
Fajar menemani Nadia ke toko buku, Nadia sepertinya tengah mencari buku yang ingin dia baca. Fajar hanya bisa mengikuti istrinya itu.
" Buku apa yang kakak Nadia cari?" Tanya Fajar karena sedari tadi mereka berjalan, Nadia masih belum juga menemukan buku yang dia cari.
" Buku yang berkaitan dengan pekerjaan ku." Jawab Nadia lalu mengambil satu buku, dan membaca isinya. Kemudian memberikannya kepada Fajar, kembali Nadia mencari buku yang lain.
" Aku mengerti tentang buku yang berkaitan dengan pengadaan. Tapi ini, apakah ini penting juga?" Tanya Fajar mengambil sebuah buku yang dipilih oleh Nadia, buku bergambar ikan dengan judul aquarium. Karena buku itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan pekerjaan Nadia.
" Tentu saja. Apa ada yang salah?" Ucap Nadia. Dia membeli buku itu mengingat seekor ikan yang ada di tempat kerjanya, setidaknya buku itu dapat membantunya memelihara seekor ikan.
Fajar tertawa, bagaimana bisa buku tentang ikan dikatakan penting. Dan buku itu juga tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan Nadia. Gadis itu benar-benar lucu, ditanya cari buku apalah jawabnya buku tentang pekerjaan, tapi ternyata ada juga buku yang lain.
" Apa ada yang menggoda kak Nadia di tempat kerja?" Tanya Fajar karena selama bekerja Nadia tidak pernah cerita apapun mengenai lingkungan tempat ia bekerja.
" Gak ada." Jawab Nadia, sedikit tak suka dengan pertanyaan seperti itu.
" Baguslah kalau begitu. Karena aku ini adalah suami yang posesif. Dan... Aku juga.. ketua ospek. " Kata Fajar lebih mendekatkan drinya ke Nadia, membuat Nadia mundur dan hampir menabrak rak buku. Nadia lalu cepat-cepat sebelum terjadi hal-hal yang tak boleh dipandang oleh orang.
" Apa yang kamu lakukan sih!" Ucap Nadia kesal.
" Emangnya kenapa?"
" Kita sedang berada di toko buku. Kamu jangan aneh-aneh deh!"
" Gak ada yang melihat kita kok."
Fajar tersenyum kemudian berbisik di telinga, " Kalau begitu cepat agar kita bisa pulang." Lagi membuat Nadia malu, dan segera pergi dari situ sebelum ada yang melihat mereka berdua berdekatan.
Nadia masih merasa malu, apalagi saat Fajar masih mengenakan almamater kampus. Rasanya aneh bagi Nadia, dia terlalu memikirkan perkataan orang tentang mereka. Dirinya yang sudah bekerja harus menikah dengan seorang pria yang masih berstatus mahasiswa. Apa kata orang-orang jika tahu tentang hubungan mereka? Nadia masih belum bisa menunjukan kepada orang-orang tentang hubungannya, dia masih begitu malu dan terlalu memikirkan perkataan orang lain. Maka setiap Fajar bertindak mesra padanya, Nadia selalu menolak dan tak ingin jika ada yang melihatnya. Bukan hanya diluar, bahkan di tempat ia bekerja Nadia masih belum mengungkapkan tentang statusnya yang sudah menikah. Dia masih malu, dan tak mau ada yang tahu tentang pernikahan apalagi jika saja teman kerjanya jikalau dirinya menikah dengan pria yang masih berstatus mahasiswa pastinya dia bakalan malu dan bakalan di ejek oleh teman-teman kerjanya. Hal itu yang membuat Nadia tidak mau ada yang tahu tentang status pernikahannya kecuali orang-orang terdekat.
Di dalam kamar, mereka tetap sibuk dengan kesibukan masing-masing. Nadia tengah membaca buku, sedangkan Fajar sibuk mengerjakan tugasnya. Nadia lalu menguap, dia seperti lelah dan juga mengantuk akibat bekerja seharian. Fajar meminta Nadia untuk tidur duluan, karena dia masih mengerjakan tugasnya yang belum juga selesai.
