Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 81



Sebagai mahasiswa yang mau menginjak semester 7, mereka dituntut untuk memulai magang diberbagai perusahaan. Fajar yang sudah menginjak semester itu, juga tengah memikirkan perusahaan mana yang akan dia lamar untuk magang. Saat ini dia tengah makan siang bersama Bima dan Mina di sebuah warung. Fajar seperti orang ketiga atau lebih tepatnya penjaga yang menjaga dua pasangan yang sedang mabuk kasmaran. Bima dan Mina sudah menjalin hubungan. Jadi rasanya lucu bagi Fajar, harus mengganggu pasangan yang sedang mabuk cinta itu.


" Ngomong-ngomong dimana kalian akan mendaftar magang?" Tanya Fajar kepada kedua temannya itu.


" Aku dan Gladis sudah mengirimkan berkas di perusahaan makanan." Jawab Mina sambil menikmati makan siang.


" Benarkah! Kita memiliki pemikiran yang sama dong. Kamu tidak bercanda kan?" Ucap Bima menimpali.


" Iya.. Kamu sudah mengirim berkasnya? Kamu harus segera mengirimnya, kata dosen di perusahaan itu hanya menyediakan dua tempat untuk kampus kita."


Melihat pertengkaran kecil diantara dia temannya itu. Membuat fajar tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Terasa lucu mendengar pertengkaran mereka. Dan merasa jika dirinya hanya figuran yang berada di antara tokoh utama. Saat fajar tengah menikmati makanan dan adegan mesra dihadapannya. Tiba-tiba saja Mina menunjuk kearah luar, dia melihat Kevin yang tengah berjalan sendirian.


Tidak jauh dari situ, Diva turun dari mobil. Lelaki tua yang mengendarai mobil itu menasihati diva untuk terus rajin belajar, dan tidak terlalu memikirkan neneknya yang sedang sakit. Diva hanya mengangguk, namun pikirannya tetap memikirkan keadaan neneknya meski neneknya sudah berada di rumah sakit. Diva sangat menyayangi neneknya, terlebih dia hanya hidup berdua dengan neneknya. Wajar bagi diva, jika dirinya sangat khawatir akan keadaan neneknya. Karenanya merupakan satu-satunya keluarga yang dia miliki. Jangan tanya soal orang tua, diva sendiri tidak tahu keberadaan orang tuanya. Setelah selesai berbicara, Kevin datang memanggil Diva.


" Ada apa?" Tanya Diva.


" Sayang sekali, kamu tidak ikut bersama kami ke pantai." Kevin menemui diva bukan dengan maksud itu, namun dia merasa khawatir sebab diva jarang masuk kelas. Dia tidak ingin juniornya ini, ketinggalan kelas lagi.


" Sudah kubilang aku sedang sibuk."


" Apa kamu baik-baik saja? Soalnya kamu tidak pernah masuk kelas beberapa hari ini."


" Aku baik-baik saja. Aku permisi dulu." Diva ingin segera pergi dari hadapan Kevin.


Namun Kevin kembali mencegahnya, " Apakah ada hal yang mengganjal dipikiran mu? Kamu bisa cerita padaku, mungkin saja aku bisa membantumu."


" Tidak, tidak ada. Dan ini adalah masalah keluarga, bagiku tidak perlu untuk aku bicarakan kepadamu." Diva ingin segera pergi dari hadapan Kevin.


Namun, Kevin menahannya dan menarik tangannya. Entah apa yang merasuki dirinya, dia sangat khawatir dengan diva. Dia tidak sengaja mendengar pembicaraan tadi, makanya dia begitu khawatir. Apalagi diva jarang masuk kelas karena hal itu. Meski dia tidak tahu harus membantu apa, tetapi dia tidak ingin Diva melewatkan kuliahnya.


" Aku tidak tahu apakah kamu bisa menghadapinya sendiri atau tidak, tapi untuk masalah ini aku harap kamu bisa bercerita dan berbagi padaku."


Respon Diva justru kesal dengan Kevin yang selalu mengganggu dan mencampuri urusan pribadinya.


"Kamu berpikir jika masalah ini untuk main-main. Berhenti untuk ikut campur dalam kehidupan pribadiku! Aku pertegaskan sekali lagi, jangan ikut campur! Dan biarkan aku sendiri." Dengan raut wajah kesal diva pergi meninggalkan Kevin yang hanya berdiri memandang kepergian diva.


