Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 37



Hari Minggu telah tiba, Fajar teringat akan janjiannya dengan Nadia. Sekitar jam 10 Fajar mengkonfirmasi kepada Nadia tempat janjian mereka berdua. Fajar tidak menolak lupa kesempatan ini, dia berdandan rapi agar terkesan bagi Nadia saat pertama kali melihatnya. Seperti apa yang Fajar minta, Fajar akan menemui Nadia di sebuah Mall besar Jakarta. Fajar segera menaiki taksi menuju kesana. Sesampainya disana, ternyata Nadia belum berada disini. Fajar melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 10 lewat tetapi gadis itu belum juga datang. Fajar masih senantiasa menunggu Nadia, dia masih berdiri menunggu kedatangan Nadia. Tak berselang lama Nadia datang penampilannya justru sangat berbeda dengan Fajar. Fajar terlihat begitu rapi bahkan mengenakan sepatu sedangkan dirinya hanya mengenakan baju kaos dan celana pendek dan sandal jepit biasanya.


" Maaf ya sudah membuat menunggu." Ucap Nadia.


" Gak apa-apa." Fajar tersenyum melihat Nadia akhirnya datang menemuinya juga.


" Kamu terlihat rapi ya." Ucap Nadia karena menyadari penampilannya yang begitu biasa.


Fajar membawa Nadia kesebuah toko aksesoris. Fajar melihat dua boneka berumah yang terkesan lucu itu, dia mengambil dua boneka beruang itu lalu ditunjukkan kepada Nadia. "Menurut kakak, mana yang lebih bagus?"


" Ternyata selera mu begini ya." Ucap Nadia mengejek sebab baginya lucu seorang pria seperti Fajar ternyata begitu menyukai barang lucu seperti itu.


" Bukan untukku, melainkan untuk adik sepupu ku. Kebetulan besok dia berulang tahun, makanya aku membelikan boneka ini untuknya." Kata Fajar.


Nadia justru kembali menggoda Fajar, dia tidak percaya jika boneka itu akan diberikan untuk adik sepupunya Fajar pasti fajar ingin memberikan itu untuk pacarnya. Fajar terus membantah sehingga dia harus menunjukan bukti pesan dari adik sepupu perempuannya kepada Nadia agar gadis itu percaya.


" Sini, biar aku lihat." Ucap Nadia menimbang dia boneka beruang itu.


" Yang coklat lebih lucu deh. Soalnya kalau yang putih nanti cepat kotor." Nadia lalu memberikan boneka beruang yang coklat kepada Fajar. Fajar tersenyum memandang Nadia, gadis itu memang pantas untuk disebut sebagai calon istri baginya. Fajar memang tidak salah pilih calon istri begitulah isi hati Fajar.


" Baiklah, aku akan membayarnya." Ucap Fajar lalu segera membayar boneka itu.


Saat Fajar tengah membayar, Nadia jadi teringat jika dia hari yang lalu Galang seniornya akan menikah dengan Laras yang kebetulan mereka bertemu saat makan malam bersama itu. Nadia lalu melihat beberapa barang aksesoris untuk melihat-lihat manakah barang yang cocok untuk dijadikan hadiah pernikahan untuk Galang dan Laras. Saat Nadia tengah melihat-lihat, Fajar dengan tas yang berisi boneka beruang itu menghampirinya.


" Kakak mau mencari apa?" Tanya Fajar.


" Kebetulan kamu mengajak ku kesini, aku jadi teringat pernikahan kak Gilang sama kak Laras jadi aku mau membelikan hadiah pernikahan untuk mereka, menurut mu hadiah apa yang cocok?" Tanya Nadia sebab dirinya tidak pernah membeli barang untuk dijadikan sebuah hadiah pernikahan.


" Bagaimana kalau kakak nulis surat saja?" Usul Fajar sebab tidak jauh dari mereka terdapat banyak amplop surat yang dijual.


" Masa buat surat sih!" Ucap Nadia.


" Jangan lihat dari suratnya tapi lihat dari isi pesan dalam surat itu. Buat isi surat yang terkesan buat mereka." Usul Fajar.


" Masalah aku itu gak bisa merangkai kata-kata romantis seperti itu." Ucap Nadia sambil melihat amplop yang bergantungan di samping mereka berdua.


Saat mereka berdua tengah berdebat soal hadiah pernikahan. Seseorang pria tiba-tiba menghampiri mereka. " Kamu Nadia, kan?" Tanya Pria itu.


