Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 55



Nadia menemani Karin berbelanja di pasar, Karin begitu sibuk memilih baju yang diobral, dia sering bertanya kepada Nadia tentang baju mana yang cocok untuknya, Nadia selalu menjawab seperlunya tanpa menoleh kearah Karin. Sebagai seorang sahabat Karin merasa janggal dengan perubahan sikap Nadia, biasa gadis akan tersenyum apalagi membicarakan tentang pakaian yang diobral pasti Nadia akan duluan memilih pakaian untuk dibelinya.


" Nad, kamu kenapa?" Tanya Karin kepada Nadia.


" Aku gak apa-apa kok." Jawab Nadia.


Namun, Karin sangat tahu Nadia, tidak mungkin dia baik-baik saja. Dari raut wajah kelihatan dirinya begitu murung, entah tengah memikirkan apa.


" Serius gak apa-apa? Kamu pasti ada masalah, gak mungkin kamu seperti ini jika ada pakaian yang diobral, atau kamu sedang bertengkar sama pacarmu ya?" Tebak Karin sebab Nadia jarang seperti itu.


" Apaan sih! Aku belum punya pacar. Aku cuma sakit kepala saja kok." Ujar Nadia.


" Oh gitu, lebih baik kita cari ditempat lain, disini bajunya kurang cocok sama seleraku." Ujar Karin mengajak Nadia kembali menyelusuri pasar.


Sebelum pulang ke kos, Karin mengajak Nadia ke rumah, rumah pamannya yang di singgah selama berkuliah. Nadia memilih duduk ditaman halaman rumah paman Karin, sambil menunggu Karin yang tengah bersama Dea didalam rumah. Karin membawakan segelas teh untuk Nadia. " Kepala mu masih sakit? Ini aku bawakan kamu obat untuk pereda sakit kepala." Karin memberikan sebungkus obat untuk Nadia, mungkin obat itu bisa menghilangkan rasa sakit di kepala Nadia. Karin tak ingin sahabatnya terus terlihat murung.


Nadia melihat bungkusan obat itu tanpa membukanya, tak mungkin dia meminum obatnya jika dirinya tak merasakan sakit di kepalanya. Pengakuan rasa sakit di kepala itu hanya alibi agar Karin tak bertanya banyak padanya. Namun, semakin disimpan rasanya semakin susah saja untuk menyelesaikan masalah. Terlalu berat, bagi dirinya untuk menampung sendirian.


" Dimana Dea?" Tanya Nadia karena melihat Karin menghampirinya sendirian, padahal tadi Dea bersamanya masuk kedalam rumah.


" Dia sedang didalam rumah, mengerjakan laporannya." Jawab Karin.


Karena saking sedekat itu mereka berteman, rumah paman Karin sudah menjadi rumah mereka sendiri. Apalagi paman Karin sering tak pulang ke rumah, karena selalu ada urusan pekerjaan di luar kota, jika Karin merasa sendirian, dia akan akan mengajak teman-temannya untuk menemaninya di rumah.


" Nad, jika ada masalah yang mengganggu pikiranmu, kamu bisa kok membaginya padaku." Kata Karin kepada Nadia, namanya sahabat pasti sangat tahu jika sahabatnya itu bukan merasa sakit kepala, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan yang mungkin susah untuk seorang Nadia bercerita kepada Karin. Karena sudah tak kuat menyembunyikan masalah yang menumpuk dipikirannya, Nadia ingin mencurahkan ya kepada Karin. Meski dirinya masih ragu, ada sedikit rasa yakin jika Karin akan menjaga rahasianya dibandingkan temannya yang lain.


" Aku janji, jadi ceritakan masalah yang mengganggu isi pikiranmu itu." Ujar Karin.


" Jadi begini, aku sebenarnya sudah dijodohkan oleh orang tua ku. Awalnya aku sempat kesal karena menjodohkan ku tanpa berbicara padaku dulu. Dan ternyata cowok yang dijodohkan oleh orang tua, ialah cowok yang sangat aku kenal. Cowok yang selalu membuatku emosi. Cowok itu juga selama bertemu denganku, dia mengetahui tentang perjodohan ini dan menyetujui. Tinggal orang tua ku, baik orang tuanya menunggu keputusan ku."


" Lalu? Keputusan apa yang kamu ambil? Apa itu yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Karin kepada Nadia.