Di tempat lain, Nadia masuk ke dalam ruangan kerjanya dengan wajah lelah. Dia sangat mengantuk, karena sudah bekerja seharian penuh namun dia juga harus lembur karena pekerjaan yang John limpahkan padanya. Saat dirinya duduk di kursi, dia dikejutkan karena pintu ruangan kembali terbuka. Ternyata Edgar masuk ke ruangan dengan membawa air didalam gelas yang berbentuk segi empat.


" Kak Edgar?"


" Iya. Kamu belum pulang?"


" Iya kak. Aku baru dari bagian produksi untuk mengecek barang untuk dikirim besok. Kakak juga kenapa belum pulang?"


" Aku mau pulang, tapi aku lupa dokumen di meja kerja. Jadi aku datang mengambilnya, tapi melihat air ikan mu itu sudah kotor aku ingin menggantinya dengan yang baru. Jika kamu sudah selesai, mari kita pulang."


" Belum kak. Aku harus melanjutkan pekerjaan ku yang diberikan oleh pak Danang tadi pagi. Kalau kakak mau pulang, pulang saja duluan." Ujar Nadia meski raut wajahnya sepertinya sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja. Namun, dia harus menyelesaikan semuanya, karena besok dia harus berhadapan dengan pak Danang.


Edgar merasa kasihan dengan Nadia, gadis itu sudah sangat lelah. Namun memaksakan dirinya untuk tetap bekerja.


" Tidak apa-apa. Aku masih bisa menunggu. Kalau begitu aku kan membantumu, biar pekerjaannya cepat selesai. Setelah itu kita akan pulang bersama." Kata Edgar tidak tega dengan rekan kerjanya itu. Diletakkan air untuk ikan Nadia, dan mengambil kursinya duduk disampingnya Nadia agar bisa membantu gadis itu menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah beberapa menit bekerja, dengan bekerjasama mereka bisa menyelesaikannya dengan cepat. Edgar mengambil dokumennya, lalu menandai dokumen itu dengan pulpen. Namun sayang, pulpen yang digunakannya sudah tidak bertinta. Nadia yang duduk didekat Edgar menyadari itu, dia memberikan pulpennya untuk dipake oleh Edgar. Mereka mengobrol bersama, Nadia bertanya akan pemilik asli ikan peliharaan yang berada di mejanya. Edgar menceritakan pemiliknya jika pemilik itu adalah seorang gadis yang seperti Nadia. Setelah berbincang lumayan lama, Edgar lalu mengajak Nadia untuk pulang bersamanya.


Namun ponsel Nadia berdering, dia meminta Edgar untuk keluar ruangan. Dengan alasan jika dirinya ingin membersihkan mejanya yang berantakan dengan kertas. Setelah Edgar keluar dari ruangan, Nadia segera mengangkat telepon dari Fajar.


" Kak Nadia sedang lembur? Aku baru saja pulang, dan rumah masih terkunci." Tanya Fajar dalam sambungan telepon.


" Tidak, sebentar lagi aku pulang. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


" Selama aku tidak tinggal di rumah, apa kak Nadia selalu lembur seperti ini?"


" Tidak lembur kok. Cuma waktu pulangnya tidak seperti biasa. Kamu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja."


" Mau aku jemput?"


" Tidak perlu. Sudah jangan lama-lama, aku justru tidak pulang kalau begini. Teman kerjaku sudah menunggu, aku akan pulang bersama. Tunggu aku di rumah ya." Ujar Nadia mematikan sambungan teleponnya.


Fajar tidak merasa curiga ataupun cemburu jika istrinya diantar oleh teman kerja istrinya. Karena Fajar menaruh kepercayaan lebih kepada Nadia. Dia yakin Nadia akan setia padanya. Fajar paham, mana ada pria yang mau dengan Nadia perempuan galak seperti istrinya itu. Fajar melihat laptopnya, Fajar sudah menyelesaikan lamaran magangnya. Dia sudah selesai menulis surat lamaran mengganggunya itu. Lalu mematikan laptopnya, dia harus segera masak menyediakan makan malam untuk istri tercinta. Sungguh, lelaki idaman bagi semua perempuan diluar sana, dan beruntungnya Nadia yang memilikinya.