Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 53



Setelah selesai makan malam di perjalanan pulang, Nadia teringat sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada Fajar. " Fajar, aku mau kasih tahu kamu sesuatu." Kata Nadia kepada Fajar saat perjalanan pulang ke kost.


" Apa?" Tanya Fajar kepada Nadia.


Nadia mengambil dompet yang dibawanya, mengambil sesuatu didalam dompet itu. Yang ternyata adalah gelang miliknya, yang dulu pernah dia dapatkan saat masa ospek. " Ulurkan tangan mu." Ucap Nadia.


Fajar mengikuti perintah Nadia dengan mengulurkan telapak tangannya, Nadia memberikan gelang itu kepada Fajar. " Tolong, simpan ini untukku ya." Ucap Nadia tersenyum.


Karena Fajar yang memintanya duluan menyimpan gelang milik Fajar, Nadia juga ingin jika Fajar juga menyimpan gelang milik. Gelang itu melambangkan hati mereka sebagai mahasiswa fakultas teknik, maka artinya mereka berdua saling menyimpan hati satu sama lain. Nadia menjadi malu, dia berjalan duluan, Fajar tersenyum menatap gelang milik Nadia yang kini ada digenggamnya lalu segera menyusul Nadia yang duluan berjalan.


Nadia tengah makan siang dengan teman-temannya di kantin, tiba-tiba beberapa gerombolan mahasiswa junior termasuk Fajar tengah berjalan membawa makanan dan minuman mereka. Sedari tadi mereka mencari tempat duduk, karena semua kursi sudah terisi penuh oleh mahasiswa lain yang juga tengah menikmati makan siang mereka. Prince yang melihat mereka akhirnya bertanya, " kalian mencari tempat duduk ya? Kalau begitu duduk disini saja, kebetulan kami sudah selesai."


Bima yang berdiri paling depan, merasa tak enakan karena Dea, Karin dan Nadia sepertinya belum selesai makan. Prince memahami pandangan dari juniornya itu, segera dia meminta ketiga sahabatnya untuk segera menyelesaikan makan siang mereka, karena kasihan para junior yang harus segera makan siang karena takutnya akan ada mata kuliah lagi setelahnya. Ketiga gadis itu menyudahi makan siang mereka, saat yang lain sudah pergi Nadia seperti ingin berbicara dengan Fajar.


" Eum.. Fajar.." ucap Nadia dengan malu-malu.


" Iya kak, ada apa?" Tanya Fajar kepada Nadia.


" Hari Sabtu nanti, kamu ada waktu gak?" Tanya Nadia, sepertinya Nadia ingin mengajak Fajar untuk berkencan.


" Ada." Jawab Fajar,


" Ada yang aku ingin belikan, bisakah kamu temani aku Sabtu nanti?"


" Bisa kok kak. Kakak sengaja bilang mau beli sesuatu, karena mau ngajak ku kencan ya." Goda Fajar kepada Nadia.


Mimik wajah Nadia yang tadinya malu-malu berubah sangar, akibat digoda oleh Fajar, apalagi didepan teman-temannya fajar sendiri. " Gak!" Bentak Nadia lalu pergi.


Fajar hanya bisa tersenyum senang karena berhasil membuat Nadia malu. Yoga yang melihat itu, akhirnya bertanya, " Fajar, kamu gangguin kak Nadia lagi ya?" Karena selama ospek Fajar selalu membuat Nadia marah, jadi jika Nadia membentak seperti tadi sepertinya Fajar kembali berulah dengan membuat senior mereka itu marah.


" Beruntungnya kegiatan ospek sudah berakhir, jika gak kamu akan dapat hukuman tadi." Kata Bima mendengar pertanyaan Yoga, karena Fajar menganggu Nadia.


" Gak, aku gak mengganggunya." Jawab Fajar senyuman dibibir tak bisa hilang, karena senyuman mewakili hatinya yang tengah berbahagia.


Hari Sabtu, hari dijanjikan untuk jalan berdua telah tiba. Sama halnya seperti saat mereka jalan berdua, Fajar selalu datang paling awal dengan mengenakan kemeja serta celana jeans bahkan rambut disisir kebelakang biar rapi dan tampan. Dia menunggu ditengah pusat perbelanjaan seperti yang telah dijanjikan oleh Nadia kepadanya. Dan lagi-lagi Nadia telat datang, bukan seperti gadisnya yang tengah berkencan, Nadia mengenakan pakaian yang sangat sederhana, cuma sebuah kaos putih dengan celana jeans panjang. Nadia datang dengan tergesa-gesa.


" Aku juga baru saja sampai kok. Jadi, apa yang ingin Kaka Nadia belikan?" Tanya Fajar kepada Nadia.


" Ikut aku." Ucap Nadia berjalan duluan dari Fajar, dan Fajar mengikutinya dari belakang.


