Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Bab 76



Hari Sabtu telah tiba, para mahasiswa fakultas teknik kecuali Diva, sudah bersiap berangkat menuju hutan mangrove. Mereka akan mengadakan kegiatan menanam pohon mangrove bersama. Perjalanan ke hutan mangrove menggunakan bus. Semua mahasiswa baru diminta untuk naik duluan demi memastikan mereka semua sudah berada di dalam bus. Bus yang dinaiki tidak hanya satu melainkan 4 bus, Fajar naik di bus pertama agar bisa membimbing mahasiswa baru saat sampai di tempat tujuan. Tempat duduk nampaknya sudah mulai penuh, tersisa satu tempat duduk yang dimana Fani duduk sendirian disana. Fajar akhirnya duduk bersama Fani, dia meminta untuk duduk di dekat jendela. Dia ingin melihat suasana alam selama di perjalanan.


Fani tersenyum senang, melihat senior yang disukainya telah duduk bersamanya. Selama perjalanan menuju hutan senyuman di bibirnya tidaklah hilang. Sedangkan Fajar matanya terus mengarah melihat setiap pemandangan di jendela bus. Merasa sedikit kecewa, karena Nadia tidak pergi bersama dengannya. Jika Nadia juga turut ikut dalam kegiatan ini, pastinya Fajar sangat senang. Apalagi mereka bisa duduk berdua sambil menikmati perjalanan. Saat tengah duduk menatap luar jendela. Fani tiba-tiba menawarkan cemilan untuk Fajar.


" Kakak mau cemilan?"


" Tidak. Kamu makan saja." Ucapnya sambil tersenyum lalu kembali menatap kaca bus yang memperlihatkan sawah yang hijau.


Fani merasa kecewa, tawarannya di tolak oleh Fajar. Dia melihat kearah kaca bus, lalu tersenyum. " Sawahnya indah ya."


Fajar menengok, melihat Fani memandangi kaca bus. " Ah! Iya.. Pemandangannya sangat bagus. Kamu mau pindah duduk disini?"


Fajar merasa tidak enak, dia meminta Fani untuk duduk dekat kaca, supaya bisa melihat pemandangan diluar. Karena posisi Fani begitu dekat dengannya. Fajar merasa begitu canggung, jika meminta Fani untuk bergeser.


Fani menyadari jika posisinya sangat tidak aman bagi Fajar. Raut wajah Fajar, terlihat canggung saat Fani lebih dekat dengannya. Menyadari hal itu, dia kembali ke posisi duduknya semula. " Maaf kak." Ucapnya.


" Tidak apa-apa. Jika kamu ingin melihat sawah, kita bisa tukar tempat duduk."


" Tidak perlu, begini saja."


Perjalanan bagi mereka terasa hening kembali, setelah diterpa kecanggungan yang terjadi. Fani yang tidak ingin kehilangan kesempatannya, dia mencoba untuk memulai obrolan diantara mereka berdua. Setidaknya ini juga termasuk dalam metode pendekatan menurut Fani. Mungkin saja, Fajar merasa jika Fani cocok dengannya, pikir Fani.


" Kak, apa aku boleh bertanya?"


Fajar yang sedari melihat kearah keluar jendela bus, menengok melihat Fani yang memulai obrolan dengannya. " Kamu mau bertanya apa?"


" Kenapa kakak menyungsung ide menanam pohon di hutan mangrove? Bukannya ini kegiatan hanya untuk bersenang-senang?"


" Ini bukan ide aku saja, namun juga panitia lain. Memang dari tahun ke tahun kegiatan ini dilaksanakan hanya untuk bersenang-senang sekaligus mempererat hubungan antara kita para senior dan juga junior. Namun, kegiatan tersebut selalu menjadi masalah bagi para rektor, karena bagi mereka kegiatan itu tidaklah bermanfaat. Cukup, pengambilan bendera maka kegiatan ospek selesai. Namun, aku dan teman-teman yang lain tidak menyerah, kami ingin buat kegiatan yang bukan hanya untuk bersenang-senang melainkan juga bermanfaat, khususnya untuk alam ini. Maka dari itu, sebelum kegiatan malam pemberian gelang, paginya kami buat kegiatan menanam pohon mangrove ini. Apalagi kegiatan itu juga sangat bermanfaat untuk alam, bukan hanya alam namun bagi kita manusia."


Fani mengangguk mengerti dengan penjelasan Fajar, namun sorot matanya juga tidak bisa berbohong dia. Jawaban dari Fajar seolah membuatnya jika lelaki yang duduk disampingnya ini. Bukanlah seorang ketua biasa namun dia memiliki pemikiran yang baik. Pantasan saja namanya juga terkenal dikalangan fakultas karena kepintarannya. Fani menjadi lebih kagum kepada Fajar.


" Wah! Bagus juga ya idenya. Aku jadi berkeinginan untuk menjadi mahasiswa yang aktif seperti kakak. Tapi kak, bagaimana kakak bisa membagi waktu kakak? Apalagi kegiatan ospek sangat menyita waktu belum lagi ada mata kuliah yang kakak harus ikuti." Fani mulai penasaran dengan Fajar.


