
Fajar pulang ke kosannya, terlihat lampu sudah menyala. Berarti Nadia sudah duluan pulang darinya. Dia masuk kedalam kos, melihat Nadia tengah bersiap untuk mandi. Nadia kembali menghindari Fajar, namun Fajar tidak ingin mereka berdua terus-menerus saling menghindar. Saat Nadia berjalan melewatinya menuju kamar mandi. Fajar langsung menarik Nadia dan memeluknya.
" Fajar, apa yang kamu lakukan?" Nadia terkejut saat Fajar tiba-tiba saja memeluknya.
" Aku ingin kita bicara."
" Lepaskan! Aku mau mandi."
" Aku tidak akan melepaskan mu sebelum kita bicara, dari pagi kak Nadia selalu menghindar dariku."
" Aku mau mandi! Lepaskan!" Nadia memberontak, dan dengan kasar melepaskan tangan Fajar yang melingkari pinggangnya. Dia beranjak menuju kamar mandi.
Namun, tidak membicarakan Nadia menghindarinya lagi, dia menahan pintu kamar mandi saat Nadia dengan cepat ingin menutup pintunya. Alhasil tangan Fajar terjepit di pintu kamar mandi membuat Fajar menjerit.
Merasa khawatir dengan jeritan Fajar, segera Nadia membuka kembali pintu kamar mandi. Nadia melihat tangan Fajar yang kejepit pintu. Dia memarahi Fajar karena tidak sabar, padahal mereka berdua bisa bicara setelah dia mandi. Tetapi Fajar tetap saja memaksa, dan akhirnya tangan fajar harus kejepit di pintu kamar mandi. Nadia terpaksa tidak jadi mandi, karena mengobati tangan Fajar.
" Kamu bisa menunggu aku selesai mandi baru kita bicara." Kata Nadia dengan kesal melihat keadaan tangan Fajar.
" Kita tidak akan bicara kalau begitu. Kak Nadia pastinya akan terus menghindari ku "
" Sini, aku lihat. Kalau kamu mau bicara, silakan bicara."
" Aku minta maaf, karena sudah berbohong. Aku sebenarnya ingin jujur soal lamaran magangku di perusahaan tempat kamu kerja. Tapi, aku berencana untuk menunda agar bisa membuatmu terkejut melihat ku disana. Aku tahu kamu pasti tidak akan suka. Apalagi kamu masih menutupi status pernikahan kita. Setidaknya, dengan aku magang di perusahaan yang sama denganmu, aku bisa melihatmu dari dekat. Kita bisa pulang bersama dan berangkat bersama. Kak, aku sayang sama kakak. Aku tidak ingin jarak terus memisahkan kita. Itulah kenapa aku ingin lebih dekat dengan kakak." Ujar Fajar menjelaskan semuanya alasan dibalik dia melamar magang di perusahaan tempat Nadia bekerja.
" Tapi, aku hanya takut.."
" Takut ketahuan? Mau sampai kapan? Baiklah, jika kamu tidak ingin ada yang tahu. Kita bisa berpura-pura menjadi teman kerja atau menjadi senior dan junior."
" Aku mau mandi dulu " ucap Nadia menghindar dari pembicaraan.
Fajar menahannya lagi, " Aku minta maaf. Apa kamu masih marah?"
" Aku sudah maafkan kamu."
" Kamu tidak menghindar lagi, kan?"
Nadia mengangguk, " aku mau mandi dulu."
Nadia berada di kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhnya. Saat selesai mandi, dia teringat jika dia lupa membawakan handuk. Segera dia memanggil suaminya, untuk mengambilkan handuk untuknya.
Fajar segera mengambil handuk Nadia. Namun, dia mengukur waktu untuk memberikan handuk itu. Hingga Nadia membuka pintu kembali meminta Fajar untuk memberikan handuknya.
"Tidak akan aku berikan." Ujar Fajar.
" Jangan begitu dong. Ayo kesini handuknya."
Fajar mendekati Nadia dengan membawa handuk. Nadia mengambil handuk itu, namun Fajar masih menahannya.
" Habisnya kamu mandi sendiri."
Nadia begitu kesal, Fajar mempersulit dirinya. Sudah sedari tadi dia berada dikamar mandi. Tahu maksud dari Fajar, dia menarik handuk serta tangan Fajar masuk kedalam kamar mandi.
Selama dua hari magang, hari ketiga merupakan pertama kalinya Fajar berangkat berdua bersama Nadia menuju kantor. Senyuman tidak pudar selama perjalanan. Fajar merasa sangat bahagia karena dia dan Nadia sudah berdamai lagi. Mereka berdua menunggu lift, saat lift terbuka datang beberapa karyawan mendorong Nadia ikutan masuk kedalam lift. Sehingga lift menjadi sesak, dan tubuhnya Nadia terhimpit oleh tubuh Fajar serta seorang karyawan yang berdiri di dekatnya. Nadia hanya bisa pasrah, dia sudah memaklumi dengan desakan didalam lift.
