Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 84



Fajar baru saja selesai mengikuti tes wawancara, dia menghubungi Nadia karena tadi pagi saat dia sampai di rumah Nadia sudah berangkat kerja. Melihat waktu, pastinya Nadia tengah menikmati jam makan siang. Masih ada waktu Fajar bisa menghubunginya. Fajar ingin bertemu Nadia, namun Nadia tengah sibuk mengunjungi pabrik di daerah lain. Karena ingin sekali bertemu, Fajar meminta Nadia jika dia ingin ikut pergi bersama. Setidaknya dia ingin meninjau pabrik tersebut dan bisa dipelajarinya sebagai bekal untuk magang nantinya.


Nadia yang mendengar itu, ingin menolak. Namun demi keperluan magangnya Fajar, dia jadi tidak tega untuk menolak. Dia juga tidak bisa menipu dirinya jika dia sudah merindukan suaminya. Meski begitu dia takut jika identitas statusnya diketahui oleh rekan kerjanya. Karena selama ini Nadia menyembunyikan identitas statusnya itu karena dia masih malu mengungkapkan jika suaminya itu masih sebagai mahasiswa.


Nadia mengirimkan alamat agar Fajar bisa menunggunya dan Edgar untuk menjemputnya. Kali ini hanya Nadia dan Edgar yang akan pergi di temani dengan Fajar. Saat mereka berdua menjemput Fajar, Nadia lalu memperkenalkan Fajar kepada Edgar. Bukan diperkenalkan sebagai suami, melainkan sebagai junior. Karena Nadia sudah berkata kepada Fajar jika dia tidak ingin rekan kantornya tahu tentang hubungan pernikahan mereka.


Awalnya Fajar menolak, karena mereka sudah menikah untuk apa disembunyikan. Namun, Nadia dengan alasan yang tidak jelas menurut Fajar ingin tetap menyembunyikan identitas itu. Meski begitu, Fajar hanya bisa terima dia juga tidak menolak. Karena Nadia sudah kokoh dengan pendiriannya.


Saat memasuki mobil, Fajar terpaksa duduk dibelakang sedangkan Nadia duduk disamping Edgar karena Edgar yang membawakan mobil itu. Mereka bertiga langsung menuju ke pabrik untuk ditinjau. Fajar ingin duduk dekat dengan Nadia, namun apa daya di harus berada dibelakang.


" Kamu junior Nadia di universitas?" Tanya Edgar kepada Fajar.


" Iya, " jawab Fajar.


" Seperti apa Nadia ketika di universitas?" Tanya Edgar lagi dia penasaran dengan sikap Nadia, apakah sama ataukah berbeda jika berada di universitas.


" Nadia itu... Sangat berbahaya, tahu?"


" Apa? Nadia yang lembut ini, di universitas sangat berbahaya?" Edgar tidak percaya dengan apa yang katakan Fajar. Nadia terkesan malu dan pendiam ternyata memiliki sikap yang sangar dan berbahaya.


" Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia ketika galak." Ucap Edgar.


Membuat Fajar yang mendengarnya tertawa. Dia juga tidak menyangka jika istrinya di kantor memiliki sifat berbalik ketika dia menjabat sebagai ketua ospek dulu. Sedangkan Nadia yang mendengar Fajar tertawa, memarahi Fajar karena sudah mengekspos dirinya kepada Edgar.


" Aku mengatakan yang sebenarnya. Kamu harus tahu, kak Edgar? Ketika aku masih menjadi mahasiswa baru, kak Nadia membuat ku melakukan banyak hal yang sulit." Fajar kembali bercerita tentang Nadia.


" Bagaimana itu?"


" Ada satu waktu, kak Nadia memerintah ku untuk berteriak ditengah-tengah kantin. "


" Benarkah!"


Fajar lalu menceritakan peristiwa dimana dirinya mendapatkan hukuman dari Nadia. Dia ingat saat dia memerintahkannya untuk berdiri diatas meja dan berteriak jika dirinya menyukai cowok sebanyak tiga kali. Bahkan dia meminta kepada beberapa cowok yang tengah makan untuk menjadi pacarnya. Meski dulu Fajar sangat tidak menyukai hal tersebut, namun itu menjadi sebuah kenangan. Karena peristiwa itu, mereka semakin dekat dan menjadi pasangan saling mencintai hingga sekarang.


" Bagaimana bisa kamu membuatnya melakukan hal semacam itu?" Tanya Edgar kepada Nadia.


" Dia membuat masalah, makanya aku harus memberinya pelajaran agar dia jera." Jawab Nadia.