" Agak bingung sih menjelaskannya. Soal pembagian waktu itu tergantung dari pribadi kita masing-masing. Bagi aku, aku harus bisa manajemennya dengan baik. Meski salah satu harus dikorbankan yaitu waktu bersama dengan keluarga. Karena sebagai ketua, aku harus melakukan pertemuan yang menyita waktu malam ku." Jawab Fajar, membuat kepikiran akan Nadia. Sudah banyak waktu yang dia tidak luangkan bersama. Nadia karena sibuk dengan kegiatan kampusnya. Namun, Fajar beruntung, karena Nadia tidak pernah mengeluh akan hal itu. Nadia justru malah mendorongnya untuk terus aktif sebagai mahasiswa.


" Hahaha.. apaan sih mengagumi segala. Aku dulu juga sama seperti kalian. Aku dulu justru tidak begitu memahami dengan kegiatan ospek yang diadakan fakultas saat itu. Namun, ada seseorang yang membuat ku kagum, dan membuatku menentukan pilihan untuk menjadi ketua ospek. Kalau soal keluarga, dia sangat mengerti akan kesibukan ku." Ujar Fajar membayangkan Nadia, membuatnya tersenyum sendiri.


" Beruntungnya.." ucap Fani.


Tidak terasa obrolan mereka semakin panjang, bahkan membuat Fani tertawa karena Fajar sesekali ujarkan kata-kata candaan. Sorot mata Fani tidak bisa berbohong dia sangat mengagumi Fajar. Senyumannya mereka ketika dia menyadari jika dia sudah akan sedekat ini dengan Fajar. Mereka mengobrol banyak, satu hal yang dipercaya Fani jika ini merupakan salah satu metode pendekatan yang baik untuknya.


Tidak terasa pula obrolan itu harus terhentikan, karena bus berhenti ke tempat tujuan. Fajar lalu berdiri, dan berjalan melewati Fani yang masih duduk. Karena dia harus bertugas untuk mengarahkan mahasiswa yang berada satu bus dengannya.


" Baik, untuk teman-teman semuanya. Kita sudah sampai ditempat tujuan. Teman-teman boleh keluar dari bus. Tetapi, jangan pergi terlalu jauh dan tetap diarea bus. Karena bus yang lain masih belum sampai. Jadi kita menunggu sebentar. Dan untuk kegiatannya, teman-teman semua tidak perlu membawa tas. Karena kita akan berhadapan dengan lumpur. Jadi tasnya diletakkan didalam bus saja. Kalian semua mengerti?"


Semua mahasiswa mulai menjawab paham, dengan penyampaian dari Fajar. Mereka semua turun dari dalam bus. Suasana hutan sangat terasa, terdengar suara kicauan burung. Suasana yang begitu menyejukkan. Belum sampai 5 menit bus yang lain juga sudah tiba.


Sebelum memulai kegiatan, fajar mengarahkan teman-teman panitia untuk menetapkan grup mana yang akan mereka bimbing nantinya.


" Bima, nanti kamu berada di grup 3 ya?" Mendekati Bima yang tengah berdiri sendirian, karena Bima masih belum ditentukan berada di grup mana.


" Fajar, bisakah aku berada digrup 2 saja?"


" Kenapa?"


" Aku ingin satu grup dengan Mina." Bima melihat Mina yang tengah berdiri dengan beberapa mahasiswa baru.


" Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan dia mengenakan celana pendek dengan kaos seperti itu. Tapi, kita datang kesini untuk menanam pohon bukan untuk berada di rumah atau pergi berbelanja. Aku hanya tidak ingin dia terlihat buruk nantinya didepan para mahasiswa yang lain." Bima begitu memberikan perhatian kepada Mina, gadis yang disukai hingga meski dia masih belum juga mengakui perasaannya.


" Kenapa kamu masih belum bisa menemukan momen yang tepat untuk menyatakan perasaan mu? Jika begini kamu justru menguras waktu hanya untuk cemburu seperti ini.


" Aku sudah membuktikan dengan memperlihatkan perhatian ku kepadanya selama beberapa tahun ini. Apakah itu masih kurang cukup?"


" Mungkin, dia ingin mendengarkannya secara langsung dari mulutmu. Lebih diperjelas."


Sejak masa ospek hingga menjadi menjadi panitia ospek. Perasaan Bima belum juga luntur kepada Mina. Dia masih mencintai Mina hingga sekarang. Bahan lelaki tidak mau jauh dari gadis itu. Namun, hari ini dia tidak terlalu begitu menyukai penampilan yang begitu menyoroti perhatian para lelaki. Mau bagaimana pun dia juga tidak bisa mencegah ataupun mengatur Mina, sebab dirinya hanyalah seorang teman biasa. Itulah kenapa Fajar ingin sahabatnya itu lebih memperjelas perasaannya.