Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 83



Fajar telah tiba di rumah, dengan diam-diam dia memeluk ibunya dari belakang, membuat ibunya yang sedang menonton televisi terkejut. Ibunya begitu bahagia melihat anak satu-satunya pulang meski dia juga menginginkan menantunya untuk ikut. Namun, karena kesibukan Nadia yang bekerja di perusahaan. Membuat menantunya itu tidak ikut pulang bersama dengan Nadia.


" Ayah mana?" Tanya Fajar melihat ibunya yang duduk sendirian.


Baru saja ditanya, ayahnya keluar menyambut putranya yang baru saja pulang.


" Ayah tengah bekerja sambil menunggu mu pulang. Nadia tidak ikut?"


" Menantumu itu tengah sibuk bekerja. Dia tidak bisa mengambil cuti. Nanati setelah dia bekerja lama baru bisa cuti bersama."


" Sayang sekali, mamamu berharap dia ikut pulang kesini. Maamu sudah masak banyak sekali."


" Sudah aku bilang Nadia tidak bisa ikut, ma. Kenapa harus menyediakan makan yang banyak pula?"


" Mama cuma berharap, siapa tahu kamu dan istrimu memberikan kejutan buat mama sama ayah."


" Tidak ma, Nadia begitu sibuk. Jadi tidak ada waktu untuk pulang. Tunggu perayaan agama baru bisa pulang, ya." Ujar Fajar untuk bisa menenangkan ibunya yang ingin bertemu dengan Nadia.


Benar apa yang dikatakan ayahnya, jika Fajar disambut dengan makanan enak buatan ibunya. Sambil menikmati makanan, ayahnya bertanya padanya mengenai rencana magangnya. Fajar menjelaskan jika dia sudah mengajukan lamaran ke beberapa perusahaan tinggal menunggu panggilan. Ayah Fajar memintanya untuk magang di perusahaan milik keluarga, agar Fajar bisa belajar banyak disana. Dan dia bisa menjadi penerus ayahnya dalam mengolah perusahaan. Namun Fajar menolak, meski ayahnya memiliki sebuah perusahaan. Tetapi Fajar tidak ingin manggang disana, melainkan ada perusahaan lain yang ingin dia tahu sistem kerjanya. Fajar melakukan itu, karena dia merasa jika dirinya magang di perusahaan keluarga para karyawan akan menghormatinya terlebih dia adalah anak pemilik perusahaan. Fajar tidak mau itu terjadi, makanya dia memilih perusaan lain. Dia juga berencana akan melamar magang di perusahaan tempat Nadia bekerja, meski Nadia belum tahu akan hal itu.


Disisi lain sang istri tengah mengadakan rapat dengan rekan kerjanya sekaligus bersama manajer, mereka melakukan evaluasi sebelum presentasi hasil kerja mereka di depan direktur perusahaan. John selaku yang mengambil ahli akan hal itu, mulai melakukan presentasi. Edgar mengetahui semua itu, termasuk ppt yang presentasikan merupakan hasil kerja Nadia. Dia mulai bertanya karena dia juga membantu Nadia dalam mengerjakannya. John menyangkal, jika dia hanya meminta bantuan saja selebihnya dia yang mengerjakan. Nadia juga mendengar, dia hanya bisa diam. Padahal selama ini yang mengerjakan semua itu adalah Nadia.


Saat tengah rapat, direktur tiba-tiba masuk. Dia datang dengan seseorang yang mengenakan pakaian kemeja rapi. Dia datang untuk memperkenalkan Fian, ponaannya yang kebetulan lulusan dari luar negeri. Dia ingin ponaan itu bekerja bersama dengan pak Danang sebagai karyawan disana. Pak Danang menyambutnya dengan baik. Presentasi dilanjutkan lagi, dan kini Nadia yang melanjutkannya. Nadia mulai berbicara mengenai hasil kerjanya didepan rekan kerjanya, tidak ada komplain ataupun pertanyaan lebih. Pak Danang sangat menyukai hasil kerja dari mereka. Pak Danang jika hasil itu bisa dipresentasikan didepan direktur perusahaan untuk kemajuan perusahaan.


Setelah sekali rapat, Edgar meminta bantuan kepada Nadia untuk mengantarkan dokumen ke ibu Ega. Nadia ingin menolak karena dia mengingat akan kesan pertamanya dengan ibu Ega itu. Didekat mereka berdua ada Fian, dia mendengar semuanya. Sebagai karyawan baru dia ingin membantu. Nadia merasa kasihan dengan Fian, karena dia sudah merasakan bagaimana dibentak oleh ibu Ega. Karena takut jika Fian juga merasakan hal yang sama, Nadia jadi ikut membantu Fian untuk mengantarkan Fian menuju ruangan ibu Ega.


Tanpa mereka sadari seseorang memotret mereka dari belakang. Dia adalah Cantika, karyawan yang sok cantik nan centil. Dia membentuk grup untuk para penggosip seperti dirinya di kantor. Dia memotret Fian, agar bisa dikirim dan dibahas di grup gosipnya. Dan kini Fian yang akan menjadi objeknya untuk dibahas dengan karyawan yang bergabung digrup itu.


Inginnya berlibur tiga hari di rumah, namun tidak sampai tiga hari Fajar mendapatkan telepon untuk diwawancarai disebuah perusahaan yang diajukan lamaran magang. Ibunya merasa sedih karena kerinduannya masih belum puas untuk diobati. Namun mau bagaimana lagi, Fajar harus segera ke Jakarta untuk bisa mengikuti wawancara dari perusahaan yang dia inginkan untuk magang.


" Baru saja sehari, mama melihat wajahmu." Ucap ibunya Fajar dengan raut wajah sedih.


" Maaf ya ma, fajar harus ke Jakarta lagi." Fajar merasa bersalah pada ibunya, padahal janji akan tiga hari di rumah.


" Apa tidak pake online saja? Sekarang sistemnya udah canggih."


" Tidak tahu ma, dari perusahaan mintanya begitu. Fajar harus bagaimana."


" Ya udah, kamu hati-hati ya. Salam buat Nadia. Nanti kalau libur jangan lupa pulang."


Fajar mengangguk sambil menyiapkan beberapa makanan ringan untuk dijadikan hadiah untuk Nadia. Meski hanya makan ringan, Fajar yakin jika istrinya itu pasti suka. Bahkan ibunya juga menyediakan satu cemilan buatan ibunya sendiri untuk Nadia, karena dulu saat mereka menikah Nadia sangat menyukai cemilan itu.


" Ingat, cemilan itu untuk Nadia bukan untukmu. Awas saja jika mama telepon Nadia, dan Nadia bilang jika dia tidak mendapatkannya maka kamu akan yang akan kena pukulan dari mama."


" Emang bisa? Jakarta jauh loh ma. Cemilan ini juga favorit pasti bakalan dihabiskan saat diperjalanan nanti." Ujar Fajar menggoda ibunya.


" Awas saja jika kamu habiskan! Mau di Jakarta sekalipun mama akan kesana."


Melihat respon ibunya, membuat fajar tertawa. Meski jarak antara keluarga dan Nadia. Ibunya sangat mencintai menantunya itu. Sejak awal menikah, ibunya selalu merasa senang dengan adanya nadia. Seolah Nadia menjadi bagian keluarga yang melengkapi kebahagiaan mereka. Diawal ibunya Fajar ragu dan takut jika itu akan membuat Fajar merasa tertekan karena perjodohan. Namun justru Fajar justru merasa bahagia. Itulah ibu Fajar sangat bersyukur jika dia sebagai orang tua tidak salah pilih untuk anaknya.