Mereka telah sampai dipabrik, sebelum melakukan peninjauan mereka bertiga diminta untuk memakai helm pabrik demi menjaga keselamatan. Setelah meninjau beberapa tempat, Nadia dengan usil memukul kepala Fajar.


" Fajar, apa kamu bosan?" Tanya Nadia. Karena mereka tidak melakukan banyak hal, Edgar dan Nadia hanya mencatat sedangkan Fajar hanya melihat saja. Nadia bertanya seperti itu takut jika suaminya sudah jenuh karena masih berada di dalam pabrik.


" Tidak, ini sangat menyenangkan. Jadi, kamu sering mengunjungi pabrik seperti ini?"


" Tidak, sesekali. Perusahaan ku mengalami gangguan dalam produksi belakangan ini. Jadi kita harus mencari produsen lain untuk membantu kita menghasilkan barang."


" Aku merasa jika kak Edgar sangat bagus dalam apa yang dia lakukan."


" Apa yang kamu lihat bukan setengah dari apa yang dia lakukan. Bagiku, dia seperti pria terkuat dari depertemen ini."


" Dan bagiku, kamu adalah senior dan istri yang kuat. Terutama ketika aku melihatmu bekerja." Fajar berjalan mendekati Nadia berniat mengambil tali helm yang terlepas.


Namun pemikiran Nadia justru lain, dia menahan tangan Fajar dengan sedikit berjalan mundur. " Fajar, apa yang ingin kamu lakukan? Sudah kubilang, kan.. ketika kita berada di kantor..."


" Apa yang kakak pikirkan? Aku tidak melakukan apa-apa. Istri terkuat jangan membiarkan helm ini terbuka." Ucap Fajar lalu mengambil tali dan memasangnya dengan benar.


Nadia tersenyum malu, saat Fajar melakukan itu padanya. Dia sudah berpikir yang lain. Namun senyum berangsur hilang karena dengan cepat Nadia menepis tangan Fajar karena dia melihat Edgar berjalan menuju ke arah mereka berdua.


" Nad, Fajar. Mari kita pergi." Panggil Edgar.


Nadia dengan cepat pergi duluan dengan Fajar menyusulnya dari belakang. Urusan peninjauan sudah selesai, Edgar dan Nadia harus kembali ke kantor sekaligus mengantarkan Fajar yang sudah ikut bergabung dengan mereka. Diperjalanan Edgar berhenti sebentar, dia ingin membeli minuman serta cemilan. Sedangkan Nadia tertidur pulas selama perjalanan.


" Kamu ingin memesan apa?" Tanya Edgar kepada Fajar.


" Aku es kopi saja kak. Apa kakak ingin aku pergi dengan kakak?" Tanya Fajar menawarkan dirinya untuk membantu Edgar saat membeli.


" Tidak perlu, biar aku sendiri saja." Ucap Edgar lalu keluar dari mobil.


Kini tinggal Fajar dan Nadia yang sendirian berdua dalam mobil. Nadia masih tertidur pulas. Fajar mencoba membangunkan Nadia, tangannya bergetar menyentuh wajah Nadia yang tertidur. Tiba-tiba saja kepala Nadia menyender ditangan Fajar. Fajar hanya bisa diam, dia lalu mencium kepala istrinya. Dan Nadia yang tertidur hanya bisa tersenyum, meski matanya tertutup. Dia sangat senang dengan momen seperti ini meski dilakukan secara diam-diam.


Edgar lalu kembali dengan membuka pintu mobil, dengan cepat Nadia kembalikan posisi kepalanya menyender di kaca mobil dan Fajar segera menarik tangannya. Edgar memberikan es kopi pesanan Fajar, Fajar tersenyum sambil mengucapkan terima kasih kepada Edgar. Tidak sengaja die melihat kedua minuman milik Edgar dan Nadia. Kedua minuman yang sama susu strawberry kesukaan Nadia. Entah kenapa ada gejolak rasa cemburu yang dirasakan oleh Fajar. Dia tidak menyangka jika Edgar menyukai minuman yang sama dengan Nadia. Hanya sekedar minuman, namun dia merasakan cemburu karena dulu saat dia mencoba menyamakan minuman dengan minuman kesukaan Nadia. Nadia justru melarang, tidak ingin Fajar memaksa dirinya untuk menyamakan diri dengan Nadia. Namun, kini dia melihat pria lain meminum minuman yang sama dengan Nadia. Dan rasa cemburu itu merambat ketika Nadia melarangnya untuk mengakui status pernikahan mereka. Meski begitu, rasa cemburu itu hanya bisa dipendam oleh Fajar.