Nadia mengajaknya di sebuah tempat jualan perlengkapan bayi, " Kenapa kakak mengajakku ditempat ini?"


" Kak Laras bilang jika dirinya tengah hamil sekarang. Aku berencana memberikannya hadiah.enurutmu hadiah mana yang cocok?" Tanya Nadia kepada Fajar.


" Bagaimana dengan kartu?" Fajar memberikan usul agar Nadia memberi kartu selamat seperti yang dia sarankan saat Nadia bingung memberikan hadiah pernikahan.


" Gak, gak mau. Kemarin aja aku kasih kartu selamat, malah ditertawain. Lebih baik beli yang lain saja. Aku berencana mau beli mainan gitu untuk anaknya. Menurut kamu gimana?" Nadia menolak saran untuk membeli lagi kartu ucapan selamat.


" Tapi kak, kak Laras baru hamil muda. Kak Nadia juga belum tahu anak yang di dalam kandungan itu cowok apa cewek. Kalau beli mainan harus sesuai dengan gender bayinya dong. Dan kak Laras hamil masih dua bulan, menurut ku itu terlalu dini untuk membelikannya sesuatu." Kata Fajar.


" Oke. Maksudku, aku masih kasih surprise gitu. Bagaimana kalau belinya yang tak sesuai gender. Yang bisa di mainin oleh cowok maupun cewek, netral gitu. Kamu mengerti, kan maksud aku?" Kata Nadia kepada Fajar, dia takut jika Fajar bakal salah paham bahwa ajakannya kesini untuk membeli kado untuk anak Laras seniornya bukannya untuk berkencan. Fajar tersenyum, semakin Nadia mengelak terlihat semakin jelas, membeli kado untuk Laras yang alasan saja.


" Malah senyum. kamu punya adik sepupu, kan? Coba beri aku saran." Ucap Nadia dengan meminta bantuan Fajar.


" Karena adik sepupu ku ini cewek, yang pasti dia sangat suka jika diberi kado seperti boneka atau barang-barang yang menggemaskan dimatanya. Tapi lain untuk anak cowok. Jika dipikirkan, entah kenapa aku ingin punya anak cowok. Bagaimana menurut mu, kak Nadia?" Kata Fajar. Kalimat terakhir seolah membuat tersadar, jika dirinya tak bisa secepatnya nikah dengan Fajar, karena dirinya masih tak mau memiliki anak. Jika pun mereka menikah, Nadia ingin dirinya tetap menjalani karir tanpa harus memikirkan soal anak. Nampaknya disini, Nadia dan Fajar sudah beda pemikiran.


Fajar mulai menyadari jika Nadia sedari tadi hanya diam, dia lalu menyapa Nadia lagi. Membuat Nadia terkejut, karena sedari tadi dirinya terlamun oleh pikirannya.


" Kak Nadia, kita masih punya waktu? Bagaimana setelah ini kita nonton film. Kebetulan jam seperti ini pasti ada beberapa film yang menarik dan belum tanyang, kita ada kesempatan untuk menontonnya setelah ini." Kata Fajar, dia ingin merasakan kencan bersama Nadia sambil menonton film.


Nadia malah fokus ke tali yang pernah dia ikat ditangan Fajar, Fajar masih memakainya sampai sekarang, padahal ospek sudah berlalu begitu lama. " Fajar, itu tali yang aku ikatkan, itu kamu sudah bisa melepaskannya, lihatlah talinya sudah semakin kotor." Ucap Nadia.


Fajar melihat tali yang terikat di pergelangan tangannya, " Kak Nadia yang mengikatnya, itulah sebabnya sayang bagiku untuk melepaskannya." Ucap Fajar, Nadia hanya mengangguk lalu pergi membeli nutrisi untuk ibu hamil.


Setelah urusan pembelian telah selesai mereka berdua langsung menuju bioskop untuk nonton bersama. Tak sengaja mereka bertemu dengan Citra yang kebetulan juga ingin menonton.


" Hay Fajar, kak Nadia. Kalian berdua nonton bersama?" Tanya Citra saat dirinya melihat Fajar dan Nadia bersama.


Nadia yang merasa malu mengakui status pacaran mereka, sengaja mengatakan jika mereka tak sengaja bertemu makanya mereka bisa bersama seperti yang dilihat oleh Citra. Fajar yang mendengar dia hanya bisa melihat Nadia tanpa berkomentar lagi. Dalam hati Fajar ingin mengatakan sebenarnya tentang hubungan mereka, namun Nadia sudah kedahuluan mengatakan yang lain. Fajar hanya bisa diam, meski sakit tak diakui di orang lain. Namun karena Fajar merasa jika Nadia butuh waktu untuk itu, dia hanya bersabar menunggu waktu.