" Aku masih ingin membaca buku ini dulu." Ucap Nadia tak ingin tidur lebih cepat dari Fajar, setidaknya dia ingin tidur berdua dengan sang suami.
" Baiklah, aku lanjutkan ini dulu." Ucap Fajar.
" Apa yang kamu kerjakan?"
" Aku tengah menyusun laporan untuk acara penutupan ospek nanti."
" Oh iya, acara sebentar lagi ya." Tak terasa selama fajar menjadi ketua ospek, acara kegiatan ospek yang diadakan akan selesai. Dan untuk acara penutupan seperti pada tahun sebelumnya, para panitia terdahulu akan datang untuk memeriahkan acara.
" Iya, sekarang aku sedang memikirkan cara untuk kegiatan penutupan ospek ini."
" Caranya? Menurutku, untuk acara penutupan kegiatan ospek itu tergantung dari bagaimana kalian melakukannya. Kamu harus membuatnya sesuai dengan mahasiswa di generasi sekarang. Kamu lihat saja aku, aku sudah bekerja namun aku masih harus belajar untuk beradaptasi. Pada akhirnya, entah bagaimana cara yang dilakukan, kamu harus tahu kepada siapa acara ini. Dan bagaimana mereka mendapatkan manfaat dari apa yang kamu berikan nantinya. Coba kamu ingat lagi di tahun mu dulu, bagaimana aku membuat mu mendapatkan apa yang aku rencanakan?" Kata Nadia memberikan sarannya setidaknya dulu dia juga sempat menjabat sebagai ketua ospek, di masa Fajar masih menjadi mahasiswa baru. Mungkin dengan sarannya bisa membantu Fajar untuk menemukan ide, dan bisa memberikan suatu rencana bagi acara penutupan ospek nantinya.
Fajar mulai memahami, dia mulai mengetik kembali. Dia sudah memiliki ide akan acara penutupan nanti, tinggal dia berdiskusi kembali dengan panitia lainnya sebelum laporan itu diberikan kepada dosen. Fajar lalu kembali memanggil Nadia, menanyakan kepada gadis itu apakah hari Jumat nanti Nadia punya waktu. Namun berkali-kali dia memanggil tak ada sahutan dari sang pemilik nama. Saat Fajar melihat, ternyata Nadia sudah tertidur pulas. Fajar tersenyum lalu bangun dari kursi dengan pelan tanpa supaya tak mengganggu Nadia yang tengah tertidur. Dia menghampiri istrinya yang sudah terlelap di atas kasur. Dia duduk diatas kasur dan dengan pelan dia mengambil buku yang dibaca oleh Nadia tadi kemudian menaruhnya di meja. Fajar menatap wajah istrinya yang tertidur lelap, sudah dua hari dia tak melihat wajah Nadia karena kesibukannya yang terpaksa harus tidur di kampus demi keberlangsungan kegiatan ospek. Sungguh, Fajar sangat merindukan wajah ayu nan cantik milik istrinya itu. Fajar lalu merapikan rambut Nadia yang hampir menutupi mata indah Nadia yang sudah terlelap. Dia membelai rambut indah Nadia dengan sayang, lalu mencium kening sang istri. Fajar lalu mematikan lampu kamar, dan kembali ke meja belajar untuk mengerjakan laporannya. Fajar mengerjakan laporan hingga larut malam, sambil mengerjakan laporan dia juga sambil melihat Nadia yang tertidur. Ingin rasanya dia juga ikut tidur dan memeluk istrinya, namun laporan itu harus segera diselesaikannya malam ini juga karena besok dirinya harus berdiskusi dengan panitia sebelum laporan itu diberikan kepada dosen. Karena kegiatan penutupan ospek akan diselenggarakan secepat mungkin, jadi Fajar harus segera menyelesaikannya. Meski sudah lelah, Fajar tetap mengerjakan laporan itu sampai selesai. Hingga dirinya tertidur di meja belajar. Padahal malam ini, Fajar sangat ingin melepaskan rasa rindunya pada Nadia, namun sayangnya karena terlalu sibuk mengerjakan laporan dia justru tertidur diatas meja belajar.