Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 89



John mengirim pesan kepada dari untuk bertemu secara diam-diam. John ingin mengajak sari gabung bersama dengannya untuk mengikuti perlombaan. Namun, kali ini bukan sebagai tim untuk berbagi ide. Tetapi dia menugaskan dari untuk secara diam-diam mengikuti Edgar dan Nadia. Dia meminta sari melakukan itu untuk menguping ide yang akan Edgar dan Nadia berikan untuk perlombaan nantinya. Awalnya dari menolak karena pembagian hasil perlombaan tidak secara merata. Karena tugas untuk menguping dan melihat ide orang lain bagi sari itu tidaklah gampang. John dengan ambisi ingin mengalahkan Edgar dan Nadia, dengan berat hati membagikan hasil juara nanti sama rata dengan Sari.


Edgar mengajak Nadia makan di restoran daging yang tidak jauh dari tempat mereka bekerja. Sari yang tadinya menolak ajakan Edgar karena ingin diet, kembali meminta untuk ikut karena mengingat tugas yang diberikan John untuknya. Tidak lupa Edgar mengajak Fian untuk bergabung bersama mereka setelah selesai bekerja.


Kini mereka berempat tengah menikmati daging, Nadia mengambim saus karena melihat saus untuk celupkan daging tersisa sedikit. Saat Nadia tengah mengambil saus, Toni datang menyapanya.


" Hey, nad."


" Kak Toni. Kakak dengan siapa kesini?" Tanya Nadia melihat Toni sendirian.


" Aku dengan anggota ku." Melihat ke arah pintu masuk. Dimana Fajar dan Celina tengah memapah cheri karena cheri masih terlihat lemas akibat kesetrum tadi pagi.


Cheri terlihat begitu manja kepada Fajar, cheri seolah dirinya merasa begitu lemah dihadapan fajar. Sering kali dia memanggil nama fajar dengan nada manjanya. Meminta Fajar membantu berjalan karena kakinya masih terasa lemas.


Nadia yang melihat mereka bertiga, merasa tidak suka dengan cara cheri yang bermanja-manja dengan Fajar. Namun, dia tidak bisa menunjukan raut wajahnya itu. Dia berpura-pura tersenyum sambil menanyakan keadaan cheri.


" Kak cheri baik-baik saja? Kelihatan baik ya."


" Baik apanya! Badanku masih terasa lemas. Kamu bisa tahu?"


" Aku tahu dari kak sari soal kamu."


" Lalu, kamu kesini dengan siapa? Bolehkah kami ikut bergabung?" Tanya Toni kepada Nadia karena melihat Nadia sendirian.


Nadia tidak ingin bergabung bersama mereka. Namun, dia dia juga tidak suka melihat kelakuan cheri yang berpura-pura sakit dihadapan Fajar. Dia tidak suka melihat cheri yang terus menempel kepada Fajar. Dengan terpaksa dia menerima mereka untuk bergabung, namun dia meminta Fajar untuk duduk disampingnya. Sedangkan cheri duduk disampingnya Sari.


Cheri yang genit, mulai mengeluarkan aksinya saat melihat Fian. Bagaimana cheri tidak tertarik dengan Fian, ponakan direktur lulusan luar negeri. Sari begitu tidak menyukai sikap cheri yang terus melirik kearah Fian.


" Kak Toni, apa salah datang kesini tanpa mengajak cheri?" Tanya Sari kepada Toni karena tidak suka dengan keberadaan cheri didekatnya.


" Sari, asal kamu tahu. Kemana Toni pergi harus ada aku. Aku dan kak Toni tidak bisa dipisahkan. Karena aku adalah ikon di depertemen produksi."


Sari semakin kesal dengan sikap Cheri, dia mengahlikan pembicaraan dengan menanyakan kepada Toni tentang perlombaan yang diadakan oleh perusahaan.


" Aku kayaknya tidak akan ikut lomba. Karena pekerjaan ku masih menumpuk." Jawab Toni.


Cheri mengatakan jika dia yang akan ikut perlombaan itu. Dia lalu mencoba untuk mengajak Fian bergabung dengannya. Sari tidak suka melihat cheri terus mengajak Fian bergabung bersamanya. Hingga mereka berdua bertengkar karena hal itu.


Sedangkan dibalik pembicaraan mereka, Fajar terus membimerikan perhatian kepada Nadia. Dia terus memanggang daging dan memberikan daging itu kepada Nadia. Nadia memintanya untuk berhenti namun tetap saja Fajar terus melakukannya.