" Oh, Vino!" Ucap Nadia terlihat senang melihat pria itu.


" Udah lama ya, kita gak ketemu. Kamu disini ngapain?" Tanya pria bernama Vino.


" Oh, sama cowokmu ya."


" Bukan, dia juniorku di kampus. O ya, Fajar kenalin ini Vino temanku dari fakultas sains." Nadia memperkenalkan Vino kepada Fajar. Kedua pria itu saling menyapa dengan senyuman.


" Kamu sendiri? Lalu Cika gak ikut?" Tanya Nadia lagi sebab Vino memiliki pacar bernama Chika.


" Dia sedang ada urusan. Udah lama gak ketemu aku sangat merindukanmu."


" Sama, aku juga sangat merindukanmu."


Percakapan terus berlanjut, Fajar yang berada didekat mereka mulai merasa cemburu akan kedekatan Nadia dengan pria bernama Vino itu. Entah siapa Vino, gadis itu nampaknya begitu senang saat mengobrol dengannya. Tak lama berbincang, Vino lalu pamit pergi duluan.


" Kak, tadi siapa?" Tanya Fajar yang tidak sabar butuh penjelasan dari Nadia.


" Itu Vino, teman SMA ku dulu." Jawab Nadia.


" Kayaknya lebih dari teman SMA." Ucap Fajar, sebab siapa yang tidak bisa menebak dari tatapan serta cara bicara Nadia terlihat berbeda saat didepan Vino.


" Eum.. iya kita udah berteman saat SMP, lalu berlanjut hingga SMA." Jawab Nadia.


" Kakak... Suka sama dia?" Tanya Fajar dengan pelan mungkin ini sedikit mengganggu privasi seorang Nadia namun Fajar hanya ingin tahu apakah Nadia menyukai pria bernama Vino itu.


Mendengar pertanyaan itu, membuat Nadia kembali bernostalgia di zaman dia masih duduk dibangku SMA. Dulu dia, Vino dan Chika bersahabat sangat dekat. Dari persahabatan itu telah tumbuh benih cinta di hati Nadia kepada Vino. Berjalannya persahabatan mereka membuat Nadia tidak berani mengungkapkan perasaannya karena takut jika persahabatan mereka akan hancur. Namun sayang meski Nadia menutupi perasaannya, justru hati Vino malah berlabuh pada sahabat Nadia yaitu Chika. Awalnya Nadia berpikir tidak masalah membiarkan Vino berpacaran dengan Chika dengan harapan hubungan mereka tidak akan berlangsung lama. namun sayangnya lagi, hubungan Chika dan Vino justru langgeng bahkan mereka berdua sudah menjalani hubungan hampir lima. Harapan Nadia harus pupus meski di hati Nadia masih menyimpan perasaan untuk Vino.


" Hmm.. aku menyukainya. Namun sayang dia pacaran sama sahabat ku. Aku pikir hubungan mereka gak akan langgeng, jadi aku terus menaruh harapan. Sayangnya hubungan mereka malah justru langgeng hampir 5 tahun. Sialan!" Jawab Nadia kesal mengingat rasa sakit hatinya.


Seketika hari Fajar harus terluka saat ini juga. Tadinya dia bahagia karena akan ada kesempatan baginya untuk lebih dekat dengan calon istrinya ini. Tetapi justru Fajar malah mendapat pahit jika Nadia masih belum bisa melupakan cintanya kepada Vino. Terjelas dari raut wajah gadis itu nampak kekesalan yang dia tunjukkan karena dia tidak berani duluan mengungkapkan perasaannya.


Selama berjalan mengelilingi mal, fajar berjalan dengan melamun serta tatapan sendu yang dia tunjukkan. Nadia mulai bosan sebab sedari tadi mereka berdua hanya berkeliling tanpa berbicara sama sekali. " Fajar!" Ucapnya.


Namun Fajar terus berjalan dengan wajah sedihnya. Merasa kesal karena dihiraukan, Nadia memukul kepala Fajar. " Ada apa kak?"


" Sedari tadi kita udah keliling mal loh. Kalau udah kita pulang saja, dari pada aku harus berjalan denganmu yang selalu menunjukan ekspresi wajah sedihmu itu." Ujar Nadia dengan kesal.


" Maaf kak.. aku lapar." Ucap fajar.


Nadia memutar bola matanya dengan kesal. " Sini ikut aku!"