Tiba-tiba Fajar mendekati wajahnya ditelinga nadia, kalau berbisik, " semangat kerjanya ya."
Nadia tersipu malu, karena jarak mereka yang begitu dekat. Dia juga tidak bisa menghindar, karena keadaan yang memaksa untuk lebih dekat dengan Fajar. Saat pintu lift terbuka, saat itu pula mereka berdua berpisah. Karena Fajar bekerja dibagian yang berbeda dengan Nadia.
Nadia melihat sebuah pamflet tertempel didekat pintu lif. Dia membaca pamflet tersebut yang ternyata perusahaan akan mengadakan sebuah lomba untuk semua karyawan.
" Hey nad." Sapa Edgar yang menghampiri Nadia tengah berdiri sendirian.
" Perusahaan ini sering mengadakan lomba?" Tanya Nadia kepada Edgar kebetulan Edgar sudah lama bekerja dibandingkan dengan dirinya.
" Iya, setiap tahunnya. Tergantung juga sih, dua tahun kemarin juga tidak diadakan. Ini lombanya tentang produk baru. Jadi nanti untuk produknya perusahaan yang akan tanggang tinggal kita para peserta memberikan ide untuk produk tersebut, misalnya akan lebih bagus seperti apa produk itu. Nanti akan dikasihkan hadiah, semacam bonus." Ujar Edgar menjelaskan tentang isi pamflet tersebut.
" Oh, jadi begitu ya.. ternyata perusahaan ini kreatif juga ya. Setidaknya bukan hanya kerja namun karyawannya dituntut untuk kreatif.
" Iya. Aku juga berencana ikut. Aku sudah lihat produknya, kamu mau bergabung kebetulan lomba ini harus berbentuk tim.
Nadia mengangguk, dia sangat suka dengan perlombaan seperti ini. Tiba-tiba John datang dia lalu membujuk Nadia untuk ikut bergabung bersamanya. Karena sudah bergabung dengan Edgar, Nadia menolak. John mulai bercerita jika ditahun-tahun sebelumnya dia yang memenangkan lomba tersebut. Jadi dengan menambah Nadia dia yakin jika dia akan menang lagi. Dia membujuk Nadia untuk berubah pikiran dan bergabung dengannya. Namun, nadia tetap menolak. Karena dia ingin tetap berada dengan tim Edgar.
Di bagian produksi, Fajar bertemu dengan Celina mereka berdua berjalan bersama menuju ruangan mereka. Tidak sengaja melihat Cheri yang tengah mencoba produk baru. Namun sayang, cheri malah justru kesetrum. Membuat Celina dan Fajar panik dan segera membantunya. Karena panik, Celina dan Fajar malah menyentuh cheri yang tengah kesetrum. Untungnya ada Toni yang segera mematikan meteran listrik.
Toni memarahi mereka, dia memarahi cheri karena tidak melihat baik-baik keadaan produk sebelum mencoba. Tidak lupa dia memarahi Fajar dan Celina yang menolong tanpa berpikir dulu. Beruntungnya mereka berdua tidak ikut kesetrum. Mereka bertiga meminta maaf akan kelalaian mereka.
Karena peristiwa itu, membuat cheri terbawa perasaan karena Fajar telah menolongnya. Cheri menceritakan tentang peristiwa yang baru saja dialaminya itu kepada sari yang merupakan rekan kerja Nadia.
Sari yang baru saja membaca pesan dari Cheri, merasa jika sahabat itu sudah jatuh hati kepada Fajar. Melihat Nadia baru saja keluar dari ruangan pak Danang, sari lalu memanggilnya.
" Nad, Fajar itu satu kampus sama kamu, kan?"
" Iya, kenapa?"
" Kebetulan sekali, temanku si cheri baru saja cerita tentang Fajar. Katanya Fajar baru saja menolongnya tadi pagi. Dia baik banget ya. Sepertinya cheri menyukainya. Kalau boleh tahu dia sudah punya pacar belum sih?"
" Kenapa bertanya kepadaku?"
" Kamu satu kampus dengannya siapa tahu kamu tahu, kira-kira dia sudah punya pacar belum?"
Beruntung pembicaraan itu terhenti, karena Edgar tiba-tiba menyeletuk untuk mengajak Nadia makan siang bersamanya karena ada yang ingin dibicarakan mengenai perlombaan yang akan mereka ikuti. Nadia begitu lega, dia tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Dan menjadi kesal karena kebaikan Fajar membuat gadis bernama cheri itu salah paham padanya. Ingin segera dia memarahi Fajar karena tindakannya itu.