" Aku sudah memberikan keputusan dengan mulai mengenalinya, kita mulai sepakat untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi sepertinya, cowok ini sangat ingin menikah di usianya yang muda. Karena cowok itu usianya lebih muda dari ku, dan merupakan adik tingkatmu. Kamu tahu aku, kan. Aku masih ingin bekerja terlebih dahulu jika ada kesempatan aku ingin melanjutkan pendidikan. Namun, aku masih belum bisa untuk menikah. Apalagi mengingat dia masih kuliah, sedangkan aku terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, belum lagi jika kami punya. Entah kenapa begitu sulit bagiku untuk memikirkan itu. Melihatnya dengan wanita lain, aku merasa jika aku sebaiknya tak memilih keputusan untuk mengenalinya lebih dekat. Lebih baik aku membiarkan dirinya bersama dengan wanita lain yang mungkin satu pemikiran dengan dirinya. Aku merasa jika diriku ini tak cocok dengannya."


" Kenapa kamu merasa seperti itu, dan kamu baru saja mengenalinya kamu sudah berpikir jauh seperti itu? Dan bagiku itu bukan masalah besar, jika kamu ingin lanjut kuliah sedangkan dirinya masih kuliah. Kalian bisa berpikir bersama, solusi untuk masalah finansial dalam rumah tangga kalian nanti. Misalnya kamu kerja sambil kuliah, begitu pula dengan kalian. Perjodohan itu tak memaksa kalian untuk buru-buru menikah, apalagi kalian masih dalam tahapan saling mengenal satu sama lain. Aku merasa lucu deh, belum juga memutuskan pernikahan, kamu sudah memikirkan masa depan pernikahan kalian. Masa depan kamera tak tahu, dan tak bisa memperkirakan akan seperti apa. Toh, yang ngejalanin bukan hanya kamu tapi juga dia. Coba ceritakan padanya, agar dia mengerti. Jangan hanya dipendam sendiri, karena masalah ini bukan hanya kamu yang tanggung tapi juga dirinya. Dan jangan terlalu minder dengan gampang kamu merasa jika dia cocok dengan wanita lain. Atau jangan-jangan kamu merasa cemburu melihat dia dengan wanita lain, hm?" Saran Karin kepada Nadia.


"Apaan sih! Gak lah!" Nadia mengelak tak mau dikatakan sedang cemburu oleh Karin sahabatnya.


" Baiklah, terserah kamu yang tak mau mendefinisikan itu sebagai rasa cemburu. Ingat jika ada masalah ya diceritakan jangan dipendam sendiri, yang GAK CEMBURU!" Ucap Karin lagi menggoda Nadia.


Meski kesal, namun Nadia sangat berterima kasih kepada sahabatnya itu. Setidaknya isi pikiran bisa lega karena terlalu memikirkan masalah yang mengganggunya sejak kemarin. Nadia begitu beruntung ada sahabat seperti Karin yang bisa berbagi cerita dengannya. Setelah dipikir-pikir dirinya terlalu fokus akan masa depan, sampai tak sadar jika sekarang mereka masih dalam tahap saling mengenal. Mungkin saat ini, dia merasa jika Fajar masihlah seorang anak yang baru lulus SMA setahun lalu yang belum tahu susahnya hidup berumah tangga. Namun, seharusnya dengan mereka saling mengenal, setidak mereka bisa bertukar pikiran agar saling memahami satu sama lain.


Karin memandag sahabatnya lalu tersenyum, Nadia yang diam berarti sedang memikirkan sana darinya. Lalu sebuah senyuman manis yang sedari tadi tidak terlihat kini diperlihatkan oleh Nadia. Karin lalu terkekeh, sangat lucu baginya. Dia tahu Nadia belum pernah pacaran, Nadia hanya terlalu fokus dengan kuliah. Maka akan terasa bagi seorang Karin, jika Nadia tiba-tiba curhat tentang hubungan asmaranya. Karena Nadia tak pernah menceritakan kisah cintanya. Itulah sebabnya Karin dan yang lain selalu menggodanya.


" Ehem.. diem aja... Jadi kamu gak kasih tahu aku siapa cowoknya, hm?" Tanya Karin yang sedari tadi Nadia tak berbicara selepas mencurahkan pikirannya.


" Gak!" Ucap Nadia.


" Ya udah, mungkin sekarang belum. Palingan selang seminggu aku sudah tahu siapa cowoknya." Ujar Karin membuat Nadia merasa kesal. Karin sangat pintar membuat Nadia mengatakan yang tak ingin dia katakan.