu membuat sebuah getaran di hati Kevin, namun Kevin masih belum menyatakannya. Dia takut jika diva akan menghindarinya.


Sebelum pulang, semua karyawan diminta untuk berkumpul. Cantika dan Danang berdiri di panggung, mereka berdua yang akan menjadi bagian pengisi acara selama liburan nanti. Cantika meminta semua karyawan satu persatu ke depan untuk mengambil kertas, untuk melihat dengan siapa mereka berkelompok. Karyawan dari berbagai depertemen akan membentuk kelompok secara acak melalui kertas yang sudah mereka ambil.


Nadia begitu penasaran dengan kertas yang dimiliki oleh Fajar. Dia ingin tahu apakah Fajar satu kelompok dengannya atau tidak. Namun, dia malu untuk bertanya kepada Fajar, karena fajar pasti akan menggodanya. Nadia berdoa dalam hati agar Fajar tidak berkelompok dengan wanita dari depertemen lain ataupun bersama dengan Cantika. Kerana Nadia tidak ingin jika Fajar di goda oleh wanita lain selain dirinya.


Sesampainya di kos, Nadia masih penasaran dengan isi kertas milik Fajar. Saat Fajar tengah mandi, dia berpura-pura melihat agar tidak diketahui oleh Fajar. Dan begitu senangnya dia karena Fajar satu kelompok dengannya. Nadia begitu bahagia, akhirnya dia bisa mengawasi Fajar secara dekat. Begitu bahagianya, dia sampai berteriak dan melompat kegirangan. Fajar melihatnya dengan menatap Nadia aneh.


" Kamu kenapa?" Tanya Fajar karena melihat Nadia kegirangan sendiri.


" Tidak apa-apa." Ucap Nadia berbaring di kasur, dia melihat kemeja putih milik Fajar, beruntung dia sudah meletakkan kertas itu disaku kemeja putih milik Fajar.


" Kamu pasti penasaran dengan siapa yang berkelompok atau kamu ingin tahu apakah aku berkelompok denganmu atau tidak? Iya, kan?" Tanya Fajar dengan menatap Nadia curiga.


Fajar hanya tersenyum, meski Nadia menutupinya. Fajar sudah tahu dengan tingkah laku istrinya. Mereka sudah menikah sudah lama, jadi dia tahu sikap istrinya yang sedang salah tingkah karena ketahuan olehnya.


Perjalanan begitu memakan waktu cukup lama saat sampai di pantai. Namun kali ini pilihan liburan yang begitu indah menurut Fajar, karena tempat wisata yang lumayan cantik serta penginapan yang menghadap ke arah pantai. Tidak salah bagi Fajar memilih bekerja di perusahaan yang sama dengan Nadia, perusahaan tersebut begitu memberikan perhatian kepada semua karyawan dengan baik.


Semua karyawan sudah turun dari bus satu persatu, namun Fajar belum juga turun melihat Nadia yang duduk disampingnya masih tertidur. Dia tidak ingin melepaskan momen ini begitu saja. Nadia begitu cantik saat terlelap, apalagi ditambah view yang diluar jendela bus yang juga begitu cantik.


" Perpaduan yang sempurna." Ucap Fajar memotret istrinya itu secara diam-diam.


Nadia terbangun, dia melihat Fajar yang duduk disampingnya sambil bermain ponsel. " Kamu ngapain? Kamu memotret ku ya?" Tanya Nadia.


" Tidak! Aku cuma memotret view di luar jendela bus, kelihatan cantik." Jawab Fajar berbohong.


" Ayo kita turun!" Ucap Nadia melihat semua karyawan sudah turun.


Cantik dan Danang yang merupakan pengisi acara, mereka meminta semua karyawan untuk berkumpul sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan. Mereka berdua akan mengumumkan perlombaan apa saja yang akan diadakan di pantai nanti.


Di mulai dari lomba yang simpel seperti mengisi paku dalam botol sampai ke lomba berenang dan bola voli. Nadia begitu bersemangat, bahkan saat Fajar mewakili kelompok untuk mengisi paku dalam botol. Nadia terus berteriak menyemangati Fajar. Setelah semua perlombaan selesai, semua karyawan boleh menikmati waktu mereka seperti berenga di pantai, menikmati cemilan atau sekedar bersantai di pantai menikmati air kelapa.


Fajar mulai menjahili Nadia, membuat Nadia mengejarnya. Mereka berdua bahkan berenang di pantai bersama. Keseruan mereka ciptakan, setelah sekian lama mereka berdua tidak menikmati waktu seperti ini.


Mereka berdua duduk di pantai, matahari masih menerangi. Fajar terus melihat wajah istrinya yang terus tersenyum. Dia bisa kebahagiaan yang dirasakan oleh istrinya.


" Apa kakak menyukai pantai?" Tanya Fajar.


" Aku sangat menyukainya. Pantai memang wahana yang bagus untuk berkumpul bersama keluarga. Meski aku sedikit takut, dengan ombak. Kalau kamu, juga menyukainya?"


" Iya, aku juga menyukainya. Apalagi bersama kak Nadia."


" Berhenti menggombal!"


" Tidak bisa! Kakak sadar jika pantai ini akan terlihat cantik jika yang mengunjungi cantik seperti kakak."


" Fajar! Berhenti menggombal!" Teriak Nadia.


Fajar akan tahu apa yang akan terjadi, sehingga dia segera berdiri dan berlari. Nadia mengejar Fajar. Hingga terjadi aksi kejar-kejaran antara mereka. Fajar terus tertawa, momen langkah untuk mereka harus benar-benar disimpan di memori Fajar.