" Cukup, fajar!" Bentak Nadia kepada Fajar.


" Sudah, fajar jika Nadia tidak mau dengan daging. Sini berikan padaku. Aku masih ingin makan yang banyak." Ucap cheri membuat suasana kembali ceria.


Bahkan sari memberikan piringnya supaya Fajar bisa memberikan daging yang dipanggangnya untuk sari. Sari dan cheri rebutan untuk bisa mendapatkan daging yang dipanggang oleh Fajar. Sedangkan Nadia menunduk melihat malu namun juga kesal melihat tingkah laku sari dan cheri yang mencari perhatian kepada Fajar.


Setelah selesai makan, karena Fajar dan Nadia tinggal bersama. Mereka berdua memutuskan untuk pulang bersama. Kali ini mereka tidak mengendarai motor. Mereka memilih untuk jalan kaki, karena motor Fajar mogok tadi siang sehingga motor itu harus beristirahat di bengkel. Nadia berjalan duluan sedangkan Fajar berada dibelakangnya.


" Fajar. Kenapa jalan mu sangat lambat?" Tanya Nadia karena melihat Fajar terus berjalan dibelakangnya.


" Aku tidak tahu seberapa panjang aku harus menjaga jarak dengan kakak." Ucap Fajar.


Nadia terdiam, dia berjalan mendekati Fajar. Tanpa menjawab Nadia menarik tangan Fajar berjalan bersamanya hingga sampai ke kos mereka. Tidak ada pembicaraan selama berjalan berdua, hanya tangan mereka yang saling menggenggam satu sama lain.


Nadia meminta Fajar untuk membantunya mengetik ide sekaligus mendesain gambar sesuai dengan ide yang akan dia ajukan untuk kontes nanti. Kebetulan pagi itu Fajar tidak ada pekerjaan di depertemen produksi. Jadi, Nadia bisa meminta Fajar untuk membantu. Fajar duduk didepan layar komputer, sedangkan Nadia berdiri melihat dokumen untuk menambah ide yang nantinya akan di ketik oleh Fajar. Fajar sudah bersiap di depan komputer. Nadia menyentuh meminta Fajar untuk mundur karena wajahnya terlalu dekat dengan layar, sebagai seorang istri dia memberika perhatian agar Fajar tidak terlalu dekat dengan layar laptop karena itu tidak bagus untuk matanya.


" Ingat ya, jika aku menang dalam kontes nanti bonusnya itu untuk aku sendiri." Bisik Nadia kepada Fajar.


" Kenapa bisa begitu? Aku sudah membantu. Tapi, tidak masalah aku juga akan mendapatkan bonus darimu."


" Bonus apaan! Tidak ada! Bonus itu hanya untuk milikku." Nadia mempertegas hal itu.


" Iya.. tapi bonus yang lain bisa dong?" Ucap Fajar ingin menggoda Nadia dengan mengedipkan sebelah matanya.


" Tidak ada!" Nadia menjadi tersipu.


Edgar yang sedikit cemburu melihat kedekatan Nadia dan Fajar, memanggil Fajar untuk membantunya sebentar. Dia meminta tolong kepada Fajar untuk mengantarkan dokumen kepada ibu Ega dibagian akuntansi. Fajar mengambil dokumen itu, tetapi sebelum pergi dia berbisik kepada Nadia.


" Aku akan segera kembali." Ucapnya sambil tersenyum manis.


Mendengar akan nama ibu Ega, Nadia teringat akan ibu Ega yang terkenal akan galaknya. Nadia teringat akan momen dirinya saat pertama kali bertemu dengan ibu Ega, serta momen saat mengantarkan dokumen bersama Fian. Khawatir akan Fajar berbuat kesalahan didepan ibu Ega. Dia kembali memanggil Fajar. Namun, Fajar sudah pergi dan tidak mendengar panggilan.


" Nad, kenapa kamu terus memanggil Fajar seperti itu?" Tanya Edgar.


" Itu dokumennya akan di antar ke ibu Ega yang di depertemen akuntansi, kan?"


" Iya, emangnya ibu Ega siapa lagi? Nama ibu Ega cuma dia saja."


Nadia terdiam, dia tidak bisa membayangkan bagaimana ibu Ega memarahi Fajar jika Fajar melakukan kesalahan didepannya. Nadia menjadi khawatir dengan Fajar.